Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Salah Arah
Hutan kristal berubah perlahan seiring mereka berjalan lebih jauh ke arah barisan pepohonan yang lebih rapat, cahaya keperakan dari langit-langit jauh semakin redup di atas kepala mereka, digantikan oleh kilau kebiruan yang dipancarkan kristal-kristal di batang pohon itu sendiri. Suasana menjadi lebih senyap, hanya diselingi suara langkah kaki mereka di atas rerumputan biru pucat dan sesekali derit halus dahan kristal yang bergesekan tertiup angin yang tidak pernah benar-benar terasa seperti angin sungguhan.
Tomas berjalan paling depan, sesekali berhenti untuk memeriksa peta yang mulai basah karena embun tipis yang menempel di udara lantai ini, membandingkannya dengan tanda alami di sekitar mereka.
"Menurut catatan Draymoor," katanya, suaranya rendah, "reliknya seharusnya berada di sebuah reruntuhan kecil, tidak jauh dari sini. Sekitar dua ratus langkah lagi ke arah barat laut."
"Reruntuhan apa?" tanya Wick, masih berjalan dekat Brann, matanya terus menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu yang belum juga pudar sejak pertarungan tadi.
"Catatan keluarga menyebutnya sebagai kuil kecil," jawab Tomas, tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada jejak-jejak samar di tanah. "Peninggalan dari ekspedisi lama, sebelum lantai ini pertama kali dipetakan resmi oleh Guild."
Arden mendengarkan sambil terus melangkah, memperhatikan bagaimana Corym berjalan tepat di sisinya, seperti biasa, meski kali ini ada sesuatu di raut wajahnya yang tampak sedikit lebih waspada dari biasanya.
"Kau memikirkan sesuatu," kata Arden, bukan pertanyaan.
"Aku selalu memikirkan sesuatu," jawab Corym, senyum tipis muncul sesaat sebelum menghilang lagi. "Tapi kali ini, aku memikirkan seberapa sepi tempat ini. Tidak ada suara binatang lain selain yang tadi kita hadapi. Bahkan angin di sini terasa seperti berhenti sesekali, seolah menunggu sesuatu."
"Mungkin memang begitu sifat lantai ini."
"Mungkin," kata Corym, meski nadanya tidak sepenuhnya yakin.
Mereka terus berjalan, dan tidak lama kemudian, Tomas kembali mengangkat tangan, isyarat untuk berhenti. Ia berjongkok di dekat sebuah area terbuka di antara pepohonan kristal, tempat rerumputan biru pucat tampak tertekan dan patah dalam pola yang tidak wajar, seolah sesuatu yang cukup berat pernah melintas di sana beberapa waktu lalu.
"Ini aneh," gumamnya.
Arden mendekat, berjongkok di sebelahnya. "Apa yang kau lihat?"
"Jejak," kata Tomas, menunjuk pada rerumputan yang tertekan itu. "Bukan jejak binatang. Terlalu teratur. Seperti seseorang, atau beberapa orang, berjalan dalam formasi rapat, cukup lama sampai rerumputan ini belum sepenuhnya bangkit kembali."
Ilena mendekat, prisma kecilnya sudah aktif di tangannya, menyapu area itu dengan cahaya redup. "Jejaknya cukup baru. Kalau aku membaca ini dengan benar, mungkin tiga sampai empat hari lalu."
"Draymoor tidak menyebut ada ekspedisi lain sebelum kita," kata Corym, alisnya berkerut.
"Mungkin dia tidak tahu," kata Arden, meski nada suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri.
Tomas bergerak sedikit lebih jauh, menyisir area di sekitar jejak itu dengan mata yang terlatih membaca tanda-tanda sekecil apa pun. Di dekat akar salah satu pohon kristal, ia menemukan sesuatu tersangkut di antara ranting rendah, terlepas dari sesuatu yang lebih besar.
"Ini," katanya, mengangkatnya perlahan.
Sepotong kain kecil, robek di salah satu ujungnya, berwarna abu-abu gelap yang tidak biasa, bertekstur kasar seperti jubah pelindung yang sengaja dibuat untuk menyatu dengan bayangan. Tidak ada lambang, tidak ada tanda pengenal apa pun yang menunjukkan asal pemiliknya.
Petra mendekat, mengambilnya dari tangan Tomas untuk memeriksa lebih dekat. "Bukan kain dari guild mana pun yang aku kenal. Terlalu polos untuk itu."
"Mungkin pemburu bebas," kata Doran, meski nadanya sendiri terdengar tidak yakin dengan tebakannya sendiri. "Beberapa dari mereka sengaja menghindari lambang guild agar tidak dikenali kalau mengambil kontrak ilegal."
"Mungkin," kata Halden, meski ia mengambil kain itu dari tangan Petra untuk memeriksanya sendiri, jarinya menggosok teksturnya perlahan, matanya menyipit dengan cara yang menunjukkan ia sedang mengingat sesuatu tanpa berhasil menemukannya. "Tapi aku tidak suka bagaimana rasanya di tanganku. Terlalu rapi jahitannya untuk sekadar jubah pemburu bebas biasa."
Brann mendekat, ikut memeriksa dengan rasa ingin tahunya yang biasa, meski kali ini raut wajahnya lebih serius. "Bisa aku bawa sampelnya? Mungkin aku bisa menemukan sesuatu dari seratnya nanti."
Arden mengangguk, meski pikirannya sendiri sudah mulai berputar lebih cepat dari yang ia tunjukkan di wajahnya. Ia berdiri, menatap sekeliling area itu sekali lagi, mencoba membaca apa yang tidak terlihat jelas oleh mata biasa.
"Kita lanjutkan," katanya akhirnya. "Tapi tingkatkan kewaspadaan. Tomas, tetap pimpin di depan, tapi beri jarak lebih dari biasanya."
"Arden," kata Corym, pelan, cukup untuk hanya didengar olehnya. "Kau yakin kita harus lanjut? Ini bukan sekadar jejak binatang yang bisa kita abaikan."
"Aku tahu," kata Arden, menoleh padanya. "Tapi kita belum tahu apa artinya. Bisa jadi memang pemburu bebas yang lewat, bisa jadi sesuatu yang lebih tua dari yang kita duga, tertinggal sejak lantai ini terakhir dieksplorasi. Kalau kita mundur setiap kali menemukan sesuatu yang tidak biasa, kita tidak akan pernah menyelesaikan misi apa pun."
"Aku tidak bilang mundur," kata Corym, nadanya tetap tenang meski ada ketegasan di baliknya. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak terlalu cepat meyakinkan dirimu sendiri bahwa ini bukan apa-apa, hanya karena itu lebih mudah daripada menghadapi kemungkinan bahwa ini memang sesuatu."
Kata-kata itu menggantung sejenak di udara antara mereka berdua. Arden menatap sahabatnya, mengenali sesuatu yang jarang ia dengar langsung dari Corym selama bertahun-tahun mereka bekerja sama, sebuah kejujuran yang tidak dibungkus dengan basa-basi.
"Aku dengar," kata Arden akhirnya, suaranya lebih rendah. "Aku akan lebih waspada. Tapi untuk sekarang, kita tetap perlu menyelesaikan kontrak ini. Kita berhati-hati, bukan berhenti."
Corym menatapnya sejenak lebih lama, lalu mengangguk, meski sesuatu di matanya menunjukkan ia belum sepenuhnya puas dengan jawaban itu. "Baiklah. Tapi kalau kita menemukan sesuatu lagi seperti ini, aku ingin kita benar-benar mempertimbangkan untuk mundur, bukan sekadar berhati-hati sambil terus maju."
"Setuju," kata Arden, meski di dalam dirinya, ia sendiri tidak sepenuhnya yakin apakah ia benar-benar akan menepatinya kalau saatnya tiba.
...----------------...
Mereka melanjutkan perjalanan dengan formasi yang lebih rapat, jarak antar anggota diperpendek, mata semua orang lebih waspada dari sebelumnya. Hutan kristal di sekitar mereka mulai berubah lagi, batang-batang pohon semakin jarang, digantikan oleh formasi batu besar yang menjulang di antara sisa-sisa vegetasi kristal, seolah mereka memasuki area yang lebih tua, lebih dilupakan waktu dibanding bagian hutan yang baru saja mereka lewati.
Ilena berjalan lebih dekat dengan Arden sekarang, prismanya masih menyala pelan di tangannya, meski ia tidak lagi memandanginya seketat sebelumnya, lebih memilih menyapukan pandangannya bergantian antara alat itu dan sekeliling mereka.
"Ada perubahan komposisi udara," katanya, cukup pelan hanya untuk Arden dan Corym yang berjalan dekat. "Sedikit, tapi ada. Konsentrasi Anima ambient di area ini sedikit lebih padat dari bagian hutan sebelumnya."
"Artinya?" tanya Arden.
"Aku tidak yakin," jawab Ilena, jujur. "Bisa jadi hanya sifat alami area ini, sisa energi dari formasi batu yang lebih tua. Atau bisa jadi tanda bahwa sesuatu di sini pernah menggunakan Anima dalam jumlah besar, cukup untuk meninggalkan residu yang masih terdeteksi setelah bertahun-tahun."
"Sesuatu seperti ritual?" tanya Petra, yang sejak tadi mendengarkan sambil berjalan tak jauh dari mereka.
"Bisa jadi," kata Ilena. "Atau pertarungan besar. Atau eksplorasi lama yang menggunakan teknik berat untuk membuka jalan. Aku tidak bisa memastikan tanpa data lebih banyak."
Brann, yang berjalan di belakang mereka bersama Wick, ikut mendengarkan dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. "Kalau memang residu Anima, itu berarti sudah cukup lama sampai bisa bertahan hingga sekarang. Anima ambient biasanya menghilang dalam hitungan bulan, kecuali sumbernya benar-benar besar atau berulang."
Tidak ada yang menjawab langsung, tapi keheningan yang menyusul kata-kata itu terasa lebih berat dari keheningan biasa, seolah setiap orang dalam rombongan diam-diam menyimpan kekhawatiran yang sama tanpa ingin menjadi yang pertama mengucapkannya.
Tomas, yang masih memimpin di depan, tiba-tiba berhenti lagi, kali ini lebih lama dari sebelumnya, tubuhnya menegang dengan cara yang membuat seluruh rombongan otomatis waspada.
"Ada sesuatu di depan," katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Bukan makhluk. Sebuah struktur."
Arden bergerak maju untuk melihat sendiri, dan di sanalah, di ujung lorong alami yang terbentuk dari formasi batu besar dan sisa-sisa pepohonan kristal yang mengelilinginya seperti dinding hidup, mereka menemukannya.
Sebuah altar kecil, terbuat dari batu gelap yang jelas berbeda dari batu abu-abu alami menara ini, permukaannya dipahat dengan ukiran halus yang tidak mereka kenali, membentuk pola spiral yang berputar ke arah pusat, tempat sebuah cekungan kecil berada, seolah dirancang untuk meletakkan sesuatu di sana.
Tidak ada dalam catatan Draymoor yang menyebutkan keberadaan altar seperti ini. Tidak ada dalam peta lama Guild yang mereka bawa. Struktur itu berdiri sendiri di tengah lorong alami, seolah sengaja diletakkan di sana oleh tangan yang tahu persis apa yang mereka lakukan, jauh dari mata siapa pun yang mungkin lewat secara kebetulan.
"Itu," kata Wick, suaranya nyaris berbisik, "seharusnya tidak ada di sini, kan?"
Tidak ada yang menjawabnya segera. Seluruh rombongan berdiri diam di ambang lorong, menatap altar kecil itu dengan campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan yang tumbuh semakin kuat, sementara di kejauhan, cahaya keperakan dari langit-langit jauh lantai menengah Menara Verlanth berkedip pelan, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.