Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda yang baru
Husna menatap jijik ke arah Dinda, dia sudah tidak sabar menyaksikan bagaimana gadis itu akan dipermalukan.
"Kau urus pasien itu, bersihkan lukanya dan segera pasang infus cari nadinya yang benar, jangan kayak kemarin lagi. Gimana sih kamu mau jadi dokter, kalau cari nadi aja nggak bisa!" Hardik dokter Husna melipat tangan di dada, beberapa murid yang sedang koas serta para bidan yang ada di ruangan itu menatap kasihan ke arah Dinda.
Sebenarnya bukan hanya Dinda yang diperlukan semena-mena oleh dokter Husna, tapi juga banyak orang. Hanya karena dokter itu adalah salah satu dokter hebat di rumah sakit itu, membuat tidak ada yang berani menegurnya. Dinda yang kini berubah jadi Senja yang menjabat kepala rumah sakit, juga tidak bisa berani menegur Husna, malah mereka berdua seolah jadi penguasa rumah sakit itu.
Senja mendekat pada pasien yang berbaring di ranjang rumah sakit, sekilas dia melihat luka pria itu lalu dengan cekatan membersihkan dengan kain kasa yang sudah diberi alkohol.
Husna memperhatikan gerakan Senja yang begitu cekatan seolah dia sudah biasa melakukan hal itu, tidak ada rasa gugup ataupun takut. Tidak ada kebingungan yang tergambar di wajahnya seperti dulu saat mulai melihat darah. Senja dengan santainya membersihkan luka itu lalu karena melihat pasien sudah banyak kehilangan darah Senja pun segera memasang infus, tidak sampai waktu 10 menit, Senja sudah berhasil menancapkan jarum infus di atas tangan pasien itu.
Setelahnya senja berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun pada Husna atau kepada yang lain. Seharusnya, walaupun dia bodoh, sebagai anak pemilik rumah sakit itu mereka sepantasnya menghargai Senja tapi justru beberapa dari kalangan dokter dan ada juga bidan dan perawat yang menganggapnya seperti orang bodoh yang tidak patut untuk dihargai.
"Tunggu! Siapa yang suruh kamu pergi? kamu itu di sini koas, jangan sombong kamu karena sudah berhasil memasang infus itu, anak kecil juga tahu kalau hanya melakukan hal itu!" umpat dokter Husna.
"Saya ingin mencuci tangan, Dok, apa tidak boleh? apa ada perintah yang lain yang harus saya kerjakan?" tantang Senja dengan mimik wajah melawan.
Dalam kertas petunjuk itu dia harus bersikap baik, menjadi wanita yang bisa menghargai orang lain tetapi kalau manusia yang dihadapinya adalah sejenis dokter Husna mungkin yang Kuasa juga akan maklum mengapa dia bersikap kasar kepada dokter itu.
Husna hanya bisa menatap punggung Senja yang menjauh, dia begitu malu dicibir secara diam-diam oleh orang-orang di sekitarnya. Niatnya untuk mempermalukan Senja kini berbalik justru mempermalukan diri sendiri.
"Gila,! Lo belajar di mana, Din? Kok kita nggak tahu kalau lo udah punya kemajuan sehebat itu?" cecar Tina yang mengikuti langkahnya. Rina yang juga tergopoh-gopoh mengimbangi langkah mereka ikut penasaran untuk mendengarkan jawaban dari Senja.
Senja membawa mereka ke belakang rumah sakit, tempatnya tadi duduk di taman kecil dalam kawasan rumah sakit itu.
"Maaf kalau boleh...," ujar Senja, namun, tidak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa aneh, kenapa bisa dari mulutnya keluar kata maaf sementara selama ini dalam kamusnya tidak ada kata maaf justru orang lain lah yang harus minta maaf kepadanya baik itu dia yang benar ataupun dia yang salah.
Kata maaf mengucur begitu saja dari mulutnya yang tanpa dia sadari, setelah disadarinya ternyata tidak membuatnya jadi merasa malu ataupun rendah diri.
"Boleh apa? Kamu mau ngomong apa?" tanya Rina mengambil tempat di samping Senja.
"Mmmm... aku sedikit bingung apa selama ini mereka selalu memperlakukan Dinda seperti itu?" tanya Senja ingin memastikan apa sesuai dengan jalan cerita pada novelnya.
"Ya ampun, Lo nanya gitu seolah Dinda itu bukan diri lo! Masa iya lo sampai lupa apa yang mereka lakukan sama lo? Mulai mereka mengurung lo di kamar mayat sampai mereka menambahkan banyak bubuk cabe di makanan lo, akibatnya lo harus dirawat seminggu di rumah sakit karena diare. Lo lupa sama itu?" Terang Tina mengingatkan.
Senja tidak menyangka kalau perbuatan mereka begitu bengis kepada Dinda. Apa benar dia menulis seperti itu di dalam novelnya? Sampai sedetail itu menyiksa Dinda? apa dia memang manusia sejahat itu?
Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam hatinya. Dia yang menulis novel itu mungkin tidak mengingat bagian detail seperti itu tapi kalau yang benar yang diceritakan Tina, kini dia menyadari bahwa dia sungguh sangat keterlaluan.
Kenyataannya, saat ini dia dihadapkan dengan hal seperti itu, dia disiksa dan juga diintai. Mereka seolah menunggu waktu yang tepat, memantau kapan dia lengah hingga orang-orang yang tidak menyukainya bisa segera membalaskan kesenangan mereka untuk menyakiti Dinda.
Senja mulai memahami mungkin alam semesta tidak ingin alur novel itu terlalu menyiksa Dinda atau bisa saja yang Kuasa ingin dia berubah, belajar menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga memposisikan dirinya seperti tokoh yang ada di dalam novel itu mengalami siksaan dan juga penderitaan.
"Jawab dong Din, lo belajar di mana? Ajarin kita dong," ujar Rina yang kembali teringat hal penting yang baru saja mereka saksikan, siapa sangka Dinda teman mereka yang pengetahuannya paling minim justru hari ini bersikap heroik dan begitu keren bisa membungkam mulut sombong dokter.
"Gue belajar di rumah, lo berdua tenang aja gue akan ngajarin apa yang gue tahu Jadi mereka nggak bisa lagi menindas kita, yang penting kita mengerjakan yang terbaik di rumah sakit ini untuk menolong pasien."
"Dari mana saja kalian bertiga? Dinda, Kamu dipanggil sama Bu Senja di ruangannya," ujar salah satu bidan yang berwajah masam yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Din, lo jangan takut ya. Lo harus kuat kalau sampai dia menjambak dan nyeret lo dari ruangannya sampai ke ruang informasi, gue akan rekam dan gue akan laporkan ke polisi," ucap Tina yang teringat peristiwa dua minggu lalu, Senja yang begitu marah menyeret Dinda, sahabatnya dari ruangannya dan mengatakan dirinya tidak becus jadi calon dokter dan hanya mempermalukan keluarga.
Hal itu hanya karena aduan dokter Husna yang mengatakan dia salah memasang infus dan juga memberikan obat antibiotik kepada pasien padahal Tina melihat sendiri antibiotik yang diberikan Dinda pada pasien itu adalah pemberian dokter Husna.
Bahkan begitu bejatnya dokter itu hingga memakai pasien sebagai alat dirinya bersenang-senang demi menghukum Dinda hari itu.
"Dia pernah jambak sampai narik gue dari ruangannya?" tanya Senja yang tidak ingat ada adegan seperti itu di dalam novelnya.
"Iya, padahal di situ lo udah minta-minta ampun, minta maaf tapi kakak lo sadis. Dia malah tertawa mempermalukan lo di depan orang-orang. Bahkan wakil ketua rumah sakit yang memohon untuk melepaskan lo, malah dipecat sama kakak lo yang kayak iblis itu," umpat Tina kesal.