Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 - SUMPAH DI DEPAN PINTU
Setelah mengantar Nenek Utari dan Adipati Pramana keluar hingga langkah mereka hilang di ujung koridor, Waskita berbalik dan duduk kembali di kursi bundar dari kayu jati di depan pembaringan. Ruangan yang barusan ramai kini kembali hening, hanya terdengar gemerisik api obor yang menyala redup di dinding. Seberkas cahaya jingga jatuh di wajah Wulan yang masih pucat, dan untuk sesaat Waskita merasa seperti baru saja menyaksikan keajaiban — adiknya yang nyaris mati kini bisa duduk dan berbicara kembali. Ia menghela napas panjang, merapikan kalimat yang hendak diucapkannya.
"Wulan, apakah kau benar-benar ingin menikah?" Waskita menatap raut wajah adik bungsunya, ragu-ragu sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di dadanya. Ia bukan tidak tahu bahwa perjodohan itu adalah dekret Sultan yang tak bisa ditolak, tetapi ia masih ingin mendengar jawaban dari mulut Wulan sendiri — apakah adiknya menikah karena terpaksa, atau karena memang menginginkannya. Ia tidak tega melihat Wulan menjalani hidup dengan pria yang dijauhi semua orang, jika itu dilakukan karena keterpaksaan.
Saat nama Nalendra disebut, bulu mata Wulan berkedip, lalu ia mengangguk tanpa ragu dan menatap kakaknya dengan sungguh-sungguh. "Kakak Waskita, aku sudah menemukan jawabannya. Aku benar-benar ingin menikah. Aku ingin menikah dengan Nalendra." Di dalam hatinya, kata-kata itu bukan sekadar jawaban — ia adalah sumpah yang ia ucapkan pada diri sendiri, sumpah untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah merenggut segalanya.
Waskita sedikit mengernyit mendengar jawaban itu, tetapi tak lama kemudian wajahnya rileks. Ia mengacak rambut Wulan dengan penuh kasih sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, asal Wulan bahagia." Meski hatinya masih bertanya-tanya mengapa adiknya berubah begitu cepat, ia memilih untuk percaya. Selama adiknya tersenyum seperti ini, ia tidak akan menanyakan hal lain.
Saat langit mulai gelap, Waskita menemaninya menghabiskan makan malam dengan saksama. Sepanjang makan, ia mengamati setiap suapan yang masuk ke mulut adiknya, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat, seolah ketakutan dua hari yang lalu membuat ia tak ingin kehilangan adiknya lagi. Wulan tahu, kakaknya selalu begitu — diam-diam memperhatikan, diam-diam berkorban, tanpa pernah mengharap balasan.
"Kakak Waskita, pergilah istirahat. Aku baik-baik saja." Wulan melihat kelelahan yang mengendap di kerut alis kakaknya, lalu mendesaknya kembali ke kamar. Selama dua hari ia tak sadarkan diri, kakaknya pasti menjaganya tanpa tidur nyenyak, menempuh setiap langkah dengan perasaan cemas yang tak bisa ia bayangkan. Bayangan itu kembali menyengat dadanya — di kehidupan lampau, kakak inilah yang mengorbankan nyawanya demi membereskan kekacauan yang ia tinggalkan. Air matanya nyaris tumpah, tetapi ia menahannya.
"Baiklah, biarkan Intan menutup jendela sebelum tidur. Hati-hati jangan masuk angin di malam hari." Waskita melihat adiknya dalam keadaan baik dan berpikir tidak ada masalah serius, lalu mengangguk mengikuti keinginannya, menyentuh bagian belakang rambut Wulan, dan bangkit pergi. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh, lalu berbisik, "Besok pagi kakak datang lagi. Jangan takut." Baru setelah itu langkahnya menjauh.
---
Setelah meninggalkan Puri Ardani dan berjalan pulang ke halaman keluarganya, amarah yang selama ini Aryati tahan akhirnya meledak. Mengapa! Gadis itu berasal dari latar belakang yang lebih baik, memperoleh segala kemudahan tanpa usaha, bahkan beruntung dipertunangkan dengan Pangeran Senja. Siapa yang menyangka Pangeran Senja — yang kedudukannya jauh lebih berharga daripada pangeran dan putri biasa, yang selalu dingin dan menjaga jarak, yang tak memedulikan siapa pun — justru menerima perjodohan dengan gadis ketujuh keluarga Ardani yang manja dan sesuka hati itu! Padahal ia, Aryati, yang selama ini mengagumi Pangeran Senja dari kejauhan, tidak pernah sekali pun mendapat kesempatan sedekat itu.
Aryati berharap bisa menggigit gigi peraknya hingga berkeping-keping. Keduanya sama-sama gadis dari keluarga Ardani, tetapi nasibnya bagai langit dan bumi! Hanya karena ayahnya hanyalah putra dari seorang selir, ia tidak pernah diizinkan tampil di panggung yang sama dengan Wulan. Sepanjang hidupnya, ia harus hidup dalam bayang-bayang nama gadis itu — belajar yang sama, bersolek yang sama, tetapi tak pernah sekalipun diperhitungkan.
Sama-sama gadis keluarga Ardani, tetapi ketika orang menyebut nama itu, yang teringat hanyalah Wulan Ardani — tak seorang pun tahu bahwa di kamar kedua keluarga itu masih ada Aryati. Bagaimana ia bisa berdamai dengan itu! Tatapan tajam muncul di matanya, dan Aryati mencibir dalam hati. Betapa pun berharganya status putri sah, sayangnya gadis itu berstatus tetapi tidak punya otak. Ia hanyalah gadis bodoh yang tak punya perasaan, dan kenaifannya itu kelak akan membawanya masuk ke dalam lubang. Apa pun hasil akhirnya, ia benar-benar harus menunggu dan melihat.
---
Sementara itu, di dalam kamar, Wulan mengenakan jubah bulu rubah biru langit, setengah bersandar di pembaringan, menatap ke luar jendela dengan bingung. Bulan yang nyaris purnama menggantung di langit yang membiru, memantulkan cahaya ke dedaunan pohon di halaman Puri Ardani. Baru sekarang ia benar-benar menerima kenyataan bahwa ia dilahirkan kembali, tetapi setelah dipikir-pikir, hatinya masih sulit percaya. Ia mengulurkan tangan dan mencubit lengannya dengan kuat. Rasa sakit yang menjalar dari tubuhnya nyaris membuatnya menangis.
"Sst—sakit!" Setelah beberapa saat, Wulan menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca dan sepenuhnya menerima kenyataan. Ternyata apa yang dialaminya hari ini memang bukan mimpi, dan ia benar-benar berdiri lagi di titik tujuh tahun sebelum segala tragedi itu. Tiga hari lagi pernikahannya. Tiga hari lagi ia akan bertemu kembali dengan pria yang di dunia lain ia benci tetapi yang sebenarnya paling tulus padanya. Tangannya yang masih dingin perlahan mengepal, membulatkan tekad.
Setelah melamun beberapa saat, ia tiba-tiba merasakan sesuatu — semacam kehadiran asing yang membuat bulu kuduknya berdiri. Setelah sadar, ia menoleh ke arah pintu, dan tanpa diduga bertemu dengan sepasang mata elang yang dalam dan tajam.
Itu adalah sepasang mata elang yang sangat indah. Pupilnya dalam dan gelap, garis luarnya tegas dan dalam, dan sudut matanya yang sedikit terangkat tampak panjang dan berkelok-kelok. Sekilas, ia terasa seperti jatuh ke mata air pegunungan yang belum pernah dilihat ombaknya selama sepuluh ribu tahun — tenang, dalam, dan entah mengapa membuat jantungnya berdesir.
Itu dia...
Jantung Wulan tiba-tiba bergetar, dan dadanya merasakan sedikit nyeri yang tak terkendali. Sosok yang sudah sepuluh tahun tidak ia lihat itu kini berdiri di ambang pintu kamarnya, lebih hidup daripada bayangan yang selama ini menghantui tidurnya. Ia tidak tahu harus menangis, tertawa, atau hanya berdiri membeku.
Nalendra — Pangeran Senja, panglima yang memegang pasukan besar Bala Senja di Kesultanan Tirtaloka, saudara angkat Sultan Kanaka yang paling dicintai meski berbeda nama keluarga, dan juga... calon suaminya. Pria yang di kehidupan lampau ia tolak, ia hinakan, dan pada akhirnya ia berutang nyawa. Wulan menarik napas perlahan, menyusun senyum di wajahnya.