NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Sarah

"Apa harus sekarang?" Aurelia bertanya dibalik ponselnya. Ia sedikit merendahkan suara demi menjaga kenyamanan orang disekitar. Sarah dan Nathaniel hanya mendengarkan tanpa bersuara agar Adriant tidak mengetahui keberadaan mereka.

Sarah kembali menyantap steak-nya dengan pelan. Sementara itu, Nathaniel memainkan jemarinya di atas ponsel karena Attar baru saja mengirimkan informasi melalui pesan.

"Apa kamu tidak bisa?"

Suara Adriant terdengar rendah di seberang sana. Aurelia mendengarnya seraya menatap sekilas ke arah Sarah yang sedang meminum jus hijau.

"Aku ada janji dengan Papa."

"Entah sekarang, nanti sore atau malam."

Sarah berdehem. Wanita itu seperti sengaja agar suaranya terdengar oleh Adriant. Aurelia langsung memberikan tatapan tajam seolah memperingati Sarah agar tetap diam.

"Kamu sedang bersama siapa?"

Aurelia melirik Nathaniel yang masih sibuk dengan ponselnya lalu beralih pada Sarah.

"Aku sedang bersama Sarah dan juga adiknya."

Nathaniel langsung mengangkat pandangannya.

Aurelia tersenyum tipis. Ia tidak berbohong pada Adriant. Ia mengatakan apa adanya.

"Baiklah kalau begitu. Apa sekarang kamu sudah memaafkanku sayang?"

Aurelia meremas ponsel ditangannya tanpa ia sadar. Perkataan kasar yang di ucapkan Adriant kembali terlintas di kepalanya. Namun, entah bagaimana, Aurelia selalu kesulitan untuk marah terlalu lama pada kekasihnya.

Aurelia menundukkan kepalanya dan mengangguk kecil.

"Aku memaafkanmu."

Sarah melepas garpu hingga menimbulkan bunyi dentingan cukup keras. Matanya melotot ke arah Aurelia yang baru saja berucap pada Adriant. Wanita itu melayangkan kedua tangannya di udara lalu meremasnya hingga membentuk kepalan dengan gigi yang menggertak.

"Terimakasih sayang."

"I love you."

Aurelia terdiam sejenak.

"Iya."

Aurelia memutuskan panggilan itu seperti biasa, tanpa membalas ucapan manis Adriant. Dirinya selalu seperti itu sejak mereka menjalin hubungan, ucapan kata cinta dari Aurelia sangat jarang terdengar bahkan hampir tidak pernah. Wanita itu mencintai Adriant, tapi terkadang hatinya selalu merasakan hal yang membuatnya bingung sendiri.

Aurelia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan beralih menatap Sarah.

"Apa ada lagi yang perlu di bicarakan?"

Sarah menggeleng.

"Tidak ada."

Aurelia menghela napas sebentar seraya merapihkan rambutnya. "Kalo begitu aku pamit pergi, Sarah. Ada beberapa urusan di kantor." Ia menatap Sarah yang sedang minum.

Sarah meletakkan gelas itu kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan. "Urusan kantor atau urusan Adriant?" Ia menyenderkan punggungnya di kursi.

Aurelia menghela napas kasar. "Urusan di kantor, Sarah. Aku menolak untuk bertemu dia karena ada pertemuan dengan Papa entah kapan." Ia beranjak berdiri seraya merapihkan dress-nya.

Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya baiklah." Sarah juga ikut berdiri.

"Aku mohon pertimbangan saranku tadi." Sarah berjalan ke arah Aurelia.

"Aku benar-benar ingin melihat kamu bahagia." Jemarinya bergerak menggenggam tangan Aurelia dan mengelusnya lembut.

Aurelia membalas genggaman tangan Sarah. Ia mengembangkan senyum lebar lalu beralih memeluk sahabatnya itu.

"Terimakasih karena selalu perduli."

Sarah membalas pelukan Aurelia dan tersenyum, tangannya bergerak mengelus punggung Aurelia.

"Terima juga karena sudah kuat."

Hati Aurelia berubah hangat. Sarah benar-benar selalu membuatnya tenang, mereka jarang bertemu tapi Aurelia benar-benar sudah menganggarkan Sarah lebih dari seorang sahabat.

Mereka mengurai pelukan. Aurelia masih mengembangkan senyum kemudian beralih menatap Nathaniel.

"Aku pamit tuan Nathaniel." Ucapnya pelan.

Nathaniel menegakkan tubuhnya dan mengangguk kecil.

"Apa kau bersama Tyana?" Suaranya terdengar datar.

Aurelia mengangguk, "iya. Dia menunggu di luar." Wajahnya beralih menatap Tyana yang masih duduk di luar sana.

Sesaat kemudian. Aurelia mengambil tasnya dan mulai berjalan meninggalkan meja.

Nathaniel menatap punggung Aurelia yang mulai menjauh dan baru saja melewati pintu keluar. Matanya melihat Aurelia yang menghampiri Tyana, mereka terlihat sedang berbincang.

"Bagiamana adikku tersayang?"

Nathaniel mengalihkan pandangan ke arah Sarah yang sudah duduk di kursinya.

"Apa?" jawabnya singkat.

Sarah tersenyum penuh arti. "Apa kamu menyukai wanita pilihanku?" alisnya bergerak naik turun, wanita itu kembali berusaha menggoda adiknya.

Nathaniel mengalihkan pandangan keluar, ia melihat beberapa deretan pot bunga yang menghiasi teras cafe sehingga menciptakan kesan yang indah.

Jarinya bergerak menggeser ponsel dan kembali menatap Sarah. "Apa kakak yakin dia akan meninggalkan kekasihnya?" pertanyaan itu lebih serius di ucapku oleh Nathaniel.

Sarah terdiam sejenak kemudian tersenyum getir. "Aku tidak tahu. Tapi Aurel pantas bahagia, Nathan.." Sarah mengalihkan pandangan ke arah dua orang yang sedang memainkan biola.

"Begitu juga dengan kamu." lanjut Sarah seraya menatap Nathaniel.

Nathaniel menyandarkan tubuhnya, tangan kanannya bergerak memainkan ponsel di atas meja dengan gerakan memutar.

"Tapi Aku tidak tidak membutuhkan seseorang yang bisa membuatku bahagia."

Sarah memutar bola matanya seraya berdecak.

"Selalu bicara seperti itu."

"Tapi itu kenyataannya." Potong Nathaniel cepat dengan mata yang kembali menatap keluar. Aurelia dan Tyana masih berada disana, Tyana terlihat menyerahkan iPad miliknya dan langsung dilihat oleh Aurelia.

Wanita itu mengambil alih iPad dan mulai menggeser layar itu perlahan, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Rambutnya bergerak mengikuti arah angin, lalu ia mulai mengatakan sesuatu yang tidak bisa Nathaniel dengar.

Sarah menyadari kalau Nathaniel sedang memperhatikan sahabatnya.

"Lihat wanita itu...."

Nathaniel beralih menatap Sarah yang menggantung kalimatnya.

"Baru bertemu sudah pergi lagi. Benar-benar wanita sibuk." Mereka saling menatap satu sama lain.

Nathaniel menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan ponselnya, ia meraih secangkir kopi dan mulai meminumnya secara perlahan.

Sarah memajukan tubuhnya.

"Aku memilih Aurelia bukan karena dia cantik."

Pandangan matanya menatap Nathaniel dengan serius. Sarah tersenyum kecil. Kali ini tidak ada nada menggoda dalam senyumnya. Ia benar-benar sedang memikirkan kebahagiaan adiknya.

"Tapi karena Aurelia adalah perempuan mandiri." Sarah mengaduk minumannya yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk. Matanya menerawang ke arah Aurelia yang masih berdiri disana.

"Dia bisa berdiri sendiri dan sangat menjunjung harga dirinya." Sarah kembali menatap Nathaniel sembari menggeser minumannya.

"Itu mungkin wanita yang kamu butuhkan, Nat."

Nathaniel melihat ke arah pintu cafe yang sudah tertutup sejak Aurelia pergi. Ia tidak tahu kenapa percakapan singkat tadi terus berputar di kepalanya.

Aurelia sudah memiliki kekasih. Itu fakta yang seharusnya cukup untuk membuatnya tidak perlu memikirkan wanita itu lebih jauh.

"Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang sudah memiliki kekasih."

Senyum Sarah perlahan memudar. Ia mengenal perubahan nada suara adiknya itu. Nathaniel memang jarang meninggikan suara, tetapi ketika mulai berbicara dengan nada setenang itu, biasanya ia sedang benar-benar serius.

"Kalau mereka sudah mengakhiri hubungan bagaimana?"

Sarah menyandarkan dagunya di telapak tangan. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya, membuat Nathaniel langsung tahu bahwa pertanyaan berikutnya tidak akan sederhana. Tangannya beralih memainkan ponsel, seolah tidak tertarik dengan pertanyaan Sarah. Namun, sudut matanya masih mengawasi kakaknya.

"Berhenti membicarakan tentang hubungan orang lain, kakak." Matanya bergerak membaca setiap pesan yang dikirimkan Attar.

"Tapi kamu suka, bukan?" Sarah tertawa. Ia masih sangat bersemangat untuk menggoda adiknya itu.

"Kalau Aurelia mulai menyukaimu bagaimana?"

"Dia sangat mencintai kekasihnya." Timpal Nathaniel seraya mengetikkan sesuatu di ponsel.

"Tapi aku tidak pernah mendengar dia mengatakan, I love you. Atau, aku rindu kamu dan hal manis lainnya. Bukankan itu aneh?"

Nathaniel meletakkan ponselnya dan berdecak.

"Kakak terlalu banyak bicara."

Sesaat setelahnya Sarah tertawa puas.

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!