NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Festival dan Influencer Palsu

"Tim A, panggung utama siap atau belum? Tim B, jangan taruh stan makanan di jalur evakuasi! Tim C... Tim C ke mana lagi?"

Fajar berlari melintasi area Taman Hiburan Rakyat dengan walkie-talkie di satu tangan dan daftar vendor di tangan lain. Sebulan setelah pesta Klub Utama, PT Langit Sembilan menjadi sponsor utama Festival Budaya Surabaya. Nilai sponsor Rp20.000 di sistem, tetapi di dunia luar cukup untuk membuat festival itu berubah dari acara tahunan biasa menjadi perayaan kota: panggung tari, musik modern, stan UMKM, area kuliner, ruang kerajinan, dan layar besar yang menyiarkan acara secara langsung.

Raka berjalan di tengah kerumunan memakai batik lengan panjang. Bukan batik untuk terlihat merakyat. Batik itu dijahit oleh penjahit yang sama dengan batik Bibi, sesuai permintaan Bibi sendiri.

Seorang pedagang lontong balap mengenalinya.

"Pak Raka! Terima kasih sudah bantu festival ini. Stan kami gratis tahun ini. Biasanya mahal sekali."

"Semoga laris, Pak."

"Kalau laris, saya traktir Bapak."

Fajar yang lewat langsung menoleh. "Catat, Bos. Ini sponsorship balik dalam bentuk lontong."

Suasana hangat itu pecah ketika Mega Putri datang.

Ia turun dari mobil putih dengan tiga kamera mengikuti. Pakaiannya disebut tradisional oleh timnya, tetapi lebih cocok disebut kostum yang meminjam motif untuk mencari sorotan. Senyumnya besar, suaranya lebih besar.

"Hai semuanya! Aku sudah sampai di festival budaya terbesar Surabaya! Hari ini aku dan Pak Raka bersama-sama mendukung budaya Indonesia!"

Sebelum Raka sempat menjauh, Mega menggandeng lengannya di depan kamera.

Fajar membeku. Bayu, yang hadir sebagai penasihat hukum acara, langsung mengangkat kepala seperti mencium kontrak busuk.

Raka menarik lengannya dengan tenang.

"Mbak Mega, kita belum punya kontrak kolaborasi."

Mega tertawa ke kamera. "Pak Raka ini malu-malu. Tapi tenang, aku selalu support acara positif."

Live chat di layar timnya bergerak cepat. Banyak penggemar memuji, tetapi ada juga yang mulai bertanya apakah Mega benar sponsor.

Mega tidak berhenti. Ia berjalan ke depan panggung, mengambil posisi dekat banner PT Langit Sembilan, lalu berkata kepada wartawan kecil yang ikut mengejar, "Festival ini bisa sebesar ini karena kolaborasi kami. Aku ingin budaya lokal lebih dikenal anak muda."

Raka membiarkan selama lima menit.

Fajar mendekat. "Bos, izinkan aku tarik kabel kameranya."

"Jangan. Kalau dia bicara cukup lama, klarifikasinya lebih bersih."

Bayu sudah menyiapkan folder digital. "Saya punya kontrak sponsor, bukti transfer, surat panitia, dan daftar vendor. Tidak ada nama Mega Putri satu huruf pun kecuali di daftar tamu undangan umum."

"Bagus."

Raka meminta panitia memanggil media ke area konferensi kecil. Mega, yang mengira akan diajak tampil bersama, datang dengan senyum kemenangan.

Raka berdiri di depan mikrofon.

"Saya menghargai semua pihak yang datang mendukung Festival Budaya Surabaya. Namun agar tidak ada informasi keliru, saya perlu menjelaskan: festival ini disponsori sepenuhnya oleh PT Langit Sembilan berdasarkan kontrak resmi dengan panitia. Tidak ada kolaborasi sponsor dengan pihak influencer mana pun."

Layar di belakangnya menampilkan dokumen: nilai sponsor, tanggal transfer, logo panitia, tanda tangan resmi. Bagian sensitif disensor, tetapi cukup untuk mematahkan klaim.

Mega masih mencoba tersenyum.

"Pak Raka, mungkin Bapak salah paham. Kolaborasi kan tidak selalu uang. Aku bantu exposure."

Bayu mengambil mikrofon kedua.

"Exposure tidak memberi hak untuk mengklaim sebagai sponsor. Apalagi jika klaim itu dipakai untuk menarik brand deal di live stream. Tim kami sudah merekam pernyataan Mbak Mega. Kalau ingin melanjutkan secara hukum, saya sedang kurang hiburan."

Live chat Mega meledak.

Bohong dong?

Ngaku-ngaku sponsor?

Kasihan UMKM dipakai konten.

Mega menurunkan ponsel timnya, tetapi kamera lain sudah merekam. Senyumnya runtuh.

"Aku cuma mau bantu."

Raka menatapnya. "Kalau ingin membantu, beli produk pedagang tanpa kamera. Kalau ingin kerja sama, ajukan proposal. Kalau ingin berbohong, jangan pakai nama saya."

Kalimat itu langsung menjadi potongan video baru.

Mega pergi terburu-buru, tim kameranya mengejar sambil mematikan live. Beberapa pengunjung bertepuk tangan. Raka tidak memanjangkan. Ia kembali ke area UMKM dan membeli produk dari beberapa stan atas nama pribadi agar kerumunan kembali fokus pada festival.

Sore menjelang, panggung utama penuh. Tari tradisional berganti band lokal, aroma sate dan rawon bercampur, anak-anak berlari membawa balon. Nama PT Langit Sembilan muncul di layar besar bersama ucapan sponsor. Tidak perlu klaim palsu. Dua juta penonton streaming melihat langsung.

[Mimpi: jangkauan publik nasional tercapai. Nama Raka Surya Pratama dan PT Langit Sembilan masuk tren nasional.]

Fajar duduk di belakang panggung, hampir tumbang. "Bos, aku lebih capek urus festival daripada balapan. Mobil setidaknya cuma satu lintasan. Manusia lintasannya ke mana-mana."

"Kamu bekerja bagus."

"Kalau gaji tidak naik, pujian ini saya simpan sebagai utang moral."

Raka tertawa.

Mimpi tiba-tiba memberi notifikasi baru.

[Tuan, seseorang yang pernah Anda kenal berada di pintu barat. Sedang menjual tiket tambahan. Identifikasi: Sri Wahyuni.]

Langkah Raka berhenti.

Fajar ikut berdiri. "Sri yang dulu di Mutiara Emas?"

Raka menatap kerumunan di arah barat.

Panitia festival sempat panik ketika tim Mega mencoba masuk ke area belakang panggung tanpa izin. Mereka membawa lampu sendiri, meminta ruang makeup khusus, dan menyuruh relawan menyingkir dari jalur kamera. Fajar tiba tepat waktu dan meminta surat tugas. Ketika tidak ada, ia menunjuk area tamu umum.

"Mbak Mega boleh meliput. Tapi festival ini bukan studio pribadi."

Mega tersenyum manis di depan relawan, lalu berbisik tajam kepada asistennya agar merekam Fajar dari sudut buruk. Raka melihat pola itu: orang seperti Mega menyerang lewat potongan video. Karena itu ia meminta semua komunikasi dengannya direkam utuh oleh tim dokumentasi resmi.

Sebelum klarifikasi publik, Bayu memberi satu kesempatan kepada Mega untuk menarik klaim. Ia mendekat tanpa kamera dan berkata, "Mbak, hapus kalimat sponsor bersama, kita selesai baik-baik." Mega justru tertawa dan menjawab, "Mas Bayu, publik suka cerita yang cantik. Jangan kaku." Bayu kembali ke Raka dengan wajah cerah.

"Dia memilih perang narasi. Saya bahagia."

Saat dokumen sponsor muncul di layar, beberapa relawan festival yang tadi disuruh-suruh tim Mega ikut menonton. Mereka tidak peduli bahasa hukum, tetapi mereka tahu rasanya kerja keras dicuri untuk konten. Tepuk tangan mereka setelah Raka bicara terdengar untuk orang yang mengembalikan nama panitia ke tempatnya.

Setelah Mega pergi, Raka meminta nama-nama UMKM ditampilkan lebih sering di layar besar daripada namanya sendiri. Panitia sempat ragu karena sponsor biasanya ingin logo sebesar mungkin. Raka hanya berkata, "Kalau orang pulang hanya ingat saya, festival ini gagal." Keputusan itu membuat beberapa pedagang merekam layar sambil tersenyum.

"Ayo lihat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!