Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 33
BELUM SELESAI
Malam itu, halaman mansion Wolfe diterangi cahaya obor dan nyala api yang berkobar dari tungku kremasi.
Udara dingin menusuk, bercampur dengan bau kayu terbakar dan bunga lili yang layu. Seluruh keluarga Bianco hadir. Tidak ada yang menangis. Tidak ada doa yang dilantunkan. Hanya keheningan yang berat.
Peti kayu hitam milik Fernando perlahan didorong masuk ke dalam tungku. Api menyambar seketika, menjilat sisi-sisi kayu hingga menimbulkan bunyi berderak.
Amber berdiri paling depan, mengenakan gaun hitam panjang. Di sampingnya Pedro dengan jas hitam rapi, dan Oona dengan dress hitam yang terlalu ketat untuk acara duka. Ketiganya tidak mengalihkan pandangan dari api, namun sorot mata mereka terus bergerak.
“Semoga dia tenang di sana.” kata Oona ke ibunya.
Oona sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri dua langkah di belakang Silas. Senyumnya tipis, penuh arti.
Di sisi lain, Markie duduk di atas kursi rodanya. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya pucat namun tenang. Tangannya terlipat di atas pangkuan. Ia tidak menatap api. Ia menatap ke kejauhan, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang hanya ia yang bisa lihat.
Silas berdiri tegak di tengah. Jas hitamnya rapi tanpa satu helai pun kusut. Di sebelah kanannya, Myra berdiri dengan dress hitam sederhana hingga mata kaki. Di samping Myra, Elina menggenggam tangan Myra erat. Rambut Elina sudah disisir, pitanya hitam, dan wajahnya serius seperti orang dewasa.
Tidak ada yang berbicara selama hampir dua puluh menit. Hanya suara api.
Hingga akhirnya, api mereda. Yang tersisa hanyalah abu putih yang akan dimasukkan ke dalam urna.
Amber melangkah maju. Ia menatap Silas dengan dagu terangkat.
"Terima kasih, Silas, sudah 'menghormati' kepergian ayah mertuaku dengan caramu," sindirnya. "Sekarang setelah kremasi selesai, aku akan mengurus semua warisan Bianco. Sesuai surat wasiat terakhir. Tidak ada yang perlu kau campuri lagi."
Silas tidak menjawab. Ia hanya menatap urna yang baru saja ditutup oleh petugas.
"Warisan," ujar Silas akhirnya, suaranya rendah. "Aku tidak tertarik dengan tanah, gedung, atau saham Bianco. Aku punya semua itu."
Amber menyipitkan mata. "Ya. Aku lupa Wolfe sudah berpindah tangan. Tapi kebenaran tidak akan ditemukan di dalam abu ini."
Silas tidak menjawab. Ia berbalik setengah, seolah percakapan itu sudah selesai.
Di saat yang sama, Oona melangkah mendekati Kael. Ia tersenyum manis, terlalu manis untuk suasana duka.
"Kau masih setia berdiri di belakangnya, ya?" bisik Oona. "Padahal kau pantas berdiri di depan. Di samping orang yang... lebih menghargaimu. sudah punya kekasih?"
Kael tidak menoleh. Suaranya tenang, datar.
"Saya berdiri di tempat yang memang seharusnya, Nona Oona. Di tempat yang dipercayakan kepada saya."
Oona terkekeh pelan, kecewa namun tidak menyerah. Ia mundur selangkah.
“Soal kekasih...” Kael menoleh menatapnya. “Saya tidak tertarik.”
“Sungguh?” kata Oona tersenyum tak percaya.
Pedro kemudian maju. Ia berdiri tepat di hadapan Silas, dengan postur yang dibuat setegap mungkin.
"Silas," kata Pedro dengan nada yang dibuat berwibawa. "Sebagai kepala keluarga Bianco yang baru, aku akan memastikan semua urusan berjalan lancar. Termasuk urusan keamanan. Kau tidak perlu ikut campur. Ini rumah kami."
Silas menatap Pedro lekat. Sebelum Silas menjawab, sekilas mata Pedro bergerak ke arah Myra yang berdiri di samping Silas. Tatapannya berhenti beberapa detik, dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
Myra menangkapnya.
Keheningan pecah oleh suara Myra yang tenang namun jelas.
"Nyonya Amber," ujar Myra. "Sepertinya putra Anda sangat menyukai pemandangan. Sayangnya, yang dia tatap adalah istri orang lain."
Semua kepala menoleh.
Amber tertegun. Pedro langsung memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Oona menutup mulutnya, menahan tawa.
Amber kemudian tersenyum kecil, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia menatap Myra dari atas ke bawah.
"Sepertinya istrimu sangat aktif berbicara, Silas."
Silas yang sedari tadi diam, kini menoleh kepada Myra. Alisnya berkerut sedikit, seperti sedang menimbang. Lalu ia menjawab, singkat dan tanpa keraguan.
"Ya. Itu sebabnya aku menikahinya."
Kalimat itu jatuh seperti palu. Wajah Amber menegang. Ia tidak menemukan kata untuk membalas.
"Jika tidak ada urusan lain," lanjut Silas, "kalian bisa pergi."
“Ya. Bianco dan Wolfe sudah tidak sedekat dulu. Kami akan pergi.” kata Amber menyeringai kecil dan segera bergegas ke mobil.
Begitu juga Pedro dan Oona yang tersenyum miring menatap Kael sambil berkata. “See you!”
.
.
.
Malam telah larut ketika mansion Wolfe kembali sunyi.
Di ruang kerja, Silas duduk di ujung meja panjang. Di hadapannya ada Markie, Pikkey yang sudah kembali dari perjalanan, dan Hana yang membawa berkas-berkas.
"Aku akan ke luar kota selama seminggu," kata Silas. "Ada pertemuan bisnis di Milan. Aku membawa Myra."
Pikkey mengangguk. "Keamanan sudah saya atur, Tuan. Dua tim akan mengikuti."
"Perusahaan Wolfe tetap berjalan seperti biasa," lanjut Silas menatap Hana. "Kau yang pegang keputusan selama aku tidak ada. Laporkan langsung padaku setiap malam."
"Baik, Tuan," jawab Hana.
Markie akhirnya bersuara. Suaranya pelan. "Hati-hati, Silas."
Silas menatap Markie. "Jaga dirimu. Dan jangan keluar dari mansion tanpa pengawalan. Ingatlah, Elina menjadi tanggung jawabmu."
“Aku mengerti.”
Setelah rapat selesai, Silas berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar, lampu kuning menyala temaram. Myra berdiri di depan cermin besar, mengenakan dress hitam sutra yang baru saja ia pakai untuk makan malam. Tangannya berusaha meraih resleting di punggung, namun resleting itu tersangkut di kain.
Ia mengerutkan kening, mencoba lagi.
Pintu terbuka pelan. Silas masuk dan langsung melihatnya.
"Kesulitan?" tanyanya.
Myra terkejut dan segera menutup dadanya dengan tangan. "A-aku bisa sendiri."
Silas tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dan berdiri di belakang Myra. Napas Myra tercekat.
"Biar aku," kata Silas pelan.
"Tidak perlu. Aku—"
"Tanganmu tidak sampai," potong Silas. Tanpa menunggu, ia memutar tubuh Myra dengan hati-hati hingga punggung Myra menghadapnya.
Jari-jari Silas yang dingin menyentuh kulit punggung Myra saat ia berusaha melepaskan resleting yang tersangkut. Sentuhannya hati-hati, namun membuat Myra menahan napas.
"Jangan bergerak," bisik Silas di dekat telinganya.
Myra memejamkan mata. Di cermin, ia bisa melihat pantulan mereka. Silas berdiri terlalu dekat. Terlalu dekat untuk sekadar membantu resleting.
"Silas..." panggil Myra lirih.
"Hm?"
"Tidak usah berpura-pura ini hanya soal resleting."
Silas berhenti sejenak. Ia menatap pantulan mata Myra di cermin. Lalu ia melanjutkan, lebih pelan.
"Aku tidak sedang berpura-pura."
Resleting akhirnya lepas. Dress itu sedikit melorot di bahu Myra. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar napas mereka.
Silas mengangkat tangannya, menyingkap sehelai rambut Myra yang menutupi tengkuk, lalu meletakkan ciuman singkat di sana. Bukan ciuman yang mendesak. Ciuman yang menahan.
Myra menggigit bibirnya, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang.
"Ini berbahaya," bisik Myra.
"Segala hal tentang kita memang berbahaya," jawab Silas. Tangannya kini berada di pinggang Myra, menahan agar Myra tidak menjauh. "Termasuk tetap tinggal diam."
Wanita itu menatap diam, hingga Silas membuka dress itu dan menampilkan tubuh Myra yang janah dibalut pakaian dalam warna hitam.
“Baiklah, pemandangan ini sudah cukup— ”
Hendak melangkah pergi, Silas menahannya dan menariknya lebih dekat hingga Myra merasa seperti dibelenggu oleh tangan kekar itu.
“Urusan kita belum sepenuhnya selesai.” kata Silas.