NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar

Pagi hari berikutnya bergulir dengan ritme yang mulai terasa familier bagi Gisella.

Setelah sukses mengamankan asupan malam Adrian dengan teh krisan herbal dan membuang simpanan cokelat karamel rahasianya, Gisella kembali menguasai dapur sejak pukul enam pagi.

Hari ini dia memutuskan untuk menyiapkan menu sarapan berupa pancake pisang madu yang dibuat dari tepung gandum utuh dan putih telur, disajikan dengan potongan buah beri segar yang kaya antioksidan.

Aroma manis alami dari pisang yang dipanggang di atas teflon tanpa minyak memenuhi ruang makan, menciptakan atmosfer yang hangat dan menenangkan.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika suara langkah kaki yang menghentak kasar terdengar dari arah koridor.

Seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahun melangkah masuk ke ruang makan dengan wajah cemberut.

Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna neon, rambut hitamnya dikuncir kuda tinggi, dan sepasang matanya yang tajam menatap Gisella dengan pandangan penuh permusuhan.

Dia adalah Valerie Arthur, adik kandung Adrian.

Dalam plot novel asli, Valerie adalah mahasiswi jurusan seni yang memiliki sifat blak-blakan, keras kepala, dan sangat protektif terhadap kakaknya.

Sejak awal pernikahan Adrian, Valerie adalah orang pertama yang menentang kehadiran Gisella.

Dia tahu betul bagaimana Gisella asli memperlakukan Adrian seperti pajangan tak berharga dan bagaimana wanita itu selalu memeras uang keluarga mereka demi pria parasit bernama Julian.

Bagi Valerie, Gisella tidak lebih dari lintah darat manipulatif yang memanfaatkan kebaikan kakek mereka.

"Bibi Martha! Di mana sarapanku?"

seru Valerie sengaja dengan suara keras, mengabaikan keberadaan Gisella yang sedang menata piring di atas meja makan panjang.

Gisella tidak terpancing emosinya.

Dia justru meletakkan piring berisi pancake hangat tepat di hadapan kursi kosong yang biasa ditempati Valerie.

"Bibi Martha sedang membantu membersihkan lantai atas, Valerie. Sarapanmu sudah siap di sini. Cobalah."

Valerie menghentikan langkahnya.

Dia menatap piring di depannya, lalu menatap Gisella dengan tawa hambar yang sinis.

"Kau memasak? Sejak kapan seorang pembuat onar profesional sepertimu tahu cara menyalakan kompor? Apa kau sedang mencoba meracuni seluruh isi rumah ini agar bisa membawa lari harta kami?"

"Jika aku ingin meracuni seseorang, aku tidak akan memilih menu padat nutrisi yang melelahkan untuk dibuat seperti ini,"

 jawab Gisella tenang, menarik kursi untuk dirinya sendiri dan duduk dengan anggun.

 "Ini pancake gandum pisang, bebas gula pasir dan rendah kalori. Sangat cocok untukmu yang ingin pergi berolahraga pagi ini agar energimu tidak cepat habis."

Valerie menyipitkan matanya. Kecurigaannya justru semakin mendalam melihat ketenangan Gisella.

Biasanya, jika Valerie menyindirnya dengan kalimat sekasar itu, Gisella asli akan langsung meradang, melempar garpu, berteriak histeris menuduh Valerie tidak sopan, atau menangis mengadu pada ibu mereka agar mendapatkan simpati.

Tapi sekarang? Wanita di hadapannya ini justru membalasnya dengan senyuman tipis dan argumen yang sangat rasional.

"Trik apa lagi ini, Gisella?"

Valerie melangkah mendekat, menopang kedua tangannya di atas meja makan, menatap Gisella dari jarak dekat dengan pandangan mengintimidasi.

"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan kemarin malam. Kak Adrian membuang seluruh cokelat dan camilan manisnya ke tempat sampah. Bibi Martha bilang kau yang memaksanya. Apa tujuanmu yang sebanarnya? Kau sengaja ingin membuat Kak Adrian stres di ruang kerjanya agar riset pentingnya gagal, bukan?"

Gisella menghela napas pendek.

Dia meletakkan cangkirnya, lalu menatap adik iparnya itu dengan pandangan jernih tanpa kilat kemarahan.

"Valerie, kakakmu bekerja delapan belas jam sehari dan mengonsumsi gula berlebih sebagai pelarian instan dari tekanan mental. Gula darahnya berada di ambang batas bahaya. Jika dia terus mempertahankan pola hidup merusak seperti itu, dia bisa pingsan karena komplikasi diabetes di laboratoriumnya dalam beberapa bulan ke depan. Apakah kau, sebagai adiknya yang sangat menyayanginya, lebih suka melihatnya makan cokelat sampai jatuh sakit daripada melihatnya beralih ke makanan sehat?"

Valerie tertegun.

Kata-kata Gisella menghantamnya tepat di ulu hati. Sebagai adik, dia memang tahu Kak Adrian sering mengeluh pusing dan kelelahan akhir-akhir ini, tetapi dia selalu mengira itu hanya efek kurang tidur biasa karena beban mengajar dan meneliti.

Dia tidak pernah memikirkan risiko diabetes atau komplikasi medis serius lainnya.

"Kau... dari mana kau tahu tentang hal-hal medis seperti itu?"

 tanya Valerie, suaranya sedikit goyah meski nadanya tetap diusahakan ketat.

"Kau bahkan tidak lulus kuliah jurusan administrasi. Jangan berlagak seperti dokter spesialis di rumah ini!"

Tepat sebelum Gisella sempat menjawab, langkah kaki yang tenang dan berwibawa terdengar memasuki ruang makan.

Adrian Arthur muncul dengan pakaian kerjanya yang rapi—kemeja abu-abu terang, celana kain hitam, lengkap dengan kacamata perak dan tas dokumen di tangan kirinya.

Aura dingin yang dibawanya seketika menenangkan ketegangan di ruangan itu.

"Valerie, kecilkan suaramu di meja makan. Suaramu terdengar sampai ke koridor luar,"

tegur Adrian datar sembari menarik kursinya untuk duduk di kepala meja.

Valerie langsung berbalik menatap kakaknya dengan ekspresi cemas bercampur aduan.

"Kak! Wanita ini... dia bertingkah aneh sekali sejak kemarin. Dia mengatur makananmu, membuang barang-barang pribadimu, dan sekarang dia menceramahiku tentang kesehatanmu! Kau harus waspada, Kak. Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu

yang buruk bersama Julian di belakang kita!"

Mendengar nama Julian disebut kembali di pagi hari yang cerah ini, sudut bibir Adrian berkedut kecil.

Dia melirik ke arah Gisella yang hanya mengangkat bahu sekilas, menunjukkan ekspresi pasrah seolah sudah terbiasa dituduh tanpa bukti.

Adrian kemudian menatap adiknya dengan pandangan serius di balik lensa kacamatanya.

"Gisella benar, Valerie."

Valerie membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa?!"

"Pola makanku selama ini memang buruk,"

lanjut Adrian sambil mengambil sepotong pancake pisang buatan Gisella dan memasukkannya ke dalam mulut dengan ekspresi tenang.

"Dan apa yang dikatakannya tentang risiko kadar gula darah adalah fakta medis yang akurat. Aku sendiri sudah berkonsultasi dengan dokter internal universitas kemarin setelah Gisella mengingatkanku, dan hasil pemeriksaan awal menunjukkan kadar glukosa puasaku memang tinggi. Jadi, mulai hari ini, seluruh rumah ini akan mengikuti aturan diet yang disiapkan Gisella untukku."

Mendengar pembelaan langsung dari mulut kakaknya yang biasanya super cuek, kaku, dan tidak pernah mendengarkan omongan emosional siapa pun, Valerie merasa seolah dunianya baru saja berputar terbalik.

"Kak Adrian—pria yang paling logis dan rasional di keluarga mereka—baru saja membenarkan tindakan Gisella? Dan bahkan membela wanita itu di depannya?'

Valerie menatap Gisella dengan pandangan tak percaya, sementara Gisella hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang sangat lembut, menyembunyikan rasa puas dalam hatinya.

"Ini gila..."

gumam Valerie, menggelengkan kepalanya.

"Kalian berdua benar-benar aneh."

Karena merasa kesal dan kehilangan muka, Valerie menyambar sepotong pancake dari piringnya dengan kasar, menggigitnya dengan penuh emosi, lalu berjalan menghentak keluar dari ruang makan menuju pintu depan untuk pergi berlari pagi.

Namun, begitu rasa manis alami dari pisang dan kelembutan adonan gandum itu menyebar di lidahnya, langkah Valerie sempat terhenti sejenak di koridor luar.

 "Sial, ini enak sekali,"

 batinnya kesal, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumah.

Di ruang makan, keheningan kembali tercipta. Adrian melanjutkan sarapannya dengan ritme yang teratur, sementara Gisella memperhatikannya dengan rasa lega.

"Terima kasih sudah membelaku di depan Valerie, Profesor,"

ucap Gisella tulus.

Adrian menyeka bibirnya dengan serbet kertas setelah menghabiskan potong terakhir dari pancake-nya.

Dia mendongak, menatap Gisella dengan pandangan tajam yang selalu menyiratkan analisis mendalam khas seorang peneliti senior.

"Aku tidak membelamu, Gisella. Aku hanya menyatakan fakta medis yang logis,"

kata Adrian dingin. Pria itu berdiri, merapikan jasnya yang tersampir di kursi, dan mengambil tas dokumennya.

"Namun, ketahuilah satu hal. Valerie tidak salah sepenuhnya untuk mencurigaimu. Perubahanmu yang terlalu drastis ini tidak hanya membuat adikku bingung, tapi juga membuatku berpikir keras setiap malam di kamar seberang."

Adrian melangkah mendekati kursi Gisella, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka sejajar, mengunci pandangan Gisella.

"Seorang wanita tidak berubah menjadi ahli gizi dan pandai memasak hanya karena kepalanya terbentur jendela kaca. Nikmati waktu satu bulanmu, Gisella. Tapi ingat, semakin banyak misteri yang kau tunjukkan, semakin besar keinginanku untuk membongkar apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan di balik senyuman manismu itu."

Setelah melemparkan kalimat yang terdengar seperti tantangan psikologis itu, Adrian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan rumah untuk pergi mengajar di universitas.

Gisella tertegun di kursinya, menatap punggung Adrian yang menjauh dengan perasaan campur aduk.

Detak jantungnya berpacu sedikit lebih cepat karena intensitas tatapan pria itu barusan. Sang profesor jenius ternyata jauh lebih peka, analitis, dan berbahaya daripada yang digambarkan di dalam bab-bab awal novel asli.

"Kecurigaan sang adik ipar bisa diatasi dengan makanan enak, tapi kecurigaan sang suami... ini benar-benar level permainan yang berbeda,"

bisik Gisella pada diri sendiri.

Dia mulai merapikan piring-piring kosong di atas meja dengan dahi yang berkerut dalam.

Satu bulan penundaan cerai ini tampaknya akan menjadi permainan catur psikologis yang sangat melelahkan sekaligus mendebarkan.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!