NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Malam pertama sebagai istri Altair terasa seperti mimpi buruk yang nyata bagi Aquilla.

Kamar itu sempit. Hanya ada satu ranjang kayu yang catnya mengelupas, kasur kapuk yang lapuk dan keras, serta lemari reyot dengan pintu yang tidak bisa tertutup rapat. Tidak ada AC. Tidak ada kipas angin. Hanya jendela kecil yang dibiarkan terbuka, membawa masuk nyamuk dan hawa pengap malam musim kemarau.

Aquilla membaringkan tubuhnya di ranjang satu orang itu. Kasurnya berbunyi _kriet_ setiap kali ia bergerak. Punggungnya sakit. Spreinya kasar, menggesek kulitnya yang biasa dimanja sutra.

Di lantai, hanya beralaskan tikar tipis dan bantal lusuh, Altair mengalah. Laki-laki itu tidur membelakangi ranjang, kaus hitamnya sudah kusut, celana pendeknya selutut. Punggungnya lebar, tapi malam ini terlihat kaku.

Aquilla tidak bisa diam. Ia membalikkan badan ke kiri. _Kriet_. Ke kanan. _Kriet_. Keringat membanjiri tengkuk dan pelipisnya. Rambut panjangnya lengket. Tangannya menggenggam sebuah kardus bekas air mineral, ia kipas-kipaskan ke wajahnya dengan kasar.

Hening itu pecah oleh dencit ranjang yang kesekian kalinya.

Altair menghembuskan napas berat. Sangat berat. Terdengar jelas frustrasinya. Seketika ia bangkit, duduk, lalu mengacak rambutnya kasar. Dalam temaram lampu bohlam 5 watt, ia menatap tajam ke arah ranjang. Matanya menyipit, rahangnya mengeras.

"Lo bisa diem nggak?" Suaranya rendah, serak menahan emosi.

Aquilla yang sedang kesal ikut bangkit terduduk. Ia melempar kardus ke samping. "Gila... panas banget," keluhnya. Ia tidak sanggup. Tangannya mengibas-ngibas kerah kaus. "Panas, Al. Lo mah nggak ngerti."

Altair memejamkan mata sejenak, menarik napas. "Biasain diri lo," katanya. Dingin. Datar. Tapi ada nada tertekan di sana.

Aquilla tidak menjawab. Ia menatap Altair, lalu menatap kausnya yang sudah basah oleh keringat dan menempel tidak nyaman di kulit. Tanpa kata, kedua tangannya menjambak ujung bawah kaus itu.

"Lo... lo ngapain?" Suara Altair langsung tercekat. Ia gugup.

Dalam sekali tarikan, kaus itu terlepas dari tubuh Aquilla, mendarat lemas di lantai. Yang tersisa hanya bra tank top berwarna krem yang membungkus tubuhnya. Kulitnya putih, bersih, kini berkilauan oleh peluh. Lekuk pinggangnya terlihat jelas di bawah cahaya temaram.

Altair membeku. Ia meneguk ludah. Tenggorokannya kering seketika. Bagaimanapun dia laki-laki normal. Umur 26 tahun. Sudah menikah, meski paksa. Melihat pemandangan itu di kamar pengap tengah malam, darahnya berdesir naik ke kepala. Gairah yang coba ia kubur dalam-dalam bangkit tanpa izin.

Sial.

Altair langsung menggeleng keras, mengusir pikiran kotornya. Seketika ia merasa kamarnya seribu kali lebih panas. Ia bangkit berdiri dengan gerakan kasar, hampir menendang bantal di lantai.

Aquilla yang tidak peka mengerutkan kening. "Lo mau ke mana?"

Altair tidak menjawab. Ia hanya mendengus kesal, melangkah lebar-lebar menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti. Punggungnya masih membelakangi Aquilla. Tangannya mencengkeram kusen erat sampai buku jarinya memutih.

"Jangan buka baju sembarangan di depan gue," katanya. Suaranya datar, tapi setiap katanya seperti ditahan dari geraham. Ia memperingatkan. "Gue ini laki-laki normal, Aquilla. Kalau lo terus-terusan kayak gitu, gue bisa aja nanam benih sekarang juga. Lo mau?"

Aquilla malah mengangkat bahu, acuh. Ia menarik selimut tipis sampai sebatas perut. "Wajar dong gue buka. Lo suami gue. Kita udah nikah," jawabnya enteng. Tidak ada malu, tidak ada takut. Baginya ini hal biasa. "Gue gerah. Titik."

Ia kembali merebahkan tubuhnya. Kardus di tangan, ia kipas-kipasi lagi ke arah dada dan leher. Ia menghela napas lega. "Akhirnya... enak juga," gumamnya sambil memejamkan mata. Tidak peduli pada laki-laki yang masih berdiri kaku di pintu.

Altair menggigit bibir bawahnya sampai nyaris berdarah. _Istri_. Kata itu terasa seperti kutukan.

Tanpa suara, ia keluar. Dibiarkannya pintu terbuka sedikit. Udara malam tidak membantu mendinginkan kepalanya.

Di teras rumah yang hanya cukup untuk satu motor, Altair duduk di anak tangga paling bawah. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan bungkus rokok dan korek api. Sebatang rokok terselip di bibirnya. _Cklek_. Api menyala, ujung rokok membara.

Ia mengisap dalam, lalu menghembuskan asapnya ke langit malam tanpa bintang. Asap itu membubung, sama seperti frustrasinya.

Kepalanya pening. Hidupnya sudah berantakan sejak kematian kedua orang tuanya, bahkan sampai sekarang dia nggak tahu di aman jasad mereka. Kerja menjadi eksekutor menghilangkan banyak nyawa, tinggal di rumah petak warisan yang cuma 4x6 meter.

Lalu? Dia dipaksa menikahi Aquilla. Anak angkat musuhnya. Dia salah langkah dan menyangka Aquilla adalah anak mereka, dia sudah berencana untuk membalasnya dengan cara mempermainkan Aquilla. Tapi? Ia malah salah target dan masuk ke permainannya sendiri.

Masalahnya, ia menikahi Gadis manja yang tidak pernah merasakan tanah, yang kukunya saja tidak pernah patah.

Semua karena Daniel anj*ng itu.

Altair menatap bara rokoknya. Matanya merah, bukan karena asap.

"Gue harus punya orang yang lebih hebat dari Andrea's di belakang gue," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya pahit. Asap keluar bersamaan dengan kalimat itu. "Baru bisa balas dendam. Baru bisa bikin dia jatuh... sama kayak dia jatohin orang tua gue."

Satu jam berlalu. Lima batang rokok sudah habis jadi abu di lantai teras. Lidah Altair pahit. Dadanya sesak. Pada dasarnya kedua matanya terasa mengantuk, tapi otaknya menolak diam. Semua tentang Aquilla, tentang Andrea's, tentang dendam yang belum selesai.

Dengan langkah berat, Altair akhirnya memilih masuk kembali. Ia mendorong pintu kayu yang berderit. Begitu pintu terbuka, kantuknya langsung menguap.

Sial.

Di atas ranjang kayu itu, Aquilla terlelap. Bra tank top terpangpang jelas di depannya. Perutnya yang rata, putih, dan berkilau oleh keringat terpampang jelas di hadapan Altair. Napasnya teratur. Rambutnya berantakan menempel di pelipis dan leher.

Darah Altair berdesir naik ke kepala. Panas. Kali ini Altair tidak menghindar. Kakinya tetap mendekat, walau rahangnya mengeras menahan diri. Kasur lapuk itu berderit saat lututnya menekan tepian ranjang.

Tangannya terulur, meraih selimut tipis yang sudah ditendang Aquilla ke ujung kaki. Dengan gerakan kaku, Altair menarik selimut itu ke atas. Ia menutupi dada dan perut Aquilla pelan-pelan, sampai sebatas leher. Jari-jarinya sempat nyaris menyentuh kulit Aquilla yang hangat. Altair langsung menarik tangannya seperti tersengat api.

Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Walaupun dibanjiri keringat, dengan rambut lengket dan bibir sedikit terbuka, Aquilla tetap tampak cantik. Cantik yang sialnya sangat mengganggu pikiran. Cantik yang tidak seharusnya ada di kamar bobrok ini.

"Lo sangat menggoda, sayangnya lo ngeselin," gumam Altair. Suaranya hampir tidak terdengar, hanya untuk dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan. Frustrasi.

Hening menggantung. Hanya ada suara napas Aquilla dan detak jam dinding murahan di luar kamar.

Altair duduk di tepi ranjang. Tikar di lantai sudah tidak ia pedulikan. Matanya tidak lepas dari wajah Aquilla. Gadis ini mantan anak konglomerat. Seumur hidupnya pasti dilayani. Sekarang dilempar ke rumahnya yang bahkan kipas angin saja tidak punya. Bagaimana bisa bertahan?

"Bisakah gue bertahan dengan lo?" kata Altair. Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Pelan. Lelah. Ia tidak berharap jawaban. Ia hanya menatap wajah Aquilla yang tampak damai dalam tidurnya. Damai yang tidak tahu kalau suaminya di sampingnya sedang perang dengan dirinya sendiri.

Tangan Altair terkepal di atas pahanya. Dia laki-laki normal. Sudah sah. Tapi harga dirinya lebih tinggi dari nafsunya. Dia tidak mau menyentuh Aquilla karena panas, karena emosi, karena dendam. Kalau suatu hari dia menyentuh gadis ini, dia mau Aquilla menginginkannya juga. Bukan karena terpaksa. Bukan karena pernikahan sialan ini.

Dan itu yang bikin Altair semakin gila. Karena kemungkinan itu nol besar.

Ia menghela napas, berat dan panjang. Dengan hati-hati, Altair merebahkan tubuhnya di sisi lantai. Punggungnya membelakangi Aquilla.

Bau keringat dan sabun dari tubuh Aquilla menguar, bercampur dengan bau asap rokok di bajunya. Anehnya, Altair tidak protes.

Matanya menatap dinding yang lembap. Di balik dinding itu ada musuh yang menunggu dia hancur. Di sampingnya ada istri yang bisa jadi alasan dia hancur lebih cepat.

"Semoga lo bukan salah satu penghancur gue"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!