Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Gelang 5000 Kilo
Arga berangkat sebelum sarapan.
Arga tidak mengadakan rapat panjang atau pidato.
Ia hanya berdiri di pintu Tenda Hi-Tech, memeriksa Pedang Hi-Tech, dua belati cadangan, Gelang Dimensi, lalu menatap Kiara.
"Aku pergi sendiri."
Kiara sudah menebak.
Tetapi wajahnya tetap mengeras.
"Berapa lama?"
"Sebelum malam."
"Itu bukan jawaban."
"Sepuluh jam maksimal."
Kiara melipat tangan.
"Kemarin kamu hampir pingsan setelah dua jam mengawal orang. Sekarang mau sepuluh jam sendirian?"
"Kemarin aku menjaga tiga puluh dua orang. Hari ini aku hanya menjaga diriku."
"Justru itu yang membuatku tidak tenang."
Dara, yang duduk sambil mengikat tali sepatu, langsung mengangkat kepala.
"Aku ikut."
"Tidak."
"Aku sudah Tingkat 1."
"Karena itu kamu tinggal. Latih orang yang baru Tingkat 1 agar tidak mematahkan pintu setiap kali panik."
Dara mengerutkan hidung.
"Alasanmu menyebalkan karena benar."
Nadira datang membawa papan catatan kecil.
"Target?"
"Airdrop Box di area komersial selatan. Gudang supermarket bawah tanah. Senjata. Makanan. Air."
"Risiko?"
"Tingkat 2 Zombie lebih banyak dari seharusnya."
Tangan Nadira berhenti di atas kertas.
"Lebih banyak dari seharusnya menurut siapa?"
Kiara melirik Arga.
Arga tidak berubah ekspresi.
"Menurut pola yang sudah kulihat."
Nadira menulis.
Tidak mengejar.
Belum.
"Batas kembali?"
"Jika aku tidak kembali sampai tengah malam, kalian tidak keluar mencariku."
Kiara langsung berdiri.
"Tidak."
"Itu perintah."
"Aku tidak suka perintah itu."
"Kamu tidak perlu suka."
Udara menegang.
Beberapa anggota tim yang sedang sarapan di belakang pura-pura tidak mendengar.
Arga menurunkan suara.
"Kalau aku tidak bisa kembali, kalian keluar hanya menambah korban."
Kiara menatapnya lama.
Lalu ia berkata pelan, "Kalau kamu kembali dalam keadaan setengah mati lagi, aku yang marah duluan sebelum siapa pun merawatmu."
"Baik."
"Itu bukan janji."
"Aku akan kembali."
Kiara akhirnya mundur setengah langkah.
Arga turun lewat tangga darurat.
Di lantai bawah, kota menunggunya dengan bau busuk, air hitam, dan suara kuku Zombie di beton.
Hari kelima belas kiamat.
Dalam kehidupan sebelumnya, manusia masih sibuk bersembunyi, Zombie Tingkat 2 baru mulai menjadi kabar buruk, dan Airdrop Box berkualitas tinggi masih diperebutkan oleh kelompok besar.
Di kehidupan ini, semuanya maju lebih cepat.
Arga suka dan tidak suka pada saat yang sama.
Lebih cepat berarti lebih berbahaya.
Lebih cepat juga berarti lebih banyak rampasan sebelum orang lain siap.
Ia bergerak ke selatan.
Tiga blok pertama, ia tidak berhenti.
Tingkat 1 Zombie yang menghalangi jalan ditebas, Kristal yang mudah diambil masuk kantong, yang terlalu jauh dibiarkan.
Gelang Dimensi bukan alasan untuk memungut sampah.
Waktu adalah ruang paling mahal.
Di depan sebuah gedung bank yang pintu kacanya pecah, cahaya biru muda naik dari dalam lobi.
Airdrop Box.
Bukan Legendaris.
Tetapi ada penjaga.
Satu Tingkat 2 Zombie berdiri di depan kotak itu.
Tubuhnya lebih tinggi dari Zombie biasa. Kulitnya menghitam keras seperti karet terbakar. Kuku jarinya memanjang, dan di antara giginya masih tersangkut potongan tulang manusia.
Arga berhenti di luar pintu.
Zombie itu menoleh.
Ia bisa mencium daging hidup yang lebih kuat.
Ia menerjang.
Arga tidak mundur.
Ia menunggu sampai jaraknya tujuh meter.
Pandangan terkunci pada belakang pilar marmer di sisi kiri lobi.
Teleportasi.
Udara di depan Zombie kosong.
Detik berikutnya Arga muncul di samping pilar, tepat di blind spot-nya.
Pedang turun.
Leher Tingkat 2 Zombie jauh lebih keras dari Tingkat 1.
Tetapi Pedang Hi-Tech dan tenaga dua belas kali manusia biasa tidak memberi kesempatan kedua.
Kepala itu jatuh.
Kristal Tingkat 2 keluar dari tengkoraknya.
Arga mengambilnya, lalu membuka Airdrop Box.
Isi kotak tidak membuatnya kecewa.
Belati Hi-Tech lima buah.
Pedang Hi-Tech dua buah.
Rompi pelindung ringan enam set.
Perban medis, antibiotik, lampu portabel, baterai padat.
"Teori pertama benar," gumam Arga.
Tingkat 2 Zombie memang menjaga kotak dengan kualitas di atas rata-rata.
Ia menyapu semuanya ke Gelang Dimensi.
Penggunaan Teleportasi hari ini: satu.
Sisa: dua.
Kotak kedua ditemukan di belakang pusat elektronik kecil.
Jalannya tertutup mobil bertumpuk dan kabel listrik yang jatuh. Air menggenang sampai paha. Di dalam air itu, beberapa tubuh busuk bergerak pelan.
Arga naik ke atap mobil, melompat ke pagar, lalu bergerak di atas deretan kanopi ruko.
Di bawah, Zombie mengikuti suaranya seperti kawanan lapar.
Kotak itu ada di ruang servis belakang toko.
Penjaganya bukan satu.
Dua Tingkat 2 Zombie.
Salah satunya lebih cepat.
Begitu Arga turun ke halaman sempit, yang cepat sudah menerkam dari kiri.
Telepati menangkap niat serang yang kosong tetapi tajam.
Gigit leher.
Tarik.
Sobek.
Arga memiringkan tubuh.
Cakar melewati pipinya sejauh dua jari.
Ia menendang lutut Zombie pertama, mematahkan sendinya, lalu memutar pedang ke arah kedua.
Benturan membuat lengannya bergetar.
Tingkat 2 tidak mudah.
Apalagi dua.
Tetapi levelnya sudah Tingkat 2.
Arga menjatuhkan tubuh ke kanan, membiarkan Zombie cepat menabrak dinding, lalu menusukkan belati cadangan ke matanya.
Zombie itu meraung.
Zombie kedua datang dari depan.
Arga menunggu satu detik.
Terlalu dekat untuk menghindar biasa.
Teleportasi.
Ia muncul di atas rak besi belakang toko.
Zombie kedua menghantam udara kosong dan menggulingkan temannya sendiri.
Arga melompat turun.
Pedang menghancurkan tengkorak pertama.
Belati masuk ke belakang kepala kedua.
Dua Kristal Tingkat 2 lagi.
Napas Arga menjadi lebih berat.
Penggunaan Teleportasi hari ini: dua.
Sisa: satu.
Kotak kedua memberi Pedang Hi-Tech satu buah, belati biasa berkualitas tinggi sepuluh buah, paket obat luka, senter Hi-Tech empat unit, kabel serat kuat, dan radio jarak pendek.
Tidak sebaik kotak pertama.
Tetapi untuk tim baru, itu cukup untuk mengubah beberapa gadis gemetar menjadi penjaga yang bisa membunuh.
Arga memasukkan semuanya.
Ia tidak langsung mencari kotak ketiga.
Tujuan utama hari ini bukan senjata.
Tujuan utama adalah perut tim.
Area komersial selatan punya supermarket besar dengan gudang bawah tanah. Dalam kehidupan sebelumnya, gudang ini baru ditemukan oleh kelompok lain pada minggu ketiga. Mereka memakai lima puluh orang dan dua hari untuk mengangkut setengahnya.
Arga hanya butuh Gelang Dimensi.
Pintu depan supermarket sudah hancur.
Rak-rak di atas berantakan. Banyak makanan basah, pecah, atau dijarah. Beberapa manusia pernah bertarung di sini. Ada darah kering di lantai, ada sandal anak kecil yang terinjak, ada mayat tanpa kepala di dekat kasir.
Arga tidak berhenti.
Ia menuju pintu staf.
Tangga ke bawah terkunci.
Ia menebas gembok.
Bau lembap langsung naik.
Di bawah, gudang masih utuh.
Generator mati, tetapi pintu baja menahan banjir dan Hujan Api lebih baik daripada toko atas.
Arga menyalakan lampu Hi-Tech.
Cahaya putih menyapu harta karun.
Dus makanan siap saji.
Indomie.
Beras instan.
Kornet.
Sarden.
Susu UHT.
Aqua.
Garam.
Gula.
Minyak goreng.
Sambal ABC.
Pembalut.
Popok.
Sabun.
Obat demam.
Baterai.
Tali.
Lakban.
Kantong sampah.
Untuk dunia lama, ini hanya stok dagang.
Untuk dunia sekarang, ini adalah kekuasaan.
Arga mulai mengambil.
Tidak perlu memilih terlalu halus.
Gelang Dimensi membuka ruang sunyi di tangannya.
Dus demi dus hilang.
Seratus.
Lima ratus.
Seribu kotak nasi siap makan.
Lima ratus dus makanan kaleng berbagai jenis.
Dua ratus dus Aqua.
Puluhan dus pembalut dan obat dasar.
Ratusan kilogram beras instan, garam, gula, minyak, dan bumbu.
Ia mengisi ruang sampai batasnya terasa menekan balik di pikirannya.
Lima ribu kilogram.
Penuh.
Arga berdiri di tengah gudang yang masih tersisa sebagian, tetapi jauh lebih kosong dari sebelumnya.
Ia tersenyum tipis.
Dalam kehidupan sebelumnya, ini butuh satu tim besar, kendaraan, rute aman, dan korban.
Sekarang cukup satu orang.
Satu gelang.
Dan kota yang belum sadar betapa miskinnya mereka akan menjadi.
Suara berat terdengar dari balik dinding gudang.
Arga memadamkan senyum.
Bukan Tingkat 1.
Ia keluar dari gudang lewat pintu belakang bawah tanah yang mengarah ke loading dock.
Di sana, Airdrop Box ketiga menyala di tengah area bongkar muat.
Di depannya berdiri Tingkat 2 Zombie dengan tubuh lebih besar dari dua sebelumnya.
Lengan kanannya bengkak seperti batang pohon.
Di sekitar kakinya, belasan Tingkat 1 Zombie berkeliaran.
Arga melihat langit lewat lubang atap yang runtuh.
Sore sudah turun.
Ia masih punya satu Teleportasi.
Ia juga punya Gelang Dimensi yang penuh.
Tidak boleh cedera.
Tidak boleh terjebak.
Ia melempar kaleng kosong ke sisi kiri.
Tingkat 1 Zombie menoleh.
Tingkat 2 tidak tertipu.
Ia menatap langsung ke posisi Arga.
Lalu melompat.
Cepat.
Lebih cepat dari perkiraan.
Arga menahan serangan pertama dengan pedang.
Benturan membuat lantai retak.
Lengan kanannya kebas sampai bahu.
Tingkat 2 varian kekuatan.
Arga mundur tiga langkah, menendang satu Tingkat 1 ke arah monster besar itu, lalu memotong dua kepala yang mendekat.
Ia bisa memakai Teleportasi sekarang.
Terlalu boros.
Ia masih harus pulang.
Pertarungan berlangsung enam menit.
Enam menit yang buruk.
Zombie besar itu tidak pintar, tetapi tubuhnya keras. Pedang Arga meninggalkan luka, bukan potongan bersih. Tiga kali ia hampir tertangkap. Dua kali ia harus memakai rak besi sebagai penghalang.
Pada menit ketujuh, Arga menemukan pola.
Lengan kanan kuat.
Kaki kiri lambat.
Ia menyerang kaki.
Tebasan pertama membuka lutut.
Tebasan kedua memotong tendon.
Zombie itu jatuh miring.
Arga naik ke punggungnya dan menancapkan pedang dari tengkuk ke bawah.
Kristal Tingkat 2 ketiga masuk tangan.
Airdrop Box ketiga terbuka.
Isinya lebih praktis.
Pedang Hi-Tech satu buah.
Kapak taktis dua buah.
Paket perlengkapan sanitasi portabel.
Masker filter.
Sarung tangan anti-cut.
Tiga kotak obat darurat.
Arga mengambil semuanya.
Lalu ia melihat jam di ponsel.
Mendekati malam.
Ia harus pulang.
Perjalanan kembali lebih buruk.
Gelang Dimensi tidak menambah berat tubuh, tetapi penggunaan mentalnya tetap menguras. Sepuluh jam bergerak, membunuh, membuka kotak, mengangkut, menghitung rute, dan menjaga satu Teleportasi terakhir membuat kepalanya berdenyut.
Kota juga berubah setelah gelap.
Zombie lebih peka pada suara.
Manusia yang lapar lebih berani pada bayangan.
Di dekat jembatan kecil yang separuh runtuh, Arga bertemu kelompok manusia yang bersembunyi di dalam bus.
Mereka melihatnya sendirian.
Mereka melihat pedangnya.
Mereka juga melihat darah dan lelah di tubuhnya.
Telepati menangkap niat yang mulai tumbuh.
Dia capek.
Mungkin bisa.
Rampas senjatanya.
Arga berhenti.
Ia menoleh ke bus.
Tidak bicara.
Hanya menatap.
Salah satu pria di dalam bus mengangkat parang.
Arga melempar kepala Zombie yang masih ia bawa untuk Kristal ke depan pintu bus.
Kepala itu berguling dan berhenti di kaki pria tersebut.
Mata Zombie yang sudah mati masih terbuka.
Niat mereka padam.
Arga berjalan lagi.
Seratus meter dari hotel, bahaya terakhir datang.
Satu Tingkat 2 Zombie muncul dari balik truk terguling.
Arga sudah terlalu lelah untuk duel panjang.
Zombie itu menerjang dengan mulut terbuka.
Arga melihat pintu hotel di kejauhan.
Melihat balkon lantai dua.
Melihat bayangan di belakang Zombie.
Teleportasi.
Penggunaan terakhir.
Dunia bergeser.
Arga muncul tepat di belakang Tingkat 2 Zombie.
Pedang yang sudah ia angkat sejak sebelum berpindah turun dengan seluruh sisa tenaga.
Leher putus.
Tubuh Zombie itu jatuh ke genangan hitam.
Kristal Tingkat 2 keempat hari itu masuk kantong.
Arga berdiri diam.
Napasnya pecah.
Lututnya hampir menyerah.
Ia tidak boleh jatuh di luar.
Tidak di depan hotel.
Tidak di depan mata yang sedang mengukur.
Ia naik.
Satu lantai.
Lima lantai.
Sepuluh.
Di lantai lima belas, tangannya menempel ke dinding terlalu lama.
Di lantai dua puluh, pandangannya menyempit.
Ketika pintu lantai dua puluh satu terbuka, Kiara sudah menunggu.
Seolah ia berdiri di sana sejak sore.
"Arga."
Ia hanya sempat menyebut namanya.
Arga melangkah melewati pintu.
Gelang Dimensi menyala sekali ketika ia memaksakan diri mengeluarkan beberapa kotak obat dan air di koridor.
"Gudang... penuh. Senjata... masuk daftar Nadira. Empat Kristal Tingkat 2."
Nadira yang datang dari belakang langsung membeku.
"Empat?"
Arga tidak menjawab.
Tubuhnya jatuh.
Kiara menangkapnya sebelum kepalanya menghantam lantai.
"Arga!"
Dara berlari dari kamar lain.
"Dia kenapa?"
"Kelelahan," kata Kiara cepat.
Suaranya tegang, tetapi tidak pecah.
Ia memegang leher Arga, memeriksa napas, lalu denyut nadi.
Masih kuat.
Tidak ada luka fatal.
Hanya tubuh yang dipaksa bekerja melewati batas.
Nadira sudah bergerak.
"Kosongkan kamar utama. Air hangat. Kain bersih. Tidak ada yang panik. Dara, jaga pintu. Kiara, tetap di sampingnya."
"Aku tahu," kata Kiara.
Malam itu, Arga tidak bangun.
Nadira menghitung barang sampai tangannya gemetar.
Lima ribu kilogram stok baru.
Senjata untuk satu regu.
Empat Kristal Tingkat 2.
Obat.
Masker.
Radio.
Perlengkapan sanitasi.
Di luar kamar, anggota tim berbisik dengan mata menyala.
Bos mereka pergi sendirian saat pagi.
Malamnya, ia membawa pulang isi setengah gudang.
Kiara tidak ikut menghitung.
Ia duduk di samping ranjang.
Tangannya menggenggam tangan Arga.
Satu malam penuh.
Ia tidak menangis.
Ia pernah melihat Arga berdarah.
Ia pernah melihat Arga hampir mati.
Ia belum mati.
Ini kelelahan.
Ia tahu.
Tetapi tahu tidak membuat malam menjadi pendek.
Menjelang fajar, napas Arga berubah.
Dalam mimpinya, ia berdiri di ruang gelap tanpa tanah.
Kota, Zombie, dan suara tim menghilang dari mimpi itu.
Hanya kehampaan.
Di kejauhan, seorang lelaki tua berjubah putih berdiri seolah sudah menunggunya sejak lama.
Wajahnya ramah.
Terlalu ramah.
Sang Tetua tersenyum.
"Anak kecil," katanya, suaranya masuk langsung ke kepala Arga. "Kau berjalan lebih cepat dari perkiraanku."
Arga ingin mengangkat pedang.
Tangannya tidak bergerak.
Sang Tetua menatapnya dengan mata yang seperti melihat semua lapisan waktu.
"Tapi waktu tidak banyak. Mereka juga mempercepat langkah."
Arga memaksa suara keluar.
"Siapa kamu?"
Senyum lelaki tua itu tidak berubah.
"Nanti."
Kehampaan retak.
Arga membuka mata dengan napas tersentak.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Kiara langsung bangkit.
"Kamu bangun."
Tangannya masih menggenggam tangan Arga.
Matanya merah karena tidak tidur.
"Kamu mimpi buruk? Kamu terus bicara. Aku tidak mengerti semuanya, tapi kamu menyebut... waktu."
Arga menatap langit-langit kamar hotel.
Jantungnya belum tenang.
Sang Tetua.
Nama itu tidak pernah ia dengar di kehidupan sebelumnya pada tahap ini.
Tetapi rasa dingin di tulangnya nyata.
Ia diam cukup lama.
Kiara meremas tangannya.
"Arga?"
Ia akhirnya duduk perlahan.
Tubuhnya masih sakit seperti dihantam truk.
Tetapi matanya sudah kembali dingin.
"Tidak apa-apa."
Kiara menatapnya dengan wajah yang jelas tidak percaya.
Arga melihat keluar jendela.
Kota Semarang masih gelap.
Tetapi baginya, gelap itu sekarang terasa bergerak.
"Kita harus lebih cepat."