Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
Suasana di dalam ruang keluarga kediaman Sanjaya perlahan berubah menjadi lebih hening. Cahaya hangat dari lampu kristal di langit-langit seolah menambah kesan tenang di ruangan tersebut. Gelak tawa serta godaan kecil tentang sosok Arkan yang tadi sempat membuat wajah Clara merona merah kini melenyap, berganti dengan atmosfer yang jauh lebih serius.
Fania menatap wajah keponakan kesayangannya itu dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa empati dan kasih sayang.
Jemarinya mengusap lembut jemari tangan Clara yang berada di atas sofa. Ada satu hal besar yang selama ini mengusik rasa ingin tahunya sejak ia masih berada di luar negeri—sebuah peristiwa mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa dan masa depan keponakannya.
"Clara Sayang..." panggil Fania dengan nada suara yang teramat halus, sangat berhati-hati agar tidak menggores luka lama atau memicu trauma di dalam dada gadis muda itu.
"Maafin Tante ya kalau Tante harus mengungkit lagi tentang masalah... penculikan kamu waktu itu. Jujur aja, waktu kejadian itu Tante kan masih ada di luar negeri untuk urusan kuliah dan bisnis, jadi Tante masih penasaran banget sama cerita utuhnya. Tapi kalau kamu masih takut atau trauma buat mengingatnya lagi, enggak apa-apa kok, tidak usah diceritakan."
Mendengar pertanyaan sensitif itu, Clara tidak menunjukkan raut wajah marah maupun ketakutan yang berlebihan. Masa-masa kritis itu memang sudah berlalu, dan kehadiran keluarganya yang protektif perlahan telah mengobati rasa cemasnya. Clara menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Enggak apa-apa kok, Tante Fania... Clara sudah enggak terlalu trauma lagi," jawab Clara pelan seraya mengukir senyum tipis. "Tapi kalau Tante tanya kronologi utuhnya... jujur sebenarnya aku sendiri juga enggak tahu sepenuhnya bagaimana proses penyelamatan itu terjadi."
Alis Fania bertaut sedikit. "Loh? Kok bisa kamu tidak tahu sepenuhnya, Sayang?"
Clara membetulkan posisi duduknya, pandangannya menerawang mengingat kembali detik-detik mencekam di sore hari yang naas itu.
"Jadi begini, Tante... Waktu itu aku baru saja keluar dari gerbang sekolah dan sedang berjalan menuju area penjemputan biasa. Tiba-tiba saja, ada sebuah mobil sedan warna perak tanpa plat nomor depan berhenti mendadak tepat di samping aku. Pintu belakangnya langsung terbuka lebar," pendar ingatan buruk itu membuat Clara mengusap lengannya sendiri.
"Awalnya aku cuma berniat mendekat sebentar buat memastikan siapa pengemudi di dalam mobil itu, barangkali itu suruhan Papi. Tapi belum sempat aku melihat jelas wajahnya, tiba-tiba sebuah tangan besar dan kasar milik seorang pria keluar dari dalam mobil, mendorong tubuhku dengan sangat keras masuk ke dalam kabin belakang, lalu menyergap wajahku menggunakan kain berbau menyengat! Setelah itu... pandanganku langsung gelap gulita karena dibius."
Fania mendengarkan setiap detail kalimat itu dengan seksama, menyimak ketegangan dari nada bicara keponakannya.
"Terus... pas kamu sadar, kamu sudah ada di mana, Clara?" tanya Fania penasaran.
"Nah, itu dia Tante!" sahut Clara cepat. "Pas aku membuka mata dan sadar kembali, aku sudah berbaring di atas bangsal rumah sakit. Di samping tempat tidurku, ada Papi dan Mami yang sedang menangis sesenggukan memeluk aku. Pas aku tanya gimana aku bisa selamat, Papi cuma kasih penjelasan singkat kalau yang menyelamatkan aku dari sekapan para penculik di gudang tua itu adalah tim kepolisian."
Fania diam terpaku. Otaknya yang cerdas dan terbiasa berpikir kritis mulai mengolah informasi tersebut. Sebagai sosok yang sangat mengenal karakter Frans Sanjaya—kakak kandungnya yang sangat berpengaruh dan sarat dengan taktik—Fania merasa ada ketidakwajaran yang teramat besar dalam alur cerita ini.
"Tunggu deh, Clara..." potong Tante Fania dengan raut wajah yang memancarkan keraguan besar. "Tante rasa ada yang aneh. Penjelasan kalau yang menyelamatkan kamu itu murni hanya polisi saja... rasanya sangat janggal."
Clara menoleh menatap tantenya dengan mata berbinar penasaran. "Aneh gimana maksud Tante Fania?"
"Pikirkan baik-baik, Sayang," ujar Fania seraya menegakkan posisi duduknya, menatap lurus mata Clara.
"Polisi itu bekerja berdasarkan laporan dan jejak lokasi.
Dalam kasus penculikan profesional menggunakan mobil tanpa plat nomor, bagaimana bisa pihak kepolisian menemukan lokasi gudang terpencil dalam waktu yang sangat singkat tanpa ada petunjuk awal? Pasti ada seseorang yang bergerak duluan!
Pasti ada orang luar yang menemukan keberadaan kamu, lalu mempertaruhkan nyawanya untuk menahan para penculik itu sebelum polisi akhirnya datang menerobos masuk!"
Mendengar analisis tajam dari tantenya, mata Clara memelotot pelan. Ingatannya mendadak berputar kembali pada kalimat-kalimat yang terputus dari Ibu Sofia dan Papi Frans saat acara makan malam di restoran mewah kemarin malam.
"Iya ya, Tante!" seru Clara dengan nada suara yang mulai diliputi kebingungan. "Aku juga sebenarnya sedikit bingung dan heran sama Papi. Soalnya pas aku sadar di rumah sakit,
Papi terus-terusan menegaskan kalau yang menolong aku itu cuma polisi. Tapi... kalau diingat-ingat lagi pas acara makan malam kemarin, Mami sempat mau ngomong sesuatu soal 'orang yang menolong kamu', tapi langsung dipotong cepat sama Papi!"
Fania tersenyum tipis, sebuah kebenaran terselubung makin menguat di dalam benaknya. "Nah! Benar kan dugaan Tante? Papi kamu itu pasti sengaja menyembunyikan identitas sang penolong yang sebenarnya dari kamu!"
"Tapi... kenapa Papi harus merahasiakannya dari aku, Tante?" tanya Clara dengan raut wajah polos bercampur heran. "Kalau memang ada orang lain yang bantu menolong aku dari para penculik itu, kenapa Papi tidak mau kasih tahu aku siapa orangnya? Kan aku harusnya mengucapkan terima kasih secara langsung sama dia?"
"Iya Tante juga rasa pasti ada orang lain yang bertaruh nyawa membantu polisi saat itu," gumam Fania seraya menautkan jemarinya di bawah dagu, matanya menerawang memikirkan alasan di balik pembungkaman Frans Sanjaya.
"Mungkin... orang yang menolong kamu itu adalah sosok yang tidak pernah kamu duga sebelumnya. Atau mungkin... Papi punya alasan khusus untuk melindungi orang itu agar tidak menjadi sasaran dendam dari komplotan penculik yang lainnya."
Clara terdiam membisu di tempat duduknya. Pikirannya mendadak melayang membayangkan malam penyelamatan itu.
Siapakah sosok misterius yang telah mempertaruhkan keselamatan nyawa demi mengeluarkannya dari cengkeraman para penculik kejam? Dan mengapa sosok itu terasa sangat dekat namun begitu sengaja ditutupi oleh ayahnya sendiri?
"Sudahlah, Clara..." bisik Tante Fania lembut seraya mengelus bahu keponakannya, mencoba meredakan kebingungan yang melanda pikiran gadis itu. "Yang paling penting sekarang kamu sudah selamat dan ada di sini bersama kita. Soal rahasia Papi kamu itu... pelan-pelan pasti nanti bakal terbongkar juga dengan sendirinya."
Clara mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya kembali di bahu Fania. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa penasaran yang teramat besar telah tertanam, siap meledak kapan saja saat fakta sebenarnya terungkap.
Tinggalkan komentar kamu ya gan