NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Jejak Pengkhianatan

Tiga hari berlalu begitu cepat, namun bagi Aruna rasanya seperti telah melewati berbulan-bulan. Hari-harinya diisi dengan mempelajari tumpukan dokumen tebal yang diberikan Argan, menghafal nama-nama rekan bisnis, memahami aturan adat keluarga Adhyaksa yang begitu ketat, hingga belajar menata sikap dan pembawaan yang pantas sebagai istri seorang CEO ternama. Setiap malam ia duduk di meja belajarnya, membaca ulang catatan kecil yang ia buat sendiri—menuliskan hal-hal penting agar tak mudah lupa. Sementara itu, Argan hampir tak pernah menemuinya kecuali saat makan malam yang sunyi, atau saat ia memanggilnya sebentar untuk memastikan apakah ia sudah menguasai apa yang dipelajarinya.

Malam itu adalah malam jamuan makan yang menjadi ujian pertamanya. Ruang jamuan utama di kediaman Adhyaksa sudah dihias sedemikian rupa, penuh bunga segar dan pencahayaan yang lembut namun mewah. Tamu-tamu penting mulai berdatangan satu per satu, disambut pelayan dengan penuh sopan santun. Aruna berdiri di samping Argan yang duduk di kursi roda, mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang anggun, dengan riasan sederhana namun mempertegas raut wajahnya yang lembut namun tegas.

“Tarik napas,” bisik Argan pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. “Jangan menunduk. Tatap mata mereka saat berbicara. Ingat: kau adalah Nyonya Adhyaksa. Bukan adik yang menggantikan kakaknya.”

Aruna mengangguk pelan, meremas ujung gaunnya yang halus lalu melepaskannya kembali. “Terima kasih... Argan.”

Saat tamu mulai mendekat, Aruna menjalankan perannya dengan sangat baik. Ia menyapa dengan senyum tulus, menjawab pertanyaan dengan cerdas, dan tak sekalipun menunjukkan rasa gugup yang melumpuhkan. Namun di balik senyum itu, telinganya tetap menangkap bisik-bisik samar yang tak sengaja terdengar:

“Bukankah seharusnya Aisyah yang berdiri di sana?”

“Katanya dia kabur tak mau menikah dengan orang lumpuh...”

“Kasihan gadis ini, dipaksa menggantikan nasib kakaknya...”

Setiap bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk, namun Aruna tak membiarkannya terlihat. Ia justru semakin erat berdiri di samping Argan, sesekali menyentuh bahu pria itu seolah memberi isyarat bahwa ia tak sendirian. Argan yang merasakan sentuhan itu sempat tertegun sejenak, namun ia tak menepisnya. Justru tanpa sadar, tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi roda sedikit melonggar.

Saat suasana mulai agak lengang, seorang pria berjas rapi mendekat dengan wajah penuh keraguan. Itu adalah pengawal pribadi Argan yang setia, Bimo. Ia membungkuk hormat, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat tertutup rapat.

“Maaf mengganggu, Tuan. Ini baru saja dikirimkan orang tak dikenal lewat kurir. Katanya khusus untuk Anda.”

Argan mengambil amplop itu dengan ragu. Tak ada nama pengirim, hanya tulisan tangan kasar bertuliskan: BUKTI MENGAPA SAYA PERGI.

Dahi Argan langsung berkerut. Ia merobek segelnya dengan kasar, lalu mengeluarkan selembar foto dan selembar kertas berisi tulisan tangan Aisyah. Jantung Aruna seakan berhenti berdetak saat melihat pandangan mata Argan berubah—dari tenang menjadi marah, lalu berganti menjadi kecewa yang begitu dalam.

“Apa isinya?” tanya Aruna pelan.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Argan meletakkan foto itu di atas meja kecil di sampingnya. Aruna menatapnya dan seketika darahnya terasa mendidih. Di foto itu terlihat jelas Aisyah sedang berpelukan mesra dengan seorang pria yang tak lain adalah saingan bisnis utama Argan—Dimas Pratama. Dan di surat itu tertulis kalimat yang menghancurkan segala alasan yang pernah dikatakan Aisyah:

“Maaf Argan. Aku tak pernah mencintaimu. Semua ini hanya rencana agar aku bisa masuk ke lingkaran bisnismu, mengambil informasi penting, lalu bergabung dengan Dimas yang jauh lebih berkuasa dan bisa memberiku kemewahan tanpa harus mengurus suami yang tak bisa berjalan. Aku pergi bukan karena malu... tapi karena aku sudah menemukan orang yang benar-benar bisa kucintai dan bersamaku berdiri tegak. Jangan cari aku.”

Argan meremas kertas itu hingga hancur, rahangnya mengeras begitu kuat hingga terlihat urat-urat di lehernya menegang. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang meluap-luap. Ternyata selama ini ia bukan hanya dikhianati karena dianggap cacat—ia telah dipermainkan, dijadikan alat, dan dihina sedemikian rupa oleh wanita yang dulu dipercaya keluarganya.

“Dia... dia sudah merencanakan ini sejak lama,” suara Argan bergetar menahan amarah yang meledak. “Semua keraguan, semua alasan yang ia ucapkan... semuanya sandiwara. Dia sudah bekerja sama dengan musuhku dari awal.”

Aruna merasakan dadanya sesak. Ia merasa malu, marah, sekaligus sedih mendengar betapa rendahnya kakaknya memperlakukan pria di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia meraih tangan Argan yang mengepal erat, memegangnya dengan lembut namun tegas.

“Ini bukan salah Anda, Argan. Dan ini bukan kesalahan Anda untuk merasa rendah diri. Dia yang tak tahu beruntung memiliki Anda. Dia yang kehilangan pria yang setia, bukan Anda yang kehilangan wanita yang pantas untuk Anda.”

Argan menatap tangan gadis itu yang memeluk tangannya, lalu menatap wajah Aruna. Di matanya tak ada rasa iba, tak ada rasa malu. Yang ada hanyalah kemarahan atas ketidakadilan yang menimpanya, dan keteguhan untuk tetap berdiri di sisinya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Argan merasakan ada seseorang yang tak memandangnya sebagai korban, melainkan sebagai pria yang telah dikhianati secara keji namun tetap berharga.

“Kau seharusnya membenci keluarga kami,” ucap Argan parau. “Kakakmu telah merusak segalanya, mempermalukanmu, dan menjadikanmu tumbal atas kejahatannya.”

“Kakak saya salah,” jawab Aruna mantap. “Tapi saya bukan dia. Dan saya tidak akan membiarkan perbuatan jahatnya membuat Anda berpikir semua orang sama saja.”

Di tengah kemegahan ruangan itu, di antara sisa-sisa kemeriahan yang perlahan memudar, benih kepercayaan yang sempat mati perlahan mulai tumbuh kembali. Argan menyadari bahwa pernikahan yang dimulai dari kebohongan ternyata menyimpan jejak pengkhianatan yang jauh lebih besar—namun di tengah kegelapan itu, ia justru menemukan seseorang yang tak pernah ia duga akan berdiri paling teguh di sampingnya.

Lanjut ke Bab 6?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!