Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mata yang Tak Bisa Berbohong
Suasana kantin sekolah siang itu begitu riuh. Suara tawa siswa, dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring, serta obrolan yang saling bersahutan memenuhi setiap sudut ruangan. Udara terasa hangat bercampur aroma nasi goreng, bakso, dan minuman segar yang baru saja disajikan. Rara dan Aisyah duduk di meja pojok yang biasanya sepi, namun hari ini tempat itu seolah menjadi pusat perhatian tanpa mereka sadari.
Rara baru saja hendak menyuap nasi gorengnya, namun tangannya tiba-tiba terhenti di udara. Matanya tanpa sadar kembali tertuju pada meja di seberang lorong, di mana Laras sedang duduk bersandar santai sambil sesekali melirik ke arah meja Dimas, Arga, dan Bima. Laras menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, lalu tersenyum manis saat berpapasan pandang dengan Dimas—senyum yang menurut Rara terlalu dibuat-buat dan berlebihan.
"Aduh, kenapa sih dia kayak gitu terus? Nggak capek apa pura-pura manis di depan orang?" gumam Rara pelan, meski mulutnya tak bergerak sedikit pun. Matanya tak berkedip, seolah ingin memastikan apakah senyum itu benar-benar tulus atau sekadar sandiwara.
Aisyah menyadari pandangan teman sebangkunya yang kaku. Ia mengikuti arah pandang Rara, lalu menghela napas pelan sambil menepuk pelan punggung tangan Rara. "Rara, udah. Makan dulu nasi gorengmu, nanti dingin lho. Nggak usah dipikirin omongan atau tingkah orang lain, biarin aja mereka mau berbuat apa."
Rara menggeleng pelan, namun matanya masih tak beralih. "Aku cuma nggak suka aja, Aisyah. Kayak nggak ada cowok lain aja di sekolah ini, harusnya nggak perlu kayak gitu kan."
Tanpa mereka sadari, pandangan tajam Rara itu ternyata sudah tertangkap jelas oleh Laras. Laras yang sejak tadi merasa diperhatikan, kini menutup botol minumnya dengan kasar, lalu berdiri tegak dengan langkah mantap menuju meja Rara dan Aisyah. Hening sejenak, beberapa siswa di sekitar mereka mulai memperhatikan gerak-gerik Laras yang tiba-tiba berubah datar.
Laras berhenti tepat di depan meja mereka, menyilangkan kedua tangan di dada dengan wajah yang menukik tajam. "Heh lo, ngapain sih ngeliatin gue kayak gitu dari tadi? Ada yang salah apa sama muka gue?" tanyanya dengan nada tinggi, tak peduli seisi kantin mulai menoleh ke arah mereka.
Rara menurunkan sendoknya perlahan, lalu menatap balik Laras dengan tatapan yang sama sekali tak gentar. Ia mendorong piringnya sedikit ke samping, bersandar di kursi sambil menaikkan satu alisnya. "Gue punya mata, jadi wajar kalau gue liat-liat. Emangnya mata ini cuma buat diem aja? Jangan sok pede deh lo, belum tentu gue ngeliatin lo karena kagum. Kepedean banget sih lo sekarang," balas Rara dengan nada yang tenang namun penuh penekanan.
"Kepedean?" Laras tertawa sinis, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Rara. "Lo yang ngeliatin gue dari tadi tanpa kedip, terus sekarang bilang gue kepedean? Lucu banget deh lo."
Aisyah segera berdiri pelan, menarik lengan Rara agar kembali duduk. "Udah, udah. Duduk aja dulu, nggak usah diladeni, Rara. Nanti malah jadi ribut nggak jelas di sini. Kita cuma mau makan siang dengan tenang aja kok," ucap Aisyah lembut namun tegas, berusaha meredakan suasana yang mulai memanas.
Rara menggeleng dan melepaskan pelukan tangan Aisyah pelan, lalu kembali menatap Laras yang masih berdiri di depannya dengan tatapan meremehkan. "Bukan gue mau ngeladenin atau nggak, tapi sebagai cewek kita harus tau tempat, Lar. Jangan jadi cewek yang sok kecentilan, apalagi sama cowok. Kalau lo suka, bilang baik-baik, nggak usah pamer-pamer kayak gitu di depan umum. Itu malah bikin orang lain ilfeel lho," ucap Rara lugas, tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya.
Wajah Laras memerah padam mendengar ucapan itu. Ia semakin menyilangkan tangannya di dada, napasnya mulai terlihat memburu. "Kenapa sih lo ngomong gitu? Emangnya lo iri ya sama gue? Lo pikir gue kayak gitu karena mau pamer? Gue cantik, gue punya pesona, jadi wajar kalau orang lain ngeliatin gue. Nggak ada salahnya kok gue tampil apa adanya," balas Laras dengan nada tinggi, berusaha membela diri.
"Cantik boleh, tapi sopan santun jangan dilupain," sahut Rara singkat.
Belum sempat Laras membalas lagi, suara langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Semua orang menoleh dan segera duduk kembali dengan tenang. Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas mereka, berdiri di tengah-tengah lorong di antara meja-meja makan dengan wajah yang serius.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di kantin seperti ini? Ini tempat makan, bukan tempat debat atau berantem," tegur Bu Ratna dengan suara tegas namun tidak membentak. Ia menatap satu per satu wajah mereka, lalu berhenti sejenak menatap Rara dan Laras.
Rara segera berdiri tegak. "Maaf ya Bu, ini Laras yang duluan menghampiri saya dan menuduh saya ngeliatin dia dengan niat buruk. Saya cuma menjawab pertanyaannya saja," jelas Rara jujur tanpa menyembunyikan apa pun.
Laras ikut berdiri, wajahnya masih terlihat kesal namun sedikit ragu. "Apa-apaan sih Bu? Nggak ada begitu! Dia yang ngeliatin gue tajam banget dari tadi, pas gue tanya malah dia yang ngomong kasar sama gue," sanggah Laras cepat, berusaha membalikkan keadaan.
Bel istirahat berbunyi panjang tepat saat itu, memecah keheningan sejenak. Bu Ratna menghela napas pelan, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar mereka tenang. "Untung saja bel sudah berbunyi, jadi kalian belum sempat berbuat hal yang lebih buruk. Masih beruntung kalian," ucap Bu Ratna sambil menatap tajam ke arah mereka berdua. "Sekarang segera bubar, rapihkan barang-barang kalian, dan masuk ke kelas masing-masing. Nanti kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin, jangan di tempat umum seperti ini. Paham?"
"Paham, Bu," jawab Rara dan Aisyah serentak.
Laras hanya mendengus pelan, lalu berbalik badan dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Rara dan Aisyah segera merapikan sisa makanan dan bekal mereka, lalu berjalan beriringan menuju kelas dengan langkah yang sedikit lebih santai, meski rasa kesal di hati Rara belum sepenuhnya hilang.
Di dalam kelas, suasana masih riuh rendah saat siswa menempati tempat duduk masing-masing. Rara duduk di sebelah kiri Aisyah, sementara Laras duduk di baris depan, tepat di sebelah kanan Dimas. Sesekali Laras menoleh ke arah Dimas sambil tersenyum, namun Dimas hanya menjawab dengan senyum tipis tanpa berhenti menulis catatan di bukunya.
Rara yang melihat itu dari kejauhan, bergumam pelan pada diri sendiri namun cukup terdengar oleh Aisyah. "Lihat kan, udah dibilangin juga nggak percaya. Dimas aja nggak terlalu merespon, masih aja dia kayak gitu."
Aisyah menyenggol lengan Rara pelan. "Udah Rara, fokus aja nanti pelajaran dimulai. Nanti Bu Ratna marah lagi kalau kita berisik," bisik Aisyah lembut.
Tiba-tiba Laras menoleh ke belakang, menatap tepat ke arah Rara dengan tatapan menantang. "Lo ngomongin apa sih dari tadi? Mulut lo nggak ada berhenti-berhentinya ya," ucap Laras dengan nada ketus, menggunakan kata 'lo' dan 'gue' seperti biasanya.
Rara menatapnya datar. "Gue ngomongin apa bukan urusan lo. Lo lebih baik fokus ke depan aja, jangan melirik ke belakang terus. Nanti ketinggalan pelajaran malah nyalahin orang lain," balas Rara tak kalah tegas.
"Kepo banget sih lo sama hidup gue. Urus aja diri lo sendiri dulu sebelum ngomongin orang lain," balas Laras cepat.
"Gue cuma kasih saran aja, biar lo nggak malu-maluin diri sendiri. Kalau nggak mau denger ya nggak apa-apa, tapi jangan protes kalau orang lain ngomong kayak gitu," jawab Rara santai sambil membuka buku catatannya.
Laras hendak membalas lagi, namun Bu Ratna sudah masuk ke dalam kelas dengan membawa buku paket dan papan tulis. Suasana kelas seketika hening. Laras pun memutar badannya kembali menghadap ke depan dengan wajah yang masih terlihat cemberut.
Bu Ratna berdiri di depan kelas, menatap seluruh siswa satu per satu. "Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, saya ingatkan sekali lagi. Di sekolah ini kita belajar bukan hanya untuk nilai, tapi juga untuk belajar sopan santun, menghargai teman, dan menyelesaikan masalah dengan baik. Saya tahu tadi di kantin ada sedikit ketidaknyamanan. Saya harap itu kejadian terakhir. Mulai sekarang, fokuslah pada tugas kelompok yang sudah kita bahas minggu lalu. Ingat, kalian satu kelompok, jadi harus saling menghargai dan bekerja sama, tidak boleh saling menyalahkan atau bermusuhan," tegas Bu Ratna, matanya sempat melirik sejenak ke arah Rara, Aisyah, Dimas, dan Laras.
Rara mengangguk pelan, menyadari bahwa Bu Ratna memang sengaja mengingatkan mereka berempat. Laras hanya diam menunduk menyembunyikan wajahnya di balik buku tebal.
Saat pelajaran berlangsung, Bu Ratna menuliskan poin-poin penting di papan tulis dan meminta siswa mencatat. Tiba-tiba Laras menoleh ke belakang lagi, kali ini berbisik cukup keras ke arah Rara. "Lo seneng ya Bu Ratna ngomong gitu? Kayak menang sendiri aja lo," bisik Laras dengan nada kesal.
Rara menoleh perlahan, menatap Laras dengan tenang. "Gue nggak mau menang-menangan. Gue cuma nggak mau kelompok kita hancur gara-gara sikap lo yang nggak bisa diajak kerja sama. Kalau lo mau dekat sama Dimas, cari waktu yang tepat, jangan saat kita lagi harus serius ngerjain tugas. Itu namanya nggak menghargai teman sekelompok," balas Rara berbisik namun tegas.
"Ah, alasan aja lo. Pasti lo iri kan Dimas lebih sering ngobrol sama gue daripada sama lo," ejek Laras pelan.
"Gue nggak punya waktu buat iri sama hal kayak gitu. Gue ke sini buat belajar, bukan buat cari perhatian cowok," jawab Rara singkat lalu kembali menatap papan tulis.
Laras mendengus kesal, namun kali ini ia tidak berani bicara lagi karena Bu Ratna berjalan mendekati meja mereka. Sepanjang sisa pelajaran, suasana di antara mereka berempat terasa canggung. Dimas sesekali melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan bingung, namun memilih diam dan fokus pada catatannya.
Bel pulang berbunyi, dan Bu Ratna mengakhiri pelajaran dengan pesan singkat. "Ingat, tugas kelompok harus selesai minggu depan. Kerjakan dengan kompak, jangan ada yang mendominasi atau mengabaikan. Selamat pulang."
Siswa mulai berkemas. Laras berdiri cepat, menatap Rara sekilas lalu berjalan keluar kelas lebih dulu tanpa menunggu yang lain. Rara menghela napas panjang, lalu menatap Aisyah. "Maaf ya tadi jadi berisik lagi," ucap Rara pelan.
"Nggak apa-apa, Rara. Kamu cuma bicara jujur kok. Nanti pelan-pelan aja, semoga Laras bisa mengerti maksud kamu," jawab Aisyah sambil menepuk bahu Rara.
Rara tersenyum tipis, berharap hatinya benar-benar tenang seperti kata-katanya. Ia tahu perjalanan satu kelompok dengan Laras tidak akan mudah, namun ia berjanji pada diri sendiri untuk tetap bersabar dan berusaha menjaga tugas kelompok mereka agar tetap berjalan lancar, apa pun yang terjadi.