"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: Lapak Ratusan Miliar
Lapak tertutup itu tidak memakai papan nama.
Pada pagi hari ke-40, Bayu, Hendra, dan Pak Udin masuk lewat halaman belakang sebuah gudang besar di Martapura. Dari luar, tempat itu tampak seperti lokasi penyimpanan biasa. Di dalam, puluhan meja disusun rapi, setiap meja membawa nomor lot, foto, berat, catatan asal, dan amplop penawaran tertutup.
Orang-orang yang datang tidak berisik.
Itu yang membuat Hendra makin gugup.
"Yu," bisiknya, "kalau pasar biasa ramai, aku masih bisa pura-pura berani. Ini sepi, tapi duitnya terasa jalan pakai sepatu mahal."
Pak Udin menahan tawa. "Di sini orang tertawa setelah menang. Sebelum itu, semua orang jadi ulama angka."
Seorang pria berjanggut rapi, berbaju koko putih dan jas ringan, menyambut mereka di dekat meja utama. Usianya lewat lima puluh, matanya ramah, tetapi semua pedagang memberi ruang saat ia berjalan.
"Bayu Prasetyo dari Surabaya," katanya. "Mata Emas dari Pacitan."
"Haji Mahmud," Pak Udin memperkenalkan. "Tuan rumah hari ini."
Bayu menunduk hormat. "Terima kasih sudah memberi izin masuk, Haji."
"Pak Gunawan dan Udin menjamin nama Mas. Di Martapura, jaminan nama lebih mahal daripada tiket."
Aturannya dijelaskan singkat. Setiap peserta mendapat daftar lot. Penawaran ditulis dalam amplop tertutup. Deposit sudah masuk rekening panitia. Saat amplop dibuka, harga tertinggi menang. Barang boleh dipotong di tempat setelah pelunasan. Tidak ada teriakan rebutan, tidak ada uang tunai di atas meja.
Budi, dari Surabaya, mengirim pesan terakhir.
Jangan habiskan kas. Batas pembelian maksimal Rp1,8 miliar kecuali ada pembeli terikat.
Hendra membaca pesan itu dan menarik napas lega. "Budi jauh, tapi remnya ikut terbang."
Bayu memasukkan ponsel ke saku.
Fokus semua orang ada pada tiga batu besar di panggung tengah. Kulitnya indah, beratnya meyakinkan, dan catatan asalnya berasal dari mulut tambang baru. Harga dasar masing-masing di atas Rp8 miliar. Orang-orang Jakarta berdiri paling dekat, dengan staf yang membawa tablet dan lampu.
"Itu lot unggulan," bisik Pak Udin. "Kalau satu saja naik, nama pemenangnya makan setahun."
Mata Dewa menyala.
Bayu tidak langsung melihat batu besar itu. Ia memeriksa lot kecil dulu, membiarkan mata dan kepalanya menyesuaikan. Ada batu akik bagus, beberapa rough diamond kecil, dan dua bongkah hijau yang nilainya cukup tetapi harganya sudah terlalu dekat dengan batas wajar.
Baru setelah itu ia melihat tiga lot unggulan.
Batu pertama memancarkan hijau menawan di permukaan, tetapi bagian tengahnya pucat dan berongga. Pilihan kedua memiliki bobot mantap dengan retak dalam yang memotong jalur terbaik. Batu terakhir memang berisi, hanya saja harga dasarnya menyisakan keuntungan terlalu tipis bagi CV Prasetyo.
Bayu mundur.
"Kita tidak ambil lot unggulan."
Hendra berkedip. "Kita datang ke perang, terus tidak sentuh meriam?"
"Meriamnya dua kosong, satu terlalu mahal."
Pak Udin tidak bertanya bagaimana Bayu tahu. Ia hanya menatap daftar lot. "Kalau bukan itu, mana?"
Bayu berhenti di lot 47.
Batu hitam besar, kulit kasar, bentuknya jelek. Harga dasar Rp900 juta. Tidak ada kerumunan. Di catatan, asalnya dari sisa pengiriman tambang yang sama dengan lot unggulan, tetapi karena kulitnya buruk, orang menganggapnya bahan spekulasi rendah.
Di dalamnya, cahaya emas menyala penuh.
Hijau dingin, bening, padat. Jalurnya tidak besar seperti gunung, tetapi cukup bersih untuk membuat orang lupa pada kulit luarnya.
Di samping lot itu ada satu kantong kecil rough diamond campur, harga dasar Rp350 juta. Sebagian tampak biasa. Namun beberapa butir punya kilau dalam yang tajam, salah sortir karena tercampur batu kecil kusam.
Bayu memilih lot 47, kantong diamond itu, dan dua lot kecil yang bisa menutup biaya jika salah satu hasil utama tertunda.
Total tawaran: Rp1,62 miliar.
Hendra menatap angka di kertas.
"Aku tahu Budi bilang maksimal Rp1,8 miliar. Tapi menulis Rp1,62 miliar dengan tangan sendiri rasanya seperti tanda tangan jual ginjal."
"Ginjal tidak masuk aset CV," jawab Bayu.
Pak Udin tertawa sampai batuk.
Amplop dimasukkan.
Satu jam berikutnya berjalan lambat. Orang-orang Jakarta mengobrol dengan tenang, tetapi staf mereka beberapa kali melihat ke arah Bayu. Nama Mata Emas sudah sampai lebih dulu daripada pesawatnya.
Pembukaan dimulai dari lot kecil. Bayu mendapatkan dua lot pendukung dengan harga wajar. Kantong diamond juga jatuh ke tangannya karena pesaing mengira nilainya terlalu berantakan.
Saat lot 47 dibuka, seorang peserta tua bersiul pelan.
"Batu hitam itu ada juga yang mau?"
Harga Bayu menang di Rp1,05 miliar. Tidak tinggi untuk ruangan itu. Tetapi cukup membuat beberapa orang mencatat namanya.
Lalu tiga lot unggulan dibuka.
Lot pertama dimenangkan seorang bos Jakarta dengan harga Rp24 miliar. Tepuk tangan terdengar pelan dan berat. Ia meminta potong di tempat untuk menunjukkan keberanian. Mesin besar disiapkan. Air mengalir. Bilah turun.
KRAK.
Permukaan terbuka.
Hijau hanya di kulit.
Bagian dalam pucat.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Bos Jakarta itu tidak bergerak. Stafnya menatap tablet seperti angka bisa berubah jika dipandang cukup lama.
Lot kedua dimenangkan kelompok lain di Rp19 miliar. Mereka tetap memotong, mungkin untuk menolak rasa takut. Hasilnya lebih kejam: retak dalam memecah jalur. Nilai masih ada, tetapi jauh di bawah harga beli.
Bisik-bisik berubah menjadi napas panjang.
"Dua lot unggulan jatuh," gumam Pak Udin. "Hari ini orang belajar mahal."
Lot ketiga tidak dipotong di tempat. Pemenangnya memilih membawa pulang. Itu pilihan paling aman setelah dua pukulan.
Sekarang semua mata beralih ke Bayu.
"Mas Mata Emas," seseorang berseru, setengah bercanda setengah menantang. "Batu hitamnya dipotong juga?"
Hendra menatap Bayu dengan wajah antara bangga dan mau pingsan.
Bayu mengangguk kepada Haji Mahmud.
"Kalau panitia mengizinkan."
Haji Mahmud tersenyum. "Silakan. Martapura suka orang yang berani pada pilihannya."
Batu hitam lot 47 dinaikkan ke meja potong. Tukang potong mengelap kulitnya, lalu bertanya arah. Bayu menunjuk sisi kanan bawah, garis yang tampak seperti cacat.
"Buka tipis dari sini."
Mesin turun.
Air membawa serbuk hitam.
Belahan pertama hanya menunjukkan garis hijau sempit. Beberapa orang terkekeh. Hendra menggenggam lengan kursi.
"Lebih dalam sedikit," kata Bayu.
Tukang potong mengikuti.
Kali ini warna itu terbuka seperti pintu.
Hijau pekat memenuhi permukaan hingga ke dalam. Beningnya dingin, teksturnya padat, retaknya minimal. Tukang potong berhenti sendiri.
"Allahu Akbar," bisiknya.
Ruangan meledak.
Orang yang tadi tertawa berdiri. Bos Jakarta yang kalah di lot unggulan maju tanpa sadar. Pak Udin menutup mulut dengan telapak tangan, matanya basah oleh bangga yang tidak ingin ia akui.
Haji Mahmud mendekat. Ia tidak menyentuh batu, hanya melihat dari jarak penilai.
"Mas Bayu, kalau mau jual, saya buka harga Rp12 miliar. Transfer bank, dokumen lengkap, pajak sesuai aturan. Barang tetap dipotong lanjutan oleh tim saya."
Tidak ada tawar panjang. Harga itu adil, cepat, dan menjaga hubungan.
Bayu menatap Pak Udin. Pak Udin mengangguk kecil.
"Saya terima, Haji."
Hendra duduk.
"Aku resmi butuh air."
Tetapi hari belum selesai.
Kantong rough diamond yang dibeli Rp420 juta setelah penawaran dibuka mulai diperiksa oleh dua pemotong lokal. Sebagian memang biasa. Namun enam butir terbaik memberi kilau yang membuat para pedagang diamond berhenti bercanda.
Estimasi konservatif setelah sortir dan potong: lebih dari Rp3 miliar.
Budi menerima foto, berita acara, dan perhitungan sementara lewat pesan. Balasannya hanya satu baris.
Pisahkan kas, inventory, pajak. Jangan ikut euforia.
Hendra membaca itu dan menggeleng. "Orang ini mungkin tetap membuat laporan keuangan saat gempa."
Sore menjelang malam, transfer Rp12 miliar masuk bertahap sesuai limit bank dan konfirmasi. Lot diamond diasuransikan dan dititipkan sementara di penyimpanan rekanan Haji Mahmud. Dua lot kecil menutup biaya perjalanan, komisi, dan ongkos potong.
Dalam satu hari, CV Prasetyo tidak lagi hanya menjadi nama baru dari Surabaya. Di Martapura, orang menyebut Bayu dengan variasi baru.
Mata Emas dari Jawa.
Kartu nama datang dari Jakarta, Banjarmasin, Bandung, bahkan seorang pembeli Singapura yang diwakili stafnya. Bayu menerima semuanya dengan dua tangan, tetapi tidak berjanji apa pun.
"Hari ini cukup," katanya kepada Hendra.
"Cukup? Yu, kalau angka begini disebut cukup, aku takut definisi banyak menurutmu."
Mereka keluar dari gudang setelah magrib. Pak Udin berjalan di depan sambil masih tersenyum. Senyum itu tiba-tiba mengeras.
Di mulut jalan pasar, tiga pikap berhenti dengan mesin menyala. Beberapa pria duduk di bak belakang. Tidak ada yang mengacungkan senjata. Tidak ada yang berteriak. Justru diam mereka membuat udara berubah.
Pak Udin menurunkan suara.
"Orang Bos Samsul."
Hendra langsung berdiri lebih dekat ke Bayu.
"Bos siapa?"
"Orang yang tidak suka melihat orang luar menang besar di tanah ini," jawab Pak Udin. "Nak, malam ini kita harus pulang dengan kepala dingin."