kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
...****************...
Gedung Andreas Corporation menjulang megah di tengah pusat kota, memancarkan aura eksklusif dan kekuasaan.
Pagi itu, Evelyn Hills datang seorang diri.
Tidak ada Naomi yang biasanya selalu berada di sampingnya. Hanya Evelyn dengan langkah tenang dan penampilan elegan yang langsung menarik perhatian banyak orang di lobby perusahaan.
Beberapa karyawan diam-diam melirik kagum.
“Cantik sekali…”
“Bukannya itu CEO Hills Corporation?”
“Dia datang sendiri?”
Evelyn tidak mempedulikan bisikan itu sedikit pun.
Ia langsung berjalan menuju meja resepsionis.
“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis dengan ramah.
“Saya Evelyn Hills. Saya punya janji temu dengan Tuan Arseno Andreas.”
Mata resepsionis langsung sedikit melebar.
“Tentu, Nona Evelyn. Tuan Arseno sudah memberi instruksi. Anda bisa langsung menuju lantai paling atas.”
“Terima kasih.”
—
Lift eksklusif terbuka perlahan.
Begitu keluar, suasana lantai eksekutif terasa jauh lebih sunyi dan formal.
Seorang sekretaris langsung mempersilakan Evelyn masuk ke ruangan utama.
Tok tok.
“Masuk.”
Evelyn membuka pintu.
Dan seperti biasa, Arseno Andreas sudah duduk di balik meja kerjanya yang besar dengan setelan jas sempurna dan aura dingin khasnya.
Namun kali ini, begitu melihat Evelyn, Tatapan Arseno sedikit berubah.
“Selamat pagi, Nona Hills.”
Evelyn mendekat dengan tenang.
“Pagi, Tuan Andreas.”
Mereka berjabat tangan singkat.
Dan entah kenapa, Tatapan mereka bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya.
Arseno akhirnya melepaskan tangan Evelyn lebih dulu.
“Silakan duduk.”
“Terima kasih.”
Evelyn duduk di sofa depan meja kerja Arseno.
Arseno ikut duduk di hadapannya sambil membuka beberapa dokumen.
“Kita mulai dari proyek cabang Singapura,” ujar Arseno profesional.
Evelyn langsung fokus.
“Tim saya sudah menyelesaikan analisis pasar.”
“Bagus. Aku juga sudah menyiapkan estimasi investasi tambahan.”
Percakapan mereka berjalan lancar.
Tenang, terlihat sudah sangat profesional.
Dan surprisingly… nyaman.
Tidak ada sindiran seperti awal mereka bertemu.
Hanya dua CEO cerdas yang sedang membahas bisnis besar.
Hingga suara ketukan pintu memecah konsentrasi mereka
Tok tok.
“Masuk.” sahut Arseno.
Pintu terbuka.
Seorang wanita masuk sambil membawa beberapa berkas.
Wanita itu berpenampilan sangat rapi… dan cukup mencolok.
Kemeja ketat, rok pendek, sepatu hak tinggi.
Namanya Melly.
“Maaf mengganggu, Pak Arseno. Ada dokumen yang perlu tanda tangan Anda.”
Arseno mengangguk singkat.
“Taruh sini.”
Melly berjalan mendekat.
Namun sebelum menyerahkan berkas, Matanya melirik Evelyn.
Tatapan itu sinis dan penuh rasa tidak suka.
Evelyn langsung menangkapnya.
" Oh… jadi begitu, terlalu banyak lalat di perusahaan ini." gumamnya dalam hati.
Melly tersenyum kecil ke arah Arseno.
“Pak, ini dokumen revisi dari divisi pemasaran.”
Arseno mengambilnya tanpa banyak ekspresi.
“Hm.”
Melly sedikit membungkuk saat menyerahkan pena, sengaja memperlihatkan sisi sensualnya.
Namun Arseno bahkan tidak terlihat tertarik.
Ia langsung menandatangani dokumen dengan cepat.
“Sudah.”
“Baik, Pak,” jawab Melly sambil tersenyum manis.
Sebelum keluar, wanita itu kembali melirik Evelyn dengan tatapan seperti sedang menilai rival.
Evelyn hanya membalas dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
Pintu pun tertutup kembali.
Sunyi beberapa detik.
Lalu Evelyn menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan tangan.
“Jadi…” ucapnya santai namun tajam, “Anda ternyata punya selera yang cukup sensual dalam memilih karyawan.”
Arseno yang sedang membaca dokumen langsung melirik.
“Apa?” sahut Arseno dengan nada bingung.
Evelyn mengangkat alis tipis.
“Karyawan wanita Anda, benar-benar sangat menyegarkan mata yah...”
Arseno langsung mengerti arah pembicaraan itu.
“Aku tidak pernah mengatur cara berpakaian mereka.”
“Benarkah?” Evelyn tersenyum tipis. “Saya kira itu bagian dari standar perusahaan.”
Arseno meletakkan penanya pelan.
“Nona Hills.”
“Ya?” sahut Evelyn dengan tatapan sinis.
“Kalau Anda ingin menyindir, katakan langsung saja.”
Evelyn tertawa kecil.
“Saya hanya observasi partner bisnis saja.” jawab Evelyn tanpa dosa.
“Observasi anda itu sangat menghakimi.” Arseno sedikit kesal dengan ungkapan Evelyn yang terdengar seperti tuduhan.
“Biasanya pria memang begitu.” sindir Evelyn.
“Begitu bagaimana?”
“Tidak akan mengakui kalau menikmati pemandangan seperti itu.” ucapan Evelyn langsung membungkam Arseno.
Arseno langsung terdiam beberapa detik.
Untuk pertama kalinya dalam rapat mereka, Dia benar-benar kehabisan balasan.
Evelyn melihat itu dan tersenyum tipis penuh kemenangan.
“Kenapa diam?” tanyanya santai.
Arseno menghembuskan napas pelan.
“Aku serius tidak pernah mengatur hal seperti itu.”
“Tapi Anda juga tidak melarang.”
“Itu bukan prioritas.”
“Karena menguntungkan mata?” lagi dan lagi Arseno kalah berdebat.
Arseno menatap Evelyn datar.
“Kau selalu berpikir buruk tentang pria?”
Evelyn langsung menjawab cepat, “Pengalaman hidup.”
Jawaban itu membuat Arseno sedikit terdiam.
Nada sarkas Evelyn memang masih ada…
Arseno bersandar pelan. “Kalau itu membuatmu tidak nyaman,” katanya akhirnya, “aku bisa membuat aturan berpakaian lebih formal.”
Kini gantian Evelyn yang sedikit terkejut.
“Anda serius?”
“Aku tidak suka suasana kerja yang terlihat tidak profesional.”
Evelyn menyipitkan mata.
“Atau Anda tidak suka saya terus menyindir Anda?”
“Dua-duanya.” jawab Arseno langsung.
Evelyn terkekeh kecil.
Entah kenapa, Melihat Arseno tersudut seperti tadi terasa cukup menyenangkan baginya.
Sedangkan Arseno diam-diam mulai berpikir serius.
"Mungkin, memang perlu aturan baru."
Karena anehnya Ia tidak suka melihat Evelyn menatap wanita lain di dekatnya dengan ekspresi seperti tadi.
...****************...