NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Meja Pertemuan

Malam itu, kediaman keluarga Bramantyo tampak lebih benderang dari biasanya. Lampu kristal di ruang perjamuan dinyalakan, memantulkan cahaya keemasan yang mewah di atas meja panjang penuh hidangan kelas atas. Aroma sup asparagus khas buatan koki pribadi Papa berbaur dengan wangi mawar segar yang sengaja ditata sebagai hiasan tengah meja.

Bagi Anya, kemewahan malam ini terasa mencekam. Ini adalah malam makan malam keluarga besar yang sudah direncanakan sejak sebulan lalu. Selain keluarga Om Baskoro, beberapa kerabat dekat Papa juga turut hadir. Anya duduk di sudut meja, mengenakan gaun sutra berwarna merah muda pucat yang dipilihkan mamanya. Dia terlihat cantik, namun matanya kehilangan binar yang biasanya selalu ada. Di seberang meja, agak bergeser ke kanan, Edgard duduk dengan setelan beludru hitam yang membuatnya tampak luar biasa berwibawa.

Anya terus memperhatikan Edgard. Pria itu sesekali tersenyum tipis—sebuah senyuman formal yang biasa dia tunjukkan pada kolega bisnis. Di sebelah Edgard, Joana duduk dengan anggun, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang kontras namun serasi dengan aura Edgard yang gelap. Sepanjang malam, Anya menyadari betapa seringnya orang-orang di meja itu melirik ke arah Edgard dan Joana, lalu berbisik sambil tersenyum penuh arti.

"Bram," suara Om Baskoro memecah riuh rendah obrolan santai di meja makan. Pria paruh baya itu meletakkan gelas anggurnya, lalu mengetuk sendok ke pinggiran gelas, meminta perhatian semua orang. Suasana seketika hening.

Papa, yang duduk di kepala meja, tersenyum lebar. "Ya, Baskoro? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan. Wajahmu terlihat sangat bersemangat malam ini."

Om Baskoro tertawa kecil, melirik istrinya yang mengangguk penuh kemenangan, lalu pandangannya beralih pada Edgard dan Joana. "Tentu saja ini penting. Ini tentang masa depan bisnis kita, dan yang lebih penting, tentang masa depan anak-anak kita."

Jantung Anya mendadak berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Firasat buruk tiba-tiba menyergap dadanya. Dia melirik Edgard, namun pria itu tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang tenang dan tak terbaca.

"Kita semua tahu betapa hebatnya Edgard dalam memimpin perusahaan belakangan ini, dan kita juga tahu betapa luar biasanya Joana yang baru saja lulus dengan prestasi gemilang," lanjut Om Baskoro dengan nada suara yang mantap. "Bram, rasanya tidak ada kombinasi yang lebih sempurna di dunia ini selain menyatukan kedua keluarga kita secara resmi. Malam ini, di hadapan keluarga besar, saya secara resmi ingin melamar Joana untuk putra saya, Edgard."

Deg.

Dunia Anya seolah berhenti berputar seketika. Suara denting garpu dan pisau yang diletakkan para tamu terdengar samar di telinganya. Oksigen di sekitar Anya mendadak menguap, membuatnya merasa tercekik. Dia menatap Om Baskoro dengan mata terbelalak, lalu beralih menatap Papanya.

"Hahaha! Baskoro, kamu selalu tahu apa yang ada di dalam pikiranku!" Papa tertawa lepas, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. "Aku tentu saja dengan sangat terhormat menerima lamaran ini. Edgard adalah pria terbaik yang bisa kuharapkan untuk mendampingi putri sulungku. Perjodohan ini adalah berkah untuk keluarga kita!"

"Selamat! Wah, serasi sekali!"

"Benar-benar pasangan yang sempurna!"

Suara tepuk tangan dan ucapan selamat dari para kerabat langsung menggema di ruang perjamuan itu. Semua orang tersenyum bahagia. Mama tampak berkaca-kaca menatap Joana, sementara Joana sendiri hanya menundukkan kepala dengan rona merah di pipinya—sebuah tanda bahwa dia tidak menolak keputusan ini.

Namun, di tengah keriuhan kebahagiaan itu, ada satu pasang mata yang menatap dengan kekosongan yang mengerikan. Anya merasa seluruh darahnya surut dari wajahnya. Dia menatap Edgard, mencari-cari tanda penolakan atau keterkejutan di wajah pria itu. Namun, nihil. Edgard justru mengangguk pelan ke arah Papa dan Om Baskoro, menerima perjodohan itu tanpa bantahan sedikit pun. Dia tampak biasa saja, seolah-olah menikahi kakak kandung dari gadis yang selama ini mengejar-ngejarnya adalah hal yang paling logis untuk dilakukan.

"Kenapa..." bisik Anya lirih, namun suaranya tenggelam di antara tawa dan obrolan para tamu.

Rasa sakit yang belum pernah Anya rasakan seumur hidupnya kini menghujam tepat di ulu hatinya. Menyakitkan saat tahu pria yang kamu cintai tidak mencintaimu. Namun, seribu kali lebih menghancurkan saat tahu pria itu akan menjadi kakak iparmu sendiri. Harapan-harapan kecil yang selama ini Anya rawat dengan susah payah, mimpi-mimpi konyol tentang masa depan bersama Edgard, malam ini sirna tak berbekas, hancur berkeping-keping menjadi abu di atas meja perjamuan yang megah ini.

Anya merasakan matanya memanas hebat. Air mata yang mendesak keluar membuat pandangannya kabur. Dia tahu dia tidak boleh menangis di sini, dia tidak boleh merusak acara berharga ini. Namun, dadanya terlalu sesak untuk menampung badai emosi yang berkecamuk.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Anya mendorong kursinya ke belakang. Bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai marmer terdengar cukup nyaring, menarik perhatian beberapa orang di dekatnya, termasuk Edgard.

"Anya? Kamu mau ke mana?" tanya Mama dengan nada berbisik, mencoba memperingatkan agar Anya tidak bertingkah aneh.

Anya tidak menjawab. Dia bahkan tidak berani menatap wajah mamanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Anya berbalik dan berlari meninggalkan ruang makan. Dia mengabaikan panggilan lirih dari Joana dan tatapan tajam penuh kemarahan dari Papanya.

Anya terus berlari menaiki anak tangga, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. Setiap langkah kaki yang dia ambil terasa begitu berat, seolah membawa beban ribuan ton rasa kecewa. Sampai di dalam kamarnya, Anya langsung menutup pintu dengan bantingan keras dan menguncinya dari dalam.

Gadis delapan belas tahun itu luruh di balik pintu, memeluk lututnya sendiri di atas lantai yang dingin. Tangisnya pecah dalam keheningan kamar yang gelap. Kamar yang selama ini menjadi saksi bisu bagaimana dia tersenyum sendiri memikirkan Edgard, kini berubah menjadi saksi bisu patah hati paling hebat dalam hidupnya. Di lantai bawah, suara tawa bahagia keluarganya dan keluarga Edgard masih terdengar samar, merayakan sebuah persatuan yang dibangun di atas reruntuhan hati Anya yang hancur lebur

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!