NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

V - Beban di Pundak Kirana

Pertanyaan Nadia kemarin masih menggantung di kepala Kirana ketika teleponnya berdering dengan kabar yang membuat semuanya, untuk sementara, terasa tidak penting lagi.

"Non Kirana," suara Bi Inah terdengar panik di ujung telepon, "Ibu pingsan di dapur. Sekarang Ibu lagi di rumah sakit."

Kirana merasa darahnya membeku. "Rumah sakit mana, Bi? Saya ke sana sekarang."

Ia meninggalkan kantor dengan pesan singkat untuk Nadia, memacu mobilnya melewati kemacetan Jakarta siang itu. Ibunya, sosok yang selama ini selalu ia anggap tegar, yang bertahan menghadapi kehancuran bisnis mendiang ayahnya bertahun-tahun lalu tanpa pernah mengeluh, kini terbaring di ranjang rumah sakit.

Sesampainya di sana, ia menemukan Sulastri Handayani terbaring dengan wajah pucat, selang infus terpasang di lengannya yang kurus. Ibunya tersenyum begitu melihatnya.

"Ibu cuma kelelahan, Nak," Sulastri berkata, suaranya lemah. "Nggak usah sampai tinggalin kerjaan segala."

"Ibu pingsan," Kirana menjawab, menahan air matanya sendiri.

"Kamu abis dari kantor langsung ke sini? Belum makan siang, kan?" Sulastri, bahkan dalam kondisi seperti ini, masih sempat mengkhawatirkan anaknya lebih dari dirinya sendiri. "Ibu nggak apa-apa, Kir. Cuma pusing sedikit tadi pagi."

"Ibu, ini bukan cuma pusing biasa. Ibu sampai perlu infus segala."

Sulastri meraih tangan Kirana, menggenggamnya lemah. "Kamu kelihatan capek. Tender itu... gimana kabarnya?"

"Nanti aja dibahas, Bu. Sekarang fokus istirahat dulu."

Dokter yang menangani Sulastri memanggil Kirana keluar beberapa saat kemudian.

"Ibu Anda mengalami komplikasi jantung yang cukup serius," dokter itu menjelaskan. "Kami menemukan penyumbatan yang butuh tindakan lebih lanjut. Kemungkinan operasi bypass, tergantung hasil pemeriksaan lanjutan."

"Berapa lama sampai kita tahu hasilnya, Dok?"

"Kemungkinan Ibu Sulastri perlu kateterisasi jantung. Masalahnya, rumah sakit kami tidak punya fasilitas dan spesialis yang memadai untuk prosedur sekompleks ini. Kami sarankan Anda segera merujuk ke rumah sakit dengan fasilitas kardiologi lebih lengkap."

"Rumah sakit mana yang Dokter rekomendasikan?"

"Rumah Sakit Cahaya Medika. Salah satu yang terbaik untuk kasus seperti ini di Jakarta. Tapi daftar tunggu spesialis kardiologi mereka panjang, kecuali Anda punya koneksi khusus atau bersedia membayar biaya prioritas."

Kirana mencatat nama itu, berterima kasih, lalu duduk di ruang tunggu mencari informasi lewat ponselnya. Di situlah ia menemukan fakta yang membuat dadanya kembali terasa berat.

*Rumah Sakit Cahaya Medika**, bagian dari jaringan kesehatan yang didanai sebagian oleh Wibowo Group melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.*

Kirana menatap layar lama. Dari semua rumah sakit terbaik di Jakarta, kenapa harus yang berafiliasi dengan nama keluarga yang menghantui hidupnya seminggu terakhir ini.

Ia menelepon rumah sakit itu sore harinya.

"Untuk kasus seperti ini, daftar tunggu kami sekitar tiga minggu, Bu. Kecuali Anda daftar lewat jalur prioritas, tapi jalur itu ada biaya tambahan."

"Tiga minggu?" Kirana hampir tak percaya. "Dokter bilang kondisi ibu saya cukup serius. Nggak ada cara lain?"

"Saya mengerti kekhawatiran Anda. Tapi kami punya banyak pasien dengan urgensi serupa, bahkan lebih tinggi."

Kirana bertanya soal estimasi biaya jalur prioritas, dan angka yang disebutkan membuat perutnya mual — bukan karena tidak mampu, tapi karena mengeluarkan uang sebesar itu sekarang akan menguras hampir seluruh cadangan darurat perusahaan. Dengan hasil tender yang masih belum pasti, itu terasa seperti pertaruhan yang bisa menghancurkan segalanya.

Ia mencoba menawar, bertanya soal cicilan atau keringanan biaya. Petugas di ujung telepon tetap sopan, tetap tidak banyak membantu. Kebijakan rumah sakit tidak bisa diganggu gugat tanpa rekomendasi manajemen.

Ia menutup telepon, duduk sendirian di ruang tunggu yang mulai sepi.

"Non Kirana?" Bi Inah menyentuh bahunya. "Non belum makan, loh. Mau saya belikan sesuatu?"

Kirana menggeleng, tersenyum dipaksakan. "Nggak usah, Bi. Saya nggak lapar."

Kebohongan itu lebih mudah diucapkan daripada mengakui betapa kewalahannya ia sebenarnya. Dari perempuan yang begitu percaya diri mempresentasikan proposal miliaran rupiah di hadapan dewan investor, jadi anak yang kebingungan mencari cara menyelamatkan nyawa ibunya sendiri.

Bi Inah duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa, hanya menepuk punggung tangan Kirana pelan. Wanita tua itu sudah bekerja untuk keluarga Pradipta sejak Kirana masih SD, menyaksikan langsung masa kejayaan sebelum kehancuran, lalu perjuangan bertahun-tahun membangun kembali dari nol.

"Non," katanya akhirnya, suaranya lembut, "nggak apa-apa kalau Non capek. Nggak semua harus Non yang selesaiin sendiri."

Kirana tersenyum tipis, tidak sanggup menjawab tanpa suaranya pecah.

Ia kembali masuk, menemukan Sulastri sudah tertidur. Kirana duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terasa begitu ringan, jauh berbeda dari tangan yang dulu selalu terasa kuat setiap kali memeluknya di masa-masa tersulit.

Sekarang giliran Kirana yang harus menjadi sosok kuat itu.

Layar ponselnya menyala. Nadia mengirimkan pesan.

Gimana keadaan tante? Butuh gua ke sana?

Kirana mengetik balasan.

Nggak usah. Gua cuma perlu mikirin cara dapetin dana secepatnya. Rumah sakit yang direkomendasikan dokter minta biaya prioritas yang lumayan besar kalau mau penanganan cepat.

Berapa?

Kirana menyebutkan angkanya. Balasan Nadia datang setelah jeda cukup lama.

Itu hampir setengah dari cadangan dana darurat perusahaan kita.

Gua tahu. Tapi gua nggak tahu harus gimana lagi. Ibu nggak bisa nunggu tiga minggu, Kirana membalas.

Tidak ada balasan selama beberapa saat. Lalu, akhirnya:

Kita pasti bisa cari jalan keluar. Jangan dipikirin sendirian, oke? Sekarang lu istirahat dulu. Kita omongin lagi besok pagi.

Kirana meletakkan ponselnya, menatap ibunya yang masih tertidur dengan napas teratur.

Ponselnya menyala sekali lagi. Kali ini Dimas.

Nadia cerita soal tante. Lu di rumah sakit mana? Gua bisa anter barang yang lu butuhin.

Kirana menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas.

RS Harapan Bunda. Aman, Dim. Nggak usah ke sini.

Gua tetep mau anterin sesuatu. Lu belum makan dari siang, kan?

Kirana tidak menjawab langsung, tapi setengah jam kemudian, Dimas benar-benar muncul di ruang tunggu, membawa kotak bekal dan air mineral, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"Lu nggak perlu repot-repot," Kirana berkata, meski aroma makanan itu mengingatkannya betapa lapar ia sebenarnya.

"Gua tahu," Dimas menjawab, duduk di kursi sebelahnya. "Tapi gua juga tahu lu bakal nolak buat makan kalau nggak ada yang maksa."

Ia menunggu sampai Kirana benar-benar menghabiskan setengah kotak bekal itu sebelum akhirnya bertanya, "Ada yang bisa gua bantu soal biayanya? Gua punya sedikit tabungan, kalau itu membantu."

"Nggak, Dim. Ini bukan tanggung jawab lu." Kirana menggeleng cepat. "Gua akan cari jalan sendiri."

Dimas tidak memaksa, tapi tatapannya menyimpan sesuatu yang tidak ia ucapkan — kekhawatiran yang jauh lebih dalam dari sekadar rekan bisnis pada umumnya. Ia menepuk bahu Kirana sekali sebelum berdiri. "Gua di sini kalau lu butuh apa-apa. Beneran."

Kirana  menghitung kemungkinan lain — meminjam dari bank, mencairkan investasi kecil, menjual beberapa aset pribadi. Setiap opsi butuh waktu, sesuatu yang menurut dokter sudah tidak banyak tersisa.

Ada kepahitan tersendiri dalam kenyataan bahwa di dunia yang ia tinggali sekarang, nyawa manusia pun punya daftar tunggu, dan hanya mereka yang cukup kaya atau cukup berkoneksi yang bisa melompatinya.

Ia teringat kalimat yang selalu diucapkan ayahnya dulu, sebelum semuanya runtuh: uang itu alat, Kirana, bukan tujuan. Kata-kata itu terdengar begitu mulia waktu itu, diucapkan oleh seorang pengusaha sukses yang belum tahu bahwa suatu hari putrinya sendiri akan berdiri di ruang tunggu rumah sakit, menghitung-hitung harga sebuah antrean operasi.

Kirana membuka aplikasi perbankan, menatap deretan angka di saldo tabungan pribadinya. Ia bisa mencairkan semuanya sekarang. Tapi jumlahnya masih belum cukup tanpa menyentuh dana darurat Perusahaan — dan menyentuh dana itu berarti mempertaruhkan seluruh yang telah ia bangun selama lima tahun terakhir.

Malam itu, Kirana memutuskan tinggal di rumah sakit, meringkuk di kursi tunggu samping ranjang ibunya. Ia terlalu takut pergi jauh seandainya kondisi Sulastri memburuk di tengah malam.

Dikelilingi bunyi monitor detak jantung, Kirana menghitung ulang tabungannya untuk ketiga kalinya, mencoret-coret angka di kertas bekas yang ia temukan di meja samping ranjang. Bank bisa cair dalam dua hari kalau ia mengajukan pinjaman pribadi. Investasi kecilnya di reksadana, kalau dicairkan sekarang, kena penalti tapi cukup untuk menutup setengah kekurangan. Sisanya masih jadi tanda tanya besar.

Ia menyimpan kertas itu di saku, menyandarkan kepala ke dinding, mengawasi napas ibunya dalam cahaya remang lampu tidur rumah sakit.

Satu nama terus muncul di antara semua kemungkinan yang ia hitung, meski ia berusaha keras mencoret nama itu setiap kali. Wibowo Group. Mereka punya akses langsung ke rumah sakit ini. Satu telepon dari orang yang tepat mungkin bisa memangkas waktu tunggu tiga minggu jadi tiga hari.

Ia tahu persis siapa orang itu.

Dan ia tahu, seburuk apa pun keadaannya sekarang, ia belum siap menelepon nomor itu.

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!