Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 — Puncak Pedang Kedua
"Ahhh! Apa-apaan... ini?!"
"Bagaimana... bisa seorang... tetua... berusaha membunuh... calon murid... sekte mereka sendiri?!"
Rintihan histeris meledak dari ratusan tenggorokan. Meski mereka menolak untuk mempercayainya. Kesalahan mereka sendiri karena berusaha menjadi murid sekte aliran hitam.
Kepanikan yang buta menyapu alun-alun saat bayangan Telapak Tangan Raksasa itu terus menekan turun.
Beberapa pemuda bangsawan yang sebelumnya bersikap angkuh kini berlutut menyedihkan, meratap dan memohon ampun dengan wajah bermandikan air mata.
"Akhh! Tetua!"
Di tengah kekacauan yang memekakkan telinga itu, Huo Li berdiri dalam diam. 'Kghhh... Tekanan ini sangat kuat.'
Ia tidak ikut menjerit. Ia juga tidak mengutuk atau mencemooh tindakan kejam sang tetua di dalam hatinya. Bagi Huo Li yang telah bertahun-tahun hidup sebagai samsak hidup di dasar jurang hierarki Sekte Pedang Mendalam, beginilah cara kerja dunia kultivasi.
Yang kuat menentukan hidup dan mati yang lemah. Sebuah filosofi yang angkuh.
Sulit dipahami oleh mereka yang hidup nyaman, namun mutlak bagi mereka yang mengerti penderitaan.
Huo Li memfokuskan pikirannya. Ia mengalirkan Energi Surgawi murni dari dantian emasnya ke seluruh otot dan persendian, membentuk perisai tak kasat mata yang menahan beban gravitasi buas tersebut.
KRAK! KRAK!
Lantai batu di alun-alun mulai hancur. Setiap pijakan kaki para peserta amblas ke dalam tanah, memicu retakan yang menjalar luas bak jaring laba-laba.
"Ahh kacau... kacau! Kau mengacaukan properti sekte, Tetua!" bisik pengelola sekte dengan wajah pucat pasi di belakang panggung, memegangi kepalanya melihat alun-alun yang hancur berantakan.
Gubang hanya mendengus pelan, sama sekali tidak memedulikan keluhan itu. Matanya yang tajam menyapu kerumunan yang bergelimpangan, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada satu titik.
"Menarik... tubuh yang bagus... ini dia yang aku cari-cari." gumam Gubang rendah tersenyum penuh arti.
Di sana, di antara ratusan anak yang meratap dan menyerah pada nasib, berdiri seorang pemuda berpakaian compang-camping. Bocah itu bertahan dengan sekuat tenaga, urat-urat di lehernya menonjol, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh. Dia berbeda dari para anak anjing yang hanya bisa pasrah.
Sebuah seringai tipis terukir di wajah Gubang. Alih-alih menghentikannya, Gubang justru menguatkan tekanannya secara drastis hingga ke titik maksimal yang dapat ditahan oleh kultivator Pembentukan Fondasi tahap puncak, membuat udara bergemuruh, lalu dalam satu tarikan napas, ia mematikan tekanan itu sepenuhnya secara tiba-tiba!
WUSH!
Hilangnya tekanan yang mendadak itu menciptakan efek syok yang luar biasa.
"Kughh!"
"Uhuk!"
Ratusan calon murid yang tadinya mengerahkan sisa tenaga untuk menahan dari atas, kini jatuh tersungkur ke depan, memuntahkan darah, atau pingsan seketika karena sirkulasi energi spiritual mereka kacau balau.
Huo Li terhuyung selangkah ke depan. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras melewati pelipisnya. Napasnya memburu, namun ia berhasil mempertahankan posisinya agar tidak jatuh berlutut.
"Keghh... tubuhku terasa mau ambruk jika tekanan itu sekali lagi dikeluarkan." gumam Huo Li pelan, menyadari seberapa mengerikan kekuatan yang dimiliki monster tua tersebut.
Di atas panggung, Gubang melangkah maju dan angkat bicara, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru alun-alun. "Kalian semua gagal!"
Pengelola sekte terkejut bukan main hingga rahangnya nyaris lepas. Ratusan calon murid yang masih memiliki kesadaran mendongak dengan wajah penuh ketidakpercayaan dan keputusasaan.
"Semuanya gagal?!"
"Haaa?!"
"Ba-bagaimana mungkin!?"
Gubang tidak memedulikan tatapan protes mereka. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk lurus. "Hei Kau, pengemis!" ujar Gubang dengan senyuman tipis.
Seketika, seluruh mata di alun-alun, termasuk pengelola sekte, mengikuti arah telunjuk sang tetua. Tatapan mereka jatuh pada Huo Li, sosok yang paling terlihat mencolok dengan jubah pelayannya yang kusam, sobek, dan penuh noda.
"Bocah Pengemis! Kau diterima! Mulai saat ini, kau resmi menjadi murid Sekte Pedang Tiran. Kau sekarang dalam bimbinganku!" teriak Gubang mutlak.
.....
Tiga jam berlalu setelah tragedi ujian yang dipimpin oleh Tetua Gubang.
Setelah mengistirahatkan tubuh secukupnya. Huo Li kini telah berada jauh dari alun-alun, berdiri di atas sebuah bukit curam yang diselimuti kabut tipis, Puncak Pedang Kedua.
Selama perjalanan kemari, telinga Huo Li yang tajam sempat menangkap bisik-bisik dari para penjaga. Tetua Gubang ternyata bukanlah sosok sembarangan; ia adalah Pedang Tiran Terkuat Nomor Dua, tepat di bawah Ketua Sekte, Sang Pedang Tiran Nomor Satu.
Namun, ada hal lain yang membuat Huo Li jauh lebih waspada. Tetua yang terlihat sangat dingin, kejam, dan haus darah saat proses perekrutan tadi, ternyata memiliki kepribadian asli yang asik, santai, dan penuh candaan saat mereka berjalan mendaki bukit.
Walaupun Gubang terus mengajaknya bercanda dan bercerita tentang hal-hal sepele, Huo Li tidak semerta-merta menurunkan kewaspadaannya. Ia menggunakan poker face-nya dengan sempurna... wajah yang datar, patuh, dan tenang. Ia mengikuti alur pembicaraan Gubang dengan sangat baik tanpa mengungkapkan sedikit pun emosi aslinya.
Setibanya di pelataran puncak, Huo Li menyadari bahwa ia tidak sendirian. Di sana, berdiri dua orang murid lain tepat di belakang Tetua Gubang. Mereka adalah seorang pemuda dan pemudi yang memancarkan aura tajam. Dari perkenalan singkat, ia mengetahui nama mereka: Yun Bing dan Zhang Ming.
Yun Bing menatap Huo Li dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Namun, Zhang Ming sama sekali tidak menutupi emosinya. Begitu melihat pakaian gembel Huo Li, raut wajah Zhang Ming langsung berubah jijik, memancarkan kebencian yang tidak berdasar.
Gubang jelas menyadari permusuhan dari muridnya itu, namun ia membiarkannya seolah itu bukan urusannya.
"Di sana, gua itu akan menjadi ruang-mu bermeditasi dan mengistirahatkan tubuh." Gubang menunjuk ke arah tebing berbatu di sebelah kanan mereka. Terdapat deretan lima gua buatan yang tampak sunyi.
"Ambil ini."
Gubang melemparkan sebuah kantong kecil berbahan kulit halus ke arah Huo Li.
Huo Li menangkapnya dengan sigap. Kantong Spasial. Artefak ruang dasar namun berharga yang digunakan kultivator untuk menyimpan barang di dimensi terpisah.
Huo Li mengalirkan sedikit energi surgawinya untuk mengintip isi kantong tersebut, dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Di dalamnya, tersimpan 5 Kristal Spiritual Peringkat 1 dengan kualitas sempurna.
Bagi Huo Li, ini bukanlah sekadar kristal spiritual biasa. Dengan Kantong Keberuntungan yang tersembunyi di balik jubahnya, ia bisa mengonversi kelima kristal ini menjadi Kristal Surgawi yang murni untuk mendongkrak kultivasinya!
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" tanya Gubang dengan senyum penuh arti. Kali ini nada suaranya sangat berbeda ketika dalam perjalanan kemari. Tetua Gubang menunjukan sifat aslinya secara tersirat.
Huo Li menangkupkan kedua tangannya, membungkuk hormat. "Tentu saja, Guru. Aku akan berkontribusi dengan segenap tenaga untuk Sekte Pedang Tiran."
"Bagus," Gubang terkekeh, tampaknya puas dengan jawaban formal tersebut. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah gulungan bambu usang dan menyerahkannya. "Dan... ambillah manual seni bela diri ini. Pelajari baik-baik, jangan sampai kau melewatkan satu bait makna yang terkandung di dalamnya."
Huo Li menerima gulungan itu. Di sampul luarnya, terukir kaligrafi kasar yang memancarkan aura membunuh yang tajam.
"Huh."
Terdengar suara dengusan tajam dari arah belakang. Zhang Ming, yang sedari tadi menatap dengan penuh kebencian, seketika melebarkan matanya saat melihat judul dari buku manual tersebut.
Rahangnya mengeras dan ia menggertakkan giginya dengan kuat, kilat kecemburuan yang mematikan kini membara di matanya.