bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Dengar, Pak. Saya adalah ahli waris sah. Kakek menitipkan kunci itu pada saya. Jika Anda tidak membantu, saya akan mencari pengacara lain yang berani melawan tekanan keluarga ini,"
Nadira menaikkan volume suaranya sedikit, menanamkan otoritas yang ia harap bisa
menyamai sosok asli pemilik tubuh ini. Ada jeda panjang di ujung sana sebelum pak
Surya menghela napas panjang.
"Baiklah. Tapi pertemuan ini harus sangat rahasia. Saya tidak ingin kantor tahu kita
bertemu. Besok jam sembilan malam, di gudang dokumen lama dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Jangan bawa siapa-siapa, dan pastikan Anda tidak dicurigai," bisik pak Surya penuh peringatan.
Nadira menutup telepon dengan rasa lega yang campur aduk. Ini langkah besar, janji pertemuan rahasia yang bisa mengamankan posisinya atau justru menjadi jebakan mematikan jika bocor.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiran. Risiko yang dihadapi terasa sangat tinggi. Jika Arga mengetahui ia bertemu pengacara keluarga di tempat tersembunyi, pria itu pasti akan segera mengambil tindakan keras.
Namun, tanpa data hukum yang akurat, ia hanya akan menjadi ikan yang berenang
di akuarium milik saudara tirinya itu.
Tiba-tiba, suara pesan masuk menggetarkan meja rias. Layar ponsel yang gelap menyala,
menampilkan nama Arga di bagian atas pesan. Nadira menahan napas, matanya terpaku pada layar. Bukan tentang pengacara, tapi sebuah pesan pendek yang terasa sangat mencurigakan.
"Aku akan datang lebih awal malam ini. Ada kabar penting yang harus kita bicarakan secara langsung di ruang tamu."
Jantung Nadira kembali berpacu. Kehadiran Arga lebih awal adalah variabel yang tidak ia
siapkan. Senja di luar jendela kini benar-benar telah berubah menjadi malam, menyisakan
bayangan panjang di dinding kamar. Ia harus segera keluar dari kamar ini dan menyambut
Arga dengan wajah yang sama sekali tidak mencerminkan kepanikan yang sedang ia
rasakan.
Udara dingin mulai menyergap dari celah jendela kamar Nadira, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia baru saja selesai memeriksa laci meja rias, memastikan surat wasiat itu masih tersembunyi di balik tumpukan syal tua.
Tiba-tiba, suara mesin mobil menyala dari arah depan, memecah kesunyian kompleks perumahan yang tadinya mati total.
Lampu depan menyapu tajam ke dinding kamar, mengikuti ritme langkah kaki yang berat di teras.
Nadira menegakkan punggung, jemarinya terpaku pada gagang laci. Arga baru
pulang, dan dari bunyi pintu depan yang dibanting keras, ia tahu malam ini tidak akan
berjalan seperti biasanya.
"Clar, kamu masih bangun?" suara Sandy menggelegar dari ruang tamu. Nadira tidak
menjawab, ia hanya berdiri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, mengamati bayangan kakaknya yang sedang melepas sepatu dengan gerakan agak sempoyongan.
Sandy melangkah mendekat, wajahnya tampak lebih cerah daripada biasanya, meski ada
keringat dingin di pelipisnya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan bahu ke
bingkai pintu kamar Nadira.
"Ada berita bagus," katanya dengan napas yang terasa lebih cepat dari biasanya.
"Aku ketemu seseorang hari ini. Rekan lama ayah. Dia punya koneksi yang bisa
mengembalikan arus kas perusahaan dalam tiga bulan," ucap Sandy.
Nadira menatapnya datar, menunggu bagian di mana seseorang akan meminta saham atau aset sebagai jaminan. Sandy terus bicara, menjelaskan soal angka dan proyeksi dengan nada yang terdengar seperti hafalan.
Nadira melangkah ke dapur kecil, menuang air matang ke dalam gelas kaca. Tangan Arga mengikutinya, jemarinya mencubit lembut lengan adiknya saat Nadira meletakkan gelas di meja.
"Kamu tidak senang?" tanya Sandy. Nadira menggeleng pelan, lalu duduk di kursi kayu
yang dingin.
"Aku curiga, Kak. Sejak kapan kamu peduli soal arus kas? Biasanya kamu hanya menunggu warisan cair," jawab Nadira. Sandy tertawa pendek, suaranya pecah di tenggorokan. Ia merosot duduk di kursi seberang, matanya menatap lurus ke arah Nadira, namun sorotnya tampak kosong.
Aku ingin berubah. Kita butuh ini supaya
keluarga tidak jadi bahan tertawaan di kantor
notaris. Kau mau kan, citra kita kembali bersih?" tanya Sandy. Nadira menunduk, jemarinya mengusap permukaan meja yang berdebu. Kalimat Sandy terdengar seperti naskah yang salah tempat, terlalu halus untuk pria yang biasanya hanya memikirkan uang tunai.
Ia merasa ada beban berat di dada, seolah udara di ruangan itu menipis. Napasnya mulai tertahan, napas pendek-pendek yang ia kenali sebagai awal dari serangan panik.
Nadira memejamkan mata, mencoba menarik udara dalam-dalam lewat hidung, menahan
sejenak, lalu menghembuskannya pelan lewat mulut. Ia mengulang ritme pernapasan itu tiga kali. Tarik, tahan, buang. Udara dingin di paru-paru sedikit banyak mengusir kekakuan di bahunya. Saat matanya terbuka, Sandy masih di sana, menunggu jawaban dengan ekspresi yang tiba-tiba terasa asing, terlalu sabar untuk ukuran kakaknya.