Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Gemerlap lampu gantung kristal raksasa menyinari seluruh penjuru aula utama Hotel Imperial.
Alunan musik klasik dari pemain biola profesional terdengar mengalun lembut di latar belakang.
Ratusan sosialita dan pengusaha papan atas kota Jakarta malam ini berkumpul dengan pakaian paling mewah yang mereka miliki.
Tap tap tap.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu masuk samping aula tersebut.
Dimas melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu mahalnya yang sedikit kusut.
Wajahnya masih terlihat pucat, namun dia memaksakan sebuah senyum lebar yang terlihat sangat kaku.
"Selamat malam, Pak Wijaya."
Dimas menyapa seorang pria paruh baya gendut yang sedang memegang gelas wine di tangannya.
Pria bernama Wijaya itu menoleh perlahan dan raut wajahnya langsung berubah masam melihat siapa yang menyapanya.
"Oh, Dimas."
"Aku tidak menyangka kau masih punya muka untuk datang ke acara publik malam ini."
Wijaya menjawab dengan nada suara yang sangat meremehkan tanpa membalas jabatan tangan Dimas.
Dimas menelan ludahnya dengan susah payah menahan rasa malu yang membakar dadanya.
"Berita pagi tadi itu murni fitnah dari pesaing bisnis saya, Pak Wijaya."
"Tim hukum kami sedang mengurus semuanya dan saya jamin masalah ini akan selesai besok pagi."
Dimas mencoba memberikan penjelasan dengan nada suara yang dibuat seyakin mungkin.
Cih.
Wijaya mendecih pelan lalu menatap Dimas dari atas sampai bawah.
"Fitnah atau bukan, saham perusahaanmu sudah anjlok empat puluh persen hari ini."
"Banyak dari kami yang merugi besar karena kebodohanmu menjaga rahasia perusahaan."
Dimas mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celananya.
Dia tahu betul kalau pria gendut di depannya ini adalah salah satu pemegang modal terbesar di kota ini.
"Karena itulah saya datang kemari malam ini, Pak Wijaya."
"Saya akan memenangkan lelang sertifikat tanah Teluk Emas malam ini juga."
"Jika sertifikat itu jatuh ke tangan saya, aset Grup Dimas akan kembali stabil dan bank tidak akan berani membekukan aset kami."
Wijaya menaikkan sebelah alisnya mendengar rencana Dimas barusan.
"Tanah Teluk Emas itu harganya bisa mencapai ratusan milyar rupiah."
"Apa kau yakin masih punya uang tunai sebanyak itu sekarang?"
Dimas tersenyum miring lalu menatap lurus ke mata Wijaya.
"Tentu saja saya punya simpanan pribadi yang tidak diketahui media."
"Dan jika Bapak mau menalangi sedikit kekurangannya malam ini, saya janji akan memberikan bunga lima puluh persen bulan depan."
Wijaya tampak berpikir sejenak mendengar tawaran keuntungan yang sangat besar itu.
Sifat serakahnya perlahan mengalahkan rasa takutnya pada skandal yang sedang menimpa Dimas.
"Baiklah, aku akan membantumu malam ini."
"Tapi ingat, jika kau gagal memenangkan lelang itu, aku akan menyita mansion mewahmu sebagai gantinya."
Dimas menghela nafas lega dan mengangguk cepat.
Kriet.
Suara decitan pintu utama aula yang terbuka lebar tiba-tiba mengalihkan perhatian seluruh tamu di ruangan itu.
Semua orang menoleh ke arah pintu masuk dan seketika suasana menjadi hening.
Dua orang pria melangkah masuk dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Sony berjalan di depan mengenakan setelan jas hitam pekat yang dijahit khusus dengan potongan sempurna.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tampannya yang dingin tanpa ekspresi.
Leo berjalan tepat satu langkah di belakang kirinya, membawa koper besi kecil berwarna perak.
Glek.
Beberapa wanita sosialita tanpa sadar menelan ludah melihat ketampanan pria misterius yang baru saja datang itu.
"Siapa pria itu?"
"Aku belum pernah melihatnya di kalangan elit kota ini sebelumnya."
"Lihat jas yang dipakainya, itu adalah karya desainer Italia yang harganya bisa membeli sebuah mobil sport."
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan aula.
Sony sama sekali tidak mempedulikan tatapan dan bisikan orang-orang di sekitarnya.
Mata tajamnya menyapu seluruh ruangan dan langsung terkunci pada sosok Dimas yang berdiri di sudut ruangan.
Dimas yang menyadari kedatangan Sony langsung melebarkan matanya karena terkejut.
Jantung Dimas berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.
"Sony."
"Beraninya bajingan itu datang kemari," gumam Dimas dengan gigi gemeretak menahan amarah.
Sony mulai melangkahkan kakinya berjalan santai melewati kerumunan tamu.
Setiap tamu yang dilewatinya tanpa sadar membuka jalan untuknya karena tekanan aura dingin yang dipancarkan pria itu.
Sony berhenti tepat dua meter di hadapan Dimas dan Wijaya.
"Lama tidak bertemu di acara formal seperti ini, Dimas."
Suara berat dan tenang Sony akhirnya memecah ketegangan di antara mereka berdua.
Dimas menatap Sony dengan tatapan penuh kebencian yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Apa yang kau lakukan di sini, sampah?"
"Ini bukan tempat untuk mantan narapidana miskin sepertimu."
Suara Dimas sengaja dikeraskan agar orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya.
Beberapa tamu mulai berbisik-bisik lagi setelah mendengar kata narapidana disebut.
Sony sama sekali tidak terpancing emosi mendengar hinaan murahan itu.
"Aku datang ke sini untuk hal yang sama denganmu."
"Membeli barang bekas yang tidak berguna."
Sony tersenyum tipis lalu melirik sekilas ke arah Wijaya yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Dan kau pasti Wijaya."
"Sebaiknya kau simpan saja uangmu malam ini sebelum kau ikut tenggelam bersama kapal rongsokan ini."
Wijaya mengerutkan keningnya karena merasa tersinggung dengan ucapan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
"Jaga mulutmu anak muda, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Sony hanya mendengus pelan lalu membalikkan badannya berjalan menuju kursi VIP di barisan paling depan.
Leo mengikutinya dari belakang setelah memberikan tatapan tajam pada Dimas.
"Tunggu saja pembalasanku malam ini, Sony."
"Aku akan menginjak harga dirimu di acara lelang ini."
Dimas bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan.
Ting ting ting.
Suara dentingan gelas kaca dari atas panggung menghentikan semua percakapan di aula tersebut.
Seorang pembawa acara dengan jas merah marun naik ke atas mimbar.
"Selamat malam para tamu kehormatan sekalian."
"Acara puncak lelang amal kita malam ini akan segera dimulai."
Semua tamu mulai duduk di kursi mereka masing-masing dengan rapi.
Dimas dan Wijaya duduk di barisan kedua, tepat di belakang posisi Sony.
"Barang pertama yang akan kita lelang malam ini adalah kalung berlian dari era Victoria."
"Harga awal dibuka di angka lima ratus juta rupiah."
Acara lelang berjalan dengan cukup cepat dan meriah.
Beberapa barang mewah telah terjual kepada para sosialita dan pengusaha dengan harga fantastis.
Namun Dimas sama sekali tidak mengangkat papan nomornya.
Dia sedang menghemat amunisinya untuk pertarungan yang sesungguhnya di akhir acara.
Begitu juga dengan Sony yang hanya duduk tenang menyilangkan kakinya tanpa minat sedikitpun pada barang-barang itu.
"Dan sekarang, tibalah kita pada barang utama yang paling ditunggu-tunggu malam ini."
Pembawa acara itu tersenyum lebar ke arah para tamu.
"Sertifikat hak milik tanah Teluk Emas seluas lima puluh hektar."
"Kawasan ini diprediksi akan menjadi pusat bisnis terbesar di Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan."
Layar besar di belakang panggung langsung menampilkan foto udara dari kawasan tanah yang sangat strategis tersebut.
Nafas Dimas tertahan sejenak melihat gambar itu.
Itu adalah kunci satu-satunya untuk menyelamatkan Grup Dimas dari kebangkrutan besok pagi.