Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"kenapa nona muda? Apakah ada masalah?" tanya Glen lagi.
"Tidak, aku hanya merasa tidak asing dengan nama Atharyan, boleh lah kau menjelaskan nya sedikit?" tanya Sofia berharap agar Glen menceritakan tentang kelaurga Zavier kepada nya.
"Nona muda, eh maksudnya nyonya muda, Atharyan grup memang sangat terkenal, kelaurga Atharyan adalah kelaurga terkaya, mereka punya perusahaan yang cukup besar dengan cabang di mana-mana usaha kelaurga tidak hanya satu saja, dan nona muda juga harus tau kalau tuan muda Zavier dia adalah penerus kelaurga Atharyan," kata Glen sambil tersenyum tipis.
"Apa? Dia adalah, eh maksud ku tuan muda Zavier? Dia adalah penerus kelaurga Atharyan yang sering di bicarakan banyak orang?" yang Sofia seketika kaget.
"Benar nyonya, tapi kalau boleh tau apa yang nona dengar dari orang-orang tentang tuan muda Zavier?" penasaran, Glen pun bertanya apa yang pernah di dengar Sofia tentang Zavier dari orang-orang.
"Ya, aku mendengar kalau dia adalah pewaris yang tidak pernah bergaul dengan banyak orang, dia jarang menampakkan dirinya ke sosial, dan banyak orang penasaran dengan wajah nya," kata Sofia sambil mengingat-ingat apa yang dia bicarakan.
"Pasti tuan Afdan pernah membicarakan nya ya," ungkap Glen.
"Iya, papa ku pernah membicarakan soal dia," ungkap Sofia.
"Yasudah, apakah tidak ada pertanyaan lagi nona, eh maksudnya nyonya?" Glen selalu merasa gugup dan bingung saat memagil Maudy.
"Tidak, sepertinya itu saja, oh ya, kau bisa memagil ku Sofia, tidak perlu nona atau nyonya," kata Sofia sambil tersenyum tipis.
"Tapi ..." Kata Glen.
"Sudah, jangan terlalu bingung dengan panggilan, ayo!" kata Maudy yang kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut.
Glen pun mengikuti Sofia keluar dari kamar tersebut. Singkat cerita kini mereka telah berada di dalam mobil Zavier.
"Lama sekali," kata Zavier dengan wajah datar, ia merasa bosan saat menunggu di dalam kamar.
"Maaf tuan muda," jawab Glen yang kemudian langsung menyalakan mesin mobil dan mereka kembali melaju menuju mansion.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Zavier sibuk menatap pemandangan di luar jendela mobil, begitu juga dengan Sofia, mereka tidak saling bicara sejak berangkat menuju mansion.
Singkat cerita dua jam pun berlalu, kini jam sudah menunjukan pukul lima sore, dan mereka hampir sampai ke mansion Atharyan.
"Tuan muda, kita sudah sampai," kata Glen yang mulai mengurangi kecepatan mobil nya untuk masuk ke dalam gerbang.
Terlihat sebuah mansion yang cukup megah dan juga luas.
"Ini bukan mansion, tapi istana," batin Sofia sedikit terkejut melihat luas nya mansion dengan warna putih gold tersebut.
Glen memberhentikan mobilnya di halaman mansion, dan kemudian turun dari mobil nya, ia kemudian membuka pintu untuk Zavier dan juga Sofia.
"Silahkan nona muda, tuan muda," kata Glen.
Sofia turun dari mobil dengan perasaan campur aduk, ia mulai memikirkan apa yang biasa dia lakukan di mansion yang sebesar ini.
"Astaga, tuan muda membawa pulang seorang perempuan,"
Iya taun muda membawa seorang perempuan cantik kembali ke mansion,"
"Kau pikir kenapa doa tidak kembali selama beberapa hari? Ternyata pulang dengan seorang gadis cantik,"
"Tuan Wiliam, dia harus tau ini,"
Begitulah ucap para pelayan yang kaget karena Zavier yang sudah beberapa hari tidak kembali ke mansion, sekalinya kembali malah membawa seorang wanita atau gadis muda yang sangat cantik.
Kepala pelayan yang mendengar ucapan para bawahan nya pun bergegas menghampiri tuan Wiliam yang sedang beristirahat di kamar nya untuk menyampaikan berita tersebut.
"Tuan Wiliam, tuan Wiliam," pangil kepala pelayan sambil berjalan cepat menghampiri kakek Wiliam.
"Ada apa ini?" tanya kakek Wiliam kebingungan.
"Anu, itu tuan, tuan muda, dia pulang membawa seorang wanita, maksud ku seorang gadis muda yang cantik," kata kepala pelayan tersebut kepada kakek Wiliam.
"Apa? Apa kau tidak salah lihat?" tanya sang Kakek dengan tatapan penuh semangat.
"Iya tuan, benar," kata kepala pelayan bersungguh-sungguh.
Tak butuh waktu lama, pintu kamar kakek kini kembali terbuka, terlihat Zavier yang berdiri di depan pintu tersebut bersama dengan seorang gadis muda yang cukup cantik.
"Kakek, aku pulang," kata Zavier menghampiri sang kakek dengan senyum tipis nya.
"Zavier, kemana saja kau beberapa hari ini, apakah kau tau seberapa sibuknya Siho menjaga ku sendiri dan mencari mu? Dan siapa dia Zavier? Kenapa kau membawa nya ke sini?" tanya kakek Wiliam sambil menujuk Sofia.
"Kakek aku benar-benar minta maaf soal kepergian ku yang mendadak, namun aku kembali membawa apa yang kakek minta," jelas Zavier kepada sang kakek sambil tersenyum kepada Sofia.
Sementara itu Sofia yang gugup dan cangung masih stay berdiri di depan pintu masuk kamar sang Kakek.
"Sayang kemarilah," kata Zavier sambil menatap Sofia.
Deg ...
Jantung Sofia seakan hendak berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Zavier barusan, itu terdengar sangat asli dan sangat lembut.
Laki-laki itu benar-benar memiliki kepentingan ganda.
"Ah iya," jawab Sofia setelah sadar dari lamunannya.
Sang Kakek menatap Sofia pertama kali nya, dia langsung tertarik dan sangat menyukai Sofia yang terlihat polos lembut dan juga cantik.
"Kakek, aku Sofia, istri nya ..." Sofia bingung harus mengatakan apa lagi, sedangkan mereka sama sekali belum menetapkan harus memagil dengan sebutan apa.
"Kau istri nya Zavier? Kalian tidak mungkin membohongi aku kan?" Kata Kakek yang tiba-tiba memasang wajah galak.
"Mati lah aku, sepertinya kakek nya sangat galak," batin Sofia.
Namun tiba-tiba Zavier mengeluarkan buku nikah mereka, dan menyenggol lengan Sofia memberikan kode kalau ia harus melakukan apapun yang Zavier lakukan.
"Kakek kami benar-benar sudah menikah, ini adalah buku nikah kami," kata Zavier menunjukkan bukti tersebut.
"I-iya, benar kakek, aku dan kak Zavier sudah menikah, ini bukti pernikahan kami," kata Sofia yang akhirnya memutuskan untuk memanggil Zavier dengan sebutan kak.
"Astaga berapa usiamu sayang, kau terlihat sangat lugu, sudah simpan saja itu, aku percaya, dan sekarang aku ingin bertanya kepada kalian bagaimana kalian bisa bertemu dan bagaimana kalian bisa menikah diam-diam tampa memberitahu ku dan membuat pesta?", sang kakek seketika mempercayai Sofia dan Zavier, dia pun mulai mengajukan banyak pertanyaan.
"Aku, baru saja berusia dua puluh tahun," jawab Sofia sambil tersenyum.
"Iya kek, dan Sofia yang meminta ku untuk tidak membuat resepsi pernikahan, selama ini kami juga berpacaran secara diam-diam makanya aku selalu membantah kakek yang mendesaku untuk menikah, itu semua karena aku menunggu Sofia siap untuk menikah dengan ku," ujar Zavier yang sengaja mengkambing hitamkan Sofia.
"Aku?" ucap Sofia kesal sambil menujuk dirinya sendiri.
"Diam lah," bisik Zavier ke kuping sang istri.
Sang kakek seketika tertawa puas, dia tidak menyangka akan ada kejutan yang seperti ini dari cucu kesayangan itu.
Bersambung ....