Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Meterai di Atas Darah
Guntur bangkit ketika Bima memasuki ruang VIP.
Tidak ada salam ramah. Namun ia membungkukkan kepala sedikit, mengakui orang yang akan berdiri di hadapannya sebagai lawan, bukan lagi sopir yang diceritakan Darman.
Tiga sesepuh duduk di sisi meja panjang.
Pria paling kurus memperkenalkan diri lebih dulu. "Saya Ki Sardu."
Di sebelahnya, pria bertubuh bulat dengan alis tebal mengangguk. "Ki Broto."
Yang terakhir memiliki punggung lurus dan tatapan tajam. "Ki Lanang."
Tak satu pun menyebut perguruan asal. Hari itu nama pribadi dan reputasi mereka sebagai saksi netral lebih penting daripada bendera aliran.
Ki Sardu menunjuk kursi kosong. "Duduk. Sebelum bicara soal taruhan, kami akan memastikan tidak ada pihak yang datang karena paksaan."
Bima duduk berhadapan dengan Guntur. Laras, Anindya, Vanya, dan Gita mengambil tempat di sisi kanan. Darman dan Selvi berada di sisi kiri. Denny memilih kursi belakang, diam dengan syal masih menutupi leher.
"Apakah kalian berdua bersedia bertarung?" tanya Ki Lanang.
"Bersedia," jawab Guntur.
"Bersedia," jawab Bima.
Ki Broto membuka tiga berkas identik. "Surat Tanding adalah perjanjian kehormatan kalangan persilatan. Ia tidak memberi kekebalan dari hukum negara dan tidak memindahkan aset tanpa kewenangan pemilik. Fungsi kami adalah memastikan kesediaan, aturan pertarungan, taruhan yang berwenang, dan hasil tidak diputar setelah duel."
Darman menggeser tubuh, tidak suka mendengar batas itu diulang.
"Perkenalkan aliran dan kemampuan utama kalian," kata Ki Sardu.
Guntur berdiri. "Saya Guntur, murid senior Padepokan Giri Wesi. Saya memakai Kebal Karang untuk pertahanan tubuh dan Pukulan Karang Pecah untuk serangan. Saya tidak membawa senjata."
Ia kembali duduk.
Semua mata beralih kepada Bima.
"Bima Prawira. Tidak mewakili padepokan mana pun," katanya. "Saya bertarung dengan tangan kosong."
Ki Lanang menatap telapak dan langkah Bima, seolah berharap menemukan nama perguruan dari bekas latihan. Ia tidak menemukannya.
"Guru?"
"Tidak hadir dan tidak terlibat dalam perkara ini."
Jawaban itu tidak berbohong, tetapi menutup pintu pertanyaan berikutnya.
Selvi mendorong satu lembar klausul. "Kalau Bima kalah, seluruh saham Larissa Couture diserahkan kepada pihak kami. Itu tuntutan awal."
Vanya tidak menyentuh kertas tersebut. "Ditolak. Bima bukan pemegang saham. Tidak ada persetujuan RUPS, tidak ada akta pengalihan, dan tidak ada satu pun pemilik sah yang memberi kuasa."
Gita menambahkan, "Catatan penolakan tim hukum kami sudah terlampir pada ketiga salinan. Klausul itu tidak boleh masuk melalui kalimat lain."
"Kalau tidak ada nilai ekonomi, apa jaminan dia tidak kabur setelah kalah?" Darman membentak.
"Nyawanya sudah dipertaruhkan," kata Anindya dingin. "Keserakahan Anda tidak mengubah kepemilikan perusahaan."
Suasana menegang sampai Laras berdiri.
"Saya menawarkan pengganti yang berwenang," katanya. "Bukan saham."
Ia meletakkan surat kesanggupan penjamin dan bukti kemampuan dana di depan tiga sesepuh. Dokumen itu telah ditelaah tim hukum Larissa sejak dini hari.
"Jika Bima kalah secara sah, saya menanggung kompensasi Rp50 miliar kepada Larissa Couture. Berdasarkan perjanjian terpisah yang disetujui Vanya dan Gita, Larissa akan membayar jumlah yang sama sebagai penyelesaian final kepada pihak Darman. Hasil bersih perusahaan tetap nol dan tidak ada saham berpindah. Setelah pembayaran, semua tuntutan akuisisi dari perkara ini gugur."
Darman menghitung cepat. Nilainya lebih rendah daripada Rp80 miliar yang pernah ia tawarkan untuk mengambil seluruh perusahaan, tetapi kali ini ia bisa menerima uang tanpa proses akuisisi panjang.
"Lima puluh miliar dibayar maksimal tujuh hari kerja setelah hasil disahkan," kata Selvi. "Dengan bukti dana yang bisa diverifikasi."
"Setuju," jawab Laras. "Hanya jika Bima kalah menurut keputusan tiga saksi dan pihak kalian tidak melanggar aturan."
Ki Broto membaca seluruh dokumen, termasuk lampiran sumber dana dan batas kewajiban. "Ini jaminan kompensasi, bukan transaksi saham. Kami catat demikian."
Bima menatap Laras. "Teh Laras tidak perlu melakukan ini."
"Saya sudah bilang, ini bukan hadiah." Laras tidak menoleh kepadanya. "Menanglah, maka jaminan ini tidak pernah ditagih."
Ki Sardu beralih kepada Guntur. "Taruhan pihakmu jika kalah?"
"Darman meninggalkan Surabaya untuk selamanya," jawab Guntur. "PT Garda Hitam menghentikan semua tekanan, penawaran paksa, dan tindakan melalui perantara terhadap Larissa. Padepokan Giri Wesi tidak akan mengangkat lagi perkara Darman ini sebagai alasan untuk mengusik Bima atau orang yang ia lindungi."
Laras mengetuk satu kalimat dalam rancangan. "Tambahkan langsung maupun tidak langsung, permanen, dan mencakup suruhan."
"Klausul itu terlalu luas," protes Selvi.
"Jebakan kalian juga memakai suruhan," balas Gita.
Guntur mengeluarkan surat tugas bercap Padepokan Giri Wesi. Dokumen itu menyatakan ia mewakili perguruan hanya untuk menyelesaikan pengaduan Darman, tidak untuk perkara lain. Ki Sardu memeriksa cap dan nomor catatan, lalu menyerahkannya kepada Ki Broto serta Ki Lanang. Ketiganya memastikan batas kewenangan itu dicantumkan sebagai lampiran.
Guntur membaca perubahan. Ia datang untuk membela kehormatan seorang adik seperguruan. Jika ia menang, tuntutan pihaknya tetap dibayar. Jika kalah, sudah seharusnya perkara yang dibawanya berakhir.
"Saya setuju," katanya.
"Atas perkara Darman ini," tegas Ki Lanang. "Bukan kekebalan Bima dari setiap perselisihan masa depan yang belum ada."
"Benar."
Batas itu dicatat agar tak ada pihak yang mengubah satu kemenangan menjadi kuasa tanpa ujung.
Dokumen final dicetak ulang. Setiap halaman diberi nomor, para pihak membubuhkan paraf, dan meterai ditempatkan pada lembar tanda tangan. Ki Broto mengingatkan bahwa meterai bukan sumber kewenangan; persetujuan, identitas, dan hak atas taruhan tetap harus nyata.
Bima membaca dari awal sampai akhir. Guntur melakukan hal yang sama.
Mereka menandatangani tiga salinan. Darman, Selvi, Laras, Vanya, dan Gita menandatangani hanya bagian kewajiban yang memang menjadi wewenang mereka. Ki Sardu, Ki Broto, dan Ki Lanang membubuhkan tanda tangan sebagai saksi.
Surat Tanding resmi aktif.
Pak Yudi memimpin rombongan menuju aula anggar utama. Lantai pertandingan telah ditutup matras putih. Kursi penonton ditempatkan jauh dari batas arena, sedangkan petugas medis menunggu di balik pintu samping.
Sebelum Bima melangkah ke matras, Anindya menahan lengannya.
Matanya basah, tetapi tangannya tidak gemetar.
"Kamu sudah berjanji pulang."
"Aku ingat."
Anindya mendekat dan mengecup pipinya singkat. Bukan pertunjukan, bukan tuntutan. Hanya keberanian yang ia berikan dengan caranya sendiri.
Gita mengalihkan pandangan sesaat. Laras tetap tenang, tetapi jari yang memegang map mengencang sebelum kembali rileks. Vanya menunduk, memberi ruang pada dua orang itu tanpa mengganggu.
Bima menyentuh punggung tangan Anindya sekali, lalu masuk ke arena.
Guntur berdiri di seberang. Keduanya melepaskan alas kaki dan menunggu sampai Ki Sardu mengangkat tangan.
"Pertarungan dimulai setelah salam," kata sang sesepuh. "Pihak luar dilarang masuk sebelum kami menghentikannya."
Bima dan Guntur membungkuk satu sama lain.
"Silakan," kata Guntur.
"Silakan."
Kaki mereka menghentak matras pada saat yang sama.
Dua tubuh melesat maju.