Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di malam keempat, badai salju tengah mencapai puncaknya, meraung-raung menghantam dinding rumah. Listrik padam, menyisakan hanya sinar keemasan dari api perapian yang menari-nari di dinding.
Udara malam itu menjadi sangat dingin, hingga menusuk ke dalam tulang. Karina menggigil kecil saat memasukkan kayu bakar ke perapian. Ketika ia berbalik, ia melihat Darius sedang memperhatikannya.
"Kamu kedinginan," kata Darius, suaranya berat dan dalam. Bergema dengan hangat di dalam rumah sederhana itu.
"Sedikit," ucap Karina lembut sambil tersenyum canggung, menyembunyikan getar ragu di sudut bibirnya.
Tanpa berkata apa-apa, Darius menggeser tubuhnya di atas ranjang, menyisakan ruang di sampingnya, lalu mengangkat sebagian selimutnya. "Kemarilah."
Karina sempat ragu sejenak. Namun, melihat tatapan Darius yang tidak memancarkan ancaman, ia melangkah mendekat. Dengan perlahan, Karina berbaring di samping Darius, menyusup ke bawah selimut tebal yang sama.
Aroma tubuh Darius langsung menyeruak membuai indera Karina. Sementara bagi Darius, aroma lavender lembut dari rambut Karina yang terurai membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
"Tubuhmu hangat sekali..." gumam Karina pelan, menyandarkan pipinya di dada bidang Darius yang dipenuhi bekas luka.
Darius melingkarkan lengan berototnya di sekeliling bahu Karina, menarik wanita itu lebih dekat. "Ini pertama kalinya ada orang yang merawatku seperti ini."
Karina mendongak, menatap rahang tegas dan mata tajam Darius dari jarak yang sangat dekat. "Darius... siapa kamu sebenarnya?"
"Seseorang yang berbahaya," ucap Darius dengan datar. Namun, penuh dengan kejujuran. "Seseorang yang tidak seharusnya kamu sentuh."
"Tapi aku tidak takut padamu," balas Karina sangat berani. Jemari halusnya terangkat, menyusuri garis rahang Darius, bergerak perlahan menuju bibir pria itu.
Sentuhan itu memutus kendali terakhir dalam diri Darius. Rasa sakit akibat luka-lukanya seolah lenyap, tergantikan oleh hasrat yang membakar di tengah dinginnya badai salju.
Darius menundukkan kepalanya, menyapu bibir Karina dengan kecupan lembut yang penuh kehati-hatian. Karina membalasnya sambil melingkarkan tangannya di leher Darius dan menariknya lebih dalam.
Malam itu, di dalam rumah kayu yang sederhana dan terisolasi jauh dari jangkauan dunia luar, dua jiwa yang selama ini berkelana dalam kesepian akhirnya menyatu.
Tepat di bawah pancaran hangat api perapian di dalam rumah, mereka menyerahkan diri pada gairah dan kehangatan yang membakar.
Tatapan beralih menjadi belitan jemari, desah napas bersahut-sahutan, mengukir sebuah ikatan yang terpatri jauh lebih dalam dari yang mereka duga.
Keesokan harinya, ketika fajar mulai menyingsing dan badai salju telah mereda, Darius terbangun. Ia menatap wajah Karina yang tertidur lelap di dadanya, tampak begitu damai dan polos.
Darius menyentuh pipi Karina dengan lembut untuk terakhir kalinya. Ia tahu, tinggal di sini lebih lama hanya akan membawa kematian bagi wanita yang telah menyelamatkan nyawa dan jiwanya.
Dengan gerakan perlahan, Darius bergeser keluar dari ranjang. Ia mulai mengenakan pakaiannya dan meletakkan segepok uang tunai serta sebuah liontin militer perak di atas meja kecil di samping ranjang.
Ia segera melangkah menuju pintu. Tapi sebelum membukanya, Darius menoleh sekali lagi, menatap sosok Karina yang masih terlelap dengan tenang.
"Maafkan aku, Karina... dan terima kasih," bisik Darius dengan lirih, nyaris tenggelam dalam hembusan angin dingin yang menyelinap lewat celah jendela.
Darius melangkah keluar menyongsong hamparan salju putih, meninggalkan rumah kayu itu tanpa mengucap kata perpisahan secara langsung.
Ia pergi untuk melanjutkan takdirnya di dunia gelap, melangkah menembus hamparan salju. Setiap jejak kakinya terbenam dalam lapisan es yang tebal dan dingin.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pelan di pintu kamar seketika membuyarkan lamunan Darius. Bayangan masa lalu tentang Karina perlahan mulai pudar dari benaknya.
"Tuan, teh hangat Anda sudah siap," suara Angelina terdengar lembut dan penuh hormat dari balik pintu kamar.
"Masuklah." ucap Darius sambil menegakkan posisinya di balkon, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Angelina melangkah dengan anggun sambil membawa nampan perak berisi secangkir teh chamomile hangat yang aromanya sangat menenangkan.
Dengan gerakan perlahan, ia meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Teh hangat untuk Anda, Tuan," ujar Angelina seraya membungkuk sopan. "Jika tidak ada hal lain, kami mohon izin untuk beristirahat."
Darius menatap cangkir teh yang berasap tipis itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kepala pelayannya. "Terima kasih, Angelina. Kalian bisa beristirahat sekarang."
"Selamat malam, Tuan," pamit Angelina dengan senyuman hangat sebelum melangkah mundur dan menutup pintu kamar secara perlahan.
Kamar utama kembali diliputi ketenangan murni. Darius meraih cangkir teh tersebut, menyesapnya sedikit, lalu menatap lurus ke arah kegelapan malam dari balik jendela kaca kamarnya.
Darius lalu meletakkan kembali cangkir teh itu ke atas meja. Ia mengambil ponsel tanpa merek miliknya dari saku celana, lalu menekan tombol panggilan cepat.
Panggilan itu hanya berdering satu kali, sebelum suara Julian terdengar di seberang telepon dengan nada penuh kesigapan dan penghormatan mutlak.
"Tuan," sapa Julian dengan cepat tanpa membuang waktu. "Ada instruksi baru yang perlu saya laksanakan?"
"Julian," ucap Darius datar, suaranya mengalun rendah namun menekan di dalam kegelapan kamar. "Aku ingin kau melakukan satu hal penting."
"Silakan, Tuan. Saya mendengarkan." jawab Julian dengan saksama, tidak berani menyela sepatah kata pun.
"Lakukan pencarian menyeluruh di seluruh sudut Ibukota," ujar Darius dengan nada suara yang tetap dingin. "Cari seorang wanita bernama Karina Volodina."
Julian terdiam sejenak di seberang telepon. Nama itu terdengar asing baginya, karena selama mendampingi Darius, ia belum pernah mendengar nama itu disebutkan.
Namun, sebagai bawahan yang sangat patuh, Julian tidak mempertanyakan hal itu sama sekali.
"Karina Volodina..." ulang Julian pelan untuk memastikan nama tersebut. "Baik, Tuan. Apakah ada informasi spesifik mengenai ciri-cirinya untuk mempercepat proses pencarian?"
"Dia berambut pirang keemasan dan berasal dari Negara Ruskavia," terang Darius dengan nada datar namun sangat presisi. "Periksa seluruh data imigrasi di Ibukota, Julian."
"Siap, Tuan!" Saya akan menggerakkan seluruh jaringan intelijen kita untuk mencarinya," jawab Julian tegas tanpa ragu sedikit pun "Dalam waktu singkat, saya akan memberikan laporannya kepada Anda."
"Bagus," pungkas Darius pendek dengan suara datar dan pelan. "Kabari aku jika ada perkembangan sekecil apapun."
"Siap, Tuan. Selamat malam." sahut Julian di seberang telepon dengan nada bicara yang tetap lugas, tenang, dan penuh rasa hormat.
Darius mematikan sambungan teleponnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu kembali menyesap sisa teh chamomile hangat yang disiapkan Angelina.
Darius melangkah ke tempat tidur, mematikan lampu, dan membiarkan kamar utama itu tenggelam dalam kegelapan. Di tengah keheningan malam yang sunyi, ia memejamkan mata dan mulai terlelap.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya