Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana kantor pusat Dhanubrata Group mulai lengang ketika Asisten Kim kembali dari Distrik Timur. Matahari sudah condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan pada dinding kaca gedung pencakar langit itu.
Setelah memastikan seluruh cake dan roti telah dikirim ke pantry eksekutif, Asisten Kim melangkah menuju lantai paling atas, ia lalu mengetuk pintu ruang Presiden Direktur.
Pintu ruangan itu terbuka. Asisten Kim melangkah masuk.
Han Seokjin masih duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya terbentang beberapa berkas proyek, sementara map hitam bertuliskan Distrik Timur masih terbuka di sisi kanan meja.
Asisten Kim menyerahkan tablet. "Laporan yang Anda minta sudah saya rangkum, Tuan."
Seokjin memang sempat mengirim pesan balasan saat Asisten Kim mengirim laporan saat masih dalam perjalanan tadi.
Seokjin langsung mengambilnya. Tatapan tajamnya membaca setiap kalimat dengan teliti. Tidak ada satu baris pun yang ia lewati begitu saja. Sesekali jemarinya berhenti pada layar, lalu bergeser lagi.
Asisten Kim tetap berdiri tegak tanpa berani mengganggu.
Sampai akhirnya Seokjin mematikan layar tablet. "Asisten Kim."
"Ya, Tuan."
"Hubungi pemegang proyek Distrik Timur."
Asisten Kim mengangguk. "Baik, Tuan."
"Atur ulang pertemuan dengan tujuh pemilik bangunan yang hingga sekarang belum mencapai kesepakatan."
Asisten Kim sedikit mengangkat kepala. "Termasuk bangunan yang ditempati Sweet Cake, Tuan?"
Tatapan Seokjin beralih sebentar ke map proyek di atas meja. "Semuanya! Usahakan mereka semua hadir dalam pertemuan itu."
"Baik."
"Malam ini juga, aku ingin mereka mendapatkan undangan untuk pertemuan ulang besok siang."
Asisten Kim mengangguk paham tanpa bertanya lebih jauh. Ia segera melangkah keluar untuk melaksanakan tugas yang baru saja diberikan.
Selama bertahun-tahun bekerja bersama Han Seokjin sebelum akhirnya diminta menetap untuk mendampingi Nara. Asisten Kim tentu sudah sangat memahami pria tegas itu.
Atasannya itu tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan, terlebih jika menyangkut sebuah proyek bernilai ratusan miliar.
Pintu ruangan tertutup perlahan. Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja Presiden Direktur Dhanubrata Group.
Han Seokjin berdiri seorang diri di depan meja kerjanya. Tatapannya kembali jatuh pada peta besar pembebasan lahan Distrik Timur.
Enam bidang telah diberi tanda hijau, sementara tujuh bangunan lainnya masih dilingkari merah.
Jari telunjuknya berhenti tepat pada salah satu bangunan yang disewa Sweet Cake. Ia terdiam beberapa saat. Bukan karena toko kecil itu atau karena wanita yang tak sengaja bertemu dengannya kemarin. Yang sedang ia pikirkan hanyalah; angka, perhitungan, resiko, dan keputusan yang tidak boleh sampai salah.
Jika satu bangunan dipaksa dikosongkan tanpa mempertimbangkan penyewa yang masih terikat kontrak, bukan hanya nama perusahaan yang dipertaruhkan, tapi kepercayaan masyarakat juga bisa runtuh. Dan itu bukan cara Dhanubrata Group bekerja.
Seokjin menarik napas pelan. Baginya, proyek sebesar apa pun tidak pernah sebanding dengan mengorbankan hak orang lain. Justru karena proyek itu bernilai sangat besar, setiap langkah harus dilakukan tanpa menyisakan celah yang dapat dipermasalahkan di kemudian hari.
Tatapannya kembali menyusuri berkas-berkas yang telah Asisten Kim kirim. Masa sewa, nilai investasi penyewa, potensi kerugian, perkiraan biaya kompensasi semuanya ia hitung dengan teliti. Tidak boleh ada satu angka pun yang meleset, apalagi pihak yang merasa diperlakukan semena-mena.
Sudut bibir Seokjin mengeras. "Jika negosiasi dilakukan sekali lagi dengan perhitungan yang benar ...," gumamnya lirih. "... mereka seharusnya mau melepasnya."
Seokjin kembali menatap lingkaran merah yang masih tersisa di atas peta. Ambisinya hanya satu. Kawasan bisnis Distrik Timur harus segera berdiri. Ia tidak ingin menundanya lagi, proyek itu harus segera dijalankan secepat mungkin.
Namun, kemenangan yang dibangun dengan menginjak hak orang lain bukanlah kemenangan yang ia inginkan.
Han Seokjin menutup peta itu perlahan. Sorot matanya kembali berubah setajam biasanya.
Besok ...
Negosiasi akan dimulai lagi. Dan kali ini, ia berniat memastikan tidak ada lagi jalan buntu.
****
Langit mulai berubah jingga ketika Viola memutar kunci pintu toko untuk terakhir kalinya hari itu.
Suasana Sweet Cake yang sejak pagi dipenuhi tawa pelanggan kini kembali sunyi. Aroma mentega, vanila, dan kopi masih menggantung lembut di udara, seolah enggan meninggalkan ruangan yang sejak beberapa bulan terakhir menjadi rumah keduanya.
Viola berdiri sesaat di depan etalase. Rak-rak kaca yang tadi dipenuhi aneka cake kini kosong. Hanya tersisa beberapa remeh roti yang belum sempat dibersihkan.
Senyum tipis terukir di bibirnya, hari ini kembali menjadi hari yang baik. Ia mengambil buku catatan stok yang selalu disimpannya di bawah meja kasir, lalu mulai berkeliling toko.
Satu per satu ia memeriksa persedian. Mulai dari tepung terigu, mentega, krim keju, telur, cokelat, gula, buah strawberry segar, dan bahan lainnya. Ia menuliskan semuanya dengan teliti hingga tidak ada satu pun bahan yang luput dari catatannya.
Meski kini hanya memiliki sebuah toko kue sederhana, kebiasaan lamanya sebagai seorang pemimpin perusahaan besar rupanya masih melekat. Segala sesuatu harus tercatat dan terencana dengan rapi.
Setelah selesai mencatat, Viola mematikan lampu lantai bawah. Hanya lampu teras yang dibiarkan menyala redup, ia juga kembali memastikan seluruh jendela terkunci, kompor mati, listrik aman, dan mesin pendingin bekerja normal. Barulah ia bisa menghembuskan napas lega.
Perlahan ia menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Setiap pijakan mengeluarkan bunyi lirih dan derit yang sudah akrab di telinganya.
Begitu sampai di atas, Viola membuka jendela kamar. Angin sore menyapa wajahnya, dari sana ia bisa melihat jalan kecil di depan toko yang perlahan mulai sepi.
Ia tersenyum sendiri. Dulu ... saat masih menjadi CEO, jam seperti ini ia masih sibuk dengan tumpukan berkas dan layar laptop yang masih menyala, tapi kini ... yang ia lihat hanya daun pepohonan yang bergoyang diterpa angin. Dan anehnya ... hatinya jauh lebih tenang.
Malam ini ia berencana tidur lebih cepat, menyiapkan energi untuk menyambut hari esok yang sama sibuknya meski tokonya libur.
****
Keesokan harinya ....
Sebelum matahari benar-benar muncul, Viola sudah membuka mata. Jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi. Ia merapikan tempat tidur, mandi, lalu mengenakan kaus putih sederhana dipadukan celana panjang krem, rambut panjangnya dikuncir rendah. Tak ada sapuan make up ataupun sepatu hak tinggi sebagai penunjang penampilan. Yang ada hanya wajah segar yang tampak menikmati pagi.
Sesaat kemudian ia menuruni tangga lalu berjalan menuju garasi kecil di belakang bangunan. Di sana terparkir sebuah sepeda berwarna hijau muda dengan keranjang rotan di bagian depan.
Ia tersenyum, lalu menaiki sepeda itu dan meluncur perlahan menyusuri jalanan yang masih lengang.
Udara pagi terasa dingin, embun pagi menggantung di ujung dedaunan, sesekali burung-burung kecil beterbangan melintasi langit.
Viola menghirup napas panjang, rasanya ia selalu merasa tenang setiap menikmati pagi seperti ini. Tak lama kemudian ia berhenti di sebuah gerobak bubur ayam.
"Buburnya satu ya, Bu. Dibungkus ... sambalnya dipisah saja," ucapnya ramah.
Ibu penjual bubur mengangguk sambil tersenyum. "Siap, Neng." Dengan cekatan ibu penjual itu langsung menyiapkan pesanan Viola.
Selesai membeli sarapan, Viola kembali mengayuh sepedanya menuju kios sederhana yang menjual beraneka macam sayuran segar. Tak lama keranjang rotan di depan sepedanya perlahan mulai terisi; wortel, kentang, daun, bawang, ayam kampung potong, dan beberapa bumbu penunjang lainnya.
"Neng Viola, besok Ibu pesan croissantnya lima belas, ya," seru Ibu pemilik kios sayuran.
"Siap, Bu. Nanti saya minta Dimas untuk mengantarnya ke sini."
"Jangan lupa bonusnya tiramisu, ya, Neng."
Viola tertawa kecil. "Beres, Bu."
Perjalanan pulang terasa lebih lambat. Bukan karena keranjang yang semakin berat, melainkan karena ia benar-benar menikmati setiap detiknya.
Matahari mulai naik, sinar keemasan menembus sela pepohonan di sepanjang jalan. Saat memasuki kawasan pertokoan tempat Sweet Cake berada, Viola memperlambat kayuhan sepedanya.
Dari kejauhan ia melihat beberapa warga berkumpul di depan rumah salah satu tetangganya.
Seorang wanita paruh baya yang mengenalnya segera melambaikan tangan. "Neng Viola!"
Viola menghentikan sepedanya. "Pagi, Bu Siti."
Tatapan wanita bernama Siti itu berpindah ke keranjang sepeda yang penuh dengan belanjaan. "Habis borong sayuran ya, Neng?"
"Iya, Bu. Mumpung toko libur. Saya mau masak sayur sup di rumah."
Bu Siti mengangguk. Kemudian wajahnya berubah sedikit heran. "Lho ... kamu nggak ikut berangkat?"
Viola ikut bingung. "Berangkat ke mana, Bu?"
"Ke pertemuan."
"Pertemuan?"
"Mungkin Neng Viola nggak dapat undangannya," sahut Ibu berkacamata.
"Undangannya pasti dikirim langsung ke Bu Mirah." Ibu berambut ikal ikut menimpali.
"Tadi malam semua pemilik bangunan di sekitar proyek dapat undangan."
Viola mengernyit. "Undangan?"
"Iya. Katanya ada pertemuan mendadak dari pihak pengembang kawasan bisnis Distrik Timur."
Jantung Viola berdetak sedikit pelan, perasaannya mendadak tidak nyaman.
"Katanya mereka ingin membahas lagi soal pembebasan lahan." Bu Siti kembali melanjutkan.
Viola terdiam.
"Neng Viola nggak dikasih tahu ya sama Bu Mirah kalau tujuh bangunan di daerah sini, termasuk bangunan ruko yang Neng Viola sewa, sebenarnya masuk target pembebasan lahan?"
Viola terdiam beberapa saat. Tatapannya berpindah dari wajah Bu Siti menuju bangunan Sweet Cake yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang. "Oh ... begitu, ya." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Tak ada raut panik atau nada yang meninggi, ia justru tersenyum tipis, meski pikirannya mulai bekerja.
"Jujur saja, Bu, saya baru sekarang mendengar soal itu."
Ketiga ibu itu saling berpandangan.
"Kami kira Bu Mirah sudah memberi tahu," ucap Bu Siti lagi.
Viola menggeleng pelan. "Beliau tidak pernah membahasnya." Nada suaranya tetap lembut dan setenang biasanya. Namun, di dalam kepalanya, satu pertanyaan mulai muncul.
"Kalau memang ruko ini sudah lama masuk rencana pembebasan lahan ... mengapa pemiliknya tidak mengatakan apa pun padaku?"
"Tapi Neng Viola jangan khawatir dulu," ucap Ibu berkacamata. "Setahu saya, Ibu Mirah memang selalu menolak tawaran pembebasan lahan itu. Apalagi, tanah dan bangunan Bu Mirah paling luas di daerah ini."
"Iya, bener ... pasti bakal ditolak lagi. Apalagi anak Bu Mirah kan kaya semua. Mereka pasti nggak butuh uang ganti rugi." Bu Siti menambahkan.
"Terima kasih sudah memberitahu, Bu." Ia benar-benar berterima kasih. Kalau bukan karena percakapan singkat pagi itu, mungkin ia baru mengetahui semuanya ketika keputusan sudah diambil.
Setelah berpamitan, Viola kembali mengayuh sepedanya menuju Sweet Cake. Kayuhannya tetap pelan, wajahnya masih setenang tadi. Namun, pikirannya terus menyusun kemungkinan.
Sebagai mentan CEO, ia tentu tahu jika sebuah proyek besar tidak pernah bergerak tanpa perencanaan yang matang, termasuk tentang pembebasan lahan sebagai bagian dari perluasan kawasan.
Sesampainya di depan Sweet Cake, Viola menghentikan sepedanya. Ia menatap papan nama toko itu beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Kalau memang ada masalah ...," gumamnya lirih, "... aku akan menghadapinya."
****bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor