Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan menemani Arsen
Mamanya sibuk sekali pagi ini. Tante Dita bahkan sampai dijemput hanya untuk mendandaninya.
"Ananta akan seharian bersama Arsen. Aku stres, Dit. Aku takut setelah mengenal Ananta seharian, Arsen ngga merasa cocok dan membatalkan perjodohan mereka," keluhnya dengan mengeluarkan semua kekhawatirannya saat Dita baru saja keluar dari dalam mobil.
"Memangnya masih bisa dibatalkan?"Kaget juga Dita saat mendengarnya.
Bukannya pernikahannya sudah ditetapkan? batin Dita heran. Dia juga sudah menerima undangannya.
Sekarang mereka berdua sedang melangkah beriringan menuju kamar Ananta.
"Bisa aja. Mereka, kan, sangat berkuasa. Apa saja bisa terjadi. Aku baru tenang setelah Ananta melewati proses akad." Prameswari masih berkata dengan nada khawatir.
Dita mencoba berpikir positif.
"Tenanglah Prameswari. Kamu harusnya tau potensi Ananta. Dia gadis yang hebat. Aku yakin Arsen sulit mengabaikan kehadirannya." Dita berusaha menenangkan sahabatnya.
"Aku tau bagaimana Ananta. Tapi belum tentu juga, kan, Arsen menyukainya," keluhnya lagi agak ngotot.
Dita menghela nafas.
Prameswari, prameswari. Kamu harusnya tidak perlu meragukan putrimu, batinnya lelah
"Aku akan memggunakan sihirku, jadi Arsen akan semakin jatuh cinta dengan putrimu yang baik itu," canda Dita dengan melepaskan senyum manisnya, untuk meredakan ketegangan pikiran Prameswari.
"Ya, ya. Soal penampilannya, aku sangat mempercayaimu, Dita." Prameswari juga mengembangkan senyum manisnya. Walau tetap saja hatinya belum terlalu tenang.
"Terimakasih sudah selalu menolongku," lanjut Prameswari lagi yang berkata dengan raut wajah sungguh sungguh.
"Tentu, kita, kan, udah lama bersahabat." Keduanya tertawa bersama.
*
*
*
Ananta menatap penampilannya di depan cermin. Dia tersenyum. Tante Dita selalu bisa membuatnya tampak lebih menarik dari biasanya. Dia tersenyum.
"Terimakasih, tante," pujinya tulus. Tapi aura murungnya terlihat jelas.
"Ada yang kamu pikirkan, Ananta?" Tante Dita berusaha menyelami perasaan anak sahabatnya. Memiliku mama seperti Prameswari tentu butuh mental baja.
Ananta menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum, tapi masih terlihat hambar di mata Dita.
"Ngga ada, tante," bohong Ananta.
Tante Dita menghela nafas.
"Kamu bisa ceritakan apa saja sama tante."
Ananta menatap pantulan wajahnya di cermin. Memang terlihat jelas kalo dia sedang banyak pikiran.
Tapi baru saja dia akan membuka mulutnya, pintu kamarnya telanjur terbuka dan menampilkan wajah heboh mamanya.
"Arsen sudah datang. Astaga. Kamu cantik banget, sayang," Dia bergegas menghampiri putrinya. Menatapnya kagum sambil memegang bahunya. Kemudian.memaksa Ananta berputar.
"Wow ... Kamu cantik sekali sayang. Sangat cantik," puji Prameswari tanpa henti.
Ananta hanya tersenyum tanpa merasa bangga sedikitpun mendengar pujian mamanya.
"Dita, thank's, ya. Tanganmu memang hebat," pujinya sambil menatap temannya penuh terimakasih.
"Anakmu sudah sangat cantik. Dipoles dikit aja jadi berjuta juta cantiknya," puji Tante Dita dengan menahan perasaan kesal karena kemunculan Prameswari yang terlalu cepat. Padahal tadi Ananta hampir saja mengatakan penyebab kemurungannya.
Dia juga menyayangkan sahabatnya yang terlalu senang sampai tidak bisa melihat awan mendung di wajah cantik putrinya.
Kenapa dia tidak peka, sih.
"Ayo, sayang. Jangan biarkan Arsen lama menunggu kamu," ucapnya sambil menggandeng lengan putrinya.
Arsen sudah datang?
Jantung Ananta berdebar keras.
'"Dita, ayo, ikut," ajak Prameswari sambil menatap sahabatnya sebelum melangkah bersama putrinya.
"Iya."
Prameswari melebarkan senyumnya.
"Ayo, senyum Ananta," perintahnya yang membuat Ananda mengembangkan senyum tipisnya.
Dita menatap miris. Bibir Ananta tersenyum, tapi matanya tidak.
Mungkin Ananta tidak menyukai perjodohan ini. Walaupun calonnya tampan dan sangat kaya raya, pikirnya.
Dita menarik nafas dalam dalam memikirkan kemungkinan penyebab wajah murung Ananta.
*
*
*
Kali ini Arsen menyetir sendiri. Dia beberapa kali melirik wajah cantik Ananta. Senyumnya masih terukir di bibirnya.
Jantungnya masih berdebar debar ngga menentu seperti tadi saat melihat Ananta di rumahnya.
Dandanannya beda dengan yang ditemui kemarin di sekolah. Tapi mirip saat mereka kencan dan bertemu bersama keluarga. Hanya saja kali ini Ananta terlihat lebih menarik. Rupanya ada tangan dingin yang meakukannya. Tante Dita. Tadi Arsen sempat dikenalkan pada sahabat mamanya Ananta.
"Kita akan meeting di luar perusahaan jam sepuluh. Tapi kita mampir ke ruanganku sebentar, ya. Ada yang harus aku siapkan dulu."
Ananta hanya mengangguk. Dia tau dari tadi Arsen memperhatikannya. Ananta agak grogi, jantungnya juga berdebar cepat. Tangannya tadi sudah mengambil bantal kursi yang diletakkan di atas pahanya. Dresnya sebenarnya cukup panjang hingga menutupi lutut, tapi karena duduk begini, ujungnya agak naik sedikit ke atas.
"Kamu sudah sarapan?" Arsen bertanya begitu karena di pertemuan pertama gadis itu seperti kelaparan. Mengingatnya Arsen jadi tersenyum.
"Sudah." Dia menyempatkan diri makan sebelum Tante Dita datang. Tapi karena gugup akan berduan saja dengan Arsen, dia hanya bisa meneguk setengah cangkir teh saja. Padahal biasanya dia akan sarapan dengan menu berat, roti panggang atau nasi goreng.
"Sarapan apa?"
Ananta terdiam ngga menyangka Arsen ingin tau dia sudah makan apa.
"Minum teh."
Arsen mengangguk, masih dengan senyum di bibirnya.
"Ooh .... Aku sebenarnya belum sarapan. Kamu bisa ikut makan di ruanganku. Biasanya ada roti panggang. Aku juga punya beberapa selai."
Ananta hanya mengangguk. Tubuhnya semakin menegang karena mobil Arsen sudah memasuki parkirannya di lantai dasar gedung.
Kalo saja tidak ada peristiwa di ruang perpustakaan, Ananta tidak akan setegang ini saat berdua dengan Arsen.
Tidak ada interaksi fisik apa pun sampai akhirnya mereka tiba di depan lift. Ananta merasa dia sudah over thinking.
Mereka keluar dari dalam lift dan mendapatkan tatap hormat dan ingin tau dari beberapa staf yang kebetulan bertemu.
Seorang sekretaris berdiri bersama laki laki yang menjadi supir Arsen kemarin, menyambut kedatangan mereka. Sekretaris Arsen masih muda, mungkin seumuran dengannya. Dia menunduk hormat saat Arsen melewatinya dan melirik Ananta yang berjalan di sampingnya.
Calon istri Pak Arsen? Kembali hati sekretaris itu merasa patah. Dia pun yakin, staf perempuan lainnya juga akan merasakan hal yang sama. Bagi mereka melihat Pak Arsen yang tampan dan masih single menambah semangat kerja dan juga jadi rumpian asyik saat berkunpul di kantin.
Tapi sepertinya mereka harus memblacklist nya kalo Pak Arsen sudah menikah nanti.
Ananta tidak ambil pusing dengan tatapan kepo sekretaris Arsen. Dia lebih berkonsentrasi dengan gedung milik Arsen yang lebih lebih tinggi dan mewah dari pada milik papanya.
Sekarang Ananta tambah mengerti mengapa mamanya seobsesi itu ingin menjadikannya istri Arsen.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?