NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - KAU SALAH MENEBAK

Melihat Waskita dibawa keluar untuk mengoleskan obat dengan cepat, Wulan menghela napas lega. Begitu ia menutup pintu, sebelum sempat berbalik, ia merasakan bayangan tinggi menutupinya dari belakang. Ketika pintu tertutup rapat, suasana di dalam kamar berubah menjadi lebih privat — hanya tersisa mereka berdua.

Nalendra berdiri sangat dekat — begitu dekat sehingga Wulan hanya perlu bersandar sedikit untuk menyentuh dadanya. Ia berkedip, ingin berbalik, tetapi pria itu tiba-tiba memeluknya dari belakang, menahan tubuhnya dalam lingkaran lengan yang hangat. Lingkaran lengan itu begitu hangat, dan aroma khasnya yang segar bercampur samar aroma obat langsung memenuhi penciuman Wulan. Wulan merasa tubuhnya kaku, tetapi tidak ada satu pun bagiannya yang ingin menjauh.

Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada gerakan lain dari Nalendra, Wulan menggerakkan kepalanya gelisah di dalam pelukan itu dan memanggil dengan ragu. "Nalendra?" Meskipun begitu, ia tidak berani bersuara terlalu keras — khawatir mengganggu suasana yang tengah mengendap di antara mereka.

"Jangan bergerak." Suara Nalendra sedikit serak, terdengar lebih berbahaya dari biasanya di malam yang sepi — seperti ada sesuatu yang tengah ia pertimbangkan dengan sangat serius.

Dari sudut ini, Wulan tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi instingnya sebagai wanita membuatnya merasa Nalendra sedang memikirkan sesuatu yang jauh. Ia bisa merasakan dada pria itu naik turun dengan napas yang tenang namun dalam. Wulan bisa merasakan helaian rambutnya bergerak oleh embusan napas lembut pria itu. Keheningan di antara mereka terasa penuh, bukan kosong.

Mungkinkah ia benar-benar takut dengan sikap berani tadi? Wulan sedikit merasa bersalah. Mungkin ia terlalu terburu-buru.

Setelah menahan diri, akhirnya ia tidak tahan dan bertanya pelan, "Apa kau... takut?"

Pertanyaan itu terdengar membingungkan, tetapi Nalendra sangat mengenalnya. Setelah berpikir sejenak, ia mengerti apa yang sebenarnya ditanyakan oleh gadis di pelukannya ini. Ia tahu Wulan paling sering melontarkan pertanyaan aneh ketika sedang gugup, dan pertanyaan ini justru terasa lucu di telinganya.

"Ya." Ia tiba-tiba terkekeh dan berbisik di telinga Wulan, "Aku sedikit takut." Jawaban itu terdengar asing di telinganya — pria yang ditakuti seluruh ibu kota, justru mengaku takut di depannya.

"Eh?" Wulan berkedip, mengeluarkan suku kata tunggal yang membingungkan. Ia menoleh sejauh yang bisa ia lakukan, berusaha melihat wajah pria itu dari sudut matanya.

Ini sungguh jawaban yang tidak terduga. Awalnya ia mengira Nalendra akan menjawab tidak, atau menepisnya dengan senyum sinis seperti biasanya. Keberanian yang barusan ia tunjukkan seketika menguap, digantikan oleh perasaan canggung. Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri — betapa bodohnya ia berharap jawaban yang berbeda.

"Ada apa?" Bibir Nalendra sedikit melengkung, dan ia tampak semakin geli melihat keterkejutan di wajah gadis itu.

"Kukira kau akan bilang tidak."

"Mengapa kau berpikir begitu?"

"Karena kau selalu begitu." Wulan memiringkan kepala dan berpikir sejenak. Dalam kesannya, Nalendra selalu menjadi orang yang tenang dan tak mudah tergoyahkan. Seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu mengubah suasana hatinya — bahkan perang, bahkan istana, bahkan semua hal yang membuat orang lain gemetar. Selama ini, hanya itulah yang ia tahu tentang pria ini.

"Ya." Ia tiba-tiba tertawa. Ia tertawa pelan, seperti tengah menyimpan rahasia yang menyenangkan.

"Hah?" Wulan tidak mengerti dari mana asal tawa itu.

Ada apa yang membuatnya tertawa? Apakah jawabannya lucu? Atau justru pertanyaannya yang lucu?

"Bukankah kau bilang, tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa memengaruhi emosiku?" Suaranya terasa dekat di telinga, dan terdengar serak. "Sekarang aku bisa menjawabmu — ada." Kata-kata itu jatuh perlahan, satu demi satu, seperti batu yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang.

Wulan terlambat menyadari bahwa ia barusan membacakan isi hatinya sendiri. Pipinya memanas seketika.

Ia linglung sesaat, lalu menggerakkan kepalanya gelisah, menoleh ke belakang dan bertanya, "Kurasa itu Pangeran Panji?" Sebagai putri seorang adipati, Wulan tahu betul gejolak politik yang tengah terjadi di istana — dan ia tahu di pihak mana Nalendra berdiri.

Meskipun nada terakhirnya sedikit meninggi, seolah sedang bertanya, ada kepastian di dalam nadanya. Ia ingin mendengar langsung dari mulut pria ini, bukan dari desas-desus di balik dinding.

Kata-kata Wulan terdengar samar, tetapi Nalendra mengerti maksudnya. Ia pasti sedang membicarakan perebutan takhta. Pangeran Panji dekat dengannya, jadi ia pasti akan terseret dalam pertarungan kekuasaan istana ini — dan Wulan, yang selama ini pura-pura bodoh, ternyata memahami segalanya. Ia tidak bodoh, hanya memilih pura-pura bodoh selama ini. Namun untuk urusan ini, ia memilih untuk diam — karena apa pun jawabannya, itu akan mengubah segalanya di antara mereka.

Tetapi—

Ia salah menebak.

Tangan Nalendra yang memeluknya mengencang sedikit, lalu melepaskannya. "Itu kau." Kata-kata itu sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik senyumnya.

"Aku?" Wulan tercengang, tidak menyangka dirinya sendiri yang menjadi jawabannya. Pikiran-pikirannya tiba-tiba bercampur aduk.

"Ya." Ia hanya bersenandung, tidak berkata apa-apa lagi, seolah itu sudah cukup sebagai jawaban. Namun justru jawaban yang singkat itulah yang membuat jantung Wulan berdegup kencang.

Seolah ada sesuatu yang melintas di benaknya, Wulan tiba-tiba berbalik dan menatap matanya. Ia ingin memastikan — apakah pria ini benar-benar menatapnya dengan cara yang ia kira.

Ia sering mendengar Nenek Utari berkata, segala sesuatu yang dimiliki seseorang bisa dipalsukan — harta, senyum, bahkan kata-kata — tetapi mata tidak bisa menipu.

Lewat cahaya bulan yang dingin di luar jendela, ia bisa melihat dengan jelas sosok kecilnya terpantul di mata elang yang gelap itu — hanya sosoknya, tidak ada yang lain. Bulan purnama yang menggantung di langit seakan ikut mengawasi, menerangi wajah mereka dengan cahaya yang pucat dan dingin.

Setelah jeda singkat, Wulan perlahan mengangkat tangannya, seolah melakukan hal yang aneh, dan dengan lembut menyentuh sudut mata Nalendra dengan ujung jarinya yang ramping dan dingin. Sentuhan itu dilakukan dengan sangat hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh dan berharga.

Nalendra tidak bersembunyi atau menghindar. Ia hanya menatapnya dengan saksama, dengan emosi di matanya yang dulu tidak pernah bisa ia pahami — tetapi kini, setelah hidup kembali, ia memahaminya sepenuhnya. Ada satu hal yang ia tahu: pria di hadapannya ini telah menunggu terlalu lama, dan malam ini ia tidak akan membuatnya menunggu lagi. Dan untuk pertama kalinya, ia ingin membalas semua penantian itu.

"Mengapa?" Ujung jarinya masih berada di sudut matanya, dan ia tiba-tiba bertanya tanpa berpikir. Namun pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan malam ini.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!