Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Wajah Bangsawan
Sagara duduk di teras rumah dengan tangan yang sibuk dengan ponselnya. Lalu sesaat kemudian sebuah panggilan masuk dan ia segera mengangkatnya.
"Ya, benar. Terus lurus, belok kanan. Lurus lagi, kamu belok kirim kemudian maju aja terus, kira-kira 20 meter. Nanti berhenti di depan kosan Kanara lantai dua. Aku menunggumu di sini," ujar pria itu memberitahu orang di seberang telepon. Mereka berbicara satu dua kalimat lagi, kemudian teleponnya pun ditutup.
"Loh, A. Belum pergi?" tanya Nara melihat pria itu masih duduk di teras.
"Belum, aku masih menunggu temanku. Sebentar lagi dia datang," jawab Sagara seraya melirik ganggang sapu di tangan Nara.
Mulut Nara membola. "Oh." Kemudian mengangguk.
"Sini, biar aku saja yang lanjut sapu terasnya." Tawar pria itu, tetapi tangannya sudah lebih dulu meraih sapu di tangan Nara membuat gadis itu tidak bisa menolak.
"Baiklah, kalau begitu aku ke belakang dulu. Sapunya jangan lupa disimpan di dalam."
Pria itu mengangguk, lalu kemudian mulai menyapu teras dengan teliti. Gerakannya agak kaku karena ganggangnya yang terlalu pendek.
Sagara mengangguk takzim atas pekerjaan yang telah selesai. Lantainya bersih tanpa setitik pun debu. Benar-benar amat teliti pria itu.
Bertepatan Sagara keluar dari pintu setelah menyimpan sapu di tempatnya, sebuah mobil sedan hitam metalik yang tampak mengkilap perlahan memasuki halaman rumah.
Pintu kemudi terbuka dan seorang pria muda keluar dari sana dengan penampilan yang luar biasa necis. Ia mengenakan setelan jas kerja lengkap berwarna hitam formal yang pas di badan, dipadukan dengan kacamata berbingkai tipis yang semakin mempertegas aura profesionalnya. Rambutnya disisir klimis sempurna menggunakan pomade, tanpa ada sehelai pun yang mencuat berantakan. Pria itu tak lain adalah asisten kepercayaan Sagara—Zaki Ilyas.
Mata Sagara menyipit, memandangi penampilan mentereng asistennya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih menatap penampilannya sendiri.
Pagi ini, ia hanya mengenakan kemeja flanel longgar yang kancing atasnya dibuka, dipadukan dengan celana jins Levis yang robek di bagian lutut. Ditambah lagi dengan rambut gondrongnya yang sedikit acak-acakan. Gaya khas yang disukainya karena nyaman, tapi sekarang ...
Sagara mendengus. Jika ada tetangga yang lewat, bukankah orang-orang justru akan menganggap Zaki sebagai majikannya?
"Selamat pagi, Tuan. Maaf saya terlambat," sapa pria itu sopan dengan sedikit anggukan.
Sagara tidak terlalu memperdulikan sapaan Zaki, tapi lebih pada tampilan asistennya ini yang terlalu formal.
"Bukankan tampilan mu terlalu formal, ini hanya di desa. Jadi, lepaskan saja jas, dasi dan kacamata mu itu." Sagara menunjuk satu persatu ketiga barang yang disebutkannya. "Memangnya sejak kapan kamu mines, heh?!"
Asistennya tampak mengernyit, bingung akan sikap atasannya yang tidak biasanya mempermasalahkan tampilannya. Ia meraba kerah jasnya dengan canggung lalu tersenyum tipis, mencoba menolak halus. "Maaf, Tuan. Tapi saya sudah terbiasa berpenampilan seperti ini kalau sedang bertugas."
Sagara berdecak jengkel, sudah menduga asistennya itu akan menolak. "Setidaknya lepaskan jas dan dasimu, Zaki. Kamu terlalu mencolok di sini," ujarnya sembari memberi isyarat agar Zaki menuruti perintahnya.
Zaki masih tampak diam, sembari memikirkan maksud dari atasannya ini yang belum bisa ia cerna. Ia selalu seperti ini selama bertugas di mana pun itu, tapi kenapa sekarang baru dipermasalahkan. Mencolok? Heh, yang benar saja? Itukah alasannya?
Sagara berdecak, bukannya menuruti, asistennya malas terlihat berpikir keras.
"Kalau kamu seklimis ini dan berdiri di samping saya, orang-orang desa yang lewat bisa-bisa mengira kalau saya ini sopir atau pengawal pribadimu!" ketus Sagara.
Zaki tertegun sejenak, lalu senyum canggung terbit di wajahnya melihat sang atasannya yang masih dengan wajah menuntutnya. Tidak ingin membuatnya semakin kesal, Zaki akhirnya mengangguk patuh. Ia melepaskan kancing jas hitamnya perlahan, melipatnya di lengan, lalu melepaskan dasi dan kacamatanya—semata demi menuruti perintah sang atasan.
Sagara kembali memindai penampilan asistennya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Rambutmu di acakin saja, tidak usah terlalu klimis. Sepatu pantofelmu lepas, ganti dengan sandal jepit itu. Kemejanya juga dikeluarin."
Zaki melongo seketika, menatap atasannya dengan pandangan tidak percaya atas rentetan perintah absurd yang baru saja ia dengar. Melepas pantofel mengkilapnya, diganti dengan sandal jepit. Sukses membuat harga diri profesionalnya menangis menjerit. Ia tidak lagi datang sebagai asisten yang profesional, melainkan orang hilang yang tidak tahu arah.
Senyum miring yang samar terbit di bibir Sagara saat melihat wajah asistennya itu meringis. Namun, ia mengabaikannya. "Tunggu di sini, ada yang harus aku lakukan sebentar," ujarnya langsung masuk tampa menunggu jawaban dari Zaki yang tengah nelangsa.
Sagara melangkah mengitari seisi rumah untuk mencari keberadaan Nara. Namun, setelah memeriksa ruang tamu, kamar tidur, hingga ke area dapur, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan gadis yang telah dinikahinya itu. Sampai suara air yang mengalir di kamar mandi terdengar.
Sagara melangkah ragu-ragu ke arah sana, mengetuknya dua kali sembari memanggil nama gadis itu. Namun, sama sekali tidak mendapatkan sahutan dari Nara. Ia meneguk ludahnya, berniat pergi saja. Tetapi urung saat tidak lagi mendengar suara air yang mengalir, membuatnya memutuskan untuk mencobanya sekali lagi.
Tok ... tok ....
"Nara ...." Panggilan Sagara kali ini mendapatkan sahutan dari Nara.
"Iya, A. Kenapa? Aku sedang mandi," beritahu gadis itu setengah berteriak.
Sagara salah tingkah sendiri di depan pintu, ia membasahi bibirnya kemudian menjawab dengan cepat sebelum otaknya mulai membayangkan yang tidak-tidak. "Aku hanya ingin memberitahu, aku sekarang mau berangkat."
"Ohh iya, A. Pintunya jangan lupa ditutup, ya," sahut Nara dari dalam sana.
"Hm, aku pergi," ujar pria itu untuk terakhir kalinya. Namun, kakinya masih di tempat, belum melangkah pergi.
"Hati-hati!"
Senyuman terlukis di bibir Sagara tak kala mendengar teriakan itu. Kakinya pun mulai melangkahkan pergi dari sana.
"Tuan kenapa?" tanya Zaki saat melihat pria itu keluar dari rumah dengan senyuman yang mengembang.
"Maksudmu?" Berhadapan dengan Zaki, senyuman Sagara langsung memudar.
"Apakah ada sesuatu yang lucu atau membahagiakan?" Penasaran asisten kepercayaan itu.
"Bukan urusan mu!" ujar Sagara melangkah lebih dulu menuju mobil, membuka pintu di dekat kemudi dan duduk di sana. "Apa lagi yang kamu tunggu, kita terlambat!"
"Tuan, apakah aku harus benar-benar memakai sandal jepit ini?"
Yang benar saja. Tampilannya yang kece badai saat datang tadi, sekarang tak ubahnya seperti pengangguran yang gagal wawancara kerja lalu langsung ditolak di tempat. Rasa percaya dirinya sebagai asisten kepercayaan seketika menguap, berganti dengan perasaan merana karena penampilannya kini justru terlihat acak-acakan dan kehilangan wibawa profesionalnya dalam sekejap.
"Ya, tentu saja. Penampilanmu terlihat membaur sekarang." Sagara tersenyum miring, lalu menutup pintu dan memakai sabuk pengamannya.
Zaki tidak bisa berkata-kata lagi sekarang, nasib menjadi bawahan, ya ... begini!
"Tuan, wajah saya pas-pasan. Penampilan lah yang menunjangnya. Tidak seperti Anda yang berdarah biru, wajah bangsawan." Puji Zaki hiperbola, siapa tahukan atasannya ini berubah pikiran dan membiarkannya menyisir rambut dan memakai sepatunya.
"Jalankan mobilnya, kita ke kantor desa," ujar Sagara menoleh, menepuk bahu asistennya itu.
Zaki membuang napas, tidak ada harapan!
***
Bersambung ...
cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍