NovelToon NovelToon
Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lavinka

Sedang tahap Revisi:

Liliana—atau Lili—tak bisa diam. Energi dan suaranya seolah tak pernah habis, berpindah dari satu cafe ke cafe lain, menyalurkan hobinya bernyanyi. Hidup baginya sederhana, selama masih bisa menyanyi dan tertawa, dunia baik-baik saja.

Sementara itu, Andra Wijaya lebih suka menyendiri. Cowok pendiam ini punya dunia kecilnya sendiri, mendesain pakaian, menjahit, dan memotret dirinya sebagai model. Semua dilakukan dari rumah, jauh dari hiruk-pikuk orang.

Dua dunia yang sangat berbeda. Namun, siapa sangka satu kejadian kecil membuat keduanya saling bertabrakan. Sejak itu, hidup mereka tak lagi sesunyi atau seceria sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavinka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 5

“Eommaaa…”

“Apalagi, sih?!” sahut Bu Rosa dari halaman depan, suaranya agak tinggi, tangan tetap gesit menjemur cucian yang masih setengah basah.

Lili muncul dari pintu depan, langkahnya malas, satu tangan masih menggandeng kusen. Wajahnya ditekuk setengah hati. “Ya ampun, Ma, belum ngomong udah bentak duluan. Hati-hati, nanti keriputnya nambah, loh.”

Plak. Tamparan sayang mendarat tepat di lengannya.

“Eomma… appooo…!” Lili langsung mengusap lengannya dengan dramatis, meski senyumnya susah ditahan.

“Haish! Jangan sok pakai bahasa-bahasa Korea segala. Udah, ngomong aja. Mama ini lagi sibuk, tahu!”

Tanpa banyak drama, Lili langsung ikut membantu memasukan satu-satu baju ke hanger, lalu menatap ibunya dengan muka sok polos. “Aku mau beli motor baru. Boleh nggak?”

Bu Rosa langsung berhenti. Pandangannya naik-turun menatap anak semata wayangnya itu. “Motor lama kamu tuh, si Purple, mau dikemanain? Kemarin dipel sampe kinclong kayak ngelap bayi baru lahir.”

Lili meringis. “Iya sih, tapi akhir-akhir ini dia suka rewel. Buru-buru dikit aja mogok. Serasa ngajak balita ngebut, gitu. Please ya, Ma, satu motor baru aja buat masa depan cerah anakmu ini!”

Lili menangkupkan kedua tangannya, lengkap dengan mata berbinar dan suara mendayu yang bisa bikin orang waras berpikir ulang.

Bu Rosa mendengkus. Namun, dalam hati dia tahu anaknya butuh itu, dan meski sering cerewet, dia nggak pernah pelit soal kebutuhan yang jelas.

“Ya udah. Tapi, kamu belinya harus bareng Papa besok, jangan pergi sendirian. Titik!”

Belum selesai ibunya ngomong, Lili sudah melompat kecil. “Gomawoooo, Eomma! Saranghaee,” ucapnya sambil menghujani pipi Rosa dengan ciuman bertubi-tubi.

Bu Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala sambil cengengesan. “Pake duit sendiri, kan?”

Lili langsung mengacungkan dua jempol. “Tenang! Bonus dari bos kemarin masih utuh. Rezeki anak solehah.”

Sementara itu, di balik pagar rumah nenek, seseorang sedang mengamati adegan tersebut dengan wajah sinis.

Andra.

Tangan kiri memegang gelas teh hangat, tangan kanan nyelip di saku celana. Ekspresi? Datar banget. Kayak liat iklan deterjen.

“Udah umur segitu, kelakuan masih kayak bocah TK. Gendong-gendongan, cium-ciuman. Cih! Nggak punya malu.”

“Ngomongin siapa, Bang?”

Andra hampir menyemburkan teh dari mulutnya. “Ya ampun, De! Bisa-bisa Abang meninggal muda gara-gara kamu suka muncul tiba-tiba!”

Indri terkekeh sambil nyamber pisang goreng dari piring. “Cieee, serius banget. Lagi mantengin siapa, hayo?”

Andra langsung memalingkan muka, gelas tehnya ditaruh. “Bukan urusan kamu.”

Indri mengendap-endap, mencoba mengintip lewat celah pagar, tapi Andra dengan refleks langsung menutup jalan. Mereka mulai saling dorong, seperti dua bocah rebutan remote TV.

“Hus! Udah, makan dulu, gih!” suara Bu Ratu menggema dari dalam rumah. “Sayurnya keburu dingin, tuh!”

Indri langsung nyerocos. “Bu! Abang dorong-dorong Indri! Sakit tahu!”

Andra mendelik. “Anak manja. Dikit-dikit ngadu ke Mama. Dasar bocah!”

Indri menjulurkan lidah, “Biarin! Emang gitu!”

Andra langsung menggeram, “Sini! Abang tarik lidah kamu sekalian!”

Nenek yang duduk manis di ujung meja hanya menggeleng kecil, senyum mengembang di wajahnya. Rumah yang biasanya sunyi itu, hari ini terasa lebih ramai. Suara rebutan kecil antara kakak-adik, gurauan yang dilempar ke udara, hingga tawa ibu dan anak–semuanya mengisi ruang makan dengan kehangatan yang sudah lama tak mampir.

Dan belum juga mereka sempat mulai sarapan...

BRUK!

Pintu depan terbuka tanpa aba-aba.

“Assalamualaikum! Cucu kesayangan datang, bawa oleh-oleh, nih!”

Suara Lili terdengar nyaring, penuh percaya diri. Ia masuk sambil membawa sekotak jajanan pastel, mengenakan sweater rajut warna broken white yang cukup longgar dengan bagian pundak sedikit melorot, memperlihatkan tali tank top-nya yang kontras berwarna hitam. Dipadukan dengan rok pendek jeans robek–high waist model– yang hanya beberapa senti di atas lutut. Kakinya yang jenjang terlihat jelas, dan sandal platform membuat posturnya makin menonjol.

Rambutnya digelung asal-asalan, messy bun khas Lili, dan wajahnya nyaris tanpa makeup—tapi justru itu yang membuatnya terlihat lebih segar dan berani tampil apa adanya.

Indri langsung berdiri menyambut. “Wah, Eonni bawa pastel?! Pas banget, perutku udah demo!”

“Pagi-pagi liat pasar, liat pastel masih anget, langsung deh ingat kalian semua,” jawab Lili sambil nyengir, meletakkan kotak di meja tamu. Ia lalu menjatuhkan diri ke sofa seolah rumah itu miliknya.

Semua menyambut dengan gembira.

Kecuali satu.

Andra.

Dari kursinya, Andra mendecak. “Masuk rumah orang tanpa ketuk pintu, pakaian juga, astaghfirullah,” gumamnya ketus, matanya menatap Lili dengan penuh protes yang hampir berubah jadi panik.

Lili, tentu saja, tahu betul arah tatapan itu. Ia menoleh ke ruang makan, menemukan sepasang mata yang menatapnya seperti polisi syariah ke pengunjung konser.

Matanya menyipit. Bibirnya menyungging senyum centil. “Kenapa, Bang? Rokku kependekan atau bahuku yang kelihatan, sih? Tatapannya kayak lagi nonton film horor episode dua belas.”

Andra langsung menyipitkan mata. “Kamu nggak punya baju yang lebih sopan?”

Lili bangkit dari duduknya, pura-pura menengok ke arah lengannya sendiri, lalu memperbaiki letak sweater-nya yang sedikit melorot.

“Hmmm, sopan versi siapa dulu, nih?” katanya santai. “Kalau versiku sih ini udah maksimal. Lagi pula, semua orang di sini masih bisa makan dengan damai, kan, liat aku kayak gini? Jadi, kenapa Abang yang kayak mau pingsan?”

Indri nyaris menyemburkan teh.

Bu Ratu menahan tawa, sedang nenek tetap sibuk membuka pastel, pura-pura gak denger.

Andra, di sisi lain, seperti mau mengutuk hidup.

Dia berdecak. “Nggak heran kalau motor kamu sering mogok. Dia aja stres ngangkut kamu yang auratnya nggak karuan.”

Lili justru tertawa, lalu menjulurkan tangan. “Udah sarapan, Bang? Takutnya kamu lapar makanya jadi nyinyir. Nih, cobain pastel dulu sebelum nambah dosa.”

Andra menepis tangannya. “Aku nggak makan dari tangan perempuan yang nggak tahu adab.”

“Wah, sadis.” Lili tertawa kecil. “Tapi, gak apa-apa, yang penting masih mau ngobrol. Itu tandanya Abang perhatiin aku, ya nggak?”

Andra langsung mendesah panjang, lalu menunduk menatap piring. “Ya Allah, kuatkan aku!”

Indri yang duduk di samping Andra ngakak pelan. Reaksi kakaknya hari ini bener-bener di luar dugaan.

Biasanya kalau lihat cewek berpakaian minim, Andra cuek. Namun, sama Lili? Lebih kayak tersulut.

“Aneh juga nih, Bang. Biasanya cuek, kok hari ini bawel,” gumam Indri pelan sambil nyuap nasi.

Andra ngedumel, “Ngapain juga dia pagi-pagi nongol ke sini. Emang gak ada kerjaan?”

Lili menjawab santai dari sofa. “Aku ke sini bukan buat ngapel kamu, kok. Santai aja, Mas. Aku mau nemuin nenek, ada titipan kue dari eomma.”

Indri nyeletuk, “Fix, Bang, kayaknya Lili tuh bukan cewek biasa.”

Andra mendengkus. “Bener, dia luar biasa. Tapi, luar biasa bikin emosi.”

Lili nyengir lebar, lalu menatap Andra dengan tatapan iseng. “Makanya, jangan sering-sering lihat aku, nanti jatuh cinta. Gawat, loh.”

Andra menatap Lili datar, tapi telinganya memerah sedikit.

"Yang kamu sebut 'nenek kamu' itu—sebenarnya adalah nenek aku," suara Andra terdengar datar, tetapi tajam. “Jadi, gak usah sok ngaku-ngaku, deh. Sekarang mendingan kamu pergi. Atau, perlu aku seret keluar sekalian?”

Lili, bukannya takut, melainkan mendekat sambil melipat tangan di dada. Ekspresi wajahnya datar, tetapi matanya berkilat jenaka. Sementara Andra langsung memalingkan wajah, refleks menghindari pemandangan menggoda iman dari rok pendek Lili.

Di meja makan, semua orang tetap sibuk dengan sarapan masing-masing. Entah memang sudah terbiasa dengan pertengkaran ala telenovela ini, atau terlalu fokus pada sambal terasi buatan nenek.

Lili mencondongkan tubuhnya ke arah Andra. “Katanya mau nyeret aku keluar? Ayo, dong! Aku udah siap, Mas. Bahkan, kalau kamu seret aku ke depan KUA juga aku rela, kok.”

Uhuk! Andra langsung tersedak. Sendoknya nyaris mental ke piring. Indri sampai lompat dari kursinya.

“Ya Allah, Bang!”

Dengan sigap, Lili menuang air putih dan menyodorkannya ke Andra. Satu tangannya menepuk-nepuk punggung cowok itu dengan tulus dan mungkin sedikit puas.

“Pelan-pelan dong, Mas. Aku, kan, gak minta disuapin juga,” bisik Lili dengan senyum nakal.

Andra meneguk air itu dengan panik, belum sadar siapa yang menolongnya. Namun, begitu napasnya mulai stabil dan dia menoleh ke samping, tangannya refleks mendorong Lili. Tanpa aba-aba.

Brak!

Lili terjatuh ke lantai, mendarat dengan tidak elegan. Punggung dan pinggulnya menghantam lantai dengan bunyi lumayan keras.

"Aduh!"

"LILI!" teriak semua orang hampir bersamaan. Indri berdiri dari kursinya, sementara Bu Ratu langsung bangkit menghampiri.

"Lili, kamu gak apa-apa?" tanya Bu Ratu sambil membantu Lili duduk.

Lili meringis. Satu tangannya mencengkram pergelangan tangan lain, berusaha menahan rasa nyeri yang menjalar naik. Ia sadar betul, tangannya keseleo karena tadi reflek menahan jatuh.

“Abang!” Indri menatap kakaknya tajam. “Kasar banget sih! Mbak Lili itu nolongin loh!”

Andra mengangkat alis, menyendok nasi seolah tak terjadi apa-apa. “Dia yang nyentuh duluan. Gue gak suka disentuh orang asing.”

“Tapi, kan–”

“Lebay,” potong Andra dingin. “Baru jatuh gitu doang, udah kayak dunia runtuh.”

Lili menunduk. Wajahnya tetap tersenyum, tapi semua orang bisa melihat, itu senyum yang dipaksa.

"Maaf ya, aku ganggu. Kayaknya aku pamit duluan." Suaranya pelan, tapi tegas.

Ia berdiri pelan-pelan, menyembunyikan tangan kirinya yang gemetar di balik tas kecilnya. Rasa nyeri mulai menjalar ke bahu. Namun, dia tetap melangkah santai ke pintu. Gengsi. Itu harga mati.

Di luar rumah, Lili memutuskan tidak membawa motornya. Purple boleh setia, tetapi hari ini dia menyerah. Naik ojol saja. Tangannya tidak kuat untuk menggenggam gas.

Sambil menunggu driver, ia mengurut-urut pergelangan tangannya pelan, meringis.

“Yah, kemarin kaki, sekarang tangan. Besok apalagi, kepala bocor? Duh, amit-amit jabang bayi,” gerutunya.

---

Dari dalam rumah, Andra berdiri di ambang jendela. Alasan keluar? Cuma bilang mau nyari angin. Padahal, matanya sejak tadi mengamati Lili di luar pagar. Melihat gerakan tangannya yang aneh. Cara dia meringis. Cara dia menyembunyikan rasa sakit sambil tetap menegakkan kepala.

Dahi Andra berkerut. “Cuma jatuh gitu doang, tapi kenapa jalannya jadi beda?”

Ia sempat ingin membuka pintu, mengejar. Namun, langkahnya urung. Hatinya belum cukup lunak, atau terlalu keras kepala.

Dia pun memilih berbalik arah, pura-pura tak peduli, meski langkahnya lebih berat dari biasanya.

1
Indah Sari
smangat kak, aku datang lagi...🥰
mampir juga di novelku yah🥰🙏
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩
Aq salfok sama Andra., karna idolaq, Yang2..🤭😊
less22
pendeknya kak
AiniyaFazmi
aku ketinggalan jauh nie ehehhe
Miya Armi
like
Shidqi
Up
Dewi Masitoh
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Dewi Masitoh: siap kak
total 2 replies
Dewi Masitoh
nanti aku lanjut bacanya♥️
Tita Dewahasta
sukaaa
kimtae
Alhamdulillah Sah juga. Slmt yh lili dan Andra.
kimtae
cie-cie Andra lili udh mau kwn nih. dtunggu undangan nya yah
kimtae
ikut senyum senyum sndri nglht ke uwuan Andra sama lili.

Dtunggu yg kak up nya. Semangat juga bt nls nya
Lavinka
malah Kaka.

syiap lah. ditunggu next chap nya yah.
PanggilsajaKanjengRatu
First..
semangat dan sehat selalu Thor

di tunggu up selanjutnya 🥰
Quora_youtixs🖋️
sukses selalu buat karyamu 👍
Lavinka
ya nh. tinggal Andra yang berjuang buat dapetin lili.. mksh yh atas support nya.
kimtae
restu dari si camer udh di kantongi. gaskeun lah
PanggilsajaKanjengRatu
Yang yang kau kah itu😍..

semangat Thor..jangan lupa mampir juga😁
Lavinka: heem...yang yang.
mksh. baik kak nanti aku mampir.
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat kak 👍
Quora_youtixs🖋️
suka 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!