NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan Hari

Senin pagi, notifikasi itu muncul lagi.

Doni lagi nyikat gigi waktu rasanya kayak ada yang "klik" pelan di kepalanya, mirip suara notifikasi HP tapi nggak ada bunyi apa-apa di dunia nyata. Dia berhenti sebentar, tangan masih megang sikat gigi, nunggu pesan itu selesai muncul kayak teks yang ngetik sendiri di benaknya.

Minggu ke-12: PT Dirgantara Logistik akan mengumumkan kerja sama distribusi regional dalam 9 hari. Volatilitas tinggi pada hari pengumuman.

Doni kumur-kumur, ngelap mulut, terus duduk di pinggir kasur mikirin itu. PT Dirgantara Logistik nggak asing dia pernah denger namanya waktu ngobrol sama salah satu distributor cabai kemarin, katanya perusahaan itu lagi ekspansi ke daerah-daerah yang selama ini susah dijangkau distribusi hasil bumi.

Masalahnya bukan info-nya. Masalahnya, semua modal yang dia punya sekarang lagi nyangkut di tiga map itu. Merah, biru, kuning. Nggak ada yang cair, semua masih dalam proses.

"Buset," gumamnya pelan, ngitung-ngitung sisa saldo di rekening yang cuma cukup buat makan sama kos sampe akhir bulan.

Dia buka HP, cek notes tabungan. Ada sekitar delapan juta yang bener-bener bisa dipakai tanpa ganggu operasional koperasi. Kalau dipake buat beli saham PT Dirgantara sekarang, itu bukan jumlah yang bakal ngubah apa-apa secara signifikan biarpun harganya naik sekalipun.

Tapi 8 juta tetap saja 8 juta. Nggak ada salahnya dicoba, pikirnya.

Jam sembilan pagi, sebelum berangkat kuliah, Doni buka aplikasi sekuritas di HP-nya, ngetik nama emiten, terus masukin jumlah lot yang bisa dia beli dengan sisa saldo itu. Tangannya sempet ragu di tombol konfirmasi.

"8 juta doang" bisiknya ke diri sendiri, "kalo salah juga nggak bakal ngebangkrutin apa-apa."

Dia pencet beli. Baru aja dia naruh HP di meja, pintu kamarnya digedor keras dari luar.

"Don! Doni! Bangun woy, ini penting!" Suara itu punya Aldo, anak kos sebelah yang tiap pagi selalu punya masalah baru.

Doni buka pintu, Aldo udah berdiri dengan rambut acak-acakan dan wajah panik. "Ada apa lagi, Do? Pagi-pagi udah heboh."

"Air kos mati total, Don! Gue mau mandi buat sidang proposal jam sepuluh, ini gimana coba?!"

"Ya udah, lo mandi di kamar mandi belakang aja, biasanya masih ada aliran dari sumur."

"Udah gue coba, sama aja keringnya! Ini pasti pompa airnya rusak lagi, kayak bulan lalu."

Doni menghela napas. Sebagai anak kos yang paling sering dianggap "bisa diandalkan" entah sejak kapan dia kebagian peran itu dia akhirnya turun tangan, ngecek panel listrik pompa di belakang, mencet-mencet saklar, sampe akhirnya nemu penyebabnya: sekring yang putus.

"Sini gue benerin sebentar, lo siap-siap dulu bawa baju."

Sepuluh menit kemudian, air ngucur lagi, dan Aldo langsung teriak seneng dari kamar mandi. Ibu kos yang denger keributan ikut nongol dari dapur.

"Makasih ya, Don, untung ada kamu. Kalau nunggu tukang pasti lama." ucap Aldo

Doni cuma senyum, ngelap tangan yang kotor bekas pegang panel listrik. Sekilas dia mikir, kalau aja orang-orang di kos ini tau isi kepalanya lagi mikirin saham dan proposal agritech bareng-bareng, mungkin mereka bakal kaget kenapa dia masih sempet-sempetnya benerin pompa air jam segini.

Kuliah hari itu berasa lama banget. Dosen Metodologi Penelitian ngomong soal populasi dan sampel, sementara pikiran Doni melayang ke tiga map warna-warni yang nunggu di kamar kosnya, ditambah satu urusan baru soal saham yang baru aja dia beli.

Pas istirahat, Herman nyamperin di kantin, bawa dua gelas es teh.

"Woy, Don. Lo kenapa sih akhir-akhir ini kayak orang mikirin proyek negara terus?" Herman naruh gelas di depan Doni, terus duduk. "Gue liat lo bolak-balik ke bank, ketemu dosen, telpon-telponan sama orang kampung. Lo ngapain sih sebenernya?"

Doni nyeruput es tehnya, mikir cepet buat jawaban yang aman. "Lagi ngurus koperasi keluarga, Her. Bantuin bokap sama tetangga kampung."

"Koperasi doang bisa bikin lo sesibuk ini?" Herman narik alis. "Terus itu, lo kemarin cerita jaket vintage laku mahal, terus tiba-tiba lo punya duit buat modal-modalin cabai, sekarang malah ngurus KUR sama proposal segala. Lo nggak lagi jualan yang aneh-aneh kan?"

"Aneh-aneh gimana maksud lo?"

"Ya gue nggak tau, judi online kek, atau apa lah." Herman ngomong santai tapi matanya ngeliatin Doni lumayan serius.

Doni ketawa, berusaha kedengeran natural. "Gila lo, mana mungkin. Gue emang lagi banyak proyek bareng koperasi doang, kebetulan rejekinya lagi nyambung-nyambung aja."

"Nyambung-nyambung mulu ya hidup lo," Herman masih curiga tapi akhirnya ngangguk, lebih milih ganti topik ke gebetannya sendiri.

"Btw gue mau cerita nih soal si Nadia, kemarin gue ajak nonton, terus"

Doni menghela napas lega dalam hati sambil setengah dengerin cerita Herman, walau di sisi lain dia sadar, pertanyaan kayak gitu bakal terus muncul. Herman aja yang deket sama dia udah mulai curiga, apalagi orang lain yang cuma tau dari cerita orang ke orang.

Sore itu, pulang kuliah, HP Doni bunyi. Email masuk dari Pak Hardianto.

'Proposal sudah saya kirim ke pihak inkubator agritech. Insya Allah pekan depan ada kabar soal tahap seleksi lanjutan. Semoga lolos, Don.'

Doni senyum baca email itu, langsung nyimpen di folder biru virtualnya di HP. Satu langkah lagi, meski belum ada kepastian.

Belum sempet dia naruh HP, ada telepon masuk. Mas Rian dari bank.

"Halo, Don. Ada kabar nih, dokumen KUR-nya udah masuk tahap verifikasi lapangan. Mungkin minggu ini atau minggu depan bakal ada petugas yang dateng ke lokasi koperasi buat cek langsung."

"Oh, siap Mas, nanti saya koordinasi sama bapak saya di kampung buat siapin semuanya."

"Oke, kalo verifikasi lancar, insya Allah pencairan bisa lebih cepet dari perkiraan awal."

Doni nutup telepon dengan perasaan campur aduk antara senang dan deg-degan. Semua bergerak, tapi semua juga butuh dia hadir di banyak tempat sekaligus lagi padahal dia cuma satu orang, dengan jadwal kuliah yang nggak bisa dikompromikan, belum lagi kerja part-time yang shift-nya nggak bisa seenaknya dia tinggal.

Dia buka buku catatannya, halaman yang penuh coretan. Di pojok bawah dia nulis cepat.

Hari 1 dari 9. Dirgantara Logistik. Cek lagi Jumat.

Terus di bawahnya lagi, dia nulis daftar baru.

Verifikasi KUR minggu ini/depan. Follow up seleksi inkubator.

Kirim sampel cabai ke 2 distributor. Pompa air kos jangan sampe rusak lagi.

Baris terakhir bikin dia sendiri ketawa kecil. Tiga map udah nggak cukup lagi kayaknya, pikir Doni sambil garuk-garuk kepala. Mungkin udah waktunya dia bikin sistem yang lebih rapi biar nggak keteteran nanti bikin spreadsheet kayak yang dia usulin di proposal agritech, ironisnya buat ngatur idup dia sendiri dulu sebelum buat koperasi orang lain.

Malam itu, sebelum tidur, dia sempet mikir soal Herman yang mulai curiga. Cepat atau lambat, orang-orang di sekitarnya bakal nanya lebih serius dari sekadar becanda di kantin.

Dia harus mulai mikirin cerita yang lebih solid biar nggak ada yang curiga soal notifikasi aneh yang cuma dia sendiri yang bisa denger sekaligus jaga-jaga kalau nanti ada yang lebih jeli kayak Sinta, yang biasanya paling gampang baca gelagat orang.

Dia rebahan, natap langit-langit kamar kos yang catnya udah mulai ngelupas di sudut. Sembilan hari, pikirnya. Sembilan hari buat tau apakah 8 juta yang dia taruh di PT Dirgantara Logistik bakal jadi langkah kecil lainnya menuju sesuatu yang lebih besar, atau cuma pelajaran kecil yang harus dia bayar mahal karena kelewat pede.

Tapi itu urusan besok, dan lusa, dan delapan hari sesudahnya. Malam ini, dia cuma pengen tidur, biar besok bisa mulai lagi dari awal jam enam pagi, kuliah, kerja part-time, koperasi, pompa air kos yang entah kapan rusak lagi, dan satu angka kecil di aplikasi sekuritas yang diam-diam dia harap bakal jadi permulaan dari sesuatu yang lebih besar.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!