Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pria dalam Mimpi
Alena kembali bermimpi tentang pria itu. Ia berdiri di tengah sebuah taman yang tidak pernah ia kenal, dikelilingi bunga-bunga berwarna putih dan merah yang bergoyang perlahan diterpa angin malam. Di kejauhan, sebuah istana megah berdiri di bawah cahaya bulan.
Tempat itu begitu indah. Namun entah mengapa, setiap kali berada di sana, Alena selalu merasakan kesedihan yang sulit dijelaskan. Ia menunduk.
Gaun panjang berwarna putih yang dikenakannya menyapu rerumputan. Rambut panjangnya dihiasi mahkota kecil bertabur permata.
Alena menatap kedua tangannya dengan bingung. Lagi-lagi ia mengenakan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, dan seperti malam-malam sebelumnya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
“Alena.” Suara berat itu membuat jantungnya berdebar.
Alena perlahan berbalik. Seorang pria berjalan menghampirinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Ia mengenakan pakaian kerajaan berwarna hitam dengan jubah panjang yang berkibar tertiup angin. Wajahnya sangat tampan, tetapi tatapannya dingin dan mengintimidasi.
Pria yang menurut semua orang adalah raja kejam. Namun ketika melihat Alena, ekspresinya selalu berubah. Tatapan dinginnya mencair. Ia berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan Alena.
“Kau datang lagi,” bisik Alena.
Pria itu mengangkat alis. “Akulah yang seharusnya mengatakan itu.”
“Apa?”
“Kau terus datang ke dalam mimpiku.”
Alena terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Aneh. Setiap kali berada di hadapan pria ini, hatinya selalu terasa hangat.
Seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Padahal Alena yakin mereka tidak pernah bertemu. Pria itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya. Sentuhannya begitu lembut.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Aku sedang mencoba mengingat.”
“Mengingat apa?”
“Siapa kau.”
Senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Aku adalah orang yang akan selalu menunggumu.”
“Menungguku?”
“Ya.” Pria itu menarik Alena ke dalam pelukannya. Aroma tubuhnya begitu nyata. Alena bahkan bisa mendengar detak jantung pria itu.
Duk.
Duk.
Duk.
Jantungnya berdetak begitu kuat hingga Alena merasa sesak. “Jangan pergi lagi,” bisik pria itu di dekat telinganya.
Alena mengerutkan kening. “Memangnya aku pernah pergi?”
Pria itu tidak menjawab. Pelukannya justru semakin erat. “Jika suatu hari kau melupakanku, aku akan mencarimu.”
“Mencariku ke mana?”
“Ke mana pun kau pergi.”
Alena hendak bertanya lagi, tetapi pria itu tiba-tiba melepaskan pelukannya. Tangannya berpindah ke wajah Alena. Ia menatap mata Alena cukup lama. Tatapan itu membuat Alena gugup. “Apa?”
“Tidak ada.” Pria itu tersenyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan wajahmu benar-benar ada di hadapanku.”
Sebelum Alena sempat memahami perkataannya, pria itu menundukkan wajah. Bibirnya menyentuh kening Alena. Lalu pipinya. Dan akhirnya bibirnya. Mata Alena membesar. Namun anehnya, ia tidak menolak. Ciuman itu terasa begitu nyata, hangat dan lembut. Sampai seluruh tubuh Alena terasa seperti dialiri listrik.
Ketika pria itu melepaskan ciumannya, ia berbisik, “Jangan lupa aku.”
“Namamu...” Alena mencoba mengingat. “Siapa namamu?”
Pria itu tersenyum. Namun sebelum ia sempat menjawab— Alena terbangun.
“Hah!”
Alena terduduk di atas tempat tidurnya. Napasnya memburu. Kamar masih gelap. Cahaya matahari belum masuk melalui celah tirai.
Ia menyentuh bibirnya masih terasa hangat.
“Ini lagi?”
Sudah hampir satu bulan Alena mengalami mimpi yang sama. Selalu tentang kerajaan. Selalu tentang pria itu dan selalu berakhir sebelum ia mengetahui namanya.
Alena mengusap wajahnya. “Cuma mimpi.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Cuma mimpi.”
Namun ketika hendak bangun dari tempat tidur, tangannya berhenti. Ada sesuatu yang terasa aneh di lehernya.
Alena berjalan menuju cermin. Begitu melihat pantulan dirinya, wajahnya langsung berubah.
Di sisi lehernya terdapat bekas kemerahan. Tepat di tempat pria dalam mimpinya mencium dirinya. Alena menyentuh bekas itu dengan tangan gemetar. “Tidak mungkin...”
Mimpi tidak mungkin meninggalkan bekas. Beberapa jam kemudian, Alena sudah berada di kantor. Ia berusaha melupakan kejadian pagi tadi. Pekerjaannya cukup banyak sehingga ia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi. Namun sesekali tangannya masih menyentuh leher. Bekas itu belum hilang.
“Alena.” Teman kerjanya, Mira, menepuk bahunya.
Alena terkejut. “Kenapa?”
“Dari tadi bengong terus. Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Yakin?”
Alena mengangguk. “Hanya kurang tidur.”
Mira menatap lehernya. “Itu kenapa?”
Alena langsung menutupinya dengan rambut. “Digigit nyamuk.”
Mira tertawa. “Nyamuk zaman sekarang agresif sekali.”
Alena hanya tersenyum kaku. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi lebih tenang. Seorang pria memasuki kantor bersama beberapa orang. Ia mengenakan jas hitam yang rapi. Posturnya tinggi dan wajahnya sangat tampan. Namun Alena tidak memperhatikan semua itu. Karena begitu melihat wajah pria tersebut, tubuhnya langsung membeku.
Pulpen di tangannya terjatuh. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajah itu... Wajah yang sama dari mimpinya. Pria yang selama sebulan terakhir selalu muncul dalam tidurnya, yang tadi malam memeluk dan menciumnya.
Alena mundur satu langkah. “Tidak mungkin...”
Pria itu terus berjalan. Kemudian pandangannya menyapu seluruh ruangan. Sampai akhirnya... Tatapan mereka bertemu. Pria itu berhenti. Wajah dinginnya berubah seketika. Matanya membesar. Seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil. Ia meninggalkan orang-orang di belakangnya dan berjalan cepat ke arah Alena.
Alena panik.
“Pak?”
Pria itu semakin dekat.
“Jangan mendekat.”
Namun pria itu seolah tidak mendengarnya. Begitu sampai di hadapan Alena, tangannya langsung meraih tubuh wanita itu. Alena terkejut ketika pria tersebut memeluknya sangat erat. Seolah takut jika melepaskannya, Alena akan menghilang.
“Kau...” Suara pria itu bergetar.
Alena membeku.
“Masih hidup?”
Mata pria itu memerah. Ia memeluk Alena semakin erat. “Selama ini... kau ternyata masih hidup.”
Alena mendorong tubuhnya dengan panik. “Lepaskan saya!”
Pria itu akhirnya melepaskannya. Alena mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat. Semua orang di kantor menatap mereka. Pria itu hanya diam. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Alena.
Kemudian ia berkata dengan suara rendah, “Alena...”
Alena menelan ludah. “Bagaimana Anda tahu nama saya?”
Pria itu terdiam. Untuk pertama kalinya, tatapan dingin seorang pria yang ditakuti semua orang itu terlihat hancur. “Kau benar-benar tidak mengingatku?”
Alena menggeleng. “Tidak.”
Pria itu memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, tatapannya berubah menjadi sangat dalam.
“Kalau begitu...” Ia melangkah mendekat. “Sepertinya aku harus membuatmu mengingat semuanya.”
Alena mundur. Karena ia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada mimpi. Pria dalam mimpinya ternyata benar-benar ada.