NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Autopsi Selebriti

Senin pagi, jalan menuju RSUD dr. Soetomo lebih padat dari biasanya.

Penyebabnya orang yang memenuhi pagar.

Karena manusia.

Di luar pagar, puluhan polisi berjaga. Di belakang garis pembatas, ratusan penggemar berdiri membawa bunga, poster, dan ponsel. Ada yang menangis. Ada yang membaca doa. Ada yang merekam wajah sendiri sambil berkata akan menuntut keadilan untuk Rusa Kecil.

Arka masuk lewat pintu samping bersama dr. Suherman.

"Jangan lihat komentar hari ini," kata dr. Suherman.

"Saya tidak sempat."

"Bagus. Komentar bisa membuat dokter merasa jadi hakim. Itu bahaya."

"Saya ingat, Dok."

Di koridor IKF, suasana sudah tegang. Petugas administrasi bicara pelan. Dua orang sekuriti berdiri di dekat lift. Kamera media tidak boleh masuk, tetapi suara mereka masih terdengar dari halaman.

Adira menunggu di depan ruang autopsi.

"Jenazah sudah datang?" tanya dr. Suherman.

"Baru lima menit," jawab Adira. "Keluarga sudah memberi izin pemeriksaan forensik. Surat permintaan dari penyidik Polda Jatim juga ada. Polrestabes ikut membantu karena tekanan publik dan koneksi kasus awal di Surabaya."

Ia menyerahkan map.

"Barang bukti?"

dr. Suherman membuka map.

Adira menunjuk kotak bukti transparan di meja samping. "Satu pengait keamanan wiraga yang patah. Tali utama, harness, dan beberapa baut masih di Batu. Polda kirim pengait lebih dulu karena itu disebut titik kegagalan."

Arka melihat kotak itu.

Logam kecil.

Patah di salah satu sisi pengunci.

Benda seukuran telapak tangan itu sekarang lebih penting daripada ratusan komentar di internet.

Kepala IKF, dr. Hartono, masuk dengan wajah kaku.

"Kita lakukan bersih," katanya. "Tidak ada bocor foto. Tidak ada spekulasi. Laporan awal hanya ke penyidik. Paham?"

Semua menjawab, "Paham."

Dr. Hartono menatap Arka. "Dokter Arka, Anda mendampingi dr. Suherman."

"Siap, Dok."

Galang tidak ada di ruangan itu.

Arka tidak bertanya.

Kadang ketiadaan seseorang justru membuat pekerjaan lebih cepat.

Jenazah Kirana Ayu Prameswari dibawa masuk pukul delapan lewat dua belas.

Kain penutup dibuka.

Wajah muda itu membuat ruangan diam lebih lama dari biasanya.

Usianya yang membuat ruangan tertahan.

Karena tubuh muda selalu membawa jenis kemarahan yang sunyi.

dr. Suherman memakai sarung tangan. "Mulai identifikasi."

Arka membaca data keras-keras.

"Perempuan. Perkiraan usia sesuai dokumen, dua puluh dua tahun. Label jenazah sesuai surat pengantar. Pakaian sudah dilepas di rumah sakit daerah, sebagian disertakan sebagai barang bukti terpisah."

Fotografer forensik mengambil gambar sesuai urutan.

Tidak ada yang terburu-buru.

Begitu Arka berdiri di sisi kanan meja, sistem menyala.

[Objek: Kirana Ayu Prameswari]

[Status: Meninggal]

[Penyebab Kematian Utama: Trauma Multipel Akibat Jatuh dari Ketinggian]

[Catatan Kritis: Bukan Kecelakaan]

Empat kata terakhir muncul dengan warna merah pekat.

Kecelakaan tersingkir.

Arka tidak bergerak selama satu detik.

Sistem sudah menjawab arah besar.

Tetapi laporan tidak boleh ditulis dengan kalimat dari udara.

Ia harus menemukan jalannya sendiri.

"Dok?" dr. Suherman melirik.

"Saya lanjut pemeriksaan luar."

Luka-luka utama sesuai jatuh dari ketinggian. Memar luas di punggung dan panggul. Deformitas pada tungkai kanan. Abrasi di lengan. Tanda benturan pada kepala bagian belakang. Ada fraktur yang sangat mungkin terjadi saat tubuh menghantam permukaan keras.

Tidak ada luka tusuk.

Tidak ada luka tembak.

Tidak ada tanda cekikan yang jelas.

Kalau hanya tubuh yang dibaca, kecelakaan masih terlihat masuk akal.

Justru itu bahayanya.

Arka memeriksa pergelangan tangan, bahu, pinggang, dan area kontak harness.

"Ada pola tekanan tali," katanya.

"Sesuai penggunaan wiraga?" tanya Adira dari belakang garis steril.

"Sebagian sesuai. Tapi perlu cocokkan dengan alat."

Dr. Suherman mengangguk. "Catat."

Pemeriksaan dalam dimulai.

Rusuk patah di beberapa titik. Paru mengalami robekan akibat fragmen tulang. Perdarahan internal besar. Hati robek sebagian. Cedera kepala memperberat keadaan.

Penyebab kematian medis tidak sulit.

Trauma tumpul multipel akibat jatuh dari ketinggian.

Yang sulit adalah kata setelahnya.

Kecelakaan, kelalaian, atau pembunuhan.

Setelah autopsi tubuh selesai, Arka melepas sarung tangan luar dan menggantinya. Ia mendekati kotak bukti pengait keamanan.

"Saya ingin lihat pengaitnya dengan pembesaran," katanya.

dr. Hartono menjawab cepat, "Lakukan. Dokumentasi lengkap."

Petugas membuka kotak sesuai prosedur. Nomor bukti dibacakan. Foto diambil sebelum dan sesudah pengait dikeluarkan.

Arka meletakkannya di alas bersih.

Secara kasat mata, patahannya tampak seperti logam lelah. Ada area kasar, ada sisi yang pecah tidak rata.

Itu akan disukai manajemen produksi.

Mereka bisa berkata: aus, beban berlebih, kecelakaan kerja.

Arka mengarahkan lampu kecil dari samping.

Sistem merespons.

[Objek: Pengait Keamanan Wiraga]

[Status: Patah]

[Kerusakan Alami: +/- 60%]

[Intervensi Mekanis Sebelumnya: +/- 40%]

[Lokasi Kritis: Sisi Dalam Pengunci, Area 3 mm]

[Indikasi: Pengikisan Berulang Dengan Alat Abrasif Halus]

Arka menahan napas.

Tiga milimeter.

Cukup kecil untuk diabaikan.

Cukup besar untuk membunuh.

Ia mengambil kaca pembesar forensik.

"Dok Suherman, lihat sisi dalam pengunci. Jangan bagian patahan utama. Sedikit ke bawah."

Dr. Suherman mendekat.

"Apa yang Anda lihat?"

"Permukaan yang terlalu rata."

"Bukan patahan?"

"Bukan. Patahan alami logam biasanya meninggalkan pola kasar, seperti butiran dan tarikan. Bagian ini halus, sejajar, dan posisinya berada tepat di area beban saat pengait terkunci."

Arka menunjuk dengan pinset, tanpa menyentuh area penting.

"Panjangnya sekitar tiga milimeter. Kecil. Tapi kalau bagian ini sudah ditipiskan sebelum adegan, beban saat korban melayang bisa menyelesaikan sisanya."

Adira maju setengah langkah. "Maksud Anda dipotong?"

"Bukan dipotong langsung. Lebih mungkin dikikir atau digosok berulang dengan alat abrasif halus. Tujuannya bukan membuat pengait patah sebelum dipakai, tapi membuatnya patah saat menerima beban."

Ruangan menjadi dingin dengan cara yang berbeda.

Dr. Suherman mengambil kaca pembesar dari tangan Arka. Tangannya stabil saat menerima. Tetapi saat ia melihat titik itu, jarinya bergetar tipis.

"Hartono," katanya pelan.

Dr. Hartono mendekat.

Dr. Suherman menunjuk. "Lihat ini."

Dr. Hartono melihat lama.

Wajahnya berubah.

"Ya Allah," gumamnya. Lalu ia mengumpat pendek, tertahan di tenggorokan. "Aus biasa tidak menjelaskan ini."

Adira langsung mengeluarkan ponsel. "Saya hubungi Polda."

"Tunggu," kata Arka.

Semua menoleh.

"Kita belum boleh bilang pembunuhan berencana secara final. Tapi kita bisa tulis: ditemukan permukaan abnormal yang tidak konsisten dengan patahan alami penuh, perlu pemeriksaan metalurgi. Sampel harus dikirim ke pusat identifikasi teknis Polda Jatim untuk metalografi dan analisis jejak alat."

Adira menatapnya tajam. "Anda yakin cukup kuat?"

"Untuk mengubah arah penyidikan, iya. Untuk menyebut pelaku, belum."

Dr. Hartono berkata, "Benar. Kita tidak memberi kesimpulan lebih cepat dari alat."

Dr. Suherman masih menatap pengait itu.

"Enam puluh persen bisa aus," katanya. "Empat puluh persen bisa tangan manusia. Itu campuran paling jahat. Orang awam melihatnya sebagai kecelakaan."

Arka mengangguk. "Karena pengait memang akan patah. Hanya waktunya yang diatur."

Kalimat itu membuat Adira diam sebentar.

Di luar ruangan, suara massa penggemar terdengar samar dari halaman rumah sakit.

Mereka meminta keadilan tanpa tahu bentuk bukti yang sedang berdiri di meja logam.

Arka melihat layar sistem.

[Progres Misi: 12%]

[Status: Kecelakaan Disangkal Oleh Bukti Awal]

[Objek Prioritas Berikutnya: Lokasi Syuting, Tim Wiraga, Jadwal Akses Alat]

Adira menutup telepon pertama, lalu berkata, "Polda setuju kirim pengait ke lab metalurgi. Mereka juga minta tim gabungan ke Batu sore ini."

Dr. Hartono langsung memberi perintah.

"Dokumentasi makro. Foto pembesaran. Sketsa posisi. Buat laporan awal dalam satu jam. Jangan ada kata yang bisa dipelintir media."

"Siap," jawab Arka.

Dimas muncul di pintu, wajahnya serius.

"Bu, media dapat kabar pengait patah. Mereka tanya apakah ini kelalaian produksi."

Adira menjawab tanpa ragu, "Tidak ada komentar teknis. Bilang penyidikan masih berjalan."

"Siap."

Dimas melihat Arka. "Dok?"

Arka hanya menggeleng kecil.

Belum.

Dimas mengerti dan pergi.

Satu jam berikutnya bergerak cepat. Foto makro diambil. Area tiga milimeter diberi tanda pada salinan gambar, agar barang bukti tetap utuh. Pengait dimasukkan kembali ke kotak, disegel, dicatat, dan disiapkan untuk dikirim.

Arka membantu dr. Suherman menyusun kalimat laporan awal.

Penyebab kematian medis: trauma tumpul multipel akibat jatuh dari ketinggian.

Catatan barang bukti: ditemukan area abnormal pada sisi dalam pengunci, berupa permukaan halus sejajar, tidak sesuai sepenuhnya dengan pola patahan akibat beban tunggal.

Rekomendasi: pemeriksaan metalurgi, analisis bekas alat, dan penelusuran riwayat akses terhadap alat wiraga.

Tidak ada kata pembunuhan.

Tetapi setiap orang yang membaca dengan benar akan tahu pintu mana yang harus dibuka.

Setelah laporan awal ditandatangani, dr. Suherman melepas sarung tangan dan duduk sebentar.

"Arka."

"Ya, Dok."

"Kalau Anda tidak meminta lihat bagian dalam pengunci, mungkin kami tulis kecelakaan kerja hari ini."

"Belum tentu, Dok."

"Jangan merendah palsu. Saya sedang memarahi diri sendiri."

Arka diam.

Dr. Suherman menatap pintu ruang autopsi. "Anak itu dua puluh dua tahun. Satu pengait kecil. Satu permukaan tiga milimeter. Kadang manusia terlalu murah membunuh."

Adira masuk kembali.

"Kita berangkat ke Batu sore ini. Bambang ikut. Polda sudah menyiapkan surat."

Arka mengambil buku catatan.

"Siapa saja yang punya akses ke alat?"

"Daftar awal ada seratus tiga puluh tujuh orang kru dan pemain. Yang langsung dekat dengan wiraga sekitar belasan."

"Kita mulai dari yang menyentuh pengait sebelum adegan."

"Dan yang punya alasan membuat kematian terlihat seperti kecelakaan."

Arka menutup map.

Di atas meja, kotak bukti berisi pengait patah sudah disegel.

Benda kecil itu tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tidak meminta keadilan.

Tetapi di bawah kaca pembesar, ia sudah mengatakan satu hal yang cukup untuk mengguncang seluruh produksi.

Seseorang telah mengatur waktu kematian Rusa Kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!