Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Tanpa Celah
Keheningan yang dingin dan mencekam kembali melingkupi Balai Desa Dukuh Parang. Bau asap rokok yang tadinya memenuhi ruangan seolah menguap, berganti dengan aroma ketegangan yang pekat.
Di tengah ruangan, sebuah karpet plastik kusam berwarna hijau tua digelar terburu-buru oleh dua orang pemuda desa. Karpet itu berdebu, melambangkan betapa daruratnya prosesi yang akan segera berlangsung.
Devi terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, tepat di tepi karpet tersebut. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meloloskan diri; tak ada lagi tenaga bahkan sekadar untuk menegakkan punggungnya. Air mata yang membasahi pipinya terasa lengket dan dingin disapu angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu.
Di sampingnya, Raka duduk bersila dengan posisi kaku. Wajah kakaknya itu pucat pasi, matanya sembap, dan tangannya yang ternoda oli hitam masih bergetar hebat saat mengusap pundak Devi.
"Kak ... tolong, kak ... jangan begini ..." bisik Devi parau. Suaranya sudah serak, nyaris kehilangan pita suara karena terlalu banyak berteriak dan menangis. "Devi nggak mau nikah sama dia, kak... Devi nggak kenal... Dia itu preman..."
Raka tidak berani menoleh. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas paha hingga buku-buku jarinya memutih. "Maafin kakak, Dek... Maafin kak Raka. Ini satu-satunya jalan supaya mereka tidak menyentuh kamu. Kalau kamu sampai diarak ... Kakak nggak akan sanggup hidup menanggung rasa bersalah ini. Kakak tidak punya pilihan lain, Devi."
Pilihan tanpa celah. Sebuah perangkap tak kasatmata yang dikonstruksi oleh ketakutan, norma adat yang kaku, dan kesewenang-wenangan warga desa.
Tidak jauh dari mereka, Pak Modin, seorang pria paruh baya berkopyah hitam yang dipanggil tergesa-gesa dari rumahnya, sedang sibuk menata selembar kertas segel tua di atas meja lipat kecil. Di sebelahnya, Pak Haji Samad dan Pak RT duduk bersila sebagai saksi resmi dari pihak desa. Pak Mulyono, sang Kepala Desa, berdiri bersedekap di dekat tiang utama balai desa, mengawasi setiap gerak-gerik dengan pandangan penuh otoritas.
"Ayo, Pemuda. Duduk di sini, berhadapan dengan walinya," perintah Pak Modin seraya menunjuk posisi tepat di depan Raka.
Devan, yang sejak tadi berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku jins sobeknya, bergerak melangkah.
Gerakannya tenang, hampir tanpa beban. Ia melepaskan kedua tangannya dari saku, lalu duduk bersila di atas karpet kusam itu. Postur tubuhnya yang tegap dan bahunya yang lebar membuat posisi duduknya tampak dominan, kontras dengan Raka yang duduk membungkuk menahan beban emosi yang berat.
Devi melirik pemuda asing itu dari sudut matanya dengan rasa benci yang meluap-luap. Dari jarak sedekat ini, Devi bisa melihat lebih jelas detail penampilan pria yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya.
Jaket kulit hitam yang dikenakan Devan tercium aroma campuran antara keringat, minyak angin, dan wangi kayu cendana yang samar.
Di leher bagian kirinya, ujung tato berwarna hitam pekat itu mencuat dari balik garis baju, memperlihatkan pola sisik naga yang mengerikan. Wajah Devan rahangnya tegas, ditumbuhi cambang tipis yang tidak dicukur rapi, dan ada bekas luka goresan kecil di dekat pelipis kirinya.
("Preman jalanan ...") batin Devi meringis. ("Tuhan, apa dosaku sampai harus menyerahkan masa depanku pada orang seperti ini? Pria yang bahkan tidak tahu siapa namaku, pria yang baru kulihat mukanya satu jam lalu di gubuk tengah sawah!")
Seolah merasakan tatapan penuh permusuhan dari Devi, Devan sedikit memutar kepalanya. Mata hitamnya yang dalam bertemu pandang dengan mata Devi yang basah dan merah. Selama dua detik, Devan menatap Devi tanpa ekspresi. Tidak ada sorot kemenangan, tidak ada tatapan mesum, dan tidak ada kejahatan seperti yang dibayangkan Devi. Hanya ada tatapan dingin yang sulit diartikan. Kemudian, Devan kembali memalingkan wajahnya menatap Pak Modin dan Raka.
"Nama lengkapmu siapa, Pemuda?" tanya Pak Modin sambil memegang pulpen di atas kertas.
"Devan. Devan Pratama," jawab pria itu singkat. Suaranya berat, bergema rendah di dalam ruangan yang hening.
"Tempat, tanggal lahir? Alamat asal?"
"Jakarta, dua puluh lima tahun yang lalu. Alamat ... saya sedang merantau, Pak Modin. KTP saya ada di tas yang tertinggal di penginapan kecamatan," alibi Devan lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya.
Pak RT berdehem keras dari samping. "Tidak usah berbelit-belit. Yang penting malam ini ada kejelasan status secara siri menurut syariat. Masalah administrasi resmi bisa diurus belakangan kalau kalian memang mau mendaftarkan ke KUA."
Pak Modin mengangguk-angguk setuju. Ia lalu berpaling memandang Raka. "Raka, sebagai wali nikah pengganti bapakmu, karena bapakmu tidak memungkinkan dihadirkan karena waktu yang mepet , kamu yang akan menuntun ijab kabul ini. Kamu sudah siap?"
Tangan Raka yang berada di atas paha makin bergetar hebat. Lidahnya terasa kelu. "S-siap, Pak Modin ..."
"Baik. Sebelum kita mulai, bagaimana dengan maskawinnya?" tanya Pak Modin lagi. "Pernikahan harus ada mahar yang sah."
Ruangan kembali hening sejenak. Raka menggigit bibir bawahnya. Ia tidak membawa uang tunai yang cukup di dompetnya. Uang di sakunya hanya sisa uang tambal ban dan beberapa lembar ribuan kusam.
Devi menunduk makin dalam. Rasa hina merayapi seluruh tubuhnya. Dipermalukan di depan warga desa, dipaksa menikah, dan kini bahkan tidak ada mahar yang layak untuk sebuah pernikahan. Ini bukan sekadar pernikahan terpaksa; ini adalah bentuk perendahan martabat diri yang paling dalam.
Tiba-tiba, Devan merogoh saku dalam jaket kulitnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang terbungkus kain beludru hitam kusam, lalu meletakkannya di atas meja lipat di hadapan Pak Modin. Ketika pembungkus itu dibuka, berkilau seuntai cincin perak polos yang tampak cukup tebal.
"Saya cuma punya ini," ucap Devan datar. "Cincin perak dan uang tunai seratus ribu rupiah di dompet saya. Tambahkan dengan seperangkat alat sholat yang akan saya lunasi besok pagi. Apakah itu cukup sebagai mahar?"
Pak Modin mengambil cincin perak itu, memeriksanya sebentar, lalu menatap Pak Haji Samad dan Pak Mulyono. Kedua tetua desa itu mengangguk pelan.
"Cukup. Mahar sah secara syariat," kata Pak Modin keputusan. Ia kemudian mengulurkan tangan kanan Raka dan mengarahkannya ke arah Devan. "Raka, pegang tangan calon suaminya adiknya."
Raka mengulurkan tangannya yang gemetaran. Saat jemarinya menyentuh telapak tangan Devan, Raka merasakan cengkeraman pria itu sangat kuat, hangat, dan stabil. Berbeda dengan tangan Raka yang gemetar hebat karena guncangan emosi, tangan Devan berdiri kokoh bagaikan karang. Raka membalas cengkeraman itu dengan remasan yang sangat kuat, sebuah remasan berisikan amarah, keputusasaan, dan ancaman terselubung dari seorang kakak.
"Dengar baik-baik, Raka. Ikuti kata-kata saya," tuntun Pak Modin dengan suara berat dan penuh kekhidmatan.
Raka menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan di tenggorokannya. Ia menatap Devan dengan tatapan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja