Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Banget Nih
Bak oasis di tengah jiwa yang berharap akan kesembuhan, taman kecil Rumah Sakit itu cukup untuk menghibur para pasien yang sedang bertahan hidup. Meski bunga disana tidak terlalu banyak, tapi wanginya cukup menenangkan hati.
"Hmmm..." Emma yang duduk di kursi taman, memejamkan matanya sejenak untuk menikmati wangi semerbak bunga taman.
Setelah, menjalani perawatan kanker seperti kemoterapi, badannya kini sedikit lebih bisa dikendalikan. Sekarang, dia bisa keluar kamar untuk sekedar menikmati udara pagi yang segar tanpa teriakan ibunya yang khawatir.
"Bagaimana caranya?"
Emma membuka matanya seraya memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk kasus anak sekolah itu.
Sudah hampir seminggu dirinya menjalani terapi namun pikirannya selalu tidak tenang. Apakah dia mulai terobsesi dengan kasus itu? Atau Levi?
Mungkin karena semua itu terjadi di depan matanya, maka Emma tidak pernah benar-benar bisa melupakannya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Emma juga butuh perawatan intensif demi kesembuhannya. Tapi dia juga tidak bisa diam saja, pasrah dengan ketidakadilan.
"Tidak, aku harus melakukan semua yang aku inginkan. Aku tidak tahu umurku akan sampai kapan kan. Aku tidak mau meninggalkan dunia ini dengan banyak penyesalan," gumamnya hingga pasien lain di bangku sebelahnya heran melihatnya.
"Hehe, permisi pak..." Emma memutuskan kembali ke kamarnya sebelum dia dicap mengidap penyakit kejiwaan dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa.
Sambil mendorong tiang penyangga infusnya, emma berjalan pelan--sangat pelan hingga hampir terlihat tidak bergerak di koridor menuju kamarnya.
"Sssssttt... Gimana ya?" Gumamnya lagi dengan tangan lain menyentuh dagunya dan telunjuk menekan bibirnya.
"Kasus yang sudah ditutup bisa kembali dibuka kalau ada perkembangan dan bukti yang kuat. Tapi masalahnya aku tidak punya bukti itu. Bahkan tersangkanya juga belum ada."
"Ck... Gimana ya? Pihak sekolah juga tidak akan mau diajak bekerja sama. Susah sekali sebuah sekolah mengakui adanya pembulian di lingkungannya. Aku juga masih masa skorsing, dan....ini bukan wilayahku."
Ditengah-tengah lamunannya, Bu Tiwi datang meneriaki anak semata wayangnya.
"Emma!! Kemana aja kamu??!" Teriak Bu Tiwi di depan kamar Emma.
"Sorry bos! Bosen nih!" Jawab Emma melanjutkan langkahnya memasukki kamar dengan acuh tak acuh.
"Jangan jalan-jalan terus donk! Ibu ini khawatir!"
"Iya iya mam.... Maaf ya," ucap Emma, duduk di ranjang pasiennya.
"Kamu ini ya! Suka bantah omongan Ibu! Nggak kayak kakakmu!"
Tunggu, kakak?
Oh ya, aku hampir lupa. Emma memang mempunyai kakak dengan selisih umur dua tahun. Jarak yang dekat ini lah yang membuat mereka sangat mirip, bahkan mereka sering dikira anak kembar.
Kesalah pahaman itu tidak hanya disebabkan jarak umur yang dekat, tapi memang ciri fisik dan wajah mereka hampir sama. Yang membedakan antara keduanya hanya tinggi badan dan rambut mereka. Emma lebih tinggi dan rambutnya lebih lurus dari pada kakaknya, Emina.
Selebihnya, hampir sama dan sangat mirip.
Eh, bukan hanya itu. Sifat mereka juga sangat bertolak belakang. Emina lebih kalem, penurut, dan feminim dibandingkan Emma yang bar-bar seperti preman. Mungkin Emma terkena sindrom anak kedua, jadi dia agak pemberontak dan selalu membuat Bu Tiwi mengelus dada.
Tapi ada kenangan yang menyedihkan dari Emina, kakak Emma. Hingga seluruh anggota keluarga jarang mengungkitnya. Mereka tidak mau atmosfer berubah berkabung.
"Mam... Mami nggak apa-apa?" Kata Emma memecah keheningan.
"Ibu sudah nggak apa-apa, ibu hanya tidak mau kehilangan anakku lagi."
Melihat Bu Tiwi yang hampir meneteskan air mata, Emma langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Mam...." Lirihnya.
"Makanya, kamu harus nurut apa kata Ibu, jangan buat masalah terus menerus," Bu Tiwi menepuk lembut punggung Emma, anak bungsu yang telah menjadi anak semata wayangnya.
"Tapi mam, kayaknya kali ini aku harus sering minta maaf ke mami deh," ucap Emma tiba-tiba.
"Apa?"
"Hehehe." Emma menunjukkan giginya yang rapih dengan senyum cekikikannya, sehingga Bu Tiwi mau tidak mau merasa khawatir dengan masalah yang akan dia buat.
"Oh tidak, jangan lagi..."
...****************...
Setelah mendapatkan persetujuan Dokter untuk rawat jalan, Emma akhirnya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia langsung pergi menuju lemari tua tempat penyimpanan dokumen.
Dengan cekatan Emma membolak-balik dan menelusuri dokumen milik Emina.
"Ketemu!"
Emma mengangkat map ijazah milik kakaknya, lalu membukanya.
"Benar, kenapa aku baru kepikiran? Kakak kan memang calon guru."
Emma menatap ijazah Emina dengan mata berbinar seperti telah menemukan harta karun.
"Kakak tercinta, adikmu yang berbakti ini akan menggunakan ijazah kakak dengan baik, mmmuah!"
Bu Tiwi dan Pak Izul hanya berdiri di sisi pintu, keheranan dengan tingkah diluar nurul Emma.
"Aku akan jadi guru! Yey! Tepuk tangan...tepuk tangan!" Serunya sambil mengajak ayah dan ibunya untuk mengikutinya bertepuk tangan.
"Hah! Jangan bercanda!" Pak Izul angkat bicara. Beliau menduga terapi yang dilalui anaknya itu telah merusak sel otak Emma, sampai dia mengatakan hal yang omong kosong.
"Aku bisa pakai ijazah kakak. Lihat yah, wajah kakak mirip banget kan sama aku! Sama-sama cantik."
"Jangan ngaco! Kenapa kamu mendadak mau jadi guru pakai ijazah kakak? Kalau kamu mau, lebih baik kuliah lagi. Kamu kan punya uang sendiri," tangkis Pak Izul.
"Yah, kelamaan. Nanti terlanjur mati duluan," kata Emma membuat hati kedua orang tuanya mencelos.
"Hus!!!!" Keduanya membentak Emma bersamaan.
"Makanya, biarin Emma melakukan semua yang Emma mau. Mmm..."
Emma memeluk kedua orang tua yang sangat dicinntainya.
"Tenang aja... Ini hanya sementara kok."
"Beneran?" Bu Tiwi menegaskan.
"Iya, kalau nggak mati duluan sih...hehehe" gurau Emma.
"Dasar!" Bu Tiwi memukul Emma keras.
...****************...
Setelah melalui perdebatan yang tidak terlalu alot, karena Pak Izul dan Bu Tiwi dengan mudah menuruti apa saja yang keluar dari mulut Emma, akhirnya ia pergi ke SMA X untuk melamar pekerjaan.
"Dududududu, ahihihi," Emma tertawa ala bernard bear.
Dengan bersenandung ria dan senyum yang tidak bisa dibendung, Emma masuk ke ruang kepala sekolah.
Emma bahkan berdandan lebih feminim dari biasanya untuk menyempurnakan penyamarannya. Dia membuat rambutnya sedikit bergelombang cantik dan mengoleskan lipstik merah muda. Tidak lupa, ia mengenakan blazer abu-abu dan rok di bawah lutut yang membuatnya kuwalahan.
"Pak, saya ingin melamar menjadi Guru disini," ucapnya kepada Kepala sekolah yang rambut tegahnya sudah mengalami kebotakan itu.
"Silahkan tinggalkan CV anda, lalu tunggu panggilan wawancara," jawabnya tegas tanpa senyum.
"Fyuh... Baiklah pak," Emma menghembuskan nafasnya sebelum berpamitan pulang.
"Saya akan menunggu panggilan bapak," ucapnya sambil menyunggingkan senyuman tipis lalu pergi keluar ruangan.
"Hah.... Aku harus sabar. Kamu sudah terbiasa sabar kan emma!" Gumamnya pada diri sendiri.
"Semangat!" Lanjutnya mengepalkan tangannya.
Namun, mendadak suasana yang semula panas membara karena terbakar oleh semangatnya, berubah sejuk seperti ada sepoi angin yang bertiup lembut di wajahnya.
Di depan matanya, ada makhluk indah yang melenggang cantik, berjalan seperti ada bunga yang mengikutinya.
"Levi?"
Tanpa sadar nama itu tergelincir dari mulutnya hingga membuat makhluk indah itu menatapnya.
'Oh tidak...'
"Apakah anda mengenal saya?" Levi bertanya dengan alisnya yang berkerut.
"Itu...." Emma malah terdiam salah tingkah.
"Loh, bukankah anda....."
.
.
.
kedua, kamu gak perhatiin dia dulu
lucu 😁 gk tau salahnya dimana...
apa mungkin levi ini sukanya sama Emina
gitu...