"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusing yang mengancam rahasia
Dua minggu pertama masa magang berjalan bagai berjalan di atas seutas tali tipis bagi Aira. Pertemuannya dengan Rayyan di divisi audit hari itu membuatnya semakin waspada. Dia menyadari bahwa pria berusia 32 tahun itu tidak pernah benar-benar melepaskan pandangannya darinya. Meskipun Rayyan tidak datang ke divisinya setiap hari, pengaruh dan kehadiran pria itu terasa di mana-mana—lewat fasilitas kerja yang terlalu mewah untuk ukuran anak magang, hingga perhatian-perhatian kecil dari staf senior yang seolah sudah diinstruksikan untuk menjaga keselamatan Aira dengan ketat.
Hari itu, jam menunjukkan pukul dua siang. Udara di dalam ruangan divisi audit terasa agak gerah bagi Aira yang sensitif karena kehamilan yang kini sudah memasuki pertengahan bulan keempat. Perut buncitnya terasa sedikit kencang hari ini, memberikan tekanan kecil pada kandung kemihnya yang membuatnya harus bolak-balik ke toilet lebih sering dari biasanya.
Aira sedang berdiri di depan mesin fotokopi besar di sudut ruangan, mencoba menduplikasi beberapa berkas dokumen keuangan yang diminta oleh Maya. Namun, saat dia sedang menunggu mesin bekerja, rasa pening yang sangat hebat tiba-tiba menghantam kepalanya tanpa peringatan.
Pandangan mata Aira mendadak mengabur, digantikan oleh bintik-bintik hitam yang berputar-putar di udara. Kamar kerja yang luas itu seakan berputar hebat, membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Rasa mual yang kuat naik ke tenggorokannya, berpadu dengan rasa lemas yang luar biasa di kedua kakinya.
"Aduh... pusing banget..." gumam Aira lirih, tangannya mencengkeram pinggiran mesin fotokopi dengan sangat erat untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai.
Wajah Aira memucat pasi bagai kertas, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak di dalam tubuhnya, namun rasa pening itu justru semakin mencengkeram kesadarannya. Map dokumen di tangan kirinya terlepas, jatuh berserakan di atas lantai karpet.
Tepat saat tubuh mungil Aira mulai limbung dan bersiap untuk jatuh pingsan ke lantai, sebuah sepasang lengan kekar yang sangat kuat tiba-tiba menyergapnya dari belakang.
Greb!
Sebelum tubuh Aira menyentuh lantai, pria itu sudah menarik tubuh mungilnya ke dalam pelukan dadanya yang bidang dan hangat. Aroma parfum kayu cendana dan kesegaran laut yang sangat maskulin langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Aira yang melemah, memberikan rasa aman yang instan di tengah kesadarannya yang kian menipis.
Pria yang menyelamatkannya tidak lain adalah Rayyan Wijaya sendiri.
Rayyan kebetulan baru saja keluar dari lift eksekutif untuk melakukan inspeksi mendadak ke divisi keuangan yang berada di lantai yang sama. Begitu matanya menangkap sosok Aira yang berdiri goyah di depan mesin fotokopi dengan wajah pucat, insting seorang ayah dan seorang pelindung di dalam diri Rayyan langsung bergerak secepat kilat, menerobos jarak sebelum ada orang lain yang menyadari kondisi gadis itu.
"Aira! Buka matamu, Aira!" suara berat Rayyan terdengar sangat panik dan penuh kecemasan, sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh para karyawan dari mulut sang CEO sedingin es itu.
Aira mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Dalam pandangannya yang kabur, dia bisa melihat wajah tampan Rayyan yang berada sangat dekat dengannya, memancarkan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa takut yang teramat sangat akan keselamatannya.
"P-Pak Rayyan... pusing..." bisik Aira sangat lirih sebelum kesadarannya benar-benar hilang sepenuhnya, kepalanya terkulai lemah di atas pundak tegap sang CEO Wijaya Group.