NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15 ANCAMAN SIHIR PURBA

Pintu kamar didobrak nyaris hancur oleh tangan Darian.

“IRIS!”

Suara itu menggema memenuhi ruangan, menebas keheningan yang tegang dan membekukan semua orang di dalamnya. Langkah kaki Darian menggedor lantai batu dengan kecepatan penuh, jubah militernya masih berlumur debu perjalanan cepat dari istana kekaisaran Valeria ke benteng Ravengard.

Pandangannya langsung mengarah ke tempat tidur.

Di sana, Iris terbaring diam. Wajahnya pucat, rambut peraknya kusut menempel di pelipis basah. Selimut tipis menutupi tubuhnya yang tak bergerak, dan satu tangan terkulai lemas di sisi kasur.

“Iris...” Darian menghambur ke sisi ranjang, lututnya menghantam lantai saat ia menjangkau tangan istrinya.

Kulitnya dingin.

“Apa yang terjadi padanya?!” Suaranya meledak ke arah siapa pun yang bisa menjawab.

Di sisi ranjang, Tabib Eldric sedang memeriksa denyut nadi Iris, wajahnya keruh. Di belakang, Lisa berdiri dengan wajah sembab, bahunya terguncang oleh isakan keras.

“Yang Mulia Grand Duke, Yang Mulia... Grand Duchess hanya ingin berjalan sebentar di taman tadi siang...” suara Lisa bergetar hebat. “Saya... saya mengira Yang Mulia sudah lebih baik... dan dia... dia hanya ingin udara segar...”

Darian menoleh tajam ke arah Lisa, suaranya mencengkeram udara seperti cambuk.

“Kenapa tidak ada yang menjaganya di luar?!”

Lisa terisak lebih keras, tubuhnya nyaris jatuh berlutut. “Saya hanya pergi sebentar, Yang Mulia... hanya sebentar! Grand Duchess bilang ingin puding mangga, dan saya... saya pergi ke dapur istana... dan saat saya kembali, Grand Duchess sudah terbaring di tanah taman dalam... tak bergerak...”

Darian memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Kepalan tangannya di atas lantai batu mengeluarkan suara retakan pelan, seolah sedang meremukkan kehendak dunia. Aura panas yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh ruangan menahan napas. Bahkan api lilin di sisi tempat tidur seolah bergetar hebat.

Lisa mengisak, “Maafkan saya, Yang Mulia Grand Duke... maaf... saya tidak akan pernah meninggalkannya lagi...”

Darian tidak menjawab. Matanya kembali menatap Iris. Napasnya tak stabil. Tangan besarnya masih menggenggam tangan Iris erat.

“Dia tidak bisa pingsan hanya karena kelelahan biasa,” ucapnya perlahan pada Eldric, tapi nada suaranya seperti desis pedang. “Katakan. Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?”

Tabib Eldric menarik napas pelan. Tatapannya bertemu dengan mata Darian, lalu menggeleng perlahan.

“Ini bukan pembicaraan yang bisa dilakukan di sini, Grand Duke.”

Darian mendongak, sorot matanya seperti sedang mengukur ancaman. Tapi saat melihat raut wajah Eldric yang sungguh-sungguh dan gelap... ia perlahan mengangguk.

Dengan enggan, ia melepaskan genggamannya dari tangan Iris, lalu menoleh ke Lisa.

“Jangan biarkan dia sendirian sedetik pun,” perintahnya tajam. “Dan jika dia menunjukkan gerakan sekecil apa pun—bernapas lebih cepat, mengerutkan dahi, membuka mata, apa saja—laporkan padaku detik itu juga.”

Lisa mengnoduk cepat dengan mata merah. “Baik, Tuan... saya tidak akan berpaling sedikit pun dari beliau...”

Darian menatap wajah Iris sekali lagi. Ia membungkuk sedikit, mengecup lembut dahi istrinya. Bibirnya bergetar sedikit saat ia berbisik nyaris tanpa suara.

“Bertahanlah... aku belum selesai mencintaimu.”

Lalu ia bangkit. Jubahnya mengepak pelan saat berbalik.

Eldric mengnoduk, memberi isyarat. “Di ruang kerja Anda, Tuan.”

Keduanya melangkah keluar dari kamar. Pintu ditutup pelan, dan untuk sesaat, dunia seakan berhenti bergerak di sisi Iris yang masih terbaring, dikelilingi keheningan yang nyaris tak tertahankan.

Hujan mulai turun di luar jendela. Suara tetes air menghantam kaca tinggi di balik meja kerja kayu obsidian berukir lambang gagak Ravengard. Api di perapian menyala tenang, namun hawa dingin dari pegunungan Valeria seolah menyelinap ke setiap celah batu benteng.

Darian berdiri membelakangi meja, kedua tangannya mengepal di belakang punggung. Bahunya tegang, rahangnya mengeras. Di hadapannya, Tabib Eldric berdiri dengan tangan di balik punggung, raut wajahnya serius dan berat.

“Bicaralah,” perintah Darian tanpa memutar tubuhnya. “Semua. Jangan sembunyikan satu detail pun.”

Eldric mengnoduk. “Baik, Yang Mulia.”

Ia menarik napas panjang. “Saya telah memeriksa Grand Duchess... dan hasilnya bukanlah sesuatu yang pernah tercatat dalam sejarah medis kekaisaran.”

Darian berbalik, tatapannya menusuk. “Apa maksudmu?”

Eldric melangkah mendekat, nada suaranya pelan tapi tegas. “Tubuh Grand Duchess berada dalam tekanan yang sangat besar, bukan karena penyakit atau kelalaian fisik... tapi karena fluktuasi kekuatan sihir yang luar biasa kuat dan tidak stabil yang datang dari anak yang ia kandung.”

“...Sihir bayi kami?” Darian mengulang perlahan, suaranya merendah, seolah tak percaya.

Eldric mengnoduk pelan. “Saya sudah lama mencurigainya. Sejak awal kehamilan, Grand Duchess menunjukkan gejala energi spiritual yang tidak sinkron. Tapi hari ini... serangan itu mencapai puncaknya. Tubuhnya diserang dari dalam—bukan oleh ancaman luar, tapi oleh pertempuran antara dua aliran sihir dalam kandungannya.”

“Dua aliran?” Darian menajamkan pandangan.

“Ya, Tuan.” Eldric mendekat dan menurunkan suaranya. “Aliran yang diwarisi oleh Grand Duchess adalah aliran angin utara. Kuat, langka, dan sangat selaras dengan wilayah pegunungan yang tertutup salju. Tapi... Anda, Tuan, adalah pewaris api abadi—salah satu elemen tertua dan paling agresif dalam sejarah kekaisaran.”

Darian diam. Pundaknya menegang.

Eldric melanjutkan, “Bayinya... mewarisi kekuatan api abadi. Tapi di dalam rahim ibunya yang tubuh dan alirannya adalah angin, api itu tidak bisa berkembang dengan stabil. Ia membakar, menyerap, dan... secara tidak sadar menyerang sumber kekuatannya sendiri, yaitu ibunya.”

Darian melangkah perlahan ke arah jendela. Hujan di luar mulai berubah menjadi salju ringan. “Kau bilang... menyerang Iris?”

“Ya, Tuan. Seperti angin yang memicu bara api menjadi kobaran besar. Tubuh Grand Duchess berusaha menyeimbangkan kekuatan itu, tetapi tiap kali tubuhnya melemah, si bayi justru menyerap energi lebih banyak lagi. Ini bukan kelainan biasa. Ini... adalah benturan dua elemen agung dalam satu tubuh.”

Darian mencengkeram bingkai jendela. “Apa ini artinya Iris... sedang sekarat?”

Eldric terdiam. “Saya... tidak bisa memastikannya. Tapi jika fluktuasi ini terus berlanjut, dan tubuh Grand Duchess tidak mampu menahan ketidakseimbangan itu... maka ya. Kemungkinan terburuknya adalah baik ibu maupun anaknya bisa kehilangan nyawa.”

Suara perapian mendesis.

Darian memejamkan mata. Rahangnya bergetar. Ia bukan orang yang mudah gentar. Tapi untuk pertama kalinya... ancaman yang ia hadapi tak berbentuk pasukan, tak berwujud pedang—melainkan kehidupan yang tumbuh dari cintanya sendiri.

“Apakah tidak ada cara?” tanyanya lirih, tapi dalam. “Apakah tidak ada sesuatu... apa pun... yang bisa menyeimbangkan kekuatan itu?”

Eldric menggeleng. “Tidak dengan ilmu yang saya miliki. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Valeria. Dua darah agung—api dan angin—tidak pernah bersatu dalam satu tubuh. Terlebih lagi... anak ini memiliki kekuatan api abadi sejak di dalam kandungan. Biasanya kekuatan itu baru terbangun di usia belasan.”

“Apakah kau menyiratkan bahwa anakku adalah—”

“Anomali,” potong Eldric pelan. “Atau keajaiban. Tergantung dari sisi mana Tuan melihatnya.”

Darian menatap lantai beberapa detik, lalu kembali memutar badan menghadap Eldric. “Jika aku... mentransfer sebagian kekuatanku. Mungkin dengan ritual pengikat. Akankah itu membantu menyeimbangkannya?”

Eldric mengerutkan dahi. “Ritual seperti itu sangat berisiko. Jika Anda gagal... Anda bisa kehilangan kekuatan Anda. Atau memperparah ketidakseimbangan dalam kandungan Grand Duchess.”

Darian mengnoduk pelan. “Lebih baik aku yang kehilangan kekuatan... daripada kehilangan dia.”

Eldric menatap Darian lama. “Apakah Anda benar-benar mencintainya... sejauh itu, Tuan?”

Pertanyaan itu seperti palu yang menghantam dinding kebisuan dalam hati Darian. Ia tidak menjawab segera. Hanya menatap api di perapian dengan sorot yang berbeda.

“Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih... untuk semua senyumnya. Untuk setiap malam saat dia menggenggam tanganku... walau tubuhnya lelah. Jika satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan mengorbankan api yang tumbuh bersamaku sejak lahir... maka biarlah... aku yang terbakar.”

Eldric menarik napas panjang. “Kalau begitu, Tuan... kita harus bergerak cepat. Sebelum si bayi kembali menyerap lebih banyak kekuatan dan tubuh Grand Duchess terlalu lemah untuk bertahan.”

Darian menatap Eldric dengan mata yang penuh tekad.

“Siapkan ritualnya. Aku tidak peduli berapa pun harganya. Aku... akan melindungi mereka. Apa pun yang terjadi.”

Percakapan di antara Darian dan Tabib Eldric nyaris selesai. Api perapian masih menyala tenang, namun hawa di dalam ruangan terasa tebal, seakan langit menggantung tepat di atas kepala mereka. Darian berdiri membelakangi Eldric, pikirannya masih sibuk dengan kemungkinan ritual pengikat yang baru saja dibahas. Wajahnya keras, penuh tekad, dan diam-diam diliputi rasa takut.

Namun ketenangan itu pecah.

BRAK!

Pintu kayu tebal ruang kerja didobrak terbuka dengan kasar hingga membentur dinding. Suara itu bergema tajam di antara pilar-pilar batu.

Darian segera berbalik, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam seperti mata pedang. “Siapa yang berani masuk tanpa izin—?!”

Namun kalimat itu terpotong ketika ia melihat seorang pengawal muda berdiri terengah-engah di ambang pintu, tubuhnya setengah membungkuk dan wajahnya pucat pasi. Peluh mengalir deras dari pelipisnya.

“Yang Mulia Grand Duke... maafkan saya... ini mendesak...!” suaranya tercekat.

Darian melangkah cepat ke depan meja. “Bicara. Sekarang!”

Sang pengawal menegakkan tubuhnya dengan susah payah, matanya gemetar. “Grand Duchess... T-Tuan, Grand Duchess kembali mengalami kejang. Pelayan melihat tubuh beliau menggigil hebat, dan... dan si bayi—kata mereka, perut beliau bercahaya... seperti membara dari dalam...!”

Hening. Sejenak dunia seolah membeku.

Darian tidak bicara. Ia tidak bertanya. Ia tidak mengnoduk.

Ia langsung melangkah.

Langkahnya berat, cepat, dan nyaris menghantam lantai batu. Jubah hitamnya berkibar tajam, suara sepatu botnya bergema seperti guntur.

Eldric terkejut, lalu segera menyusul. “Tuan! Tuan! Saya harus memeriksa—!”

Pengawal tergopoh-gopoh berbalik dan berlari di depan untuk membuka jalan, tapi langkah Darian terlalu cepat. Lelaki itu seperti prajurit yang melihat benteng pertahanannya runtuh—tak ada yang bisa menghentikannya.

“Singkirkan siapa pun dari lorong!” bentak Darian sambil terus melangkah. “Pastikan tidak ada yang menyentuhnya sebelum Eldric tiba.”

“T-Tentu, Tuan!” pengawal itu segera berteriak kepada dua penjaga di ujung lorong. “SINGKIR! Buka jalan untuk Grand Duke!”

Eldric nyaris terjatuh ketika mencoba mengimbangi langkah Darian. “T-Tuan, kita perlu bersikap tenang...! Kita tak tahu apa yang terjadi jika sihir dalam tubuh anak itu kembali mengamuk tanpa kontrol—!”

“Justru karena itulah aku harus di sana,” potong Darian tajam, tak menoleh. “Jika ada satu hal yang bisa menenangkan si anak... maka itu adalah suara ibunya. Dan jika ibunya tak sadarkan diri... maka akulah satu-satunya jangkar terakhirnya.”

Kepalan tangan Darian mengepal kuat di sisi tubuhnya.

“Jika aku harus bicara dengan si bayi dari luar rahimnya agar berhenti menyerang ibunya sendiri... maka aku akan melakukannya.”

Hujan tipis mulai turun dari celah jendela tinggi koridor saat mereka melintas cepat. Darian seperti badai yang bergerak. Tak peduli siapa yang menatap. Tak peduli siapa yang terkejut. Tidak ada yang bisa menghalangi jalan seorang suami yang hendak menyelamatkan istrinya.

Di belakangnya, Eldric berbisik pada dirinya sendiri.

“Demi langit... inilah pertama kalinya aku melihat Grand Duke Darian... berlari bukan untuk membunuh, tapi untuk mencintai.”

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!