Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
La Bonna De Luca berdiri mematung beberapa saat di sudut ruang ganti yang beraura pengap. Pandangannya mengelilingi setiap sudut ruangan, memperhatikan satu per satu dari mereka yang sibuk mempersiapkan diri.
Atmosfer di dalam sana dipenuhi harum parfum murah bercampur aroma menyengat dari hairspray, bedak tabur, serta bau asap rokok yang tipis.
Di hadapannya, para penari wanita mengenakan exotic dancewear berwarna terang berbahan lapis neon yang mencolok, sementara para pria mengenakan harness berbahan kulit hitam yang membebat dada dan bahu mereka secara ketat.
Tak lupa, mereka membaluri seluruh permukaan kulit yang terbuka dengan body oil tebal, memastikan tubuh mereka berkilau tajam di bawah gemerlapnya lampu sorot panggung nantinya.
Seorang laki-laki yang baru saja selesai mengoleskan body oil pada lengan dan dada bertato miliknya akhirnya menyadari keberadaan La Bonna.
Pria itu menyapu pandangannya dengan dahi berkerut, lalu melangkah mendekat ke arah La Bonna. Langkah kakinya terdengar ketuk-mengetuk nyaring di atas lantai kayu—ia mengenakan sepatu hak tinggi berwarna senada dengan celana ketat dan harness yang membalut tubuhnya.
"Kau siapa? Kenapa kau di sini? Apa kau pengganti Zella?" tanya pria itu dengan nada suara tinggi dan menuntut.
"Zella?" ulang La Bonna, memiringkan kepalanya sedikit.
Pria itu mendengus pelan, menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan yang masih berbekas minyak. "Ya, Zella! Dia stripper utama di baris tiang samping di sini dan kemarin dia terjatuh dari atas panggung, jadi tidak bisa bekerja hari ini dan entah sampai kapan. Kau kemari untuk jadi penggantinya, bukan?"
Ah, jadi Zella adalah nama stripper yang katanya cedera kemarin itu, batin La Bonna. Keterangan itu cocok dengan percakapan panas yang sempat ia dengar antara Elisabeth dan penjaga berpakaian hitam di pintu staf tadi.
Dengan cepat, La Bonna menganggukkan kepalanya, mengunci ekspresi wajahnya agar tampak meyakinkan. "Ya, aku adalah pengganti Zella."
Pria itu mengamati La Bonna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tampak puas dengan proporsi tubuh Bonna dan riasan tebal yang menutup sempurna sisa-sisa lebam pengeroyokan dua minggu lalu.
"Kalau begitu cepat ganti pakaianmu," kata pria itu. Ia lalu menunjuk ke arah sudut lain ruangan. "Kau sudah pakai makeup, jadi tidak perlu berdandan lagi. Cukup ganti pakaianmu saja."
Jari bersepatu hak tinggi itu terarah pada gantungan pakaian yang terbuat dari besi di pojok ruangan. "Kau bisa pilih sendiri yang ingin kau pakai di sana. Cepatlah, waktu kita tinggal belasan menit."
La Bonna berjalan ke arah gantungan pakaian tersebut. Di sana tergantung deretan gaun minim, lingerie berhias sutra, dan pakaian pole dancer bernuansa neon yang berkilau.
Namun, tepat saat jemari La Bonna menyentuh salah satu gaun berpotongan rendah, suara bisikan berdesis mendadak muncul dari dalam alat earpiece kecil yang tersembunyi rapat di balik rambut sebahunya. Suara dingin Dorris Gate berbunyi di telinganya.
"Aku lupa memberitahukanmu, kau akan jadi pole dancer di panggung utama. Dan pastikan kau tidak membuat kesalahan saat kau tampil nanti," ucap Dorris dari seberang saluran.
Ck!
La Bonna berdecak pelan, rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang hampir meledak.
Brengsek sekali detektif itu. Ia memberikan tugas seberat ini tanpa repot-repot bertanya terlebih dahulu apakah La Bonna bisa menari atau tidak.
Bagaimana bisa seseorang melempar orang lain ke atas panggung pole dance di sebuah klab malam yang paling berbahaya tanpa memastikan latar belakangnya?
Untung saja, La Bonna memang pernah mengikuti kelas pole dance semasa duduk di bangku high school.
Ia memahami dasar-dasarnya secara terstruktur, meski tentu saja tidak bisa dibilang benar-benar menguasainya secara profesional.
Namun, bayangan tentang kegagalan membuat tenggorokannya dingin.
Bagaimana jadinya kalau La Bonna tidak bisa melakukan gerakan tersebut, membuat kekacauan di atas panggung, lalu orang-orang di sini mencurigainya hingga ia diseret keluar oleh sekuriti berpakaian hitam? Mati konyol di tangan penjaga klab adalah hal terakhir yang ia inginkan.
La Bonna menarik napas panjang, memilih sebuah pasang exotic dancewear berpotongan tegas yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ia berharap ingatan ototnya masih mahir karena sudah terbiasa dengan gerakan-gerakan pole dance.
Dulu, sewaktu kehidupan mewahnya masih utuh, La Bonna memang sangat suka mencari perhatian. Ia terbiasa keluar masuk klab malam terkenal dan menari sesuka hatinya di atas panggung hanya demi menjadi pusat perhatian banyak pasang mata.
Kebiasaan liar masa lalunya itu kini mendadak menjadi penyelamat nyawanya.
°°
Baru saja La Bonna selesai mengganti pakaiannya dan mengikat pengait bagian belakang kostumnya, tiba-tiba seorang wanita dengan rambut cokelat ikal menghampirinya.
Pakaian wanita itu bernuansa senada, memamerkan lekuk tubuh yang dipoles body oil.
"Kudengar dari Dante kalau kau ini pengganti Zella. Kenapa kau tidak datang saat latihan tadi siang?" tanya wanita berambut ikal itu dengan nada ingin tahu, bukan bermaksud mengintimidasi.
"Mmmm, aku..." La Bonna sempat kebingungan menyusun kata-kata untuk menutupi kebohongannya.
Namun, sebelum La Bonna sempat mengarang cerita, wanita itu mengibaskan tangannya santai. "Tapi tidak apa-apa, yang terpenting kau tahu basic pole dance. Lagipula bintang utamanya kan bukan kita," kata gadis itu lagi.
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah La Bonna dan meneruskan kalimatnya, "Kita hanya akan menari di pinggir, mengulangi gerakan yang sama berkali-kali. Bintang utamanya adalah dia."
Wanita berambut cokelat ikal itu menunjuk dengan dagunya ke arah seorang wanita yang tengah berdiri di depan cermin besar. Wanita yang ditunjuk itu sedang memoleskan lipstik berwarna merah menyala ke bibirnya dengan sangat teliti.
"Namanya Seraphina," bisik wanita berambut ikal itu pelan. "Dia center-nya panggung malam ini. Lihat saja pakaiannya, paling berbeda dari kita dan yang lain. Dia juga yang paling ahli bermain dengan tiang dansa di klab ini. Kau akan tahu sendiri setelah melihat aksinya di panggung nanti."
Wanita itu kembali menatap La Bonna dengan raut wajah memperingatkan. "Oh ya, berhubung kau tidak ikut latihan, aku jadi harus memberitahumu urutan gerakannya. Kau hanya perlu melakukan gerakan basic saja di tiang sampingmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk lebih stand out atau mencuri perhatian dari Seraphina. Dia bisa sangat kesal nanti, dan kau bisa jadi bualan-bualannya atau bahkan dipersulit oleh manajemen."
La Bonna mengangguk pelan menandakan ia mengerti. "Terima kasih informasinya."
Lagipula, La Bonna sama sekali tidak berminat untuk menjadi pusat perhatian panggung malam ini.
Mata para lelaki hidung belang di arena utama bukan tujuannya. Ia berada di Velvet Noir untuk hal yang jauh lebih gelap: Mencari sebuah bukti dari kejahatan seorang pria bernama Ezequiel Nolan Ashford, bukan untuk menjadi penari striptease profesional.
"Semua penari, bersiap di lorong samping! Waktu kalian dua menit lagi!"
Suara teriakkan dari seorang pria berwajah keras di dekat pintu membuyarkan percakapan mereka.
Wanita berambut cokelat ikal itu langsung berbalik dan bergabung dengan rombongan penari lain.
La Bonna berdiri tegak, merapikan helai rambut sebahunya agar menutupi earpiece di telinga kirinya. Ia melangkah menyusuri lorong remang-remang bersama puluhan penari lainnya.
Dari arah depan, dentuman musik bertempo cepat dan bas berat yang menggetarkan lantai marmer makin nyaring terdengar.
Di balik kegelapan lorong menuju panggung utama Velvet Noir, suara Dorris kembali memecah di telinganya melalui alat komunikasi tersembunyi itu.
"Lakukan Tugas mu dengan Cepat. Jangan buat kesalahan."
La Bonna menatap lurus ke depan, ke arah kilauan lampu sorot panggung yang menyilaukan. Pertunjukan berdarah ini baru saja dimulai.