Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5
Wajah wanita paruh baya itu tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Ia menunggu sesuatu yang sempat membangun harapan besar, namun kini sirna oleh janji yang tak ditepati. Yusi merasa dikhianati oleh putri sulungnya, Anna. Hatinya perih. Berdiri di depan jendela, ia merenungkan cara agar Elizan, si bungsu, bisa berjalan normal seperti orang-orang lain pada umumnya. Sesekali terdengar helaan nafasnya yang lirih.
"Aku harus menemui dokter Alvaro sendirian, tanpa sepengetahuan Anna," ucapnya pelan. "Anna sudah tidak bisa diharapkan," gerutunya kesal. Yusi mencari ponsel yang terletak di meja, tangan yang mulai keriput karena usia sibuk menekan layar, mencari nomor seseorang.
"Akhirnya aku dapat," ucapnya dengan harapan yang mengembang di bibir. Senyum tipis menghiasi wajahnya, puas. Matanya tak lepas dari satu nomor yang terpampang di layar.
"Aku berjanji, jika dokter Alvaro berhasil menyembuhkan putriku Eliz, aku akan memberinya kado istimewa," ucapnya dengan suara penuh kesungguhan.
Tangan itu kembali mencari informasi tentang Alvaro, bahkan ia berniat ke rumahnya.
" Tidak perlu mencari tahu dari Anna, anak itu tidak ada gunanya," kalimat itu terucap begitu saja, seolah menyalahkan Anna atas ketidakhadiran dokter Alvaro.
" Astaga, ini foto profilnya kan ? Dia sepertinya anak yang baik, tampan lagi. Dia sangat cocok dengan...?" Katanya sendirian, tangannya masih asik membuka instragram seseorang. Senyum itu kembali mengembang, kali ini bibir itu tersenyum lebar dari sebelumnya.
"Mama sedang lihat foto siapa?” suara lembut Eliz terdengar dari arah pintu. Tangannya yang mulai lemah berusaha memutar kursi roda yang didudukinya.
“Eeeh, ka-kamu ngapain di sini, sayang? Bukannya sedang istirahat di kamar?” Yusi buru-buru menyembunyikan ponsel yang tadi dipegangnya.
“Mama belum jawab, tadi itu foto siapa, Ma?” Eliz kembali mendesak. Namun Yusi mengelak, berusaha menjaga rahasia agar rencana yang sudah disusunnya rapi tak sampai rusak.
" Bukan siapa-siapa, sayang. Jangan dipikirkan lagi, ya. Ingat kata dokter, kamu harus jaga kesehatan." tegasnya.
Eliz menurut tanpa curiga sedikit pun, lalu masuk ke kamar diantar oleh sang ibu.
“Kapan, Ma, Eliz bisa bertemu dokter yang bisa menyembuhkanku? Teman Kak Anna kan tidak bisa. Jadi, bagaimana kalau Mama cari dokter lain?” Yusi yang baru saja beranjak keluar dari kamar menghentikan langkahnya. Dengan tenang ia menjawab, “Sabar sedikit, ya. Mama akan usahakan. Bila waktunya tiba, kamu akan bertemu dokter yang baik, bahkan jodohmu sekaligus,” ucap Yusi dengan nada menggoda.
Wajah Eliza seketika bersemu merah, malu bercampur bahagia menghampiri. Tidak dipungkiri ia berharap ada seorang pangeran tampan yang mencintainya sepenuh hati.
Yusi keluar dari kamar putrinya, wajahnya berseri-seri kala membayangkan kesembuhan Eliz, ia berharap putrinya itu bisa kembali menjadi wanita sempurna.
***
Ruangan itu membentang luas dengan kesan yang menenangkan, tertata rapi tanpa celah, seolah setiap sudut dijaga dengan penuh kehati-hatian. Dominasi warna putih dan abu-abu berpadu lembut tidak mencolok. Nampak ketegasan dan ketenangan yang mencerminkan jiwa dari pemiliknya yang seorang dokter.
Di balik meja kerjanya, Alvaro merampungkan semua tugas yang sempat tertunda. Ia menarik napas panjang seolah melepaskan beban setelah bekerja seharian. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu tiba-tiba pecah ketika suara bel berbunyi menggema pelan namun cukup mengusik pikirannya yang mulai tenang.
" Ada tamu, Den," seorang pembantu rumah tangga menghampirinya. "Tamu siapa, Bi?" "Dia bilang mau bertemu dengan Anda, Tuan." "Aku tidak ada janji hari ini, Bi. Mungkin orang itu salah masuk rumah," jawab Alvaro dengan wajah lelah, ingin segera beristirahat. "Tapi katanya ibu Anna, Tuan," sahut pembantu itu. Alvaro baru saja melangkah meninggalkannya, lalu berhenti dan berbalik menatap pembantunya.
"Anna...? Yang benar saja, Bi? Anna tidak bilang apa-apa. Lagipula, dia sendiri yang menyuruhku istirahat," katanya heran, kemudian bergegas pergi.
"Ta-tapi, Tuan...?" Pembantu itu menghela napas lega saat melihat Alvaro menuju ke ruang tamu untuk menemui orang tersebut. Dalam hati, Alvaro bertanya-tanya, ada apa gerangan ibu kekasihnya datang menemuinya di rumah. Dari kejauhan, Alvaro memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya itu. Wanita itu terlihat menunduk sesaat, lalu mengangkat wajah dengan gelisah sambil menatap sekelilingnya. Hatinya berdebar menunggu dokter yang belum juga muncul. "Kenapa tidak menemui tamunya, Nak?" suara ibu Alvaro, Lidya, memecah kesunyian, menegur putranya yang hanya tertegun menatap tamu dari jauh.
"Eh, Ma, aku mau ganti baju dulu. Tidak enak menemui tamu dengan pakaian seperti ini," jawab Alvaro sambil memberi alasan.
"Biar Mama saja yang menemuinya. Nanti kamu menyusul, ya," ucap Lidya dengan pengertian, memahami sikap putranya.
Langkah Lidya melambat saat ia keluar menyambut tamu putranya. Mengerutkan kening kala melihat wanita itu yang sedang duduk di ruangan tamu terasa begitu familiar.
" Tapi siapa?" Batinnya, mencoba mengingat-ingat.
Ia terus melangkah, hatinya dipenuhi tanda tanya. Semakin dekat, perasaannya semakin tak karuan. “Deg... Yusi? Benarkah itu Yusi? Kenapa dia datang ke sini?”
Orang yang sejak tadi duduk di ruang tamu itu ternyata adalah temannya semasa remaja. Mereka pernah sangat akrab, bahkan seperti saudara sendiri. Namun, kerenggangan tiba-tiba muncul karena persaingan cinta. Meski begitu, Lidya berusaha menenangkan diri. Semua itu sudah berlalu dan tak perlu diungkit lagi. Lagipula, kenyataannya Lidya bahagia bersama suaminya.
"Ekhmm, ingin bertemu siapa, Bu?" tanya Lidya dengan nada seolah tak mengenal wanita di depannya. Yusi mengangkat kepala, mendengar suara seorang wanita. Jantungnya berdegup kencang, matanya membesar saat melihat jelas siapa wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Namun, wanita itu menatapnya dengan tenang, senyum tipis tersungging di bibirnya. Wajah yang dulu tak pernah berubah itu masih tetap cantik, meski garis-garis kerutan mulai tampak.
"Kamu Lidya, kan?" tanyanya dengan nada tak percaya. "Ya," jawab Lidya sambil mengangguk. Tatapannya tetap tenang, tanpa sedikit pun raut amarah.
" Masih ingat aku? Aku Yusi, temanmu," katanya dengan nada ringan, seolah tak ada awan hitam yang pernah menggantung antara mereka. Tanpa menunggu jawaban, Yusi berdiri merangkul tubuh Lidya dengan hangat, seolah masa lalu yang penuh luka itu sudah terkubur dalam pelukan itu. Lidya terdiam sesaat, hatinya bergejolak antara hangat dan dingin. Namun, tanpa sadar tangannya ikut membalas pelukan itu, ingatan tentang masa-masa persahabatan mereka yang dulu paling dekat tiba-tiba muncul menghantui.
"Tentu saja aku ingat," jawab Lidya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan di antara mereka.
Alvaro yang baru saja menyelesaikan aktivitasnya akhirnya keluar untuk menemui tamunya. Namun, pemandangan indah di hadapannya membuatnya terpaku, menatap keduanya dengan bahagia.
Ternyata Tuhan memiliki cara lain untuk memudahkannya memiliki Anna sang kekasih.
" Lantas, mengapa Anna masih ragu untuk meminta restu dari ibunya?" batin Alvaro, rasa ingin tahunya semakin kuat.