NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Setelah menempuh perjalanan berjam‑jam, Laras, Raka, serta kedua orang tua Raka tiba di rumah sakit rujukan. Laras berlari mendahului mereka, hanya teringat wajah kedua orang tuanya di tengah rasa takut yang meluap. Hatinya berdebar kencang, hingga ia terjatuh karena tidak memperhatikan jalan di depannya.

“Aduh…” rintihnya kesakitan.

“Sayang, hati‑hati, jangan sampai kamu juga terluka,” Raka segera menolongnya berdiri.

“Aku harus bertemu Mama dan Papa, Kak. Aku takut,” isak Laras di sela tangisnya.

“Tenanglah, mereka pasti baik‑baik saja,” Raka berusaha menenangkan, namun ia sendiri pun merasa cemas.

Ia menuntun istrinya menuju meja informasi, lalu bertanya di mana kedua mertuanya dirawat. Setelah mendapatkan petunjuk, mereka bergegas ke ruang gawat darurat. Di sana, jantung Laras semakin berpacu saat melihat dua petugas kepolisian berdiri di depan pintu.

“Apakah kalian keluarga Bapak Darma dan Ibu Lina?” tanya salah satu polisi.

“Benar, Pak. Saya menantunya. Bagaimana kondisi mereka?” tanya Raka dengan nada tegang.

“Bapak Darma masih ditangani dokter. Namun Ibu Lina sudah dipindahkan ke ruang lain,” jawab polisi itu pelan.

“Ke ruang mana? Aku ingin bertemu Mama,” potong Laras dengan suara gemetar.

Melihat mata Laras yang bengkak dan merah karena menangis terus, polisi itu ragu sejenak untuk menyampaikan kenyataan pahit itu. “Ikut saya, saya akan mengantar ke tempat Ibu Lina.”

Raka dan Laras mengikuti petugas itu, sementara Bima dan Sari—teman dekat keluarga—memilih menunggu di depan ruang rawat Bapak Darma agar tidak ada yang ditinggal sendirian.

Langkah mereka terhenti di depan pintu kamar jenazah. Laras dan Raka saling pandang, tak percaya. Meski polisi belum mengucapkan kata‑kata itu, Raka sudah paham apa yang terjadi. Namun Laras menolak menerima kenyataan itu; ia merasa seakan‑akan dirinya sedang bermimpi buruk.

“Bapak pasti bercanda. Di mana Mama saya? Dia pasti sedang menunggu saya, dia butuh saya,” kata Laras gemetar.

“Ibu Lina ada di sini, Nak. Maaf dokter tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Beliau tidak tertolong, meninggal tepat di lokasi kecelakaan,” ucap polisi itu pelan.

“Tidak… itu tidak mungkin bohong. Mama pasti baik‑baik saja. Kak, katakan ini tidak benar, Mama tidak mungkin meninggalkan aku. Dia sudah berjanji akan selalu ada di sampingku… ini pasti mimpi, kan?” teriak Laras histeris.

Ia meronta dan menjerit saat Raka memeluknya erat agar tidak jatuh. Raka membiarkan istrinya melampiaskan rasa sakit itu, lalu perlahan membawanya masuk ke dalam ruangan. Di sana terbaring sosok yang ditutup kain putih. Dengan tangan gemetar, Laras menguatkan hati untuk membuka penutup itu, memastikan apakah itu benar‑benar ibunya.

Saat kain itu tersingkap, jeritan pilu kembali terdengar. Di hadapannya terbaring tubuh ibunya yang kaku dan pucat.

“Mama bangun, ini Laras, Ma. Jangan bercanda begini, jangan tinggalkan aku. Aku tidak sanggup hidup tanpa Mama…” tangisnya semakin memecah keheningan ruangan itu. Ia memeluk dan mencium wajah ibunya yang sudah dingin, meratapi kepergian yang begitu tiba‑tiba.

Raka pun tak sanggup menahan air mata melihat istrinya hancur begitu rupa. Ia kembali memeluk Laras, menepuk lembut punggungnya dan berbisik kata‑kata penghiburan.

“Sudah, sayang… Mama sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia pasti sedih melihatmu seperti ini. Kuatkan hatimu, jangan takut, Kakak akan selalu ada di sampingmu, apa pun yang terjadi.”

Melihat kedatangan Raka, Laras, dan petugas polisi, Bima merasa semakin penasaran. Apalagi saat melihat Raka memapah istrinya yang tampak sangat lemah, sementara tangis wanita itu tak kunjung berhenti.

“Bagaimana keadaan ibu mertuamu?” tanya Bima yang belum tahu kabar buruk itu.

“Ibu Lina sudah tiada, Pak. Beliau meninggal tepat di lokasi kecelakaan,” jawab Raka dengan suara lemah.

Bima dan Sari tertegun mendengarnya. Tak disangka sahabat sekaligus besan mereka telah pergi selamanya.

“Ya Allah, ini tidak mungkin. Rasanya baru kemarin kita berkumpul bersama. Kenapa Engkau mengambil Lina begitu cepat, Ya Allah?” tangis Sari pecah.

Wanita itu begitu sedih atas kepergian sahabatnya. Bima segera memeluk istrinya, berusaha menenangkan sekaligus mengingatkan agar tetap tegar, karena Laras kini sangat butuh sandaran.

“Kamu harus kuat, Ma. Lihat Laras, dia sedang hancur. Peluk dia, dia butuh kamu,” bisik Bima.

Sari langsung mendekap menantunya. Keduanya menangis bersama, Laras meluapkan segala rasa sakit di dada ke dalam pelukan ibu mertuanya. Sari memeluk makin erat; ia paham betapa perihnya kehilangan orang tua, karena ia pun pernah merasakannya.

“Apa yang harus aku lakukan, Ma? Kenapa semua ini terjadi? Aku tidak sanggup, Ma… kenapa harus Mama? Kenapa bukan aku saja?” rintih Laras.

“Jangan bicara begitu, Nak. Semua sudah suratan takdir. Setiap manusia pasti akan kembali kepada Tuhan, hanya waktunya yang berbeda. Ikhlaskan kepergian Mama, biar dia beristirahat dengan tenang. Jangan takut, masih ada aku, masih ada kami semua. Kuatkan hatimu, karena Papa Darma masih butuh kamu, dia sedang berjuang keras di dalam sana,” bujuk Sari sekuat tenaga agar Laras bisa sedikit menenangkan diri.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!