NovelToon NovelToon
MY BROKEN WINGS

MY BROKEN WINGS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

...Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan namun menenangkan di sepanjang tol Trans-Jawa, mobil Devandra akhirnya memasuki jalanan kota Solo yang teduh. ...

...Suasana kota yang damai seolah menyambut kepulangan Ratri dengan pelukan yang hangat....

...Devandra mengarahkan kemudinya sesuai petunjuk jalan dari Ratri, hingga akhirnya mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah bergaya joglo sederhana namun sangat asri di pinggiran Solo. Rumah masa kecil Ratri, tempat di mana kedua orang tuanya tinggal....

...Ratri turun dari mobil dengan langkah yang agak ragu namun rindu. Devandra berjalan di sampingnya, memberikan kekuatan lewat kehadirannya yang tenang. Begitu melangkah ke teras, Ratri melihat pintu depan yang terbuka dan mengetuknya perlahan....

..."Assalamualaikum, Ibu... Bapak..." panggil Ratri, suaranya sedikit bergetar menahan haru....

...Dari dalam rumah, terdengar langkah kaki yang tergesa namun sepuh. ...

...Seorang wanita tua berjarit batik dan pria berpeci muncul di ambang pintu. ...

...Wajah keriput mereka seketika berbinar melihat siapa yang datang....

..."Waalaikumsalam, nduk..." jawab sang Ibu, matanya berkaca-kaca melihat putri sulungnya berdiri di sana lengkap dengan seragam pilot yang belum sempat ia ganti sejak pagi demi mengejar waktu....

...Sang Bapak melangkah maju, membetulkan letak kacamata tuanya dengan heran. ...

..."Lho, kok mboten ngabari Bapak lan Ibu toh, Nduk? Lak yo bisa dijupuk nang stasiun opo bandara?" ...

...(Lho, kok tidak memberi kabar Bapak dan Ibu toh, Nak? Kan ya bisa dijemput di stasiun atau bandara?)...

...Ratri tersenyum tipis, lalu maju mendekat untuk meraih tangan kedua orang tuanya secara bergantian, menciumnya dengan takzim dan penuh kerinduan....

..."Ngapunten, Pak, Bu... Boten ngabari riyin, amargi pancen sengaja badhe maringi kejutan kagem Bapak kaliyan Ibu. Menawi ngabari, mangke malah sami repot masak-masak."...

...(Mohon maaf, Pak, Bu... Tidak memberi kabar duluan, karena memang sengaja mau memberikan kejutan untuk Bapak dan Ibu. Kalau memberi kabar, nanti malah semuanya repot masak-masak.)...

...Ratri menoleh ke arah Devandra yang berdiri sopan di belakangnya, lalu kembali menatap orang tuanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. ...

..."Sinten ngertos Bibi Ningsih wonten mriki, Pak? Wonten perkawis penting ingkang badhe kula rembag..." ...

...(Siapa tahu Bibi Ningsih ada di sini, Pak? Ada urusan penting yang ingin saya bicarakan...)...

...Bapak yang melihat raut wajah putri sulungnya tampak lelah dan memendam masalah, langsung mengerti bahwa ada hal penting yang sedang terjadi. ...

...Beliau menoleh ke arah halaman samping rumah, di mana ada seorang pemuda kerabat jauh yang sedang membantu membersihkan pekarangan....

..."Tomo! Mrene sedhela, Le!" panggil Bapak dengan suara yang masih lantang. ...

...(Tomo! Sini sebentar, Nak!)...

...Tomo segera berlari kecil menghampiri teras. "Wonten menopo, Pak?" ...

...(Ada apa, Pak?)...

..."Tulung kowe nang omahe Bibi Ningsih ya, Le. Kandani yen Mbak Ratri wis teko lan arep pethuk," perintah Bapak lembut. ...

...(Tolong kamu ke rumahnya Bibi Ningsih ya, Nak. Kasih tahu kalau Mbak Ratri sudah datang dan mau ketemu.)...

...Mendengar hal itu, Ratri yang tidak sabar ingin segera bertemu dengan sosok asisten rumah tangga setianya langsung menyahut. ...

..."Tomo, saya ikut."...

...Devandra yang sejak tadi mengamati dengan tenang segera melangkah maju, memegang pundak Ratri dengan lembut. ...

..."Ratri, kamu jalan kaki saja dengan saya ke sana. Biar Tomo yang jalan duluan untuk memberi tahu Bibi Ningsih agar dia tidak terkejut."...

...Bapak pun mengangguk setuju. "Iyo, Nduk. Omahe Ningsih kuwi lak mung nang sebelah kono, gur ketutupan wit-witan. Mlaku wae karo kancamu iki, sekalian hawa seger." ...

...(Iya, Nak. Rumahnya Ningsih itu kan cuma di sebelah sana, cuma tertutup pepohonan. Jalan saja sama temanmu ini, sekalian cari udara segar.)...

..."Nggih, Pak," jawab Ratri patuh....

...Tomo pun segera berjalan mendahului mereka dengan langkah cepat. ...

...Sementara itu, Devandra menemani Ratri berjalan kaki menyusuri jalanan setapak pedesaan yang rindang di samping rumah utama orang tuanya....

...Suasana Solo yang tenang dan gemerisik daun-daun bambu ditiup angin sore seolah menjadi terapi alami bagi jiwa Ratri yang sempat terguncang hebat akibat pengkhianatan di Jakarta. ...

...Devandra berjalan beriringan di sisinya, menjaga jarak yang sopan namun tetap memberikan rasa aman yang nyata bagi sang kapten....

...Tok! Tok! Tok!...

..."Budhe Ningsih... Niki wonten Mbak Ratri, Budhe..." panggil Tomo sembari mengetuk pintu kayu rumah sederhana itu dengan sopan....

...Ceklek....

...Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan rambut yang disanggul rapi khas pedesaan. ...

...Begitu daun pintu terbuka sempurna, mata Bibi Ningsih langsung tertuju pada sosok wanita anggun yang berdiri di jalur setapak....

..."M-Mbak Ratri...?" bisik Bibi Ningsih seolah tak percaya dengan penglihatannya....

...Air mata Bibi Ningsih seketika tumpah. Tanpa memedulikan apa pun lagi, ia langsung berlari kecil menghampiri Ratri. ...

...Wanita tua itu langsung memeluk erat pinggang Ratri sebelum akhirnya merosot, bersimpuh di kaki sang kapten di atas tanah. ...

...Tubuhnya bergetar hebat diiringi tangisan penyesalan yang teramat dalam....

..."Mbak Ratri... Nyuwun ngapunten, Mbak... Kula mboten saget njagi dalemipun Mbak Ratri wonten Jakarta. Kula dipun fitnah, Mbak..." ratap Bibi Ningsih dengan suara serak, mengadu dalam bahasa Jawa yang kental. ...

...(Mbak Ratri... Mohon maaf, Mbak... Saya tidak bisa menjaga rumah Mbak Ratri di Jakarta. Saya difitnah, Mbak...)...

...Ratri yang melihat itu langsung ikut berkaca-kaca. ...

...Ia segera berjongkok, memegang kedua bahu Bibi Ningsih dan berusaha menarik wanita itu agar kembali berdiri....

..."Lho, Bi, jangan seperti ini. Berdiri, Bi. Bibi tidak salah. Ratri sudah tahu semuanya," ucap Ratri lembut namun tegas, mencoba menenangkan asisten rumah tangganya yang sangat setia itu....

..."Lho, lho... Ono opo iki, Nduk?" (Lho, lho... Ada apa ini, Nak?)...

...Sebuah suara sepuh yang familier mengejutkan mereka. ...

...Rupanya, Bapak dan Ibu tidak tahan untuk berdiam diri di rumah. ...

...Didorong rasa khawatir dan penasaran yang besar, kedua orang tua Ratri ternyata menyusul berjalan kaki ke rumah sebelah. ...

...Mereka berdua tertegun melihat pemandangan mengharukan di hadapan mereka....

...Bibi Ningsih yang masih terisak segera menghapus air matanya kasar menggunakan ujung bajunya, lalu menatap orang tua Ratri dengan perasaan bersalah....

..."Kulo nggih mboten semerap, Pak, Bu..." ucap Bibi Ningsih lirih sambil menggelengkan kepala, suaranya masih tersendat....

...(Saya juga tidak tahu, Pak, Bu...)...

...Devandra yang berdiri beberapa langkah di belakang Ratri hanya memperhatikan dengan tatapan penuh simpati. ...

...Ia tahu, di sinilah, di tanah kelahirannya yang diselimuti ketulusan orang-orang terdekat, proses penyembuhan luka hati Ratri benar-benar dimulai....

..."Pangapunten, Pak, Bu, Mbak Ratri..." ...

...Bibi Ningsih menunduk dalam, air matanya kembali menetes deras menahan beban rahasia yang teramat berat....

..."Enten nopo, Mbok? Cerita wae, ra usah wedi," tanya Ibu Ratri dengan lembut, mencoba menenangkan wanita sepuh itu. ...

...(Ada apa, Mbok? Cerita saja, tidak usah takut.)...

...Bibi Ningsih meremas kedua tangannya yang gemetar, lalu memberanikan diri menatap mata mereka semua....

..."Kula lepat sanget. Kados pundi kemawon, sejatosipun kula kedah criyos saking rumiyin. Nanging Pak Indra tansah ngancam kula."...

...(Saya salah besar. Seharusnya saya memberitahukan dari dulu. Tapi Pak Indra selalu mengancam saya.)...

..."Salah besar nopo, Bi? Criyos wae," sahut Ratri, hatinya mendadak berdesir tidak tenang mendengarkan pengakuan itu....

...(Salah besar apa, Bi? Cerita saja.)...

...Bibi Ningsih menarik napas panjang, tangisannya kini pecah menjadi histeris. ...

..."Sejatosipun... Non Tasya kaliyan Mas Gabriel menika sanes putranipun Mbak Ratri. Pak Indra sampun mbuwang putranipun Mbak Ratri ingkang asli nalika bayi!" ...

...(Sebenarnya... Non Tasya dan Mas Gabriel itu bukan anak Mbak Ratri. Pak Indra sudah membuang anak Mbak Ratri yang asli waktu bayi!)...

...Bagai disambar petir di siang bolong, ruangan itu seketika hening mencekam. Jantung Ratri serasa berhenti berdetak....

..."Lalu, mereka anak siapa, Bi?!" cecar Ratri dengan bibir yang gemetar hebat, memegang kedua lengan Bibi Ningsih dengan cengkeraman erat....

..."Merekapun putranipun Mbak Imelda, Mbak..." bisik Bibi Ningsih lirih. ...

...(Mereka itu anaknya Mbak Imelda, Mbak...)...

..."Astaghfirullah!!"...

...Bapak dan Ibu seketika mengelus dada mereka, syok berat mendengar kekejaman Indra yang sudah di luar batas kemanusiaan. ...

...Bagaimana bisa seorang suami menukar anak kandung istrinya sendiri demi darah daging selingkuhannya?...

...Dunia di sekitar Ratri mendadak berputar hebat. Kenyataan bahwa selama belasan tahun ini ia telah memeras keringat, bertaruh nyawa di angkasa, dan memberikan seluruh kasih sayangnya untuk anak dari wanita yang menghancurkan rumah tangganya—sementara darah dagingnya sendiri entah berada di mana—membuat pertahanan mentalnya runtuh total....

...Dada Ratri terasa sesak. Pandangannya menggelap seketika. ...

...Tubuhnya limbung dan langsung jatuh pingsan....

..."RATRI!!"...

...Devandra yang sejak tadi bersiaga di belakangnya dengan sigap bergerak maju. ...

...Sebelum tubuh wanita itu menghantam lantai, lengan kokoh Devandra sudah lebih dulu menangkapnya. ...

...Dengan raut wajah yang dipenuhi rasa panik dan khawatir, Devandra langsung membopong tubuh rapuh Ratri dan membaringkannya dengan hati-hati di atas amben bambu milik Bibi Ningsih....

...Melihat wajah Ratri yang kian memucat dengan napas yang satu-satu, Devandra tidak mau mengambil risiko. ...

...Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi salah satu rumah sakit swasta terbaik di Solo untuk mengirimkan tim medis serta tabung oksigen guna melakukan layanan home care darurat. ...

...Pria itu tahu, membawa Ratri yang sedang syok berat ke rumah sakit hanya akan menarik perhatian publik, dan tempat terbaik untuk memulihkannya saat ini adalah di lingkungan yang tenang....

...Di sudut ruangan, Bibi Ningsih masih menangis tersedu-sedu di hadapan Bapak dan Ibu Ratri. Rasa bersalah yang dipendamnya selama belasan tahun kini meledak tak tertahankan....

..."Pangapunten, Pak, Bu... Kulo siap mlebet kantor polisi. Kulo siap dihukum amargi sampun ndelikake perkawis menika," ratap Bibi Ningsih pasrah, siap mempertanggungjawabkan ketakutannya di masa lalu di hadapan hukum. ...

...(Mohon maaf, Pak, Bu... Saya siap masuk kantor polisi. Saya siap dihukum karena sudah menyembunyikan masalah ini.)...

...Devandra yang baru saja menutup teleponnya langsung menoleh. ...

...Ekspresi wajahnya tampak tegas namun tetap menenangkan. ...

..."Bi, kita bahas nanti nggih," ucap Devan dengan bahasa Jawa yang santun namun tak menerima bantahan. ...

..."Sekarang yang paling penting adalah kesehatan Ratri."...

...Tak berselang lama, sirine ambulans terdengar samar dari kejauhan sebelum akhirnya berhenti di depan rumah. ...

...Dua orang perawat dengan sigap masuk membawa peralatan medis lengkap. Mereka dengan cepat memasangkan masker oksigen di wajah Ratri untuk membantu pernapasannya yang sempat menyempit, lalu dengan terampil menusukkan jarum dan memasang selang infus pada punggung tangan sang kapten guna menyalurkan cairan penenang dan nutrisi....

...Bapak dan Ibu hanya bisa menggenggam tangan satu sama lain, air mata mereka menetes pelan melihat putri kebanggaan mereka terbaring tak berdaya di atas amben bambu....

...Setelah tim medis selesai mengondisikan situasi dan membiarkan Ratri beristirahat, Devandra mendekat. ...

...Pria bertubuh tegap itu berlutut di samping tempat tidur....

...Ia meraih jemari tangan Ratri yang terasa sangat dingin, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri....

..."Ratri, aku tahu kamu kuat. Jangan pergi..." bisik Devandra dengan suara yang bergetar menahan gejolak rasa yang teramat dalam. ...

...Mata tajam yang biasanya memancarkan otoritas penuh itu kini hanya menyiratkan kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu. ...

..."Kamu harus bangun. Kita akan cari anakmu bersama-sama. Aku janji."...

1
Muft Smoker
kenyataan yg gx sesuai ekspetasii begitu menyakitkan bukan ,,
Muft Smoker
nah kan ,, harus ny mempermalukan Ratri ,, malah kalian yg malu sendiri karena kebusukan kalian terbongkar
Muft Smoker
udh cukup kalian ( indra , Imelda , Tasya dan Gabriel ) senang2 ny ,,
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
Muft Smoker
indra , Imelda , Tasya dan Gabriel emnk cocok jdi 1 keluarga ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
Muft Smoker
aduuuh aduuuuh ,, cari kerja atuh broo ,,
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
formasi Ratri udh lengkap ,, tinggal nunggu pengganti sang kepala keluarga ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
akhirnya Ratri bisa ketemu dg kedua ank kembar nya ,,
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
Muft Smoker
dmn2 org sirik akan melakukan apa pun untuk menjatuh kan rival ny ,, meski dg cara kotor sekali pun
Muft Smoker
kdg keserakahan bisa membuta kn segalanya ,,
😒😒😒
Muft Smoker
Akhirnya mereka ketemu juga ,, tinggal menemukan si kembar laki2 niih ,,
semoga cepat bisa di temukan ,
Muft Smoker
semoga Ratri mereka bisa segera bertemuu ,, dan Ratri juga bisa ketemu ma si kembar cowo ,, duuuuh
gregeet bangeet
Muft Smoker
org punya harta dan kuasa bisa dg mudah menemukan hal2 yg begitu mustahil buat org awam ,,
Muft Smoker
semangat ratriii ,, km hrus lebih kuat buat menemukan ank2 kandung mu ,, dan memberi pelajaran kpda mereka yg udh jahat kpda mu
Muft Smoker
si indra bnr2 bi*d*p ,, ank sndrii di tuker ank selingkuhan ,, pantes si Tasya ma Gabriel kurang ajar ma Ratri wong bukan ibu ny ,, udh bnr sih mereka di usir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
udh salah Masih aj gx sadar diri ,,
😒😒😒😒
Muft Smoker
aduuh laki2 mokondo model km ndraa byk di pasar loak ,,
😒😒😒😒
Muft Smoker
tanpa istri Dan ibu kalian bisa apa ,,
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!