Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5-Kebohongan Arhan
Rasa bersalah kini semakin menyelimuti hati Arhan tak kala mendengar betapa menyedihkannya hidup Lula. Entahlah, Arhan semakin dibuat bingung dengan keadaannya sekarang. Apakah cewek didepannya yang sedang menangis itu adalah cinta pertama nya? Atau hanya sekedar kasian saja melihat kondisi Lula yang menyedihkan.
Jika benar ia hanya kasihan, tapi kenapa perasaan nya sangat berbeda pada cewek itu? Kenapa melihat cewek itu menangis dan bersedih hatinya ikut sakit dan bergetar hebat. Entah kenapa rasanya tubuhnya seperti ada yang mendorongnya kuat untuk bergerak maju dan memeluk kuat cewek itu. Padahal ia baru mengenal cewek itu kemaren.
Lama menangis membuat tubuh Lula semakin terasa lemas. Lula memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Mungkin ini karena efek menangis yang berlebihan mangkanya kepalanya pusing dan berdenyut hebat. Di sisa-sisa tangisannya Lula bergerak mundur, ia takut tiba-tiba tubuhnya terjatuh kebawah. "Sshhh..." Desis Lula yang terasa sakit dengan kepalanya. Keseimbangan tubuhnya sudah agak miring dan hampir jatuh.
Melihat Lula yang akan jatuh, Arhan yang sedari tadi hanya melihat saja, ia langsung sigap menangkap Lula agar tidak terjatuh.
Lula menatap seseorang yang sedang memegangi tubuhnya dengan erat. Melihat siapa orang tersebut, kepalanya yang awalnya sakit dan pusing seketika menghilang tiba-tiba. Lula dengan sekuat tenaga melepaskan pegangan dari Arhan. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari Arhan. Hatinya was-was jika ia akan kembali diperlakukan jahat seperti siswa siswi sebelumnya. "A-apa yang mau... Mau kamu lakukan?" Ucapnya dengan terbata dan wajah yang sudah pucat ketakutan. Memang separah itu Lula dengan traumanya.
"Aku cuman mau bantu kamu kak...." Titah Arhan dengan nada lembut dan tenang.
Lula menggeleng cepat, tidak setuju dengan ucapan Arhan. "A-akuu t-tau kamu bohong! Kamu sama seperti mereka! Kamu jahat seperti mereka! Pergi! J-jangan pernah mendekati ku!" Teriaknya pada Arhan dengan wajah gemetar karena takut jika Arhan berbuat sesuatu padanya. Suhu tubuhnya bahkan sampai mendingin saking takutnya.
Melihat Lula yang ketakutan semakin membuat Arhan jadi merasa sangat bersalah dan menyesal. Padahal kemarin ia melihat Lula dengan wajah tenang dan menenangkan, tapi sekarang cewek itu malah takut dengannya, tidak ada lagi senyuman yang membuat hatinya tenang. "K-kak..." Arhan mencoba meraih tangan Lula, namun dengan cepat Lula menghindar, ia semakin memundurkan tubuhnya.
"Kamu sama seperti mereka! Aku pikir kamu baik, ternyata ini semua hanya tipuan, aku hanya dijadikan sebagai taruhan! Kenapa? Lalu untuk apa kamu datang kemari? Ingin mengolokku? Ingin pamer jika taruhannya berhasil?" Jelasnya dengan panjang lebar. Air matanya kembali jatuh luruh membasahi pipinya yang tidak menggunakan make-up sedikitpun.
Arhan menggeleng pelan. "Enggak kok, aku salah, aku mau minta maaf sama kakak.... Tolong jangan takut."
"Sandiwara! Enyah dari hadapanku jika memang kamu tidak ingin berbuat jahat padaku. Pergi dan jangan pernah muncul dihadapan ku! Jangan pernah lagi bicara!"
Arhan menatap wajah Lula dalam. Kalau memang bukan cinta pada cewek yang ia panggil kakak itu lalu apa? Hatinya nyeri mendengar keinginan Lula yang tidak ingin bertemu lagi dengannya. "Kak, aku salah.... Iya, kemarin memang teman-temanku memberiku sebuah taruhan kepada ku. Tapi kalau soal menolong kakak, demi apapun itu tulus dari hati. Aku diberi taruhan untuk meminta nomor ponselmu. Tapi waktu aku tau kakak enggak punya nomer telepon aku enggak pergi kan? Aku tulus nolong itu tanpa adanya taruhan." Jelasnya. Ia berharap jika penjelasan barusan Lula akan percaya dan mau memaafkan nya.
Lula tidak percaya sepenuhnya dengan penjelasan dari Arhan. "Aku enggak percaya. Pergi Arhan! Pergi dari sini! Buat apa kamu kesini? Kenapa kamu harus capek-capek kesini cuman buat ngejelasin ini? Ini enggak penting buat kamu, pergi!" Usirnya lagi pada Arhan.
Arhan tetap kekeuh dengan dirinya, ia tidak mau pergi sebelum Lula benar-benar memaafkannya. "Kak, tolong, ini benar-benar tulus dari hati bukan taruhan. Tolong percaya sama aku..."
"Buat apa kamu sampai segininya? Buat apa kamu peduli sama masalah hatiku? Sakit atau enggaknya enggak akan ada orang yang peduli dengan hatiku. Kamu enggak usah pedulikan seberapa sakitnya aku sampai harus mohon-mohon minta maaf. Tanya pada orang yang berkali-kali menyakiti mental dan fisikku, apakah mereka sampai rela meminta maaf seperti ini."
"A-akuu..." Arhan terdiam. Ia tidak mungkin mengungkapkan rasa dihatinya yang terasa aneh pada cewek itu. Ia tidak mungkin jujur pada Lula jika hatinya berasa bersalah dan ikut sakit melihatnya menangis. "Aku cuman merasa bersalah. Aku sudah menganggap kakak sebagai kakak ku. Kakak ku meninggal lima tahun lalu, kak Lula adalah sosok perempuan yang sangat mirip dengan kakak perempuan ku." Arhan akhirnya berpura-pura berbohong pada Lula tentang masalah hatinya. Ia akhirnya memilih alasan lain, kakaknya yang memang sudah meninggal ia jadikan alasan agar Lula percaya dengan penjelasannya.
Degh...
Mendengar penjelasan Arhan, Lula langsung diam beberapa detik. "Kakak?" Tanyanya tak percaya.
Arhan mengangguk. "Ya, boleh kan kalau kak Lula aku anggap sebagai kakak ku yang sudah meninggal sebagai bentuk rasa rinduku?"
Lagi-lagi ia diam dengan ucapan Arhan yang ingin memintanya menjadi kakak. Ia menatap Arhan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuhnya yang tinggi membuat matanya yang ingin melihat wajah tampan Arhan harus mendongok terlebih dahulu. "Hah?" Ia seakan tak percaya pada Arhan.
"Kenapa? Kakak enggak mau ya?." Arhan menunduk. "Ya sudah kalau enggak mau-"
"Aku mau kok jadi kakak kamu." Potong Lula kemudian.
Mendengar jawaban dari cewek didepannya membuat hati Arhan jadi sangat senang sekali. Perasaan bahagia kini menyelimuti hatinya. Tidak apalah jika ia berbohong masalah hatinya, yang terpenting cewek didepannya tetap mau memaafkan dan tetap berada didekatnya.
Arhan melangkahkan kakinya mendekati Lula, tanpa diduga ia memeluk cewek itu dengan erat hingga tubuh Lula yang kecil itu tenggelam dengan tubuh besar Arhan. Wajar saja tubuh Arhan besar, pasalnya Arhan memang sering melakukan olahraga setiap hari.
Lula diam membeku ditempat tanpa bisa bergerak saat Arhan memeluknya. Tidak menolak, tidak juga menerima pelukan dari Arhan. Ia masih shok dengan apa yang terjadi. "K-kenapa ka-kamu memeluk?" Tanyanya dengan terbata-bata.
Arhan memejamkan matanya. Pelukannya masih erat pada Lula tanpa mau melepaskannya. Hatinya terasa begitu tenang saat memeluk cewek ini. "Aku kan udah anggep kakak sebagai kakak ku, jadi sebagai ganti rasa rinduku pada kakak perempuan ku, aku harusnya boleh memeluk kak Lula." Jelasnya bohong.
Lula percaya dengan penjelasan yang Arhan berikan. Ia membiarkan ruang bagi Arhan beberapa menit untuk memeluknya tanpa berani membalas pelukan dari Arhan. Ia tau rasanya merindukan seseorang yang tidak dapat ia raih jiwa dan raganya. Rasanya begitu sakit dan rindu yang mendalam itu tercampur dengan sakit dan memang benar-benar adanya.