Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 05
PRIA MISTERIUS???
Telepon baru saja dimatikan ketika Ratih meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan mimik wajah heran sambil berjalan ke arah meja makan ketika suami dan putrinya yang berusia 14 tahun masih menunggu di sana.
“Ada apa?” tanya suaminya.
Ratih mulai duduk. “Erlina menelepon bertanya soal keberadaan Myra. Dan... Pihak bank bilang hutang sudah lunas.” ucapnya begitu serius.
Mendengar itu, si pria juga terkejut.
“Benarkah? 500 juta?”
Ratih mengangguk penuh kelegaan. Namun suaminya terlihat cemas. “Bagaiman dengan keadaan Myra?”
“Tidak usah memikirkannya. Dia sudah dewasa dan seharusnya memang begitu.” ketus Ratih yang segera menyuruh mereka makan.
Sementara di luar kota. Tepatnya masih di sekitaran Bali. Suara musik samar, namun di dalam ruang VIP, Silas duduk berhadapan dengan pria paruh baya rambut kriting dan tatapan sombong.
“Di sini kau hanya tamu. Kita sepakati bagian yang sudah saya jelaskan, Mr. Silas. Itu yang lebih adil.”
Gelas kristal diletakkan usai seteguk habis. “Dan aku tidak suka dengan adil yang seperti itu, Mr. Gopal.” tegas Silas menatapnya tajam namun datar. “Hitung dalam jumlah dolar, bukan rupiah. Itu baru adil. Dan aku sangat faham harga rupiah sedang turun. Kau mencoba membodohi ku.”
Gopal terdiam menatapnya penuh emosi yang terpendam saat Silas menyeringai sembari meneguk sekali lagi beer di gelas yang sama ketika pelayan cantik di sana menuangkan dan berdiri diam di samping sofa.
Pria itu terkekeh kecil namun Silas tidak.
“Kau yang mencoba membodohi ku. Apa kau meremehkan kemampuan ku huh?”
Tatapan mata Silas begitu dingin, bak kosong tanpa arah.
Dalam satu gerakan. Gelas kaca yang dia bawa langsung ia pukulkan ke kepala Gopal hingga ia bergerak menjambak rambut kriting itu dan membenturkan kepala itu berulang kali ke meja kaca warna hitam hingga darah merembes.
“Aaaaaaaa!!!!!” teriak pelayan di sana yang langsung ditembak mati oleh Silas tepat di kepalanya, sehingga keadaan menjadi hening hanya dalam waktu 10 detik gerakan saja.
Anak buah Gopal bahkan kalah cepat dengan anak buah Silas.
“Fa... Fuck you!” kata Gopal saat kepala itu masih ditekan ke meja.
“Berikan kata terakhir yang tepat. Dan aku tidak suka dengan seseorang menyebalkan seperti mu.”
Pria jas hitam itu gemetar dan tak bisa bergerak. “Si-sialan kau— ”
Silas langsung menutup ujung pistolnya dengan jas hitam dari anak buahnya dan langsung menembakkan ke kepala Gopal dalam jarak dekat.
Darr!
Suara teredam. Silas mundur dan duduk sejenak sambil meneguk beer di gelas kristal milik Gopal yang masih utuh. Tangan kirinya terlihat kotor oleh darah.
Ia memperhatikan jasad Gopal beberapa detik, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. “Bersihkan semuanya. Kita akan kembali ke Miami.”
“Ya, Tuan.”
Ia memasukkan tangan kirinya ke saku celana sambil berjalan dengan langkah panjang menuju pintu belakang ke mobilnya.
Saat masuk dan duduk ke kursi depan, anak buahnya yang lain sudah berada di kursi kemudi dan langsung melakukan mobilnya begitu bos mereka sudah masuk.
“Berapa jam yang terpotong?” tanya Silas.
“Dua jam setengah, Tuan. Masih ada waktu untuk menagih, nona itu.” kata si anak buah dengan tatapan datar fokus ke depan.
Silas tak menjawab dan hanya bergeming.
Sementara di dalam kamar yang masih sama. Myra mondar-mandir kebingungan. Dia tak tahu harus apa, pikirannya benar-benar buntu. “Berpikir dengan terbuka dan tenang, Myra.”
Ia mengusap kedua lengannya yang masih telanjang polos hingga ia kembali menatap ke dress itu cukup lama. Nafasnya memburu begitu panjang seolah sebuah pilihan sudah dia pilih.
Ia mencari sesuatu di dalam laci manapun, hingga menemukan sesuatu yang menarik di sana. Menarik untuk dijadikan senjata tersembunyi.
Ketika 3 jam berlalu. Silas sudah kembali ke tempat itu dengan selamat. Ia menyuruh seorang anak buah menjemput Myra di kamar sementara dia menunggu di ruang tengah bersama 4 pria penjaganya.
Tak perlu waktu lama ketika Myra keluar dengan anak buahnya. Namun bukan langkah yang tenang ketika sebuah pistol ke arah kepala anak buahnya sambil berjalan di samping pria yang hanya diam.
Melihat itu anak buah Silas yang lainnya terkejut namun tak berkutik sebelum ada perintah.
“Lepaskan aku dan lepaskan keluargaku juga temanku atau dia akan mati.” kata Myra.
Pria berkemeja hitam itu menyeringai kecil memperhatikan pakaian elegan warna hitam itu melekat di tubuh Myra, dan rambut panjangnya tergelung acak-acakan.
Dengan santai, Silas berjalan maju. “Lakukan saja.”
Myra terkejut mendengar itu. Tentu, pria itu mengatakannya seolah sedang merelakan sebuah bareng, bukan nyawa manusia.
Tangan Myra gemetar siap menekan pelatuk pistol.
“Aku tidak bercanda.”
“Ya. Lakukan.” balasnya yang masih santai.
Melihat wajah tampan yang angkuh itu membuat Myra kesal sendiri hingga ia langsung menekan pelatuk pistol itu sambil memejamkan matanya.
Namun ternyata satu kali tekanan hanya pengecohan. Tak sempat menekan yang kedua kalinya, Silas bergerak merebut pistol itu dan melemparnya ke anak buahnya lalu berhasil menahan kedua tangan Myra ke belakang.
“Kau melakukannya tanpa ragu. Tapi sayangnya kau meleset.” kata Silas yang mengikat kedua tangan Myra ke belakang.
Wanita itu mencoba meronta namun tak bisa. Dari belakang, Silas berbisik tepat di hadapan anak buahnya.
“Pakaian ini sangat cocok untukmu, sayang.”
Ia mengatakan tanpa senyuman hingga Myra menoleh menatap tajam matanya penuh emosi, sementara Sila membelai sejenak pipi kiri Myra sebelum akhirnya berjalan lebih dulu.
“Awasi dia dan kita pergi.” katanya.
Myra tak tahu dia akan dibawa ke mana? Namun dua pria sudah berdiri di kanan dan kirinya sembari memaksanya berjalan.
“Jangan menyentuhku dasar berandal!” kesalnya dengan marah sambil berjalan sendiri mengikuti langkah Silas dalam keadaan kedua tangannya yang terikat ke belakang.
Rasanya ia ingin mengumpat terus. Tapi Myra hanya memilih diam menatap pria bernama Silas Al Wolfe (31th).
Ya. Dia lebih tua dari Myra. Sikapnya yang brandal sejak kecil itu membuatnya sulit naik kelas dan dia lulus sekolah bersama tingkatan Myra. Tapi banyak yang menyukainya, mungkin karena parasnya dan sikapnya yang terkenal keren.
Sangat menjijikan. Itu yang Myra pikirkan.
-‘Siapa dia?’ Pikirnya sekarang ketika melihat anak buah Silas yang banyak. Bahkan sikap pria itu jauh lebih angkuh, dingin, tajam dan tegas...
.... Serta misterius.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Myra duduk di belakang bersama Silas.
Tak sesekali pria itu menoleh memperhatikannya, tapi Myra masih enggan menatapnya bahkan dia ingin muntah karena mabuk kendaraan.
Tak berselang lama sampai di tempat yang begitu luas. Sebuah jet pribadi sudah ada di sana.
Kedua mata Myra terbuka lebar. Ia benar-benar semakin curiga dengan Silas. “Bagaimana dia mendapatkan uang?” gumamnya penuh tanya.
“Membunuh banyak orang bisa membuatmu kaya.” kata pria itu datar lalu keluar.
Tapi Myra yang mendengarnya pun antara percaya tidak percaya.
Membunuh? Yang benar saja.
Saat Myra turun dan anak buah Silas kembali menyentuh lengannya sambil menyuruh berjalan. Myra dengan tegas menepis kasar. “DON'T TOUCH ME!”
Suara yang tegas hingga Silas menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Jangan menyentuhnya." pinta Silas sehingga pria itu menjaga jarak dari Myra yang berjalan penuh tatapan kekesalan ke Silas.
Tepat di belakang pria itu. Myra langsung muntah. Ia mengeluarkan semua sisa makanan serta minuman kemarin, dan kini mengotori sebagian kemeja dan celana Silas dari belakang.
Mereka melihat pemandangan itu cukup terkejut.
Silas berbalik menatapnya dengan kerutan alis.
“Sorry.. Kepalaku pusing. Sudah kubilang aku ingin muntah.” ucap Myra dengan perut yang masih merasa mual akibat mobil bagus milik Silas namun melaju ugal-ugalan.
Dan sekarang inilah yang terjadi.