Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
Langkah kaki Lin Chen terdengar berirama menuruni tangga pualam menuju arena baja di lantai dasar. Tidak ada lompatan spektakuler, tidak ada ledakan Qi yang pamer. Ia berjalan santai, satu tangan masih berada di dalam saku celana, seolah ia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya, bukan menuju arena kematian.
Melihat pemandangan itu, para penonton di tribun mulai mencibir.
"Hanya berjalan kaki? Apakah dia bahkan tidak tahu ilmu meringankan tubuh (Qinggong)?"
"Kudengar meridiannya dihancurkan lima tahun lalu. Dia pasti memaksakan diri datang ke sini demi menjaga harga diri Keluarga Su. Benar-benar bodoh!"
"Menyedihkan. Tetua Gu akan merobeknya menjadi dua dalam tiga detik pertama."
Di atas arena segi delapan, Tetua Gu berdiri dengan tangan menyilang di dada, senyum meremehkan terlukis jelas di wajah keriputnya.
"Bocah," ejek Tetua Gu saat Lin Chen akhirnya melangkah masuk ke dalam arena. "Kupikir kau akan melarikan diri seperti anjing penakut. Setidaknya kau punya sedikit nyali untuk mengantarkan nyawamu sendiri."
Lin Chen tidak segera menjawab. Ia menutup matanya sejenak.
Di dalam tubuhnya, sebuah transformasi mengerikan sedang terjadi. Pil Darah Naga telah sepenuhnya mencair. Energi panas yang luar biasa ganas menyapu setiap pembuluh darahnya, membakar sel-sel tuanya, dan menyusun ulang struktur tulangnya. Terdengar suara krek... krek... yang sangat halus dari dalam tubuh Lin Chen, menyerupai raungan naga purba yang tertidur.
Tulangnya kini memancarkan kilau putih bersih bak batu giok berkualitas tertinggi—Tulang Giok Naga. Kelemahan fisiknya telah terhapus total. Tubuhnya sekarang lebih keras dari pelat baja titanium, mampu menampung ledakan Qi sekut-kuatnya tanpa takut hancur.
Lin Chen perlahan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya memancarkan kilatan cahaya keemasan yang membuat jantung Tetua Gu tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat.
"Wasit, mulailah," ucap Lin Chen pelan, mengembuskan napas yang tampak seperti uap putih panas di udara malam yang dingin.
Wasit berotot itu mengangguk, mengangkat tangannya, lalu memotong udara dengan keras. "Pertarungan Hidup dan Mati... MULAI!"
BOOM!
Seketika, aura abu-abu kehitaman meledak dari tubuh Tetua Gu. Lantai baja di bawah kakinya retak. Udara di dalam arena seketika dipenuhi bau anyir darah dan busuknya mayat.
"Cakar Hantu Gunung Hitam!" raung Tetua Gu.
Tubuhnya melesat maju bagaikan hantu, kecepatannya nyaris tak terlihat oleh mata telanjang penonton biasa. Lima jari tangan kanannya membengkok, diselimuti oleh Qi beracun yang tebal, mengarah langsung untuk merobek jantung Lin Chen.
"Mati kau, anjing kecil!"
Jarak sepuluh meter dilibas hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Cakar mematikan itu telah berada lima sentimeter di depan dada Lin Chen.
Di boks VIP, Zhao Hai dan Zhao Tian sudah berdiri, wajah mereka dipenuhi senyum kegilaan, menunggu semburan darah yang akan segera mewarnai arena. Tang Yuyan di boks nomor 1 menahan napasnya, mencengkeram ujung meja hingga buku jarinya memutih.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat seluruh kapal pesiar itu seolah membeku.
Lin Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Ia membiarkan cakar mematikan itu menghantam dadanya dengan telak.
TRAAANG!
Bukan suara daging yang terkoyak, melainkan suara benturan logam yang sangat keras dan nyaring!
Percikan api menyambar di udara saat kuku-kuku berlapis Qi milik Tetua Gu menghantam dada Lin Chen. Pakaian kemeja Lin Chen robek di bagian dada, namun di balik kain yang robek itu... kulit Lin Chen bahkan tidak tergores sedikit pun!
Sebaliknya, mata Tetua Gu melotot hingga nyaris keluar dari rongganya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jarinya.
KRAK!
Tiga jari Tetua Gu patah seketika karena gaya tolak dari tubuh Lin Chen.
"A-A-Apa?! B-Bagaimana mungkin?!" Tetua Gu terhuyung mundur, memandangi jari-jarinya yang bengkok dengan tatapan horor. "Tubuh fisik yang menahan Cakar Hantu-ku tanpa Qi pertahanan?! K-Kau bukan manusia! Tubuhmu..."
"Sudah selesai menggelitiknya, anjing tua?" suara Lin Chen terdengar sedingin es dari dasar neraka.
Sebelum Tetua Gu bisa bereaksi, Lin Chen mengangkat kaki kanannya dan menghentakkannya ke lantai baja.
BUMMM!
Lantai arena segi delapan itu ambles sedalam setengah meter! Jaring laba-laba retakan baja menyebar ke seluruh panggung. Kekuatan murni dari Tulang Giok Naga benar-benar di luar nalar.
"Sekarang, giliranku."
WUSSH!
Lin Chen menghilang. Bukan karena teknik, melainkan karena kecepatan murninya kini melampaui batas suara.
"C-Cepat sekali!" Tetua Gu panik. Ia segera memobilisasi seluruh Qi-nya untuk membentuk Perisai Lonceng Emas di sekujur tubuhnya, sebuah teknik pertahanan absolut dari Sekte Gunung Hitam.
Namun, di telinganya terdengar bisikan maut.
"Tinju Penghancur Bintang."
Sebuah kepalan tangan yang diselimuti cahaya Qi putih bersih muncul tepat di depan wajah Tetua Gu. Tinju itu terlihat lambat, namun membawa tekanan yang membuat ruang di sekitarnya seolah melengkung.
BLAAAR!
Tinju Lin Chen menghantam Perisai Lonceng Emas milik Tetua Gu.
Perisai Qi kebanggaan Sekte Gunung Hitam, yang konon bisa menahan tembakan meriam tank, hancur berkeping-keping layaknya kaca jendela yang dipukul dengan palu godam!
Tidak berhenti sampai di situ, tinju Lin Chen terus melaju dan mendarat telak di dada Tetua Gu.
KREK! TULANG RUSUK HANCUR!
"UAAAAAAAKH!"
Tetua Gu memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalamnya. Tubuh pria tua itu terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru kendali, menghantam pilar penyangga arena dari baja padat.
BAM! Pilar baja itu bengkok, dan tubuh Tetua Gu terpantul jatuh ke lantai arena layaknya boneka kain yang rusak.
Hanya butuh satu serangan! Satu tinju biasa!
Seluruh penonton di teater pelelangan itu berdiri dari kursi mereka. Keheningan yang mematikan menyelimuti aula. Tidak ada yang berani bernapas. Orang-orang yang tadi mencibir Lin Chen kini gemetar hebat, wajah mereka pucat pasi.
Di boks VIP nomor 3, kaki Zhao Tian melemas dan ia jatuh berlutut, sebuah cairan kuning pesing mulai merembes dari celana mahalnya. Zhao Hai bersandar ke dinding kaca, mulutnya terbuka, matanya dipenuhi teror yang tak terlukiskan.
Sang Grandmaster yang ia sewa dengan harga 50 Juta Yuan... dihabisi hanya dengan satu pukulan layaknya memukul lalat?!
Di atas arena, Tetua Gu menggeliat di genangan darahnya sendiri. Dadanya melesak ke dalam. Ia menyadari bahwa meridian dan kultivasinya telah hancur total akibat pukulan tadi.
Lin Chen berjalan perlahan mendekatinya. Bayangan Lin Chen menutupi tubuh pria tua yang sekarat itu.
"T-Tuan Lin... ampuni... ampuni nyawaku..." suara Tetua Gu bergetar, memohon dengan putus asa. Arogansinya telah menguap entah ke mana. "Aku adalah Penatua... Sekte Gunung Hitam... Jika kau membunuhku... Guru Sekte tidak akan... melepaskanmu..."
Lin Chen berhenti tepat di depan kepala Tetua Gu. Ia menatap ke bawah dengan pandangan tanpa belas kasihan.
"Sekte Gunung Hitam? Jangan khawatir. Dalam waktu dekat, aku akan mengirim seluruh sekte-mu ke neraka untuk menemanimu."
Mendengar vonis mati itu, mata Tetua Gu membelalak dipenuhi penyesalan yang mendalam. Mengapa ia harus memprovokasi iblis ini demi uang Keluarga Zhao?!
Lin Chen mengangkat kaki kanannya perlahan, lalu menginjakkan tumitnya tepat di tenggorokan Tetua Gu.
KRAK!
Suara patahan tulang leher bergema di seluruh aula yang hening. Tubuh Tetua Gu mengejang sesaat, lalu terdiam selamanya. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kapal pesiar dengan keputusasaan.
Pertarungan selesai. Waktu yang berlalu bahkan belum genap sepuluh detik sejak wasit memberikan aba-aba.
Lin Chen merapikan kerah jasnya dengan santai. Ia melirik ke arah boks VIP nomor 3, tempat Keluarga Zhao berada. Lin Chen mengangkat tangannya, membentuk pistol dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, menunjuk lurus ke arah dahi Zhao Hai dari kejauhan, lalu membuat gerakan menembak, "Dor."
Melihat gestur itu, jantung Zhao Hai nyaris berhenti berdetak. Ia tahu, peringatan itu sangat jelas: Kalian yang berikutnya.
Tanpa memedulikan tatapan horor ribuan orang, wasit yang masih terpaku, atau mayat di bawah kakinya, Lin Chen berbalik dan berjalan santai meninggalkan arena, menaiki tangga pualam kembali menuju boks VIP nomor 1.
Begitu pintu boks terbuka, Tang Yuyan masih berdiri di posisinya, mematung dengan cangkir teh di tangannya. Matanya menatap Lin Chen seolah menatap dewa perang yang turun ke dunia fana.
Lin Chen berjalan menghampirinya, mengambil cangkir teh dari tangan gadis itu yang sedikit gemetar, lalu menyesapnya perlahan.
Sebuah senyum puas terlukis di bibirnya.
"Pas. Suhunya belum dingin," ucap Lin Chen pelan.
Tang Yuyan menelan ludah. Wajahnya yang memucat perlahan memerah. Malam ini, bayangan pria arogan, tak terkalahkan, dan mendominasi ini telah terukir permanen di relung hatinya yang paling dalam, tidak akan pernah bisa dihapus lagi.
[Ding!]
[Berhasil membunuh musuh dengan tingkat kekuatan Grandmaster. Menerima 3.000 Poin Sistem.]
[Reputasi Host di dunia Bawah Tanah Jiangnan telah mencapai status 'Legenda Menakutkan'.]
Lin Chen meletakkan cangkir tehnya ke atas meja pualam. "Yuyan, antarkan aku pulang. Istriku pasti sudah menungguku."
"B-Baik, Tuan Lin..." Tang Yuyan mengangguk cepat, suaranya dipenuhi rasa hormat yang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya.