NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Terdengar helaan napas kasar namun terdengar geli dari sang polisi muda. Ia menyadari jika keras kepalanya Sarah sama sekali tidak berubah sejak dulu.

“Ya sudah, nggak apa-apa kalau tidak ada yang mau di depan. Pagi ini saya jadi sopir pribadi ibu-ibu guru saja kalau begitu,” katanya pasrah sembari masuk ke kursi kemudi dan menutup pintu.

Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, polisi itu segera menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya perlahan, memutar balik lalu memasuki jalan raya besar arah menuju sekolah mereka. Suasana hening yang sangat canggung menyelimuti kabin mobil selama beberapa menit perjalanan. Sarah memilih menatap lurus ke luar jendela, sementara Tini mulai merasa bosan dengan suasana yang terlalu kaku ini.

Tini berdeham kecil, mencoba memecah kecanggungan diantara mereka.

“Sepertinya Bapak ini baru bertugas di daerah sini, ya? Wajahnya tampak sangat asing bagi saya yang asli warga sekitar.”

Polisi itu melirik dari kaca spion tengah lalu tersenyum tipis. “Iya, Bu. Baru sekitar satu bulan ini saya dipindah tugaskan ke polsek sini,” jawabnya ramah.

“Oh, pantas saja baru lihat. Memangnya bapak asli orang mana kalau boleh tahu?” tanya Tini lagi yang jiwa penasarannya mulai merontokkan dinding kecanggungan di dalam mobil.

“Saya asli Pekanbaru, Bu,” jawabnya singkat namun terdengar bangga dengan kota asalnya.

“Wah, kebetulan banget! Sama dong kayak teman saya yang di sebelah ini. Dia juga asli merantau dari Pekanbaru, Pak!” ucap Tini dengan nada heboh. Ia menyenggol bahu Sarah dengan antusias, namun langsung ditepis dengan kasar oleh temannya itu yang masih memasang wajah sedingin es.

Dari kaca spion yang tergantung di atas, Tini bisa melihat dengan jelas jika polisi muda itu tersenyum lebar mendengar informasi tersebut, seolah hal itu bukanlah sebuah kejutan baru baginya.

“Ngomong-ngomong, nama lengkap Bapak siapa?” tanya Tini lagi dan mengabaikan tatapan membunuh dari Sarah.

“Banyak tanya banget sih, Tin. Kamu ini lagi mau sensus penduduk atau gimana?” ketus Sarah yang benar-benar merasa tidak nyaman dengan interogasi sepihak yang dilakukan Tini.

“Berisik, ah, Sar. Aku kan nanya baik-baik, lagi pula aku nggak lagi nanya kamu,” jawab Tini santai, membuat Sarah mendelik kesal lalu kembali membuang muka menghadap ke arah jalanan.

Pria di kursi kemudi itu berdeham pelan untuk menengahi. “Nama saya Ardhana, Bu Tini.”

“Oh, Pak Ardhana. Bagus ya namanya. Kalau saya Tini, dan teman saya yang jutek ini namanya Sarah,” jawab Tini memperkenalkan diri, dan Ardhana mengangguk santun sambil melemparkan senyuman tipis dari kaca spion.

Mobil terus melaju membelah jalanan kecamatan yang dikelilingi pohon sawit. Tini yang merasa di atas angin kembali meluncurkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.

“Oh iya Pak Ardhana, kalau saya boleh tahu nih… maksudnya Pak Ardhana tadi di tenda nanya-nanya ke teman saya soal dia udah nikah atau punya pacar itu buat apa, ya? Bapak langsung suka ya sama teman saya ini? Kalau kata orang, cinta pada pandangan pertama.”

“Tin! Ah, udah deh! Nggak usah banyak tanya yang aneh-aneh,” tegur Sarah dengan nada yang mulai meninggi. Wajahnya kini benar-benar terasa panas akibat pertanyaan frontal sahabatnya.

“Udah, kamu diam aja, Sar. Kan aku nanya Pak Ardhana,” kata Tini tidak peduli.

Namun, sebelum Ardhana sempat memberikan jawaban atas pertanyaan sensitif tersebut, mobil patroli tiba-tiba melambat dan berhenti dengan sempurna di depan sebuah bangunan dengan papan nama sekolah mereka. Tanpa mereka sadari, mereka telah sampai di tujuan.

“Sudah sampai, Bu,” kata Ardhana dengan nada suara yang tenang, menghentikan seluruh perdebatan di kursi belakang.

“Terima kasih, Pak,” ucap Sarah cepat. Tanpa menunggu aba-aba atau hitungan detik, ia langsung membuka pintu mobil, keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah, meninggalkan Tini yang masih merapikan tasnya di dalam kabin.

“Sar… ih, malah ditinggalin aku,” gerutu Tini kesal melihat sahabatnya sudah melangkah jauh di depan.

Tini mencondongkan badannya sedikit ke arah depan sebelum keluar dari mobil.

“Maafin kelakuan teman saya ya, Pak Ardhana. Tapi walau sifatnya jutek dan galak begitu, aslinya anaknya baik banget kok. Cuma ya itu, Pak Ardhana sepertinya butuh ekstra perjuangan dan kesabaran tingkat tinggi aja kalau mau ngadepin dia.”

Ardhana terkekeh pelan, tatapannya melembut menatap punggung Sarah yang mulai menjauh di koridor sekolah.

“Iya, Bu Tini. Saya tahu pasti perjuangannya tidak akan mudah. Doakan saya ya, Bu Tini.”

“Pasti itu, Pak. Restu dari saya sebagai sahabatnya selalu menyertai Bapak,” kata Tini sembari tersenyum penuh arti. “Sekali lagi terima kasih banyak atas tumpangannya ya, Pak Ardhana. Kami duluan.”

“Sama-sama, Bu Tini. Selamat mengajar.”

Tini kemudian keluar dari mobil patroli tersebut, menutup pintu dengan rapat, lalu berjalan cepat menyusul Sarah yang bayangannya sudah hampir tidak terlihat lagi di area halaman sekolah.

Sementara itu, Ardhana masih duduk diam di balik kemudi mobil patrolinya. Sebuah seringai tipis penuh arti terukir di wajah tampannya sembari terus menatap lurus ke arah gerbang sekolah tempat Sarah mengabdikan diri.

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!