Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Berubah
Bab 27
Pagi itu, suasana kampus kembali dipenuhi aktivitas mahasiswa. Matahari bersinar cerah setelah hujan semalam, membuat halaman fakultas tampak lebih hidup. Beberapa mahasiswa duduk di taman sambil mengulang materi kuliah, sementara yang lain sibuk berjalan menuju ruang kelas.
Karin datang sedikit lebih awal dari biasanya.
Tanpa sadar, pandangannya langsung mencari sosok yang belakangan selalu menunggunya di dekat gedung fakultas. Namun pagi itu, tidak ada Kai.
Karin berdiri beberapa saat sebelum mengeluarkan ponselnya.
Sudah berangkat?
Pesan itu terkirim, tetapi tidak langsung dibalas.
"Mencari siapa?"
Suara Nia membuat Karin sedikit terkejut.
"Nggak... cuma lihat-lihat."
Nia mengikuti arah pandangan Karin, lalu tersenyum kecil.
"Yang kamu cari belum datang ya?"
Karin langsung menggeleng cepat.
"Bukan begitu."
"Iya, iya."
Nia terkekeh pelan.
"Kamu sekarang gampang ketahuan."
"Apa sih."
Untungnya bel kuliah segera berbunyi sehingga percakapan itu terhenti.
-
-
-
Kuliah berlangsung hingga menjelang siang.
Saat jam istirahat, ponsel Karin akhirnya bergetar.
Maaf. Tadi bantu Pak Surya buka bengkel. Berangkat lebih pagi.
Karin tanpa sadar tersenyum lega.
Oh... kirain kenapa.
Beberapa detik kemudian balasan datang.
Maaf nggak sempat bilang.
Karin membaca pesan itu beberapa kali.
Entah kenapa, hanya kalimat sederhana itu sudah cukup membuat hatinya terasa lebih ringan.
Di sisi lain kampus...
Maureen baru saja keluar dari ruang administrasi. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Bayangan Kai yang mengantarnya ke rumah sakit terus berputar di kepalanya. Ia masih mengingat bagaimana Kai tetap tenang ketika dokter menjelaskan keadaan pasien.
Tanpa diminta, Kai membantu mengurus administrasi sebelum akhirnya berpamitan. Bahkan saat Maureen mengucapkan terima kasih berkali-kali, Kai hanya menjawab singkat.
"Jaga nenekmu baik-baik."
Tidak ada usaha mencari perhatian. Tidak meminta balasan. Tidak pula memanfaatkan keadaan.
Maureen mengembuskan napas panjang.
"Laki-laki seperti itu... ternyata masih ada."
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Awalnya ia mendekati Kai karena permintaan Gio. Namun kini, ia mulai ingin mengenal Kai karena keinginannya sendiri.
-
-
-
Siang harinya...
Gio duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar laptop. Laporan keuangan perusahaan masih dipenuhi angka merah.
Ponselnya bergetar. Nama Maureen muncul.
"Ada perkembangan?" tanya Gio tanpa basa-basi.
"Ada."
"Dia mulai dekat?"
Maureen terdiam beberapa detik.
"Dia memang baik."
"Itu bukan jawaban."
"Gio..."
"Aku tanya, apa dia mulai percaya sama kamu?"
Maureen memejamkan mata sejenak.
"Belum."
Gio mengembuskan napas pelan.
"Kalau begitu teruskan."
"Kalau nanti..."
"Kalau nanti apa?"
Maureen menggigit bibir bawahnya.
"Nggak jadi."
"Jangan terlalu banyak berpikir. Yang penting Karin mulai ragu kepada Kai."
Sambungan telepon berakhir. Maureen menatap layar ponselnya cukup lama. Untuk pertama kalinya, ucapan Gio membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia memang masih berutang budi. Namun kini, setiap kali mendengar nama Karin disebut, muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
-
-
-
Sore hari...
Kai datang ke bengkel lebih awal karena ingin mengganti waktu yang hilang kemarin.
Pak Surya sedang memeriksa sebuah motor ketika Kai menghampirinya.
"Maaf soal kemarin, Pak."
Pak Surya menoleh.
"Anak yang kamu antar itu bagaimana?"
"Sudah sampai rumah sakit."
Pak Surya mengangguk pelan.
"Bagus."
"Saya jadi telat."
Pak Surya tersenyum tipis.
"Orang sakit lebih penting."
Kai sedikit terkejut.
"Tapi pekerjaan..."
"Bisa dikejar."
Beliau menepuk bahu Kai.
"Kalau menolong orang saja harus dihitung untung-ruginya, hidup jadi berat."
Kai mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Ia segera mengenakan sarung tangan dan mulai bekerja seperti biasa.
Tanpa Kai sadari, Maureen berdiri di seberang jalan memandangi bengkel tempatnya bekerja. Ia sebenarnya hanya ingin memastikan satu hal.
Beberapa menit kemudian, Kai keluar membawa motor pelanggan yang selesai diperbaiki. Tangannya penuh noda oli. Kemeja kerjanya juga sedikit basah oleh keringat. Namun wajahnya tetap tenang.
Selesai mengembalikan motor, Kai kembali masuk tanpa sempat beristirahat.
Maureen memperhatikannya dalam diam. Selama ini, ia hanya mengenal Kai sebagai mahasiswa pendiam. Baru sekarang ia melihat bagaimana kerasnya kehidupan yang dijalani pria itu.
Kuliah di pagi hari. Bekerja hingga malam. Tetapi tidak pernah sekali pun mengeluh. Tanpa sadar, hati Maureen bergetar.
"Kenapa..." gumamnya lirih. "Kenapa orang sebaik dia justru harus hidup sekeras ini?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
-
-
-
Malam mulai turun.
Di kamarnya, Karin sedang menyusun materi presentasi. Ponselnya kembali bergetar.
Besok presentasi jam pertama. Pesan dari Kai.
Jangan lupa istirahat.
Karin tersenyum.
Iya. Kamu juga jangan kerja sampai terlalu malam.
Tak lama kemudian balasan datang.
Sebentar lagi selesai.
Karin memandangi layar ponselnya beberapa saat sebelum mematikannya. Ia tidak menyadari bahwa senyum kecil masih menghiasi wajahnya.
Di tempat lain...
Maureen berdiri di dekat jendela dalam ruangan neneknya di rawat. Angin malam berembus pelan. Ia menatap langit yang mulai dipenuhi bintang. Bayangan Kai kembali muncul di benaknya. Sikapnya yang tenang. Perhatiannya yang tulus. Cara bicaranya yang sederhana. Semuanya terus memenuhi pikirannya.
Perlahan, ia mengepalkan tangan.
"Maaf, Gio..." gumamnya pelan. "Aku memang akan tetap membantumu."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi..."
Tatapannya berubah.
"Kai...aku tidak ingin lagi mendekatinya hanya karena permintaanmu."
Untuk pertama kalinya, Maureen mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri. Ia ingin berada di sisi Kai. Bukan demi membalas budi. Bukan demi membantu Gio. Melainkan karena ia benar-benar menginginkannya.
Dan sejak malam itu, perasaannya mulai berubah menjadi keinginan untuk memiliki.
Tanpa ia sadari, langkah kecil itu menjadi awal dari sebuah persaingan yang tidak lagi didorong oleh rencana Gio. Melainkan oleh ego dan perasaan Maureen sendiri.
-
-
-
Bersambung...