Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit yang Retak, Hati yang Menyala
Kegaduhan di Kota Besi Heiyan tidak pernah benar-benar padam, bahkan di malam hari. Namun, malam itu berbeda. Malam itu, kebisingan mesin uap dan dentuman palu tertutup oleh suara lain: teriakan manusia. Bukan teriakan kesakitan atau perintah mandor, melainkan sorak-sorai kebebasan yang liar dan memabukkan.
Ren Zexian, Lin, dan tim kecil Goran telah berhasil menyusup keluar dari sistem saluran pembuangan melalui pintu darurat tua di distrik pinggiran kota. Mereka sekarang bersembunyi di atap sebuah gudang tekstil yang runtuh, memandang ke bawah menuju pusat kota.
Menara Jam Besar, simbol kebanggaan Klan Naga yang menjulang seperti jarum raksasa menusuk langit berasap, kini tampak cacat. Puncaknya, tempat Kristal Resonansi biasa bersinar dengan cahaya biru stabil yang menenangkan (dan mengendalikan) pikiran warga, kini gelap gulita. Asap hitam tebal mengepul dari retakan besar di bagian atas menara, membentuk awan buruk rupa yang kontras dengan keindahan arsitektur kaku di sekitarnya.
Di jalanan, kekacauan sedang berlangsung. Tanpa medan pengontrol Qi yang memancarkan sugesti ketundukan bawah sadar, rakyat Heiyan seolah-olah terbangun dari mimpi panjang. Toko-toko tutup paksa. Patroli Garda Emas kewalahan menghadapi kerumunan yang tiba-tiba berani meneriakkan protes. Pamflet-pamflet "Tinta Tak Terlihat" beterbangan di udara seperti salju abu-abu, membawa berita tentang eksperimen manusia dan korupsi elit.
"Gila," gumam Goran, menyeka keringat dan oli dari wajahnya yang penuh noda. Ia tersenyum lebar, gigi-giginya yang ompong terlihat jelas. "Aku belum pernah melihat mereka begitu takut. Lihat komandan patroli itu, dia gemetar!"
Ren tidak tersenyum. Matanya, yang masih menggunakan Mata Void secara parsial, mengamati pola energi di kota. Kekacauan ini memang efektif, tapi rapuh. Medan kontrol mungkin runtuh, tapi struktur kekuasaan Klan Naga masih utuh. Elder Han dan Penulis Bayangan masih ada. Dan ketika kejutan awal mereda, balasan mereka akan dahsyat.
"Kita harus pergi," kata Ren tegas, menarik perhatian tim. "Elder Han akan melacak sumber gangguan ini. Saluran pembuangan sudah tidak aman. Kita perlu mencapai perbatasan kota sebelum fajar."
Rina, pemimpin sel perlawanan yang menunggu mereka di titik temu, mengangguk serius. Wajahnya diterangi oleh kilatan api dari kerusuhan di kejauhan. "Kami akan mengalihkan perhatian mereka. Ada tiga sel lain yang akan memicu kebakaran di gudang penyimpanan tinta di sektor utara dan selatan. Pasukan Han akan terpecah."
"Terima kasih," kata Ren, membungkuk singkat. Ini adalah pertama kalinya ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kelangsungan hidup pribadi.
"Mari kita bergerak," perintah Rina.
Mereka turun dari atap, menyusuri lorong-lorong belakang yang sepi. Lin berjalan di samping Ren, tangannya erat menggenggam jubah kakaknya. Gadis kecil itu tampak lelah, tapi matanya bersinar cerah. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sebagai beban. Ia merasa sebagai kunci.
"Kakak," bisik Lin saat mereka berlari kecil melewati tumpukan sampah industri. "Aku merasakan... harapan. Banyak sekali. Seperti cahaya kecil-kecil di dalam kegelapan."
Ren menoleh, tersenyum tipis. "Itulah kekuatan kebenaran, Lin. Sekali dinyalakan, sulit dipadamkan."
Namun, senyuman itu pudar saat mereka mendekati gerbang barat kota. Di sana, jalan utama diblokir oleh barikade besi raksasa. Dan di atas barikade itu, berdiri sesosok figur yang familiar.
Elder Han.
Pria itu tidak sendirian. Di belakangnya, berdiri dua puluh anggota Garda Emas dengan tombak qi siap tempur. Tapi yang membuat darah Ren membeku bukanlah jumlah musuh, melainkan apa yang dipegang Han.
Sebuah rantai besi hitam panjang, yang ujungnya terikat pada leher seorang tawanan. Tawanan itu adalah Bao, Si Telinga. Pria kurus itu babak belur, wajahnya bengkak, tapi matanya masih licik dan hidup.
"Kau pikir kau pintar, Zexian?" teriak Han, suaranya bergema keras, mengalahkan suara kerusuhan di kejauhan. "Menggunakan anak buahku sendiri untuk mendapatkan informasi? Menggunakan anomali kecil itu untuk merusak kristal? Kau hanya menunda yang tak terhindarkan."
Ren berhenti mendadak. Tim Rina juga berhenti, tangan mereka meraih senjata improvisasi.
"Lepaskan dia," kata Ren, suaranya dingin.
Han tertawa, menarik rantai sehingga Bao tercekik dan terbatuk-batuk. "Lepaskan? Setelah kau menghancurkan properti negara? Kau tahu hukumannya, bukan? Penghapusan total. Bukan hanya untukmu, tapi untuk siapa pun yang membantumu."
Han menatap ke arah Ren, lalu matanya tertuju pada Lin. "Serahkan gadis itu. Dan aku akan membiarkan Bao hidup. Aku bahkan akan membiarkan kalian lari sejauh seratus mil sebelum aku mulai berburu lagi. Itu tawaran murah hati."
Bao menggeleng lemah, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Jangan... dengarkan dia, Ren... Dia pembohong..."
Ren mengepalkan tinjanya. Hatinya bergolak. Menyerahkan Lin berarti mengkhianati semua perjuangan mereka. Menyerahkan Bao berarti membiarkan orang yang membantu mereka mati sia-sia. Tapi menyerang Han dengan kondisi mereka yang lelah dan outnumbered hampir pasti bunuh diri.
Lin melepaskan genggaman tangannya dari Ren. Ia melangkah maju.
"Lin, jangan," desis Ren.
"Tidak, Kak," kata Lin tenang. Ia menatap Han, lalu menatap Bao. Cincin perak di matanya berputar lambat. "Dia tidak bohong tentang satu hal. Dia akan membunuh Bao jika kita tidak bertindak. Tapi dia juga akan membunuh kita bahkan jika kita menyerah."
Han mengerutkan kening. "Apa maksudmu, anak kecil?"
Lin mengangkat tangannya. Cahaya perak menyebar dari tubuhnya, bukan menyerang, tapi meresap ke dalam tanah, ke dalam besi barikade, ke dalam rantai yang mengikat Bao.
"Aku bisa merasakan rantai itu," kata Lin. "Besi itu dingin. Tapi ikatan Qi-mu di dalamnya... itu panas. Marah. Tidak stabil."
Han tertawa meremehkan. "Kau pikir kau bisa memutus ikatan Qi tingkat Elder dengan sentuhan?"
"Bukan memutus," kata Lin. "Tapi mengubahnya."
Dengan gerakan cepat, Lin menekan telapak tangannya ke udara. Gelombang energi perak melesat, bukan ke arah Han, tapi ke arah rantai besi. Energi itu tidak menghancurkan rantai. Ia masuk ke dalam struktur molekul besi, memanaskannya secara instan, lalu mendinginkannya dengan drastis.
KREKK!
Rantai besi itu menjadi rapuh seperti kaca. Saat Han menariknya lagi, rantai itu patah berkeping-keping. Bao jatuh bebas ke tanah, terlepas dari cengkeraman.
Han terbelalak, kemarahan murni meledak di wajahnya. "Kau berani! Tangkap mereka! Bunuh semua!"
Garda Emas menerjang.
"Kabur!" teriak Ren.
Tim Rina segera bertindak. Goran melemparkan bom asap buatan sendiri ke tengah pasukan Han, menciptakan kabut tebal berwarna hijau beracun. Dalam kekacauan itu, Ren menangkap Bao, mengangkatnya ke punggungnya, dan menggandeng Lin.
"Mari!" seru Rina, memimpin mereka ke arah gang sempit di sebelah kiri barikade.
Mereka berlari secepat kaki mereka bisa membawa, mendengar teriakan marah Han dan deru langkah kaki para penjaga di belakang mereka. Panah-panah qi melesat melewati kepala mereka, menancap di dinding batu.
Mereka berbelok-belok melalui labirin gang kumuh, memanfaatkan pengetahuan lokal Rina untuk menghindari jalan buntu. Napas mereka tersengal-sengal, paru-paru terbakar oleh udara beracun asap dan kelelahan.
Akhirnya, mereka mencapai sebuah rumah sakit lapangan rahasia di distrik termiskin. Di sini, anggota "Tinta Tak Terlihat" lainnya menunggu. Mereka segera menutup pintu, mengunci jendela, dan menarik tirai tebal.
Ren meletakkan Bao di atas meja operasi darurat. Seorang tabib wanita segera bekerja membersihkan luka-luka pria tua itu.
Bao membuka matanya, batuk pelan. Ia menatap Ren, lalu tersenyum lemah. "Kau... kau gila, anak muda. Memakai anomali untuk melawan Elder... Itu bunuh diri."
"Tapi berhasil," kata Ren, duduk di lantai, napasnya masih berat.
Bao mengangguk. "Ya. Berhasil. Dan sekarang, seluruh Kota Besi Heiyan tahu bahwa Klan Naga bisa dilukai. Bahwa mereka tidak dewa."
Ia meraih tangan Ren, genggamannya lemah tapi tegas. "Dengarkan aku, Ren. Han tidak akan berhenti. Dia akan membawa seluruh batalionnya. Kalian harus keluar dari kota malam ini juga. Jangan tunggu fajar."
Ren mengangguk. "Kami akan pergi. Ke mana?"
Bao menunjuk ke arah timur, ke pegunungan yang terlihat samar di balik asap. "Ke Lembah Senyap. Di sana, terdapat komunitas biarawan Kaligrafi Kuno. Mereka menolak penggunaan Tinta Inti. Mereka menyimpan pengetahuan lama... pengetahuan tentang asal-usul The Fade. Jika ada yang bisa menghentikan ini secara permanen, bukan hanya mengobati gejalanya, merekalah orangnya."
Ren menatap Lin. Gadis kecil itu sedang minum air, wajahnya pucat tapi tenang. Pengetahuan lama. Asal-usul The Fade. Ini adalah petunjuk yang mereka cari selama ini.
"Terima kasih, Bao," kata Ren.
"Sudahlah," gumam Bao, menutup matanya lagi. "Sekarang pergilah. Sebelum aku menyesal membantu kalian."
Ren bangkit, membantu Lin berdiri. Mereka meninggalkan rumah sakit itu melalui pintu belakang, menyusuri jalur rahasia yang ditunjukkan Rina.
Di luar, langit mulai memerah. Fajar akan segera tiba. Tapi bagi Ren dan Lin, ini bukan awal hari baru. Ini adalah awal dari perjalanan terakhir mereka. Menuju akar masalah. Menuju kebenaran.
Mereka berlari menuju gerbang timur kota, yang dijaga lebih longgar karena fokus pasukan Han ada di barat. Dengan bantuan sisa anggota Rina yang mengalihkan perhatian penjaga, mereka berhasil menyelip keluar.
Begitu berada di luar tembok kota, di padang rumput luas yang mengarah ke pegunungan, Ren berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, melihat Kota Besi Heiyan yang masih diselimuti asap dan kekacauan. Api revolusi telah dinyalakan.
Ia menoleh ke depan, ke arah pegunungan biru yang misterius.
"Ayo, Lin," kata Ren, suaranya penuh tekad. "Kita punya banyak pertanyaan untuk dijawab."
Dan bersama-sama, dua jiwa yang telah ditempa oleh api dan tinta, melangkah menuju ketidakpastian, membawa serta harapan terakhir dunia yang retak.