Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan mereka, saat ini Arfan sudah kembali berhadapan dengan Issam. Sepertinya ucapan lelaki paruh baya itu tidak main-main.
“ Kau sudah buat keputusan..?” tanya Issa. to the point.
“ Ehm, kalau boleh jujur saya masih ragu untuk memutuskan. Jika di perbolehkan saya akan memutuskan mau atau tidaknya setelah ketemu putri Om saja bagaimana?”
Iss menatap pria di hadapannya, dia seperti melihat Farzan dalam versi muda.
“ Baik, jika itu yang kamu mau. Setelah putri saya tiba di Indonesia, kalian bisa bertemu.”
“ Iya Om, terima kasih. Saya juga perlu mendengar pendapat putri Om soal rencana pernikahan kami."
Issam mengangguk, " Baik, saya harus kembali ke kantor. Nanti Oliver akan menghubungi mu jika putri saya sudah datang.”
Arfan mengangguk, dia mengantar Issam sampai depan cafe.
“ Gimana Fan..?” tanya Fattan.
“ Gue akan mutusin mau nggaknya setelah ketemu sama putri Om Issam.”
“ Lo duduk depan dia nggak ngerasa creepy..?” tanya Zayan.
“ Nggak biasa aja, gue kaya liat sosok bokap namun versi galak.”
“ Gue mah jadi lo udah dustak-dustak nih jantung.” ucap Paul.
“ Itu mah jantung lo ada kelainan..” cibir Dio.
“ Sembarangan..” protes Paul.
Arfan akan menunggu hari dimana dia akan bertemu dengan putri Om Issam, dia tidak mau berekspektasi terlalu tinggi dengan pertemuan mereka nanti.
Dua hari ini Arfan fokus dengan kuliahnya, ada tugas yang di kerjakan berkelompok dan seperti biasa Arfan akan satu kelompok dengan Fattan.
“ Kita cari bahan di perpus kampus aja dulu..” Ajak Fattan.
“ Iya, kalau kurang kita juga bisa cari referensi di toko buku.”
Satu kelompok terdiri dari tiga orang, selain dengan Fattan, dia juga satu kelompok dengan Rosa.
“ Gue harus cabut sekarang, kalian coba kumpulin aja dulu nanti gue bantu buat nambahin.”
“ Okay..” jawab Fattan dan Rosa.
Tadi saat sedang fokus dengan tugas, ponsel Arfan bergetar. Ada panggilan dari nomor tidak di kenal dan ternyata itu nomor Oliver. Dia di minta untuk datang menuju restoran yang sudah di booking oleh Issam.
Mobil yang di kendarai Arfan baru saja tiba di parkiran restoran. Dia masuk ke dalam menuju private room, di sana sudah berkumpul Om Issam dan istri serta seorang gadis yang sangat cantik.
“ Selamat sore Om..” sapa Arfan.
“ Sore Arfan.. kenalin ini istri dan putri saya.”
“ Laura.. Nasha..” ucap keduanya.
Arfan menatap gadis itu, dia tampak asik dengan ponselnya.
“ Nasha, Daddy mau ngomong sesuatu sama kamu.” Nasha langsung meletakkan ponselnya.
“ Iya Dad..”
“ Kamu ingat ucapan Dad sebulan yang lalu..?” Nasha mengangguk.
“ Arfan ini yang akan Dad jodohkan sama kamu..”
“ Ehh, Daddy serius.. Aku pikir cuma bercanda jadi aku iya in aja..” kekeh Nasha.
“ Cantik..” gumam Arfan dalam hati. Dia di buat terpesona pada pandangan pertama. Ucapan Zayan waktu itu benar adanya kalau Nasha gadis yang cantik~ ralat cantik banget.
“ Dad nggak pernah bercanda jika menyangkut kamu. Kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah.”
“ Harus banget Dad? Nasha baru aja lulus SMA, masa di minta buru-buru nikah.” protes Nasha.
“ Kamu masih bisa kuliah setelah menikah, aktifitas kamu juga masih sama, hanya status kamu yang berubah menjadi istri.”
“ Gimana Nak Arfan..?” tanya Laura.
“ Saya serahin semua pada Nasha tante.. Arfan akan ikuti keputusan Nasha.”
“ Sebelum Nasha kasih putusan, boleh kan di mulai dulu makannya.” rengek Nasha.
Mom terkekeh, putrinya paling tidak bisa menahan lapar jadi mereka memutuskan untuk memulai acara makannya.
Arfan melihat interaksi Nasha dengan kedua orang tuanya, terlihat seperti anak kecil tapi cara berpikir Nasha cukup dewasa. Postur tubuhnya juga proposional, kalau dari penilaian saat ini Arfan sedikit tertarik dengan pesona gadis itu.
Setelah acara makan selesai, Om Issam dan sang istri memberikan waktu untuk Arfan dan Nasha untuk berbicara. Keduanya harus saling mengenal dan mengobrol bersama.
" Dad ternyata tidak bercanda, kalau tahu seperti ini aku akan menolak."
" Kau tidak setuju dengan rencana yang Om Issam inginkan?"
" Kamu sendiri gimana? Setuju?"
Nasha tak memungkiri tertarik saat melihat Arfan pertama kali. Wajah tampan yang terlihat tenang dan menghanyutkan.
" Entahlah, saya pun bingung. Di satu sisi saya ingin perusahaan Ayah kembali namun jika harus menikah dalam waktu dekat pun rasanya berat karena ada tanggung jawab yang harus saya jalankan untuk menjamin kebahagiaan Bunda dan Jihan."
" Apa pernikahan ini semacam bisnis saling menguntungkan untukmu dan Dad?"
Arfan menghendikkan bahunya, " Om Issam menjanjikan perusahaan Ayah bisa pulih jika saya menerima permintaan untuk menikah dengan kamu, apa itu bisa disebut pernikahan bisnis?"
" Ahh, Dad ada-ada saja kemauannya. Dia memang sedikit khawatir dengan seorang pria yang sering mendekati saya di sekolah."
" Ketatnya pengawalan dari Dad membuat pergerakan ku menjadi terbatas, semua kegiatan ku di awasi dan di pastikan tidak melenceng dari aturan yang Dad buat."
" Aku sih tidak keberatan di jodohkan denganmu secara selama ini setiap cowok yang berusaha mendekatiku akan mundur teratur setelah bertemu dengan Dad, Dad juga bukan orang yang mudah percaya pada orang lain jadi jika dia meminta kamu untuk menikah dengan ku sudah jelaskan kan alasannya?"
Arfan mengangguk, dia juga tidak tahu dengan jelas alasan Om Issam merencanakan pernikahan dia dengan putrinya selain janjinya dengan sang Ayah.
" Kita coba dulu untuk saling kenal, kalau berjalannya waktu kita menemukan kecocokan pernikahan ini berlanjut namun jika tidak kita bilang sama Dad untuk membatalkannya, bagaimana?"
Arfan mendengarkan ucapan Nasha, sepertinya apa yang Nasha bilang bisa di coba. Mereka baru saja bertemu, butuh waktu untuk saling mengenal sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
" Oke, saya setuju. Kita saling mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah. Kau dan aku pastikan tidak ingin menikah dengan orang yang salah kan?"
Nasha mendengus, meskipun sedikit kesal dengan ucapan Arfan namun lelaki itu benar adanya.
" Oke, deal."
" Deal."
Nasha dan Arfan saling bertukar nomor ponsel, mereka juga saling mengobrol untuk mengenal kegiatan masing-masing.
TBC..!!
penasaran aku