NovelToon NovelToon
PERJUANGAN CINTA IRENE

PERJUANGAN CINTA IRENE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Duda / Balas Dendam
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ms. Riana

Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.

Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.

Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.

Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.

Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.

Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?




Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 06

Ketika merasakan tidak ada balasan ciuman, malah yang ada pemberontakan membuat Tian merasakan keanehan.

Karena biasanya Desi yang menyerangnya lebih dulu.

"Rasanya lebih manis dan nikmat" batin Tian sambil perlahan membuka kedua matanya.

Sadar yang ia cumbu bukan Desi melainkan Irene, buru-buru ia melepaskan tangan Irene.

"Ren, maafkan aku, aku pikir tadi ....," Tian tidak jadi melanjutkan kata-katanya.

Tidak mungkin ia berkata jujur kalau tadi ia mengira Irene adalah Desi. Pasti akan menyakiti gadis didepannya.

Karena yang ia dengar dari James, Irene menyukainya walaupun gadis itu belum mengatakannya secara langsung.

Irene hanya terisak sambil duduk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Pandangannya tertuju pada liontin dikalung yang dipakai Tian. Berinisial "D". Hatinya terasa perih.

Kemudian bangkit berdiri merapikan bajunya yang terangkat ke atas menampilkan sedikit perutnya yang putih.

Bergegas mengambil tas nya yang berada diatas sofa kamar Tian dan berlari keluar.

Pikirannya kacau. Cairan bening masih memaksa untuk keluar walaupun sudah ia tahan.

Tian yang mulai tersadar dengan kebodohannya berlari mengejar Irene.

"Ren, tunggu aku antar pulang" ujar Tian ketika mendapati Irene baru saja hendak keluar dari pintu utama rumahnya.

"Tidak perlu mas aku bisa pulang sendiri. Lagian mas Tian juga masih pucat" kilahnya.

Saat ini ia sangat ingin menghindari Tian. Perasaannya campur aduk. Antara malu, kecewa, sedih dan bingung. Saat ini pun ia merasa gugup mendapat tatapan intens dari Tian.

Suasana menjadi canggung.

"Tidak, biar aku antar pulang, keadaan aku sudah jauh lebih baik," bohong Tian untuk meyakinkan Irene.

Dengan lembut Tian menggenggam tangan Irene menuju mobil yang masih terparkir dihalaman depan.

Irene buru-buru melepaskan genggaman tangan Tian. Ia merasa bagai ada sengatan listrik yang menjalar ditubuhnya ketika bersentuhan dengan Tian terlebih setelah ciuman panas tadi.

Ciuman yang memabukkan baginya.

Melihat penolakan Irene, Tian merasa bersalah. Ia tau Irene marah padanya.

Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam dalam pikirannya masing-masing.

...----------------------------------------------------...

Seminggu berlalu,

Setelah kejadian dirumah Tian lebih tepatnya dikamar pribadi Tian, Irene beraktifitas seperti biasanya.

Menyibukkan diri dengan rutinitasnya dikantor.

Mulai membunuh perasaan nya terhadap Tian.

"Semakin aku lupakan bayangannya semakin jelas. Ciuman yang mas Tian berikan begitu nikmat walau hanya dalam ingatan," batin Irene gusar.

"Mungkin aku harus melupakannya seperti mas Tian melupakanku," batinnya lagi.

"Lihatlah! Bahkan setelah kejadian itu dia sama sekali tidak menghubungiku," berharap Tian menghubunginya walau hanya sekedar menanyakan kabar.

"Ren, kamu ditunggu pak Herry diruang meeting," suara Viona rekan kerjanya membuyarkan lamunannya.

"Aaahh iya. Thanks ya Vi" balas Irene.

"Eh Vi, pak Herry diruangannya atau diruang meeting?" baru beberapa langkah ia memutar haluannnya kembali karena tidak mendengar dengan jelas ucapan Viona tadi.

"Ruang meeting Ren" ucap Viona memperjelas.

"Thanks" sahut Irene tersenyum tipis.

"Kenapa lagi dengan gadis itu? Akhir-akhir ini sering melamun," gumam Viona lirih.

...------------------------------------...

Tok tok tok

"Masuk!" sahut pak Herry.

"Duduklah!" imbuh pria paruh baya itu ketika Irene sudah berdiri dihadapannya.

"Bapak memanggil saya?" tanya Irene setelah duduk dihadapan pak Herry.

"Begini Ren, tender proyek pembangunan mall yang akan kita tangani sudah disetujui. Dan beberapa perusahaan sudah memutuskan bergabung," jelas pak Herry.

"Untuk meeting selanjutnya membahas lebih detail isi kontrak dan penandatanganan kontrak akan dilakukan dikantor pusat kita di Jakarta, karena perusahaan-perusahaan yang akan bergabung lebih banyak berasal dari Jakarta." sambungnya lagi.

"Untuk itu kamu akan ke Jakarta, nanti disana kamu akan dibantu beberapa orang dari kantor pusat," imbuhnya lagi.

Irene hanya diam mendengarkan penjelasan atasannya. Karena perjalanan dinas seperti ini kerap terjadi jika ia ikut dalam sebuah proyek.

"Kapan saya berangkat pak?" tanya Irene.

"Karena meeting dimulai hari senin kamu bisa berangkat minggu siang, untuk tiket pesawat kamu koordinasikan dengan kantor pusat," sahut pak Herry.

"Baik pak" jawab Irene.

"Sudah itu saja yang ingin saya sampaikan. Kamu bisa kembali keruanganmu. Jangan lupa persiapkan materi untuk meeting nanti," ujar pak Herry.

"Baik pak, saya permisi" kemudian Irene kembali keruangannya.

---------------------------------------------------------------

Disebuah ruangan mewah dilantai atas sebuah gedung pencakar langit.

Tok tok tok

"Masuk" sahut sang pemilik kantor tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang menumpuk dimejanya.

"Permisi pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak" sahut Nita sang sekretaris.

"Siapa? Saya tidak ingin diganggu. Kamu tidak lihat saya sedang banyak pekerjaan?" sahut Tian ketus. Ya sang pemilik perusahaan itu adalah Christian Abimanyu Wijaya.

Setelah kejadian dikamar pribadinya bersama Irene, bayangan Irene terus menghantuinya.

Rasa bersalahnya begitu besar ketika melihat wajah cantik Irene dibanjiri air mata dan ketakutan.

Ingin rasanya saat itu ia memeluk gadis itu untuk menenangkannya tapi ia tidak memiliki keberanian.

Rasa manis bibir Irene yang baru pertama dirasakannya walaupun hanya sebentar namun membuatnya candu. Ia menginginkannya lagi.

Irene yang sederhana, ceria, dan apa adanya seolah tidak bisa lepas dari ingatannya.

"Ia bagaikan memiliki magnet yang menempel lekat dalam ingatanku, " batin Tian.

Beberapa hari setelah kembalinya dari Surabaya ia lebih sering menghabiskan waktu dengan melamun. Berakhir dengan beberapa pekerjaan yang terbengkalai walaupun sudah dibantu oleh asistennya Robby.

Berkali-kali ia ingin menghubungi Irene tapi ia urungkan. Takut gadis itu menolaknya lagi.

"Sayang ini aku. Sekretarismu melarangku masuk," Desi tiba-tiba masuk. Karena lelah dan bosan menunggu diluar.

"Maaf ibu tidak bisa langsung masuk," cegah Nita. Ia tidak ingin membuat atasannya semakin marah karena membiarkan tamu yang tidak memiliki janji masuk begitu saja.

"Nita, kamu bisa kembali ke meja kerjamu," potong Tian. Ia tidak ingin Desi membuat keributan.

"O iya ini berkas yang sudah saya tanda tangani, kembalikan ke masing-masing divisi," tambahnya sembari menyerahkan setumpuk berkas.

"Ciihhh, kamu belum tau siapa saya?" ejek Desi ketika Nita berjalan melewatinya menuju pintu keluar.

"Maaf ibu saya hanya menjalankan peraturan diperusahaan ini," jawab Nita sambil membungkukan badannya.

"Aku ini kekasih Christian Abimanyu Wijaya, ingat itu!" tandas Desi dengan sombongnya sembari berjalan menuju meja Tian.

"Cantik sih tapi sikapnya tidak sesuai dengan penampilan luarnya," batin Nita sambil keluar menuju meja kerjanya yang berada didepan ruangan Tian.

"Sayang... kamu tidak merindukan aku?" ucap Desi manja dan langsung duduk dipangkuan Tian.

"Kamu bisakan duduk disana?" ucap Tian sambil menunjuk sofa yang berada didepan meja kerjanya.

Desi bukannya beranjak malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Tian.

Cuuup.

Dengan cepat ia mencium pipi Tian.

"Aku merindukanmu sayang" desahnya ditelinga Tian. Kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Tian dengan manja.

Tian tidak merespon. Ia masih memasang sikap dingin.

"Kamu kemana saja? Kenapa beberapa minggu ini menghilang? Dan aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menemuiku dikantor." cecar Tian dengan nada ketus.

Kemudian menarik Desi turun dari pangkuannya dan mendudukannya di sofa.

1
Lilis anggriani Lilis anggriani
sangat bagus dan menarik cerotanya,sambung ceritanya
Lilis anggriani Lilis anggriani
lanjut
Ms Riana
dibayrmar lunas ya kak 🤘
visi Sembiring
senjata makan tuan mau menjebak malah dijebak ingin tau gmn hancurnya dira kena karma tuch pelakor 😈😈😈
visi Sembiring
jgn biarkan rencana dira berhasil thor jgn pisahkan irene dan tian buat dira hancur dg rencananya sendiri walau ada pelakor jgn biarkan pelakor berhasil merusak kebahagiaan tian dan irene 😤😤😤
Ms Riana: siap kak 😁😁❤❤
total 1 replies
Ibuna Ariq
bentar lagi irene di bully psti karena status nya blm.di ketahui di kantor tian
Rintik Ludira
semangat semangat
Rintik Ludira
semangat thor...
Ms Riana
kemaren udah up tapi ditolak. sabar ya kak 🙏
Ningsih Darwin
lnjut thor
Ms Riana: siap kak 🙏🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
sip sip sip semangat thor
Pangeran Matahari
lanjut kk..

dukung karya ku juga y cucu manja oma
Neti Jalia
aku mampir kk, yuk saling dukung🤗🙏

*Suamiku ceo ganas

"Sarlince(cinta sepihak)
Ms Riana
tenang kak. tidak akan tergoyahkan kok mas Tiannya 🤗
Ibuna Ariq
bnci klo udh ada bibit pelakor
Rintik Ludira
semangat ya thor semangat
Ibuna Ariq
up yg bnyak,slalu stia nunggu ni😁
Ms Riana: aaww makasih kak. 🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
yok lanjuuut stia mendukung
Ms Riana
makasih kak 🖤
Rintik Ludira
semangat setia selalu menunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!