NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Hamptons dan Rumah yang Terlalu Sempurna

Pagi berikutnya, mobil sedan hitam milik NYPD meluncur mulus keluar dari Manhattan menuju kawasan elit Hamptons. Langit tampak begitu cerah dan embusan angin laut yang segar mulai terasa di sepanjang rute pesisir, tetapi suasana di dalam kabin mobil tetap terasa tegang seperti biasanya.

Arthur duduk di kursi penumpang dengan kaki disilangkan, mengenakan hoodie hitam favoritnya dan celana jins sederhana. Tangannya memegang secangkir kopi bawaan yang sudah mendingin setengahnya. Sementara itu, Manuel mengemudi dengan kedua tangan mencengkeram kemudi erat-erat, berwajah serius tanpa ekspresi.

"Detektif," kata Arthur tiba-tiba dengan nada yang sengaja dibuat dramatis, "kalau aku mati karena bosan dalam perjalanan ini, tolong kubur jasadku di pantai Hamptons. Minimal aku bisa mendengar suara ombak laut sambil menjadi hantu."

Manuel meliriknya sekilas dari kaca spion tengah. "Kau tidak bisa diam sehari saja, ya? Kita sedang menuju tempat kejadian perkara pembunuhan massal, bukan pergi berlibur."

Arthur menyunggingkan senyum miring. "Justru karena itu. Kalau aku tidak bercanda, aku bisa-bisa teringat masa lalu dan mulai berpikir bagaimana cara membunuh orang lagi. Kau mau bertanggung jawab?"

Manuel menghela napas panjang. "Kadang-kadang aku benar-benar menyesal telah mengeluarkanmu dari sel."

"Sudah terlambat, Manuel. Kita sekarang sudah terlihat seperti pasangan yang sedang melakukan perjalanan darat. Hanya bedanya, pasangan normal tidak akan meletakkan foto-foto mayat yang mengerikan di atas dasbor mobil."

Arthur mengambil map kasus dari dasbor dan membukanya kembali. Foto-foto keluarga Senator Elias Grant terpampang dengan sangat jelas di sana. Sang Senator tersenyum lebar di foto kampanye, istrinya tampak sangat cantik dan anggun, sedangkan kedua anak remaja mereka terlihat begitu sempurna. Namun, pada foto-foto dokumentasi forensik, semuanya telah berubah menjadi mimpi buruk yang berdarah.

"King of Spades diletakkan tepat di dada Senator,” gumam Arthur sambil mengamati sudut kartu. “Queen of Hearts pada istrinya, Jack untuk anak laki-laki, Ten untuk anak perempuan, dan kartu Joker untuk sang pengawal pribadi. Pembunuh ini sedang berusaha mengirim pesan kepada publik bahwa seluruh keluarga ini hanyalah bidak kartu dalam permainan pribadinya."

Manuel mengangguk setuju. "Laporan awal FBI menyebutkan bahwa tidak ada tanda-tanda paksa masuk pada seluruh akses rumah. Semua pintu terkunci rapat dari dalam. Sistem kamera pengawas juga mati secara mendadak tepat dua puluh menit sebelum pembunuhan terjadi. Pelaku bergerak seperti hantu yang bisa menembus dinding."

Arthur tertawa kecil, suara tawanya terdengar meremehkan. "Hantu tidak membutuhkan kartu remi untuk pamer, Manuel. Ini adalah kerjaan manusia biasa. Manusia yang sangat marah sekaligus sangat pintar. Kemungkinan besar dia adalah mantan karyawan yang dikhianati, rival politik yang frustrasi, atau bahkan anggota keluarga yang sengaja disembunyikan dari publik."

Perjalanan tersebut memakan waktu hampir dua jam penuh. Sepanjang jalan, Arthur terus menyisipkan lelucon sarkastik untuk mencairkan suasana yang kaku. Saat mobil mereka melewati garis pantai, ia menunjuk ke luar jendela dengan antusias.

"Lihat itu, Manuel. Pantainya sangat bagus. Kalau kasus ini selesai, aku mau mengajakmu berenang bersama. Aku berjanji tidak akan menenggelamkanmu ke dasar laut."

"Aku justru lebih takut kau tenggelam sendiri karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara mengeksekusi ikan di bawah sana," balas Manuel datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

Arthur tertawa keras, merasa terhibur. "Wah, Detektif kita rupanya sudah mulai bisa membalas lelucon. Ini sebuah kemajuan besar dalam hubungan kita. Aku sangat bangga padamu."

Akhirnya mereka tiba di depan kediaman mewah milik keluarga Grant di Hamptons. Rumah bergaya arsitektur modern itu berdiri megah dengan taman yang sangat luas, kolam renang tanpa batas yang menghadap langsung ke laut, serta pemandangan samudra yang indah. Garis polisi berwarna kuning tampak melingkari seluruh area luar. Beberapa petugas berpakaian rapi dari FBI terlihat sudah menunggu di depan pintu masuk utama.

Seorang agen senior FBI bernama Agen Harper, wanita berusia empat puluhan dengan potongan rambut pendek dan ekspresi wajah yang tegas, melangkah menyambut kedatangan mereka.

"Detektif Vin, dan ini pasti Arthur Rutherford," kata Agen Harper sambil melayangkan tatapan menyelidik dari atas ke bawah pada sosok Arthur. "Kami mendengar dari markas bahwa kau adalah seorang… spesialis."

Arthur tersenyum manis, memperlihatkan pesonanya yang manipulatif. "Spesialis dalam membaca isi kepala orang-orang mati, Agen Harper. Rumah ini sungguh bagus, sayang sekali sekarang tempat seindah ini harus berubah menjadi destinasi wisata pembunuhan."

Agen Harper tidak membalas senyuman itu dengan keramahan. Ia langsung membalikkan badan dan mengantar kedua pria tersebut masuk ke dalam rumah.

Suasana di dalam mansion terasa begitu berat dan mencekam. Bau menyengat dari cairan pembersih karpet kimiawi tampak bercampur baur dengan bau anyir darah yang masih tersisa samar di udara. Ruang tamu yang sangat luas itu dilengkapi deretan sofa putih mahal yang kini telah ternoda oleh bercak merah gelap yang mengering. Arthur berjalan pelan dengan kedua tangan terbenam di saku pakaiannya, matanya yang hijau menyapu setiap sudut ruangan dengan ketajaman seorang predator.

"Kartu King of Spades diletakkan dengan sangat rapi dan presisi di atas dada Senator," kata Arthur sambil berjongkok di dekat posisi jatuhnya tubuh korban. "Lalu Queen of Hearts pada istrinya yang ditemukan di kamar tidur utama, sedangkan kedua anak mereka dieksekusi di kamar masing-masing. Sang pengawal pribadi dihabisi di area koridor tengah. Semua korban dibunuh dengan menggunakan senjata tajam yang sama, menghasilkan luka sayatan yang bersih dan lurus. Pembunuhnya bergerak dengan ketenangan yang luar biasa."

Manuel berdiri tepat di belakangnya. "Tim identifikasi tidak menemukan adanya sidik jari asing maupun jejak DNA yang tertinggal di lokasi."

Arthur kembali berdiri, melangkah mengelilingi ruangan dengan santai. Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah rak buku besar yang penuh dengan trofi penghargaan politik milik Senator. "Lihat bingkai ini, Manuel. Semua foto keluarga di rak ini tertata dengan sangat rapi, kecuali satu bingkai foto ini yang posisinya miring beberapa derajat. Pembunuhnya sempat berhenti cukup lama di depan rak ini. Dia mengenal karakteristik keluarga ini dengan sangat baik."

Agen Harper menyilangkan kedua tangannya di dada dengan sangsi. "Kami sudah memeriksa seluruh daftar karyawan, staf domestik, hingga rival-rival politik terdekat. Tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gelagat mencurigakan."

Arthur tersenyum penuh sarkasme. "Itu karena kalian mencarinya di tempat yang salah, Agen. Pembunuh ini bukanlah orang luar yang sedang mengamuk karena urusan politik. Ini adalah tindakan orang dalam yang sudah bertahun-tahun menyimpan dendam mendalam. Seseorang yang hidupnya mungkin pernah dihancurkan secara sistematis oleh sang Senator di masa lalu."

Mereka kemudian melanjutkan pemeriksaan menuju ke kamar tidur anak-anak di lantai atas. Arthur menghentikan langkahnya cukup lama tepat di ambang pintu kamar anak perempuan terkecil, yang di atas jasadnya ditinggalkan kartu Ten of Spades.

"Anak perempuan ini masih sangat kecil," kata Arthur pelan, suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan dingin. "Usianya baru sepuluh tahun. Keputusan pembunuh untuk meninggalkan kartu angka sepuluh di sini memiliki arti bahwa generasi berikutnya pun harus ikut lenyap. Ini bukan lagi sekadar aksi balas dendam biasa, melainkan sebuah misi untuk memutus seluruh garis keturunan keluarga Grant."

Manuel menyadari perubahan drastis pada intonasi suara Arthur. "Kau baik-baik saja?"

Arthur mengangguk pelan, tetapi tatapan matanya tampak menggelap seketika. "Aku pernah mengenal tipe orang seperti ini di masa lalu. Orang-orang rusak yang merasa bahwa seluruh dunia harus ikut hancur bersama dengan penderitaan mereka. Sungguh ironis, bukan, Detektif? Aku yang dulunya dicap sebagai monster, sekarang justru harus membantu polisi untuk menangkap monster lain yang berkeliaran."

Sore harinya, mereka mengadakan pertemuan darurat dengan asisten pribadi Senator yang selamat dari pembantaian karena kebetulan sedang mengambil hak cuti tahunan. Pria bernama Victor Lang, berusia empat puluh lima tahun itu, tampak duduk dengan tubuh yang sangat gugup di ruang interogasi sementara.

"Senator Grant memang memiliki banyak musuh di dunia pemerintahan,” kata Victor dengan suara bergetar. “Namun, saya sama sekali tidak menyangka bahwa ada seseorang yang tega bertindak sejauh ini pada keluarganya."

Arthur melangkah mendekat, lalu menatap manik mata Victor dengan sangat tajam dan intimidatif. "Kau bertangan kidal, bukan, Mr. Lang? Dan omong-omong, kau menggunakan jenis parfum maskulin yang aromanya persis sama dengan wewangian samar yang sempat tercium di area tempat kejadian perkara."

Wajah Victor langsung memucat pasi seketika. "Itu… itu hanya merek parfum komersial yang biasa dijual di pasaran bebas."

Arthur tersenyum lebar, menepuk bahu pria itu pelan. "Santai saja. Aku hanya sedang bercanda untuk mencairkan suasana. Namun, perlu kau ingat, jika kau mencoba untuk berbohong sedikit saja di depan kami, aku akan langsung mengetahuinya."

Manuel segera menarik lengan Arthur ke samping koridor. "Kau ini sengaja membuat orang lain ketakutan setengah mati."

"Itu memang tujuannya, Manuel," jawab Arthur sambil menyeringai puas. "Orang-orang yang berada dalam kondisi ketakutan yang hebat biasanya akan membocorkan rahasia berharga mereka jauh lebih cepat daripada prosedur interogasi normal."

Malam pun mulai turun menyelimuti Hamptons. Karena penyelidikan belum selesai, mereka memutuskan untuk menginap di sebuah hotel kecil yang terletak tidak jauh dari lokasi kejadian. Arthur berbaring telentang di atas tempat tidur hotel, menatap langit-langit kamar yang gelap.

"Manuel," panggilnya pelan memecah keheningan malam.

"Apa?" sahut Manuel dari balik dinding kamar sebelah yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka.

"Kalau suatu hari nanti aku diizinkan untuk memiliki sebuah keluarga kecil yang normal… aku tidak mau mereka mati karena urusan kartu remi. Aku hanya ingin mereka meninggal karena terlalu bahagia menjalani hidup, atau mungkin karena kami makan pizza terlalu banyak di akhir pekan."

Terdengar suara tawa kecil Manuel yang samar dari kamar sebelah. "Kau ini benar-benar manusia yang aneh, Rutherford."

Arthur tersenyum tipis di dalam kegelapan kamarnya. "Aku tahu. Namun, setidaknya untuk saat ini, aku sedang berusaha keras untuk menjadi orang aneh yang berada di jalan yang benar."

Kasus pembunuhan keluarga Senator Grant ini jelas baru saja dimulai pada babak awal. Dan Arthur Rutherford, seorang mantan pembunuh berantai yang sedang merangkak mencoba menjadi manusia biasa, tahu betul bahwa permainan kartu berdarah ini barulah permulaan dari konspirasi yang jauh lebih masif di luar sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!