Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Setelah selesai merapikan seluruh pakaian ke dalam keranjang, Aruni membawanya masuk ke dalam ruang penyimpanan di dalam ruko. Tak lama kemudian, ia memanggil kedua putra kembarnya dari ambang pintu ruangan.
"Iya Bunda, ada apa?" tanya Rayyan menghampiri sang ibu bersama Zayyan.
Aruni menyerahkan sepotong kaos longgar berwarna putih dan celana training hitam milik Rama yang tertinggal saat berkunjung minggu lalu. "Berikan ini kepada Tuan Edgar."
Seketika, bibir Rayyan dan Zayyan terkembang membentuk senyum lebar. Mereka mengerti, di balik sikap dinginnya, sang bunda rupanya masih menyimpan rasa empati dan kepedulian terhadap ayah kandung mereka.
Si kembar bergegas berlari membawa pakaian ganti tersebut menuju Edgar.
"Ayah! Ini baju dari Bunda... Ayah ganti pakaian dan mandi dulu di dalam, biar nanti tidak masuk angin!" ujar Zayyan menyerahkan pakaian itu penuh semangat.
Edgar menerima pakaian tersebut dengan binar mata yang berbinar bahagia. Rasa hangat menjalar di dadanya mengetahui Aruni masih mengkhawatirkannya. "Terima kasih, Jagoan," balas Edgar penuh rasa syukur seraya melangkah menuju kamar mandi ruko.
Sementara Edgar membersihkan diri, perut si kembar sudah mulai berbunyi keroncongan karena memang belum sempat makan sejak sore tadi. Melihat kedua buah hatinya kelaparan, Aruni menyalakan kompor gas kecil di dapur ruko untuk memanaskan kembali semur ayam yang dibawanya dari rumah.
Di saat yang sama, Larasati mengemas barang-barangnya untuk berpamitan pulang karena Bik Sumi sedang kurang sehat di rumah.
"Ya sudah, Mbak, aku pulang dulu ya. Kebetulan ada Ayahnya si kembar, jadi aku tidak begitu khawatir ninggalin Mbak Runi di sini bersama anak-anak," ujar Larasati melirik jahil ke arah Aruni.
Larasati kemudian mendekat dan berbisik tepat di samping telinganya Aruni,
"Jangan galak-galak, Mbak Runi... Kasihan tuh Mas Ganteng nya entar kabur loh. Pria limited edition kaya gitu jangan disia-siakan! Beruntungnya Mbak Runi dapat cowok modelan begitu, pria matang dan mapan idaman sejuta wanita!" cetus Larasati terkekeh geli.
Aruni hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pasrah mendengar celotehan adiknya itu. "Sudah, cepat pulang kasihan ibumu pasti menunggu mu sedari tadi, Laras... Hati-hati di jalan," sahut Aruni menutupi rasa canggungnya.
Tak lama setelah Larasati menghilang di balik pintu, pintu kamar mandi perlahan terbuka. Edgar keluar berbalut kaos putih dan celana training hitam. Meskipun berpakaian sederhana, aura ketampanan dan wibawa pria matang itu tetap terpancar kuat.
Di area dapur ruko yang menyatu dengan meja makan kayu kecil berkursi empat, Edgar melihat kedua putranya sudah duduk manis. Mata mereka berbinar menatap kepulan asap semur ayam yang sedang diangkat Aruni dari atas kompor.
"Ayah! Sini duduk, Yah! Kita makan dulu... Kebetulan semur ayam buatan Bunda ini paling lezat sejagat raya!" puji Rayyan setengah berlebihan untuk memecah kekakuan.
Aruni yang mendengar pujian tersebut spontan memelototi Rayyan, bermaksud menegur agar tidak memprovokasi suasana. Namun Rayyan hanya membalasnya dengan cengiran tanpa dosa.
Melihat pemandangan itu, Edgar mengulum senyum tipis. Ia melangkah mendekat dan langsung mengambil posisi duduk di samping si kembar. Pria itu menyadari betul, kehadiran dan kejahilan kedua putranya adalah kesempatan emas yang tak boleh ia sia-siakan untuk meruntuhkan dinding es di hatinya Aruni.
Suasana di meja makan kayu yang sederhana itu mendadak terasa begitu intens. Aruni duduk berhadapan langsung dengan Edgar, dipisahkan oleh sebuah mangkuk semur ayam yang masih berasap. Dadanya berdesir tak karuan. Pria di hadapannya ini sejatinya terasa seperti sosok asing, namun tak diragukan lagi telah mengubah seluruh garis jalannya nasib hidupnya 180 derajat.
"Ayo, Yah! Di cobain masakan Bunda!" seru Zayyan memecah kekakuan seraya memindahkan sepotong paha ayam ke piring sang ayah. "Ini bagian paha ayam kesukaanku buat Ayah, dimakan ya!"
Tak mau kalah, Rayyan yang duduk di sebelah adiknya pun ikut menyendokkan potong paha ayam miliknya ke atas piring Edgar. "Punya Rayyan juga buat Ayah!"
Melihat pemandangan di depannya, Aruni tertegun sejenak. Tenggorokannya terasa tersumbat. Di balik dinding pertahanan yang selalu ia bangun tinggi-tinggi, Aruni sadar betul betapa kedua putra kembarnya begitu merindukan hadirnya sosok figur seorang ayah. Selama ini Rama memang sangat dekat dan menyayangi mereka layaknya anak sendiri, namun hadirnya darah daging asli seorang Edgar Ganendra seolah melengkapi kepingan teka teki hidup si kembar yang selama ini hilang.
Edgar menyuapkan potongan ayam itu ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya secara perlahan dengan raut menikmati. "Wah... enak sekali semur ayamnya!" ucap Edgar dengan suara berat. Matanya melirik lembut ke arah Aruni.
Pandangan mata mereka sempat bertemu sejenak di udara. Desiran aneh menghantam dada Aruni, membuat wanita itu langsung melempar tatapannya ke arah lain demi menutupi kecanggungannya.
Setelah mereka berempat menghabiskan makan malam bersama, Edgar memandangi piring-piring kosong di atas meja. Bibirnya mengukir senyum hangat penuh kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
‘Rupanya... seperti ini rasanya memiliki sebuah keluarga. Hangat dan tenang. Rasanya aku ingin setiap hari seperti ini terus...’ bisik Edgar syahdu di dalam hatinya.
Begitu selesai makan, si kembar tiba-tiba beranjak dari kursi mereka.
"Nah, Ayah... Bunda... Ini saatnya kalian berbicara berdua, meluruskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi," celoteh Rayyan dengan gaya sok dewasanya seraya melipat kedua tangan di dada.
"Aku dan Zayyan main di teras depan dulu ya, sekalian jagain ruko!"
Zayyan ikut menimpali sambil mengacungkan jari telunjuk kecilnya ke arah Aruni. "Awas ya, Bunda! Jangan marahin Ayah lagi!"
Sebelum sang bunda sempat memprotes, si kembar sudah melesat berlari menuju pintu depan sambil tertawa geli. Aruni melotot tak percaya menyaksikan bagaimana kedua putra yang ia besarkan dengan susah payah itu justru lebih membela sang ayah biologis yang baru beberapa hari mereka temui.
Aruni membalikkan badan, lalu memberikan tatapan mengintimidasi dengan sorot mata tajam menghujam tepat ke arah Edgar.
"Apa yang sudah Anda lakukan terhadap kedua putraku, Tuan?" tanya Aruni dengan nada menuntut.
Bukannya takut, Edgar malah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mengukir senyum manis yang membuat ketampanannya kian terpancar.
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Edgar santai. "Cuma... mereka tahu pria baik sepertiku memang pantas untuk dibela. Awas, jangan marah-marah lagi seperti tadi, nanti putra kita bisa ngomel."
Mendengar frasa 'putra kita' meluncur begitu mulus dari bibirnya Edgar, desiran halus kembali menjalar di dada Aruni. Ada rasa tak biasa dan kehangatan asing yang mendadak menyeruak, memaksa Aruni membuang muka demi menyembunyikan rona tipis yang mulai menyapu pipinya.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
jangan sampai seperti 7tahun yg lalu..
kamu baru memulai nya jangan di buat kacau hanya karena ular pyton mu tegak..🤭🤭
genjar terus Edgar s aruni nya soalnya s Rama juga suka n kamu ada saingan nya🤣🤣🤣
s kembar emang is the best deh
kamu aja kalah sama anak mu Edgar 🤣