Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA BAGIAN 2 SELESAI
Malam itu begitu sunyi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara hujan yang menetes di atap. Tidak ada angin yang berembus melewati jendela. Hanya ada detak jam dinding di kamar Yovana yang terdengar begitu nyaring, seolah terus menghitung detik-detik yang tersisa.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Yovana duduk diam di depan cermin. Sudah sangat lama ia berada di sana, hingga matanya terasa sembap dan perih. Ia bahkan tidak ingat kapan persisnya ia mulai terpaku di kursi itu.
Mungkin sejak Bunda masuk ke kamarnya beberapa jam lalu.
Mungkin sejak Bunda mencium keningnya hangat sambil berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Atau mungkin jauh sebelum itu—sejak malam pertama ketika kehidupannya hancur tanpa ada yang tahu.
Yovana menatap pantulan dirinya. Gadis di dalam cermin itu memiliki bentuk wajah yang sama, rambut yang sama, dan mata yang sama. Namun, Yovana merasa tidak lagi mengenalnya.
Di mana Yovana yang dulu?
Gadis yang suka membaca buku cerita hingga larut malam.
Gadis yang selalu antusias berlari pulang sekolah hanya untuk menceritakan harinya kepada Bunda.
Gadis polos yang memiliki mimpi sederhana: lulus sekolah, bekerja, dan membahagiakan ibunya.
Gadis yang pernah percaya bahwa rumah adalah tempat paling aman di dunia.
Semua itu kini terasa sangat jauh. Seperti potongan kehidupan milik orang lain yang hilang ditelan kegelapan.
Yovana perlahan mengangkat tangannya, menyentuh permukaan cermin yang dingin. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi.
"Aku capek..." bisiknya lirik.
Kalimat itu hampir tenggelam dalam sepi. Namun untuk pertama kalinya, Yovana berhenti berpura-pura kuat. Ia benar-benar lelah menyeret langkahnya sendirian.
Pandangan Yovana beralih ke meja belajar. Tumpukan buku sekolah berjejer rapi di sana. Buku-buku yang dulu selalu ia dekap dengan penuh harapan. Ia teringat ucapan Bunda yang selalu membakar semangatnya.
"Sekolah yang rajin ya, Nak," suara Bunda bergema lembut di kepalanya. "Nanti kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau. Bunda bakal selalu ada di belakang kamu."
Dulu, Yovana percaya penuh pada kalimat itu. Ia ingin membalas semua peluh dan pengorbanan Bunda. Namun sekarang, masa depan itu terasa seperti asap yang perlahan memudar dan menghilang.
Yovana meraih salah satu buku, lalu membukanya perlahan. Di sudut kanan atas halaman pertama, tertulis namanya dengan tinta biru yang rapi: Yovana.
Ia menatap tulisan itu cukup lama, membelai garis-garis hurufnya, sebelum akhirnya menutup buku itu rapat-rapt.
Yovana bangkit dari duduknya dan melangkah pelan menuju lemari pakaian. Dari sela-sela lipatan baju, ia mengambil sebuah bingkai foto lama.
Foto dirinya bersama Bunda.
Di foto itu, Yovana masih kecil dan duduk tertawa di pangkuan Bunda. Bunda pun tertawa lepas. Tidak ada kesedihan di sana. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rahasia berdarah yang menyiksa.
Yovana memeluk bingkai foto itu erat-erat ke dada.
"Bun..." suaranya bergetar hebat. "Maafkan aku."
Air matanya menetes membasahi kaca bingkai. Ia tahu Bunda selalu memberikan seluruh hidupnya untuknya. Bunda bekerja keras tanpa mengeluh. Bunda membesarkannya seorang diri. Bahkan, Bunda memilih menikah lagi dengan Zain hanya karena percaya Yovana membutuhkan sosok ayah yang bisa melindunginya.
Bunda tidak pernah tahu bahwa keputusan itu justru mengundang monster ke dalam rumah mereka. Decision yang membawa penderitaan terhebat dalam hidup putri tunggalnya.
Dan justru karena Bunda tidak tahu... Yovana merasa semakin hancur.
Ia tidak bisa membenci Bunda. Ia tidak bisa menyalahkan perempuan itu. Bunda tidak salah apa-apa. Bunda hanya seorang ibu yang ingin bahagia dan berharap putrinya memiliki keluarga yang utuh.
Yovana makin merapatkan pelukannya pada foto itu. "Aku tahu Bunda sayang sama aku... Bunda selalu sayang aku."
Ia kembali duduk di kursi belajar, lalu meraih buku catatan bersampul lusuh yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia berbisik jujur.
Halaman demi halaman ia buka. Tulisan tangan yang gemetar mengisahkan segala mimpi buruknya: tentang pandangan menjijikkan Zain, ancaman-ancaman yang mengunci mulutnya, rumah yang berubah menjadi neraka, dan malam-malam mencekam saat ia berdoa agar matahari cepat terbit.
Yovana menarik selembar kertas kosong dan mengambil pulpen. Kali ini, ia tidak menulis tentang ketakutannya pada Zain. Ia menulis untuk Bunda.
Bunda...
Maafkan aku karena selama ini tidak pernah berani jujur. Bukan karena aku tidak percaya sama Bunda. Aku cuma terlalu takut...
Aku tahu nanti Bunda bakal menyalahkan diri sendiri. Tapi tolong jangan ya, Bun. Bunda tidak tahu apa-apa. Bunda tidak salah.
Aku cuma ingin Bunda tahu, aku sangat sayang sama Bunda. Dulu aku ingin sekali membuat Bunda bangga. Aku ingin menyelesaikan sekolah dan melihat Bunda tersenyum bahagia. Tapi sekarang, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya kembali menjadi Yovana yang dulu...
Yovana menyapu air matanya yang jatuh menimpa kertas. Ia menempelkan surat itu ke dadanya, menangis dalam diam agar tidak menimbulkan suara.
Ia kemudian membuka laci paling bawah meja belajarnya. Mengeluarkan sebuah map tebal yang berisi semua rahasia kelam: lembaran buku harian, bukti ancaman, hingga catatan tanggal-tanggal kelam yang selama ini ia sembunyikan dari dunia.
Untuk pertama kalinya, Yovana berharap seseorang akan menemukan map ini. Agar kelak ketika ia sudah tidak ada, kebenaran tidak ikut terkubur bersamanya.
Klek.
Pintu kamar mendadak terbuka pelan. Yovana terperanjat dan dengan cepat menyapu sisa air mata di pipinya.
Bunda berdiri di ambang pintu dengan mata yang masih menyipit mengantuk. "Kamu belum tidur, Nak?"
Yovana berusaha mengukir senyum senormal mungkin. "Belum, Bun."
Bunda melangkah masuk dan duduk pelan di tepi tempat tidur Yovana. "Sudah larut sekali. Besok kamu harus sekolah, kan?"
"Iya, Bun."
Bunda mengamati wajah putrinya. Ada rona pucat dan kelelahan mendalam yang menutupi paras Yovana. "Kamu menangis?"
Yovana menggeleng pelan. "Enggak kok."
Bunda tersenyum tipis dan mendaratkan usapan lembut di kepala Yovana. "Kamu ini..."
Yovana memejamkan mata, menikmati usapan jemari ibunya. Terasa sangat hangat dan familier. Entah mengapa, malam ini sentuhan itu terasa seperti perpisahan yang perlahan mendekat.
"Bun?"
"Iya, Sayang?"
"Bunda bahagia sekarang?"
Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Bunda terhenti sejenak. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
Yovana menunduk, menyembunyikan getar di matanya. "Jawab saja, Bun."
Bunda tersenyum teduh. "Bahagianya Bunda itu sederhana, Yovana. Melihat kamu baik-baik saja, melihat kamu tumbuh dewasa, lulus sekolah, dan punya masa depan yang cerah. Nanti kalau Bunda sudah tua, Bunda cuma ingin melihat kamu hidup bahagia."
Dada Yovana terasa dihantam godam yang sangat berat. Air matanya menetes lagi tanpa kompromi.
"Lho, kok malah menangis lagi?" Bunda panik dan menyapu pipi Yovana.
Yovana menggeleng cepat lalu tersenyum kecil. "Aku cuma terharu, Bun."
Bunda menghela napas lega lalu merengkuh tubuh Yovana ke dalam pelukannya. "Dasar anak aneh."
Yovana memejamkan mata kuat-kuat. Ia membalas pelukan ibunya dengan seluruh tenaga yang tersisa—begitu erat, seolah tak ingin dilepaskan lagi.
Maafkan aku, Bun. Tolong maafkan aku. Aku sangat sayang Bunda. Tolong jangan pernah salahkan diri Bunda atas apa pun yang terjadi... teriakan itu hanya bergema di dalam batin Yovana.
Beberapa saat kemudian, Bunda mengurai pelukan dan berdiri. "Sudah, ayo tidur. Sudah mau pagi."
"Iya, Bun."
Bunda berjalan menuju pintu. Namun tepat sebelum gagang pintu diputar, Yovana memanggilnya kembali.
"Bun?"
Bunda menoleh. "Iya?"
Yovana menatap wajah ibunya dalam-dalam, merekam setiap incinya ke dalam ingatan. Setelah diam beberapa detik, ia mengukir senyuman paling tulus yang pernah ia miliki.
"Aku sayang Bunda."
Bunda tersenyum hangat. "Bunda juga sayang kamu."
"Selamanya?"
Bunda tertawa kecil mendengar nada manja putrinya. "Iya, selamanya."
"Jangan pernah lupa ya, Bun."
"Mana mungkin Bunda lupa," jawab Bunda lembut. "Selamat tidur, Yovana."
"Selamat tidur, Bunda."
Klik.
Pintu kamar tertutup. Yovana kembali berdiri di dalam kesunyian yang dingin.
Ia menatap pintu yang terkunci itu, lalu beralih menatap foto di meja, surat perpisahan, dan map rahasia di sampingnya. Terakhir, ia berjalan pelan mendatangi cermin di sudut ruangan.
Yovana menatap lekat-lekat pantulan dirinya untuk yang terakhir kali.
"Kamu tidak lemah, Yovana," bisiknya pada diri sendiri dengan suara bergetar. "Kamu cuma sudah terlalu lama berjuang sendirian."
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Air mata terakhirnya runtuh.
Di kamar sebelah, Bunda kembali berbaring. Wajahnya sempat terlihat tenang beberapa saat. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik dinding kamarnya, Yovana sedang melepaskan semua pegangan hidupnya. Ia tidak tahu ada surat yang ditinggalkan, dan buku catatan rahasia yang kini tergeletak pasrah di atas meja.
Dan hal paling menyakitkan yang tak pernah Bunda bayangkan: malam ini adalah salam perpisahan diam-diam dari putri kecilnya.
Menjelang fajar, ketika kegelapan mulai menipis, Bunda mendadak terbangun. Dadanya terasa sangat sesak dan berdebar kencang tanpa alasan yang jelas. Ada rasa cemas hebat yang menghantam kesadarannya.
Bunda duduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Yovana?" panggilnya pelan.
Hening. Tidak ada jawaban.
Bunda mengerutkan kening. Perasaannya kian tidak enak. "Yovana...?"
Tetap tidak ada suara.
Untuk pertama kalinya, rasa takut yang asing membakar dada Bunda. Ia bangkit bergegas, melangkah cepat menuju kamar putrinya.
Tangannya menjangkau gagang pintu kamar Yovana, memutarnya perlahan. Dan pada detik itulah, seluruh kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Malam itu, Yovana telah mengucapkan selamat tinggal tanpa pernah benar-benar mengucapkannya lewat kata-kata.
Dan Bunda... baru menyadari bahwa terkadang, orang yang paling kita cintai bisa menjerit meminta tolong dalam hening—tanpa pernah kita dengar suaranya, sampai semuanya terlambat.
SELESAI
Terimakasih sudah hadir di karya karya ku ya 🥰 jangan lupa tinggalkan jejak like dan koment ya , supaya author terus belajar dan membenahi karya karya author 🙏