NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersisa dari Semua Perjalanan

Tiga bulan setelah Sera tinggal, kehidupan di rumah itu menemukan ritmenya sendiri.

Sera mulai tidur dengan teratur—tidak selalu nyenyak, tidak selalu tanpa mimpi, tapi cukup. Dia mulai membantu di dapur, belajar kembali cara memasak hal-hal sederhana yang entah bagaimana masih ada dalam memori tubuhnya meski sudah sangat lama tidak digunakan. Nadia mengajarinya resep-resep baru, dengan sabar, tanpa pernah mempermasalahkan bahwa Sera harus diajarkan hal-hal yang seharusnya sudah dia ketahui di usianya.

Kirana, yang awalnya menyambut Sera dengan ramah tapi dari jarak tertentu—jarak yang wajar untuk seseorang yang tidak sepenuhnya mengerti dari mana tamu ini datang—mulai membuka diri secara alami, didorong oleh keingintahuannya sebagai penulis.

"Tante Sera," kata Kirana suatu sore, duduk di seberang Sera yang sedang membaca buku puisi lamanya, "boleh aku tanya sesuatu yang mungkin agak... berat?"

Sera menutup bukunya. "Boleh."

"Papa pernah cerita—tidak detail, tapi cukup untuk aku mengerti—bahwa kamu pernah kehilangan banyak hal. Orang-orang yang kamu cintai, versi-versi hidupmu sendiri." Kirana memilih kata-katanya hati-hati, dengan kepekaan yang Arka kenal sebagai kepekaan seorang penulis. "Aku ingin tanya—apakah kamu menyesal? Dengan semua yang kamu lakukan, semua perjalanan itu?"

Sera menatap Kirana lama, tidak menjawab langsung. Di luar jendela, Damar kecil sedang bermain di halaman—berlarian mengejar kupu-kupu, tertawa, tidak sadar sedang menjadi bagian dari latar dari percakapan yang sangat berat di dalam rumah.

"Dulu," kata Sera akhirnya, "aku akan menjawab ya. Penyesalan yang sangat besar, yang tidak ada habisnya." Dia menatap tangannya—tangan dengan bekas luka kecil yang sudah memudar tapi tidak hilang. "Tapi sekarang... sekarang aku tidak tahu apakah 'menyesal' adalah kata yang tepat."

"Lalu kata apa yang tepat?"

Sera berpikir sejenak. "Mungkin... 'mengerti'. Aku mengerti sekarang—sesuatu yang dulu tidak aku mengerti meski sudah terlalu banyak aku bayar untuk mengertinya." Dia menatap Kirana. "Cinta yang mencoba mengendalikan—yang mencoba memastikan orang yang dicintai tidak pernah terluka, tidak pernah pergi, tidak pernah mengalami hal buruk—itu bukan cinta yang membebaskan. Itu cinta yang mencekik. Dan aku, selama bertahun-tahun, mencintai dengan cara yang mencekik."

Kirana mengangguk pelan, mencerna itu.

"Tapi," lanjut Sera, suaranya sedikit lebih ringan, "aku juga mengerti bahwa aku melakukan itu karena aku sangat mencintai Dito. Adikku. Dan cinta yang sangat besar—cinta yang tulus—kadang mengambil bentuk yang salah, bukan karena orang itu jahat, tapi karena mereka belum tahu bentuk yang lebih baik."

"Dan sekarang?" tanya Kirana. "Kamu sudah tahu bentuk yang lebih baik?"

Sera tersenyum—senyum yang lebih utuh dari sebelumnya, meski masih menyimpan sedikit kesedihan di sudut-sudutnya, seperti tanda air pada kertas yang sudah kering. "Aku masih belajar. Tapi iya—aku mulai tahu."

Malamnya, Kirana menemui Arka di ruang kerjanya, membawa dua cangkir teh.

"Pa," katanya, duduk di kursi tamu, "aku ngobrol sama Tante Sera tadi."

"Aku tahu," kata Arka, menerima tehnya. "Aku dengar sedikit dari lorong."

"Dia luar biasa," kata Kirana pelan. "Maksudku—dengan semua yang sudah dia lalui, dan dia masih bisa bicara tentang itu dengan cara yang... yang tidak membuat orang yang mendengarkan merasa kasihan, tapi justru merasa seperti belajar sesuatu."

"Sera selalu seperti itu," kata Arka. "Bahkan waktu pertama kali aku ketemu dia—ketika itu aku yang butuh pelajaran, dan dia yang memberikannya, meski saat itu hidupnya sendiri sudah hampir tidak tersisa."

Kirana menatap tehnya, memutar cangkir itu pelan. "Pa, boleh aku tanya sesuatu?"

"Selalu."

"Apakah Papa pernah menyesal? Dengan perjalanan pertama—menyelamatkan Nenek?"

Arka menatap putrinya—wajah yang menyimpan campuran antara mata Nadia dan cara berbicara Arka, dua orang yang terlalu lama bersama sampai batasnya melebur.

"Tidak," kata Arka sederhana. "Tidak pernah."

"Bahkan dengan semua yang hilang? Damar, versi-versi dunia yang lain—"

"Bahkan dengan itu semua." Arka meletakkan cangkirnya. "Karena kehilangan itu—meski menyakitkan, meski aku akan selalu menanggungnya—tidak membatalkan apa yang didapat. Aku punya tujuh belas tahun bersama Mama yang seharusnya tidak pernah ada. Aku punya kamu, Kirana. Aku punya Damar kecil di luar sana yang sekarang sedang tidur sambil memeluk bantal berbentuk mobil."

Kirana tertawa kecil.

"Kehidupan tidak bekerja dengan sistem kredit dan debit yang seimbang," lanjut Arka. "Kadang kamu kehilangan lebih banyak dari yang kamu dapatkan. Kadang sebaliknya. Yang penting bukan keseimbangannya—tapi apakah kamu menjalani semua itu dengan sepenuh hati."

Malam itu, Arka tidak langsung tidur. Dia duduk di ruang kerjanya, membuka laci—laci yang sekarang sudah tidak menyimpan album foto Damar (sudah dipajang di dinding sejak bertahun-tahun lalu) atau surat-surat (sudah dipindahkan ke kotak kayu)—dan menemukan sesuatu yang dia tidak ingat menaruh di sana.

Foto pudar itu. Foto anak laki-laki kecil di depan pohon mangga, dengan tulisan "Jangan berhenti di sini."

Arka mengambil foto itu, memegangnya di bawah cahaya lampu meja.

Tapi sekarang—sekarang ada sesuatu yang berbeda. Di bawah tulisan "Jangan berhenti di sini," ada tulisan baru yang tidak ada sebelumnya—tulisan yang lebih kecil, lebih samar, tapi masih bisa dibaca:

"Terima kasih sudah kembali."

Arka menatap tulisan itu lama. Tangannya tidak gemetar kali ini.

Dia tidak tahu siapa yang menulis itu, atau kapan, atau dari dunia mana tulisan itu datang. Mungkin dari versi dirinya yang lain—versi yang menyaksikan dari sudut yang tidak bisa dia bayangkan. Mungkin dari sesuatu yang lebih besar, yang tidak punya nama tapi yang selalu ada di balik semua ini, mengawasi dengan cara yang tidak bisa dirasakan.

Atau mungkin—dan ini yang paling mungkin—tulisan itu selalu ada. Hanya saja, sebelumnya Arka belum siap untuk melihatnya.

Dia meletakkan foto itu di atas meja—kali ini tidak di laci, tapi di permukaan meja, di samping lampu kecilnya, di tempat yang bisa dia lihat.

Lalu dia mengambil pena, membuka buku catatannya ke halaman baru, dan mulai menulis—bukan surat kali ini, bukan catatan untuk masa depan. Tapi sesuatu yang lebih pribadi, lebih sederhana.

Sebuah daftar. Daftar hal-hal yang dia syukuri.

Bukan hal-hal besar—bukan "menyelamatkan ibu" atau "menemukan Nadia" atau "membawa Sera pulang." Tapi hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah ditulis karena terasa terlalu sepele untuk dicatat.

Teh pagi Nadia yang selalu terlalu panas.

Cara Damar kecil menyebut namaku "Kek" dengan nada yang selalu sedikit protes.

Suara mesin tik Kirana dari kamarnya, malam-malam.

Buku puisi Sera yang sekarang ada di rak ruang tamu, di antara buku-buku lain seolah selalu ada di sana.

Pohon mangga di halaman, yang entah bagaimana masih berbuah meski sudah sangat tua.

Hujan.

Selalu hujan.

Di kamar tamu, Sera membuka jendela—jendela yang menghadap ke halaman dan pohon mangga—dan duduk di tepi jendela itu, seperti yang selalu dia lakukan. Tapi malam ini, dia tidak hanya menatap. Dia meletakkan tangannya di tepi jendela, membiarkan udara malam menyentuh kulitnya, dan mengangkat wajahnya ke langit.

Bintang-bintang. Sama seperti di taman abu-abu—tapi berbeda. Di taman itu, bintang-bintang terasa seperti dekorasi, seperti latar yang tidak nyata. Di sini, di bawah langit ini, mereka terasa seperti bagian dari dunia yang sama tempat dia berdiri.

Nyata. Bisa dirasakan. Hadir.

Sera menarik napas dalam—napas yang sudah semakin mudah dia lakukan setiap harinya, tidak lagi seperti belajar dari awal—dan untuk pertama kalinya sejak sangat lama, tidak memikirkan dunia yang sudah tidak ada, tidak memikirkan versi-versi dirinya yang hilang, tidak memikirkan harga yang sudah dibayar.

Dia hanya memikirkan malam ini. Udara ini. Bintang-bintang ini.

Dan itu—hanya itu—sudah cukup.

1
Anime aikō-kā
GARIS WAKTU YANG PATAH
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!